
Dengan irama detak jantung yang menggila, tuan Theodor mendudukkan dirinya di atas kursi. Mencoba menenangkan kembali ritme kerja dari pada jantungnya. Berduaan dan berdekatan dengan Gadis selalu membawa jiwanya kembali muda.
Tidak jauh dengan tuan Theodor, Gadis sedang berusaha menetralkan kembali pikiran kotornya ketika jarak mereka yang begitu dekat, meski tidak sampai terjadi apa-apa.
Gadis meneguk air minum sampai habis, hal itu tidak luput dari pandangan Bibi Dolores dan Bibi Veronica. Mereka hanya mengulum senyum melihat Gadis begitu lucu dengan tingkahnya.
Magdalena dan tuan Dominic baru sampai di rumah. Setiap pagi mereka akan menyempatkan sarapan di sana meski sudah menempati rumah baru.
"Gadis di sini?." Tanya Magdalena menatap suaminya. Melihat Gadis yang sedang membantu Bibi Dolores menata makanan di atas meja makan.
Bersamaan dengan itu tatapan mereka bertemu dengan tuan Theodor yang baru keluar dari ruang kerja.
"Theodor juga sudah pulang." Sahut tuan Dominic menghampiri sang kakak.
"Kapan kau pulang?."
"Tadi malam."
Tuan Theodor, Tuan Domonic dan Magdalena langsung ke meja makan. Menunggu kedua orang tuanya di sana.
Gadis yang segara menjauh dari sana setelah ketiga orang itu duduk di sana, tuan Theodor menatap Gadis yang memilih pergi.
"Kau harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkannya." Tuan Dominic menggoda kakaknya yang menghela nafas panjang.
"Kita lihat saja nanti." Balas tuan Theodor.
Nyonya Mireya dan Tuan Patricio ikut bergabung di meja makan. Sementara Ramona lebih memilih untuk membawa bekal supaya bisa makan bersama Galang. Dan dia langsung pamit pada semua anggota keluarganya.
Nyonya Mireya yang duduk di atas kursi roda sehat meminta Tiara untuk memanggilkan Gadis.
"Kau panggil Gadis kemari!."
"Baik, Nyonya Mireya."
Tiara langsung pergi ke dapur dan menemui Gadis yang sedang berada di dalam kamar Bibi Dolores.
"Rupanya kamu bersembunyi di sini!." Ucap Tiara sambil tersenyum menggoda saat menemukan Gadis yang sedang memegang ponselnya.
__ADS_1
"Siapa yang sedang bersembunyi?." Gadis meletakkan ponsel dan hendak keluar dari kamar karena malu ketahuan oleh Tiara.
"Kamu di panggil Nyonya Mireya." Lanjut Tiara mengekor di belakang tubuh Gadis.
"Bilang saja aku sedang sibuk." Mohon Gadis sambil berbalik badan, menatap wajah Tiara.
Tiara menggeleng dan tetap tersenyum menggoda.
"Semua pekerjaan sudah selsesia semua. Dan mereka pun tahu kalau kamu tidak sibuk dan mungkin tahu juga kalau kamu sedang bersembunyi." Ucap Tiara yang diakhiri dengan tawa penuh kepuasan melihat wajah Gadis yang memerah karena malu.
"Apa perlu taun Theodor sendiri yang memanggil mu?, baru kamu mau ke depan dan menemui mereka!."
"Tiara jangan bicara seperti itu. Tuan Theodor sudah bahagia bersama Nyonya Violetta dan kedua anak mereka." Raut wajah Gadis berubah sendu.
"Ok, aku minta maaf. Pergi lah ke depan dan temui Nyonya Mireya." Pinta Tiara sambil berjalan meninggalkan Gadis.
Berulang kali menarik nafas panjang dan setelah di rasa lebih tenang, Gadis keluar dari kamar dan menemui Nyonya Mireya.
"Duduk di sini!, makan bersama kami." Perintah Nyonya Mireya pada Gadis, ketika Gadis sudah berada bersama mereka.
Gadis langsung duduk di sebelah Nyonya Mireya dan berhadapan langsung dengan tuan Theodor.
"Maaf, tadi saya..." Ucapan Gadis begitu saja menggantung di udara kala sorot mata tajam tuan Theodor mengarah padanya.
