Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 78 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Malam ini, malam ketiga Gadis menginap di rumah sakit, menunggui Hanin yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Tanpa adanya Erna atau Jasmin yang menemani. Karena dirinya sudah jauh lebih tenang dan bisa melakukanya semua sendiri.


Dokter hanya selalu mengatakan, bantu putri ibu dengan doa dan kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya. Tidak ada kata-kata lain lagi diucapkannya.


Gadis berpegang teguh pada kekuatan doa yang selalu dipanjatkan meski dia bukan orang yang baik.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Gadis masih betah melafalkan doa-doa yang semoga saja menembus ke langit ke tujuh. Tanpa terasa doa-doa itu membawanya dalam sebuah rasa yang membuat kedua matanya terpejam.


Seseorang yang dua hari ini selalu masuk ke dalam ruangan Hanin tanpa sepengetahuan Gadis namun atas izin dari dokter. Orang itu betah duduk berlama-lama sambil memandangi wajah Hanin sampai menjelang pagi. Dia akan pergi sebelum ada suster yang mengecek keadaan Hanin dan tentunya selalu main kucing-kucingan dengan Gadis yang duduk di depan ruangan.


Tuan Theodor yang sudah duduk di depan Hanin, memandang wajah cantik putrinya yang begitu teduh dan menenangkan. Putrinya yang dia abaikan dan dia benci beberapa waktu lalu, tertutup api amarah yang masih menyala karena Gadis telah pergi meninggalkannya.


Sampai saat ini Gadis masih menyangkal kalau Hanin adalah putrinya. Namun entah kenapa dia begitu meyakininya saat Hanin memanggilnya Papa sebelum anak itu tidak sadarkan diri. Dia juga sudah meminta dokter rumah sakit ini untuk melakukan tes DNA atas dirinya dan juga Hanin. Dan itu masih dalam tahap proses menuju selesai.


"Bangun lah, Hanin!. Ini Papa!. Buka mata mu, Nak!. Aku Papa mu, bukannya kamu ingin menemui ku dan memanggil ku Papa. Cepat lah kamu harus bangun!."


Setiap tengah malam tuan Theodor selalu mengajak Hanin berbicara sambil memegangi erat tangan Hanin. Berharap keajaiban itu akan datang.


"Bangun lah Nak dan buka mata mu!. Lihat aku dan Mama ada di sini, bersama mu!." Tuan Theodor membawa genggaman tangan Hanin dan meletakkannya pada keningnya, dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendungnya. Tuan Theodor menumpahkan rasa bersalah yang menggunung tinggi dan memohon ampunan pada sang putri.


"Tolong maaf kan Papa, Hanin."


Satu jam, Tuan Theodor menggenggam tangan mungil itu, hingga beberapa detik dirinya tertidur lelap sampai suara seseorang membangunnya.


"Papa...Papa...Papa..."


"Hanin..."


"Papa...Mama..."


"Hanin..."


Tuan Theodor segera mengambil ponsel dan menghubungi dokter yang berjaga.

__ADS_1


Dokter segera datang bersamaan dengan Gadis yang membuka matanya, Gadis mengikuti arah dokter yang menutup pintu.


"Semoga Hanin baik-baik saja." Batin Gadis melihat dari kaca yang tidak tertutup tirai.


Gadis mengerutkan keningnya kala dia melihat ada sosok lain di dalam sana.


"Tuan Theodor." Gumam Gadis saat dapat menangkap sosok yang sangat dikenalnya.


Pandangan mata Gadis tidak lepas dari interaksi orang-orang yang ada di dalam sana, Gadis semakin memperjelas pandangannya kala tuan Theodor mengecup kening Hanin berulang kali.


"Sungguh luar biasa dengan putri mu, putri mu bisa bertahan dengan tubuhnya yang sudah parah."


"Ini sebuah keajaiban dan pasti semua ini karena doa dan kebaikan Mamanya." Ucap Tuan Theodor menyeka air matanya.


Dokter hanya mengangguk lalu menatap Hanin yang menatap lekat wajah tuan Theodor.


