Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 29 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tuan Theodor mengajak Gadis untuk berangkat ke kantor bersama, namun hanya Gadis yang turun dari mobil mewah itu tepat di depan kantor. Tuan Theodor melajukan kembali lagi mobilnya, saat ini tujuannya adalah rumah kedua orang tuanya.


Tuan Theodor ingin memastikan apa yang didengarnya kemarin malam dari mulut sang Mama yang dikatakannya pada Gadis.


Ya, Tuan Theodor sudah mendengar semua yang dikatakan oleh Nyonya Mireya pada Gadis. Ada rasa tidak terima ketika Gadis disudutkan oleh Nyonya Mireya.


Sampai di rumah, dirinya berpapasan dengan Tuan Dominic yang baru akan berangkat bekerja.


"Awas saja kalau kau sampai menyakiti Gadis. Aku akan membuat perhitungan!." Ancam Tuan Domonic dengan wajah sengitnya.


"Kau urus saja pernikahan kau dengan Magdalena!, jangan pernah sekali pun untuk lari dari pernikahan dan menjadi seorang pengecut!. Apa lagi jika aku tahu kau menyeret Gadis dalam masalah yang kau buat!. Kau tahu akan berurusan dengan ku!." Tidak kalah sengit Tuan Theodor balik mengancam Tuan Dominic.


Keduanya berjalan dengan mengambil arah yang berbeda. Jika Tuan Dominic keluar menuju mobilnya yang terparkir, sedangkan Tuan Theodor masuk ke dalam rumah karena tujuan utamanya menemui kedua orang tuanya.


"Selamat pagi Ma...Pa..." Sapa Tuan Theodor menyapa kedua orang tuanya yang masih ada di ruang makan. Kemudian Tuan Theodor mengambil posisi duduk di sebelah kiri Tuan Patricio.


"Selamat pagi Theodor. Tumben sekali kau kemari, ada apa?." Tanya Tuan Patricio sambil mengelap mulutnya dengan kain yang sudah disediakan.


"Kau mau ikut makan?." Nyonya Mireya memberikan piring kosong yang bisa diisi makanan oleh Tuan Theodor.


"Tidak Ma, terima kasih." Tuan Theodor menolaknya. "Aku hanya ingin berbicara dengan kalian." Lanjutnya lagi sambil menatap keduanya orang tuanya secara bergantian.


"Ada apa?." Tanya Tuan Patricio meletakkan ponsel yang baru dipegangnya.


"Apa benar aku memiliki anak dari Violetta?. Dan kalian juga sudah mengetahuinya?."


Tuan Patricio dan Nyonya Mireya saling pandang lalu kembali menatap Tuan Theodor.


"Bagus kalau kau sudah mengetahuinya. Jadi Papa tidak perlu repot-repot menjelaskannya.


"Memang benar kau sudah memiliki anak dari Violetta. Papa dan Papa nya Violetta sudah sepakat untuk menikah kan kalian setelah pernikahan Dominic dan Magdalena."


"Papa yakin kalau itu anak ku?."


Nyonya Mireya tersenyum sinis yang dilayangkan pada sang putra. "Kau lupa jika kau pria pertama untuk Violetta. Tanpa melakukan tes DNA pun Darren sangat mirip dengan kau waktu kecil."


"Nanti malam pulang lah ke sini, Papa akan mengundang mereka. Supaya kau bisa melihat langsung, itu anak kau atau bukan?. Kalau pun kau mau melakukan tes DNA silakan saja, Violetta bersedia."


Tuan Theodor terdiam, menatap kedua orang tuanya. Sepertinya akan sulit dirinya keluar dari situasi ini.

__ADS_1


"Kau harus membayar mahal untuk hari-hari yang telah dilewati oleh Violetta karena ulah kau yang saat itu belum ingin menikah dan memiliki anak. Sehingga Violetta lebih memilih pergi membawa anak kalian dan membesarkannya seorang diri."


Tuan Theodor hanya terdiam, menghindari perdebatan di pagi hari ini.


"Baik, nanti malam aku akan pulang ke sini." Itu kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum berpamitan pada Nyonya Mireya.


Tuan Theodor dan Tuan Patricio berangkat bersama ke kantor dengan mobil yang berbeda.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Tuan Theodor terus saja bekerja. Memikirkan banyak hal yang sangat menganggu Pikirannya. Terutama Gadis.


