Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 52 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Nyonya Maria dan tuan Rizzo yang sudah tiba di tempat salah satu temannya Marco, begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putra bungsunya. Bagaimana tidak, pasalnya Marco sedang berciuman mesra dengan teman prianya. Sementara temannya yang lain hanya bertepuk tangan sambil tertawa kencang.


"Kita pasti salah lihat?. Tidak mungkin Marco melakukan itu, iya kan Rizzo?." Dada Nyonya Maria bergemuruh begitu hebat. Dia begitu terguncang dengan kenyataan yang sangat menyakiti hatinya.


"Tidak, Maria. Kita tidak salah lihat. Itu benar Marco bersama temannya." Tuan Rizzo menguatkan hatinya yang sudah hancur. Mendapati sang putra yang memiliki perilaku seperti itu.


Seketika tempat itu menjadi hening, tatapan semua orang langsung tertuju pada arah Nyonya Maria dan Tuan Rizzo, setelah Marco dan teman prianya selesai berciuman.


"Ma...Pa..." Marco segera menghampiri kedua orang tuanya yang tidak berbicara atau berbuat apa pun padanya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya pada kalian!." Ucapnya lagi cukup kaget dengan kedatangan kedua orang tuanya ke tempat itu. Padahal selama ini mereka tidak pernah mendatanginya.


"Kau bisa menjelaskannya saat di rumah. Papa Mama harap, apa yang kami lihat itu hanya sebuah kesalahan semata." Ujar tuan Rizzo sambil mengajak istrinya pergi dari sana. Tidak memberikan kesempatan Marco untuk berbicara banyak di tempat itu.


Nyonya Maria dan tuan Rizzo sama-sama terdiam saat sudah di dalam mobil. Keduanya sama-sama menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dalam hati mereka berdua.


Tuan Rizzo menengok, menatap Nyonya Maria yang sedang mengelap air matanya beruang kali.


"Semoga saja apa yang kita lihat adalah sebuah kesalahan. Marco tidak benar-benar melakukannya." Tuan Rizzo masih berusaha berpikir positif sebelum nantinya mereka akan mendengar pengakuan dari Marco.


"Iya, Pa." Jawab Nyonya Maria singkat. Dirinya pun sangat berharap kalau ini semua hanya mimpi. Dan ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.


Tuan Rizzo segera membawa mobilnya pergi dari tempat itu.


Gadis yang sudah dandan cantik, rapi dan sangat wangi, bersiap menyambut kepulangan suaminya. Yang menjadi makanan kesukaan tuan Theodor sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


Gadis tersenyum sumringah kala mendapati pintu apartemen yang terbuka. Namun senyum itu seketika menghilang ketika melihat suaminya pulang bersama seorang anak kecil. Yang tidak lain tidak bukan adalah Darren, anak biologis tuan Theodor.


"Sayang..." Sapa Tuan Theodor sambil mendaratkan kecupan singkat pada bibir yang sudah bergincu. Tapi Gadis tidak merespon apa-apa, sebab dirinya begitu terkejut dengan situasi yang membuatnya canggung dan sangat menegangkan.


"Halo Mama Gadis..." Sapa Darren sambil melangkah maju dan meraih tangan Gadis lalu mengecupnya.


Gadis hanya diam mematung, mendapati dirinya di panggil Mama oleh Darren. Entah apa yang sudah dikatakan oleh suaminya pada anak kecil itu. Sehingga dengan mudahnya mengerti dan mau menerimanya.


"Mama Gadis..." Panggil Darren lagi sembari menggoyang tangan Gadis, Gadis menatap tuan Theodor lalu berpindah menatap Darren.


"Halo Darren..." Balas Gadis menggenggam tangan Darren yang memegang tangannya.


"Aku mau tinggal di sini bersama Mama Gadis dan Papa, apa boleh?." Tanyanya penuh harap.


