
Di hadapan semua keluarga besar, tuan Theodor sudah mengucapkan ijab kabul atas nama Gadis untuk yang kedua kalinya, setengah jam yang lalu dengan satu kali tarikan nafas.
Gadis menitikkan air mata, ada berbagai macam perasaan di sana. Sampai tuan Theodor membantu Gadis untuk mengelap air matanya yang keluar begitu deras.
"Aku harap ini air mata kebahagiaan, kamu bahagia kembali menjadi ku dan mendampingi ku. Seperti halnya aku, aku begitu senang dan bahagia dengan kita kembali menyatu." Bisik tuan Theodor di telinga Gadis.
Gadis tersenyum tipis sambil menghapus air matanya dengan tissue yang disodorkan Ramona padanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama, kakak ipar."
Padahal sebelum pernikahan ini terjadi, Violetta mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Mengenai banyak hal yang terjadi di masa lalu mereka dan ada beberapa permintaan yang dilontarkan, salah satunya untuk menerima tuan Theodor menjadi suami Gadis lagi. Setelah Ramona selesai mendandani Gadis dengan begitu sangat cantik. Gadis sudah tidak bisa menolak lagi untuk permintaan yang satu itu. Karena saat ini semua orang ikut mendukung dan ikut memberikan restu yang tidak didapatnya dari pernikahan pertamanya.
Sangat berbanding terbalik dengan pernikahan tuan Theodor dan Gadis yang pertama. Yang hanya disaksikan oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan saja. Pernikahan mereka kali ini disaksikan dan melibatkan banyak orang terdekat mereka. Yang tentunya ikut berbahagia dengan sepasang yang baru menjadi suami istri.
Nyonya Mireya yang pertama kali memberikan pelukan hangat, ucapan selamat yang diiringi dengan doa yang sangat bagus, yang semoga saja bisa mengantarkan pernikahan mereka pada kebahagiaan selamanya.
Selanjutnya diikuti oleh tuan Patricio, tuan Rizzo Nyonya Maria, Jasmin dan Alesandro serta keluarga yang lainnya. Terakhir dari para pekerja di rumah besar Nyonya Mireya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Jangan lupakan Darren yang selalu menempel pada Gadis setelah tahu wanita itu kembali lagi menjadi Mamanya. Wanita yang memang sangat diharapkannya menjadi pendamping sang Papa yang sangat mencintai Mama Gadis nya.
Acara pernikahan sederhana itu berlanjut sampai sore hari, hanya untuk keluarga besar mereka saja. Tidak ada rekan bisnis atau media yang meliput, karena atas permintaan Gadis. Rasanya dia begitu malu menikah dengan tuan Theodor yang sebelumnya diketahui oleh media, Violetta yang menjadi istri dari tuan Theodor.
"Sekarang aku sudah boleh mencium mu kan di sini?. Tanya tuan Theodor menunjuk bibir merah Gadis yang memakai polesan warna.
Seketika wajah Gadis bersemu merah, malu dengan ucapan tuan Theodor yang tidak bisa di filter.
__ADS_1
"Kan sudah halal, sudah boleh untuk di sentuh dengan cara dan gaya ku sendiri." Goda tuan Theodor meniup lembut wajah Gadis sampai Gadis harus menutup kedua matanya. Lalu tuan Theodor mengambil kesempatan untuk mencuri ciuman pada pipi Gadis.
"Tuan!." Pekik Gadis memegangi pipinya yang baru saja di kecup oleh suaminya.
Akhirnya acara pun selesai di saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Penghuni rumah itu kembali normal setelah para tamu dari keluarga dekat sudah pulang.
Dengan tidak sabarannya tuan Theodor langsung saja pamit pada anggota keluarga yang lain, untuk membawa Gadis kembali ke apartemen lengkap dengan pakaian yang dipakai untuk ijab kabul tadi pagi. Padahal Darren begitu merengek untuk meminta ikut dengan Mama baru dan Papanya, tapi dihalangi oleh banyak orang. Sehingga Darren pun berhasil ditenangkan oleh sebuah pelukan yang diberikan Gadis.
"Kenapa harus buru-buru kembali ke apartemen?." Tanya Gadis saat mereka sudah di mobil.
"Aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu pada mu." Tuan Theodor tersenyum tapi begitu seram saat Gadis melihatnya.
