
Tuan Theodor membantu Gadis untuk bangun dan mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Meski pun tidak ada sentuhan fisik namun cukup membuat jantung keduanya bekerja dengan lebih cepat.
Tuan Theodor kembali ke ruang tengah dan membuka pintu ketika ada orang kepercayaannya yang datang, membawakan pesanan pakaian kerja untuk wanita, lengkap dengan sepatu.
"Kau letakkan saja semuanya di sana." Tuan Theodor menunjuk ke atas sofa. "Mungkin besok aku tidak akan ke kantor. Aku akan menyelesaikan pekerjaan dari sini." Lanjutnya lagi sambil menyerahkan sejumlah uang.
"Baik, Tuan Theodor. Terima kisah." Balas orang kepercayaannya sambil berpamitan karena sudah tidak ada yang harus dikerjakannya lagi sana.
Tuan Theodor langsung kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
"Bagaimana kalau suatu saat nanti Gadis menerima Dominic dan mereka menikah lalu hidup bahagia?." Bayangan Tuan Dominic dan Gadis yang memakai pakaian pengantin pun menari di pelupuk matanya. Lalu berulang kali dia menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh bayangan yang menyebalkan itu lalu dia memejamkan matanya.
Keesokan paginya...
Gadis menemukan beberapa paper bag berukuran besar memenuhi sofa itu. Namun dia tidak berani melihat apa lagi membuka isinya. Karena itu bukan miliknya. Jadi hanya membersihkan apa saja yang bisa terjangkau oleh kedua tangannya.
Tuan Theodor terbangun saat sudah pukul 11 siang. Di saat apartemen sudah bersih, rapi dan wangi. Makanan lezat pun sudah terhidang di atas meja makan. Namun dia mencari penghuni satunya lagi yang sudah menyiapkan semua ini.
"Kemana Gadis?." Dia tidak menemukan keberadaan Gadis di dalam apartemennya.
Dia mencoba menghubungi Gadis namun tidak mendapatkan jawaban.
Gadis yang mendapatkan telepon dari seseorang segera mendatangi tempat dimana saat ini dirinya berada. Dan yang menelepon dirinya adalah teman satu kamar Jasmin, Erna.
"Aku dan Jasmin, sama-sama tidak ingin melibatkan mu dalam masalah kami. Tapi sekarang masalahnya sudah sangat parah. Meski pun Jasmin sedang sakit, Jasmin masih harus melayani para pria hidung belang itu oleh Paman dan Bibinya."
"Bibi Rumiati, Paman Wandi?."
Erna mengangguk lemah. "Iya, oleh mereka."
"Tapi untuk apa?."
"Untuk membayar semua hutang Jasmin pada mereka berdua?."
"Tunggu, Kak Erna. Jujur saja aku tidak mengerti. Bukannya selama ini kak Jasmin bekerja, jadi dia memiliki penghasilan sendiri. Lalu untuk apa dia memiliki hutang?."
__ADS_1
Erna yang merasa enggan untuk bercerita membuka masalah Jasmin. Terpaksa harus melakukannya. Karena hanya Gadis keluarga Jasmin.
Erna mulai menceritakan kejadian beberapa tahun silam, yang terjadi pada Jasmin. Saat Jasmin sedang kuliah dan bekerja di luar negeri, Singapura.
Pertemuannya dangan pria yang bernama Reymond membawanya dalam malapetaka yang berkepanjangan untuk hidup Jasmin. Karena pria itu yang sudah mengambil mahkota dan menyengsarakan hidup Jasmin. Karena setelah kejadian itu, Reymond mengenalkan Jasmin pada teman-teman Reymond dan mereka ikut merusak Jasmin.
Jasmin sampai harus berhenti bekerja dan kuliah secara bersamaan. Karena sudah tidak sanggup untuk melayani keinginan bejad dari mereka. Maka dari itu dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Tapi di sini, justru malah semakin hancur saja hidup Jasmin. Dia dijadikan sepi perah oleh Paman dan Bibinya. Untuk menutupi semua hutang yang mereka punya. Namun anehnya hutang itu semakin menumpuk bukannya terbayarkan.
Gadis mulai menarik nafas, dadanya begitu sesak mendengar kisah pilu hidup sang kakak. Yang jauh dalam pikirannya kalau kakaknya sekarang sudah menjadi wanita yang sukses dan memiliki karir yang bagus serta kehidupan yang sangat layak. Namun itu semua salah, justru kakaknya sedang berjuang seorang diri untuk hidup dan masa depannya.
"Berapa besar uang yang harus disiapkan untuk menebus kebebasan, Kak Jasmin?." Tanya Gadis usai bisa mengontrol emosinya dan berpikir jernih.