"Kalian hati-hati." Nyonya Mireya memeluk Magdalena dan tuan Dominic bergantian. Keduanya pergi meninggalkan meja makan.
"Ayo, sarapan. Bukannya kamu harus ke kampus?."
"Ah iya, Nyonya."
Gadis mulai mengisi piringnya dengan beberapa menu makanan yang ada di sana.
Tidak mudah memang untuk melupakan kesedihan yang dialami olehnya di rumah itu. Tapi tidak bisa dipungkiri jika dari rumah itu juga dia mendapatkan kebahagiaan.
Selesai sarapan bersama, Gadis benar-benar berpamitan dari semua orang yang ada di rumah Nyonya Mireya. Tapi tidak pada tuan Theodor.
Bahkan tuan Patricio menawarkan diri untuk mengantarkan Gadis ke kampus atau pulang ke rumah. Tapi Gadis masih bisa menolaknya.
__ADS_1
Kepergian tuan Patricio beberapa menit lalu, akan di susul oleh Gadis yang sudah berada di depan rumah. Memastikan motornya tidak ada masalah, tapi yang terjadi malah justru sebaliknya.
Motornya bermasalah, ban depan dan ban belakang motornya kempes.
"Kenapa bisa begini?." Gadis kebingungan dengan apa yang terjadi.
Gadis mengedarkan pandangannya, berharap bisa menemukan jalan untuk memutus kebuntuannya.
Sementara dari salah satu jendela yang ada di rumah besar itu, sepasang mata tidak pernah lepas dari apa yang terjadi pada Gadis. Senyumnya terlihat lebar kala menikmati momen langka setelah sekian lama tidak bisa menikmati wajah cantik sang mantan istri.
Tuan Theodor masih belum beranjak dari sana, dia masih ingin menikmati lebih lama momen ini.
"Sudah, sekarang kau harus keluar dan antar kan Gadis pulang." Ucap Nyonya Mireya sedikit mendorong tubuh putranya.
"Sebentar lagi, Ma." Tuan Theodor melepas kemeja dan menggantinya dengan kaos. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kau harus bergerak cepat, sebelum ada orang lain masuk dalam kehidupan Gadis. Meski kata Gadis dia tidak mau untuk membuka diri sekarang ini." Nyonya Mireya mengingatkan sang anak dan memberikan dorongan untuk mempercepat langkahnya untuk bisa kembali mendapatkan hati Gadis.
"Iya, Ma. Sekarang aku ke bawah."
Tuan Theodor mengecup pipi Nyonya Mireya lalu meninggalkannya di kamar.
Tuan Theodor menuruni setiap anak tangga dengan hati yang berbunga-bunga. Sebab dirinya akan menemui pujaan hati yang dalam proses pengejaran.
Dengan wajah datar dan tangan yang masuk ke dalam saku celana. Tuan Theodor menatap Gadis dari pintu rumah utama.
"Ayo, aku akan mengantar mu pulang!." Tuan Theodor sudah berdiri di belakang Gadis.
Gadis menarik nafas panjang sebelum membalik tubuhnya dan berhadapan dengan pria yang masih memiliki tempat di dalam hatinya itu.
"Tidak, aku sudah meminta Pak Wardiman untuk memangil orang yang bisa membawa motor ku." Tolak Gadis, masih enggan untuk menerima tawaran tuan Theodor. Karena dia takut, dia akan kembali berdekatan dangan pria yang sudah membuat kerja jantungnya berkali lipat.
"Kamu tidak kuliah?." Gadis menatap jam yang melingkar ditangannya. Sebnarnya sudah lewat sepuluh menit lalu.
"Ya, kalau pun kamu tidak kuliah. Kamu tidak ingin pulang ke rumah?. Atau jangan-jangan kamu mau tinggal di rumah ini lagi." Tanya tuan Theodor penuh selidik, menatap wajah cantik itu dari jarak yang cukup dekat.
"Kalau begitu, saya akan pulang naik ojek saja. Saya titip motornya untuk diperbaiki oleh Pak Wardiman.
__ADS_1
"Kenapa harus naik ojek, kalau sudah ada aku di sini yang akan ngantar mu?." tuan Theodor menahan tangan Gadis.