"Menunjukkan apa lagi?." Tanya Gadis sambil memalingkan wajahnya kearah lain, sebab malu karena cukup kepo juga dengan apa yang akan ditunjukkan oleh suaminya.
"Sesuatu yang akan membuat mu semakin terbang melayang." Ucap tuan Theodor sambil tertawa geli. Sementara Gadis hanya bergidik ngeri dengan tingkah suaminya yang seperti itu.
"Sangat cantik." Gadis mengedarkan pandanganya dan berdecak kagum.
"Kamu yang lebih cantik." Dari belakang tuan Theodor memeluk Gadis dengan begitu erat. Mendaratkan kecupan yang bertubi-tubi pada kepala dan leher yang masih tertutup hijab.
Untuk pertama kalinya lagi, Gadis mendapatkan sentuhan seperti ini dari seorang pria. Meski masih ada kain yang menghalangi mereka, namun nyatanya sanggup menghantarkan sensasi yang begitu menggoda.
"Semua ini kerja keras Romi dan Rosario. Kalau kamu mau berterima kasih, katakan langsung pada kedua orang itu." Tuan Theodor kembali mengecup leher itu tanpa menyentuh kulitnya secara langsung.
"Iya, saya harus berterima kasih pada mereka berdua karena sudah mendekor apartemen dengan begitu sangat cantik."
"Hem, tapi sekarang kita akan melihat kamar yang akan menjadi saksi setiap ******* dan penyatuan kita." Tanpa rasa malu tuan Theodor mengucapkan hal yang sanggup membuat pipinya merah merona.
__ADS_1
Tuan Theodor menggiring tubuh istrinya dari belakang menuju kamar mereka.
Berhenti tepat di pintu kamar yang masih tertutup, tangan Gadis dan tuan Theodor sama-sama terulur untuk memegang handle pintu lalu mendorongnya.
Tersaji sebuah pemandangan yang begitu memanjakan mata tapi sekaligus membuat malu. Tempat tidur itu begitu eksotik, terasa lebih memiliki magnet untuk menarik mereka segera masuk dan menikmati yang tersaji di sana.
Tuan Theodor kembali menggiring tubuh Gadis untuk masuk mendekati tempat tidur tersebut.
"Saya jadi malu jika Romi dan Rosario yang menghias kamar kita." Ucap Gadis tanpa membalik tubuhnya, karena sesuatu milik tuan Theodor yang sudah bangun sejak tadi sangat mengganggu dan membuatnya panas dingin.
"Mau aku bantu melepas pakaian mu atau kamu sendiri yang membukanya untuk ku?." Tanya tuan Theodor memberikan pilihan. Tentu saja Gadis akan memilih opsi yang kedua. Tapi nyatanya tidak demikian.
Ketika dirinya membawa sebuah lingerie untuk dipakainya di kamar mandi, tangan tuan Theodor sudah menyambarnya perlahan.
"Biar aku bantu saja, supaya lebih cepat!." Tangan tuan Theodor sudah melingkar di pinggang ramping Gadis.
"Sebaiknya saya ke kamar mandi saja." Tolak Gadis namun tuan Theodor semakin mengeratkan tangannya pada perut Gadis sambil sedikit mengelusnya.
Hijab Gadis di lepas oleh tangan kekar milik tuan Theodor, menyisakan dalaman hijab saja.
Bibir tuan Theodor mendatar dengan sempurna pada bibir Gadis. Sebuah rasa yang begitu membuncah untuk pertama kalinya bagi mereka berdua, saat kembali mereka melakukannya dengan orang yang sama.
Perlahan bibir mereka sama-sama bergerak lembut, mencari posisi ciuman yang nyaman bagi keduanya.
"Eugh..." Gadis menahan desah@an ketika tangan kekar itu meremas salah satu buah dadanya dengan begitu kuat.
Tanpa melepas ciuman, tuan Theodor meloloskan semua pakaian yang melekat pada tubuh Gadis hingga tanpa sisa.
__ADS_1
"Saya mandi dulu, tuan." Ucap Gadis kala ciuman mereka terlepas. Tapi dengan cepat tuan Theodor menggeleng. "Nanti kita mandi bersama, sekarang lanjutkan yang ini saja, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."