"Terakhir kalau aku tidak salah sudah mencapai 700jt."
Gadis menutup mulut dengan kedua tangan. "700jt." Batinnya. Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu. Selama ini tabungan yang dimilikinya tidak ada menyentuh angka 10jt. Karena sudah terpakai biaya kuliah.
"Apa ini bukan suatu pemerasan, Kak Erna?." Tanya Gadis, siapa tahu kalau ada unsur pemerasan, dia bisa melaporkan masalah ini pada pihak yang berwajib.
Erna menggeleng dengan menundukkan kepalanya. "Bukan, Gadis. Karena Jasmin sudah menandatangani surat perjanjian di atas materai. Dengan mengakui semua itu adalah hutangnya."
"Semakin cepat aku mendapatkan uang itu semakin cepat juga kak Jasmin akan bebas?."
"Iya, kurang lebih seperti itu."
Gadis menatap Erna, pada siapa dia harus meminta bantuan. Mana ada orang yang mau meminjaminya uang sebanyak itu.
"Nyonya Mireya?." Batin Gadis. Satu orang yang terlintas dalam benaknya. Karena hanya dia yang bisa menolongnya. Tapi bagiamana dia akan mengatakannya?.
"Tolong jaga kakak ku selama aku belum mendapatkan uangnya. Kabari aku terus jika ada apa-apa pada kak Jasmin." Erna mengangguk.
"Aku harus segera pulang karena aku sudah lama meninggalkan pekerjaan." Gadis menitipkan amplop untuk Jasmin.
"Iya, Gadis. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, kak Erna. Salam buat kak Jasmin."
"Iya, nanti aku sampaikan."
Gadis segera memesan ojek online, Pikirannya terus saja bekerja. Dia akan menebalkan mukanya untuk mencoba meminjam uang pada Nyonya Mireya. Ah namun keberaniannya tidak sampai ke sana. Lalu dia harus bagaimana?. Masa dia hanya berdiam diri saja saat kakaknya sangat kesusahan.
Gadis menutup pelan pintu apartemen. Tumpukan papar bag masih ada ditempatnya. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar, namun di meja makan itu Tuan Theodor duduk asyik dengan laptop didepannya. "Tuan Theodor tidak bekerja." Batinnya melihat pria itu lagi-lagi tanpa pakaian lengkap.
"Kau dari mana?." Tuan Theodor mengangkat wajah menatap Gadis dengan cukup intens.
"Saya ada keperluan dari luar, Tuan." Jawabnya tenang.
Tuan Theodor melihat pakaian Gadis yang terkesan biasa saja seperti ini tidak mungkin jika menemui Dominic.
"Baik lah, kau ambil semua paper bag itu lalu kau coba satu persatu dan aku ingin melihatnya."
"Semua papar bag itu?. Kenapa saya harus mencobanya satu persatu?." Gadis masih bingung dengan perintah Tuan Theodor.
"Iya, buka lah papar bag-paper bag itu. Lalu kau coba satu persatu di depan ku." Tuan Theodor mengulang perintahnya.
"Iya, Tuan " Gadis berjalan dan mulai membawa semua paper bag itu dan di taruh di atas meja makan.
"Buka lah!." Tuan Theodor menutup laptop dan menaruhnya di atas meja sebelah meja makan. Tuan menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja makan dengan tangan yang menyilang di dada.
Gadis mengangguk dan segera membuka paper bag.
"Pakaian kerja?." Gerakan Gadis melambat, karena ini bukan pakaiannya. Dia pun tidak ada memesan pakaian sebanyak dan sebagus ini. Uang yang ada di dalam rekeningnya sudah dia tarik untuk memberi kakaknya.
"Pakaian-pakaian ini?."
"Untuk kau bekerja besok, semuanya sudah aku persiapkan. Aku tidak ingin kau mempermalukan ku dan perusahaan karena pakaian kau yang terbilang biasa saja."
Gadis menatap pria itu, ingin rasanya dia menyumpal mulut pedasnya dengan bon cabai level 50.
"Tapi saya tidak memiliki uang sebanyak itu, untuk membayar semua pakaian-pakaian ini, Tuan."
__ADS_1
"Kau bisa memotongnya dari gaji kau nanti." Jawab Tuan Theodor asal. Padahal dia hanya bercanda saja. Dia memang membelikan semua itu karena keinginannya sendiri.
Sejenak Gadis berpikir, apa dia meminjam ke perusahaan saja, di potong dari gaji semuanya pun tidak masalah untuk membayarnya. Karena dia masih memiliki gaji dari pekerjaannya sebagai ART.