"Selanjutnya aku akan memastikan keadaan Hanin bisa kembali normal. Mungkin kalau semuanya sudah stabil, nanti siang putri mu akan dipindahkan ke ruang inap."


"Iya dokter, aku serahkan semuanya pada kalian. Tapi aku minta jangan pernah mengatakan apa pun pada Mamanya jika ada yang tidak beres dengan putri ku, cukup kau kabari aku saja. Dan tetap lakukan yang terbaik untuk putri ku."


"Baik dokter, terima kisah."


Gadis yang masih di depan pintu, langsung menghadang dokter yang baru saja keluar.


"Ibu bisa masuk tapi setelah memakai pakaian yang kami sediakan. Nanti suster akan membawanya untuk ibu." Ucap dokter sebelum Gadis mengajukan pertanyaan apa pun. Karena pastinya Gadis ingin segera menemui anaknya.


Gadis hanya mengangguk sambil menitikkan air mata. Rasanya sungguh tidak percaya, tapi sekarang putrinya telah bangun dari tidur panjangnya.


Setelah mengenakan pakaian khusus, Gadis masuk ke dalam ruangan tersebut. Pandangan langsung tertuju pada Hanin yang tersenyum kearahnya.


"Mama..."


"Hanin..."

__ADS_1


Gadis tidak ingin mengedipkan matanya, takut ini jika hanya ilusinya saja.


"Mama..."


Gadis memegangi tangan Hanin dan mengecupnya berulang kali.


"Alhamdulillah, Hanin. kamu sudah sadar."


Hanin melihat sekilas tuan Theodor yang hendak pergi, meninggalkan keduanya.


"Papa, mau kemana?. Tolong tinggal di sini bersama kami."


Ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi bagi Gadis setelah Hanin sadar, saat Hanin meminta tuan Theodor untuk tetap tinggal bersama mereka.


Gadis diam seribu bahasa, dia bisa apa jika itu yang diinginkan oleh Hanin. Momen yang sudah sangat ditunggunya.


"Tempat Papa di sini, di sisi Hanin." Pintanya dengan suara pelan.


Gadis segera memalingkan wajahnya ketika tuan Theodor berada di sisi kanan Hanin, yang artinya saat ini mereka sedang duduk berhadap-hadapan. Lagi-lagi dia harus segera menghapus air matanya.


"Hanin ingin ada Mama dan Papa seperti ini." Ucap Gadis kecil itu begitu lirih, sesekali menutup mata dan kembali membukanya. Menahan dan melawan rasa sakit yang mulai menyerang tubuhnya.


"Mama...Papa..." Ucapnya lagi sambil memegangi tangan Gadis dan tuan Theodor yang besar dengan tangan mungilnya.


"Kamu harus istirahat, jangan terlalu banyak bicara." Gadis merapikan selimut dan meminta Hanin untuk tidur lagi. Tapi Hanin menolak dengan menggelengkan kepala. Memperlihatkan senyum yang begitu tulus pada kedua orang tuanya. Namun tidak lama, kedua mata Hanin perlahan mulai tertutup dengan tangan yang melemah pada pegangan tangan Gadis dan Tuan Theodor.


"Hanin!...Hanin!..." Gadis berusaha membangunkan Hanin, tapi tidak ada pergerakan apa pun dari Hanin. Begitu juga dengan tuan Theodor, dia segara menghubungi dokter yang berjaga.


Sementara itu di lain tempat. Nyonya Mireya dan rombongan baru sampai di kamar hotel yang di sewa oleh meraka setelah tiga hari menginap di rumah sakit.


Nyonya Mireya membatalkan penerbangan ke Jakarta, karena dia ingin memastikan sesuatu yang sangat menganggu tidurnya siang dan malam.


"Apa Hanin cucu ku?." Tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Hanin sudah mengorbankan hidupnya untuk Violetta dan bayinya, cucu ku anak yang baik. Tapi aku begitu jahat, sudah berulang kali berusaha melenyapkannya. Tapi sekarang, malah dia yang pasang badan untuk keselamatan Vilettta dan bayinya yang merupakan kebahagiaan kami namun sebuah luka untuk mu dan Mama mu."


__ADS_2