"Baiklah sekarang kalian berdua bisa menunggu ku di sana. Aku aku akan mandi dan setelah itu kita akan makan malam bersama. Baru setelahnya kita akan berbelanja semua keperluan mu."


"Ok, aku dan Mama Gadis akan menunggu Papa. Tapi jangan lama-lama ya Papa!." Balas Darren yang menarik tangan Gadis untuk menuju sofa yang didepannya ada layar televisi yang sangat besar.


Tuan Theodor tidak segera pergi dari sana, dia melihat jika putranya itu memang tulus mau menerima Gadis. Setelah merasa lega, tuan Theodor pergi dan langsung menuju ke kamarnya. Meninggalkan Darren bersama Gadis di ruang tengah.


Gadis sesekali mencuri pandang kearah Darren, dia melihat ekspresi wajah Darren saat tidak ada tuan Theodor. Biasa saja, sama seperti tadi saat Darren datang memasuki apartemen.


"Mama Gadis pasti kaget ya, aku mau memangil Mama ke Mama Gadis?." Dengan cepat Gadis mengangguk, dirinya cukup penasaran akan hal itu.


"Papa bilang, aku anaknya Papa dan Mama Violetta. Tapi yang menjadi istri dari Papa sekarang Mama Gadis. Jadi aku harus mau menyebut Mama pada Mama Gadis supaya aku bisa tinggal bersama Papa."

__ADS_1


"Benar kah?."


"Iya, itu yang Papa katakan tadi saat di mobil. Tapi Papa juga bilang, Mama Violetta dan Mama Gadis sama-sama menyayangi ku jadi aku tidak perlu takut saat aku harus tinggal bersama salah satu Mama ku." Ucap anak kecil itu sambil menatap wajah Gadis yang begitu terharu.


Gadis dan Darren ternyata bisa akrab dengan begitu cepat tanpa Gadis duga. Selama itu juga tuan Theodor melihat interaksi keduanya. Hingga senyum bahagia menghiasi wajah tampannya.


Sudah puas melihat pemandangan yang sangat indah itu, Tuan Theodor segera menghampiri keduanya lalu mengajak ke meja makan.


"Kamu pasti akan sangat menyukai makanan yang dibuat Mama Gadis." Ujar Tuan Theodor saat mereka sudah di meja makan.


"Iya, aku mau mencobanya. Nenek juga pernah bilang kalau masakan Mama Gadis sangat enak." Jawab Darren jujur karena sudah beberapa kali Nyonya Mireya memuji kepintaran Gadis dalam mengolah makanan sebelum ada masalah besar ini.


Tuan Theodor dan Gadis saling pandang, kemudian Gadis menunduk sendu. Mau sepintar apa pun dirinya mengolah makanan dan seenak apa pun hasil makanannya tetap saja tidak akan bisa merubah keadaan kalau Nyonya Mireya tidak menginginkan dirinya sebagai menantu.


Dengan penuh pengertian tuan Theodor mengusap lengan Gadis lalu memintanya untuk segera mulai makan supaya tidak kemalaman pergi ke Mall nya.


Mereka bertiga pun makan dengan sangat lahap dan menghabiskan makanannya tanpa sisa. Bahkan Darren minta dibuatkan lagi makanan yang untuk besok pagi. Tentu saja Gadis menyanggupinya dengan senang hati.


Selesai makan malam, ketiga segera meninggalkan apartemen. Menuju salah satu tempat belanja yang super lengkap.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah berada di dalam Mall. Gadis membantu Darren untuk memilih semua keperluannya. Tidak lupa juga melibatkan tuan Theodor didalamnya. Karena tuan Theodor memiliki fashion yang kekinian, sementara Gadis biasa saja.


Hampir tiga jam lamanya mereka di dalam Mall, sudah banyak dengan tentengan di kedua tangan Gadis dan Tuan Theodor. Mereka memutuskan untuk segera pulang.


Sementara di lain tempat, Nyonya Maria sudah pingsan dari satu jam yang lalu, ketika mendengar pengakuan mengejutkan dari putra kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2