
Gadis masih betah berdiam diri di kamar mandi yang ada di dalam ruangan kerja tuan Theodor. Air matanya masih menetes saja padahal sudah lebih dari satu jam berada di sana. Tidak ada yang salah dengan apa yang telah disampaikan oleh Nyonya Mireya mengenai dirinya. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit sampai ke ulu hati.
Tuan Theodor yang sudah tidak bisa menunggu lagi segera mengetuk pintu kamar mandi.
Tok Tok
"Gadis, cepat buka pintunya!." Perintah tuan Theodor begitu tegas, bukan karena marah tuan Theodor melakuakan itu, hanya saja tuan Theodor sangat merasa cemas dengan keadaan Gadis yang masih saja di dalam kamar mandi.
Gadis segera membuka kunci dan langsung keluar dari sana, melewati tubuh tegap tuan Theodor lalu duduk di kursi miliknya. Menyembunyikan wajahnya dari tatapan suaminya yang begitu tajam menatap dirinya. Mulai mengerjakan dokumen yang sudah bertumpuk di mejanya.
"Kamu tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mama. Nanti juga Mama akan bisa menerima mu, percaya pada ku." Tuan Theodor berjongkok di samping Gadis lalu memutar kursi kerja Gadis jadi posisi mereka berhadapan.
Gadis segera menundukkan kepala begitu dalam. Tidak ingin menampakan wajah sembabnya pada tuan Theodor dan tidak ingin melihat wajah tuan Theodor yang terlihat seperti mengasihani dirinya.
"Aku tidak bisa bekerja kalau kamu seperti ini, Gadis ku!. Lihat lah aku!, aku begitu khawatir dengan keadaan mu." Tutur tuan Theodor mengangkat wajah Gadis dan air matanya itu kembali menetes membasahi pipinya.
"Aku baik-baik saja tuan, tuan jangan khawatirkan saya." Gadis memalingkan wajahnya dari tatapan tuan Theodor.
"Aku harus bekerja untuk menyelesaikan beberapa laporan yang sudah ada di meja ku. Nanti pulang dari sini kita akan pergi ke tempat yang kamu mau." Gadis menggeleng lemah, pergi kemana pun dirinya tetap tidak akan pernah tenang selama dirinya masih menjadi istri dari tuan Theodor Oliver.
"Aku tidak ingin ada penolakan apa pun dari mu. Aku akan cepat menyelesaikannya!." Tuan Theodor memegangi kedua sisi wajah Gadis lalu mencium paksa Gadis yang berusaha membuang wajahnya lagi.
Ciuman itu tidak mendapatkan balasan dari Gadis, tapi tuan Theodor tidak patah semangat untuk memancing sisi sensitif Gadis yang sangat diketahuinya.
Ciuman itu kini berbalas dengan sangat lembut namun cukup liar dan buas dan kini posisi mereka sudah berada di atas sofa dengan tubuh Gadis berada di atas tubuh tuan Theodor.
Gadis segera memposisikan kedua bagian inti mereka untuk menyatu dengan sempurna. Dan, "Ah..."
__ADS_1
Gadis mulai menggerakkan panggulnya, bergerak naik turun yang sama-sama memberikan kenikmatan, baik pada tuan Theodor atau pun untuk dirinya sendiri.
Cukup lama percintaan mereka kala itu, sehingga suasana hati Gadis kembali seperti semula. Baru setelahnya mereka menyudahi penyatuan dengan sama-sama mencapai pelepasan.
"Kamu istirahat saja di sini, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat." Ujar tuan Theodor setelah Hadis kelaur dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Baik lah, saya akan tidur sebentar. Kepala saya juga pusing. Tapi nanti saya juga akan menyelesaikan pekerjaan bagian saya." Balas Gadis sambil menutup kedua matanya. Sebelum beranjak dari sana tuan Theodor mengecup kening Gadis cukup lama. Setelahnya dia kembali duduk di kursi kebesarannya. Melanjutkan pekerjaan yang beberapa waktu terbengkalai karena hasratnya yang datang kala melihat Gadis sedang bersedih.
.
.
.
Tepat pukul sepuluh malam, pekerjaan Gadis dan tuan Theodor selesai bersamaan. Keduanya saling pandang dan segera merapikan meja kerja masing-masing. Mereka menyempatkan diri untuk makan roti yang dibeli Romi tadi sore.