Kalau sampai dia membuang Gadis, akan ada banyak pria yang menampung gadis cantik itu. Termasuk Tuan Dominic. Sementara dirinya sudah begitu candu dengan tubuh indah milik Gadis. Kalau dia tidak membuang Gadis, hubungan dirinya dan Violetta akan kembali rusak. Sedangkan dalam hati kecilnya dia ingin memperbaiki semuanya bersama Violetta terlebih mereka sudah memiliki anak.


Saking terlalu asyik dengan pikirannya, tidak terasa mobilnya sudah berada tidak jauh dari kantor.


Tuan Theodor menuju ruang kerja setelah memarkir mobilnya. Dia berjalan dengan sangat tergesa-gesa.


Sampai di dalam ruangannya, Tuan Theodor menemukan Gadis yang sedang berdiri dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku sampai melepaskan kau?." Tanya Tuan Theodor secara tiba-tiba.


"Aku akan sangat bahagia. Karena bisa hidup bebas tanpa harus memenuhi kebutuhan biologis seseorang."


"Boleh-boleh saja, asal kan pria itu mau menjadikan saya istrinya." Jawabnya dengan sendu. Karena mana mungkin ada pria yang mau menerima dirinya yang sudah sangat kotor.


Seketika Tuan Theodor menghampiri Gadis dan memeluknya saat erat.


"Asalkan kau tidak pernah memberikan tubuh indah ini pada pria lain. Maka aku akan melepas mu. Karena aku akan menikah dangan Violetta."


Gadis diam mematung, ada perasaan bahagia dan sedih yang datang dalam waktu yang bersamaan. Namun dia tidak tahu bersedih untuk apa?.


"Tapi sebelum itu terjadi, kita akan berlibur dan aku sudah menyiapkan semuanya." Lanjut Tuan Theodor sambil melepas pelukannya.


Tuan Theodor berjalan menjauh dari posisi Gadis yang masih berdiri.


.


.


.

__ADS_1


Tuan Theodor pulang ke rumah kedua orang tuanya. Malam ini dirinya akan bertemu dengan Violetta dan anaknya secara resmi. Karena ada kedua orang tua mereka.


Kedatangan Tuan Theodor rupanya sudah di tunggu oleh mereka semua di ruang keluarga.


"Lihat lah itu, Darren!. Papa mu sudah pulang." Tuan Patricio memberitahu cucunya dengan menunjuk kearah Tuan Theodor.


Darren anak berusia tujuh tahun itu menatap sosok pria yang diperkenalkannya sebagai Papa nya.


Tuan Theodor tidak bisa memungkiri jika anak kecil itu memang anaknya, darah dagingnya.


"Papa..."


"Darren..."


Darren berhambur memeluk Tuan Theodor yang berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka.


"Kau memang putra ku." Tuan Theodor memeluk erat putranya.


Violetta tersenyum lebar kala Tuan Theodor tidak menolak keberadaan Darren yang memang merupakan anak kandungnya.


Kedua pria beda generasi itu duduk bersebelahan, bak pinang di belah dua.


"Jadi kapan mereka bisa menikah?." Tanya Tuan Rizzo, Papa nya Violetta.


Tuan Rizzo mengedarkan pandangannya pada Tuan Theodor, Tuan Patricio dan Nyonya Mireya.


"Paling tiga atau sampai empat bulan setelah pernikahan Dominic dan Magdalena. Bagiamana menurut kalian?." Tuan Patricio melemparkan lagi pertanyaan pada mereka.


"Aku ikut saja bagaimana baiknya." Jawab Violetta ketika mendapatkan tatapan dari Tuan Patricio dan Nyonya Mireya.


"Bagiamana dengan kau, Theodor?. Tidak mungkin kalau putri ku saja yang menginginkan pernikahan ini sementara kau tidak."


"Seperti yang Papa ku bilang. Aku ikut saja." Jawab Tuan Theodor kalau dia juga tidak memiliki alasan untuk menolak pernikahan ini.


Mendengar kesepakatan kedua keluarga bahkan Tuan Dominic sempat merekamnya, pria itu segara bergegas pergi kemana lagi perginya kalau bukan untuk menemui Gadis.


Gadis segera membuka pintu tanpa tahu siapa yang datang mengetuk pintu.


"Tuan Domonic!."

__ADS_1


__ADS_2