"Darren tidak kita bawa?." Tanya Gadis sambil mulai melahap potongan roti.
Gadis hanya mengangguk lalu melanjutkan lagi memakan rotinya yang hanya tinggal satu potong.
"Setidaknya sebelum kita akan sibuk dengan pekerjaan lain dan juga sekolah Darren, kita bisa menghabiskan waktu berdua untuk lebih bisa menerima keadaan kita yang saat ini memang sepertinya kondisinya. Bukannya aku aku tidak ingin cepat memperjuangkan mu pada Mama, tapi nanti juga akan menemukan jalannya sendiri. Biarkan Mama tahu kamu wanita yang sangat istimewa yang sudah menemani putranya bukan karena apa pun melainkan karena cinta. Biar Mama terbuka mata hatinya dengan semua ketulusan mu." Tutur tuan Theodor, lalu mengecek email yang masuk pada posnelnya.
Gadis hanya diam saja mendengar penuturan suaminya yang panjang lebar. Berusaha untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh tuan sekaligus suaminya.
Hening mengambil alih ruangan kerja tuan Theodor untuk beberapa saat. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Hingga tiba-tiba apa yang disampaikan tuan Theodor sangat mengejutkannya.
"Kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku dapatkan." Tuan Theodor menyodorkan ponselnya pada Gadis dan Gadis lalu menerimanya.
__ADS_1
Gadis segera membaca beberapa baris tulisan dan melihat foto yang tersemat di sana. Gadis memicingkan matanya melihat foto tersebut guna melihat lebih jelas lagi. Sehingga beberapa detik kemudian kedua matanya membulat dengan sempurna. Dimana dalam foto itu terlihat Marco yang sedang berciuman dengan temannya.
"Apa semua ini benar?." Tanya Gadis masih dangan tidak percaya.
"Sepertinya iya, Papa juga sudah mengatakannya. Dan mereka baru saja pulang dari rumah sakit, Tante Maria harus mendapatkan perawatan setelah mengetahui ini." Tuan Theodor kembali menerima posnelnya dari Gadis.
"Semoga saja Nyonya Maria bisa kembali pulih seperti sedia kala." Ucap Gadis penuh harap dengan tulus.
"Iya pastinya, itu harapan kami semua." Sahut tuan Theodor sambil meremas bokong Gadis saat istrinya itu berdiri. Bokong selalu menggodanya dan menjadi salah satu bagian tubuh Gadis yang selalu menarik perhatiannya.
Tidak terasa sudah pukul dua belas malam, mereka berbincang banyak hal dan sudah merencanakan beberapa hal untuk Darren, sampai Romi datang dan segera meminta mereka untuk segera turun.
Romi membawa mereka ke sebuah tempat yang sangat diinginkan oleh Gadis untuk bisa menenangkan diri sekaligus mereka honeymoon. Namun Gadis tidak lupa tetap membawa pil penunda kehamilan yang selalu dibelikan oleh tuan Theodor.
"Kita akan kemana?." Tanya Gadis setengah berbisik.
"Lihat saja nanti. Kamu pasti akan menyukainya." Jawab Tuan Theodor sembari mengecup leher Gadis, sehingga Gadis harus mendongak. Lalu turun mengecup belahan dada Gadis yang sedikit terbuka.
"Berapa hari kita akan berada di tempat itu?."
"Mungkin tiga sampai empat hari. Aku juga bisa memantau pekerjaan dari sana. Kamu tenang saja."
Gadis hanya mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada lengan Tuan Theodor dengan mata yang mulai terpejam. Tangan tuan Theodor mengelus lembut wajah cantik Gadis yang tertidur disampingnya.
Cukup lama Gadis tertidur di samping tuan Theodor, bahkan Gadis tidak sadar saat taun Theodor harus menggendong dirinya dan merebahkannya di atas tempat tidur.
Sampai pagi menjelang, tuan Theodor menciumi seluruh permukaan wajah Gadis dan beberapa kali bibirnya.
__ADS_1
Gadis cukup terganggu dengan aksi tuan Theodor, terlebih ketika *******-***** Salah satu gunung kembarnya.
"Eugh....."