Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 28 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis menangis dalam diamnya ketika percintaan mereka kali ini merupakan yang paling menyakitkan baginya. Bukan hanya tubuhnya saja melainkan hatinya juga.


Lagi-lagi Tuan Theodor melampiaskan kemarahannya pada Gadis. Terlebih dia begitu marah karena bibir Gadis dicium oleh Tuan Domonic tepat di depan matanya. Kini pada bibir Gadis terdapat tanda kebiruan.


Tubuhnya pun dipenuhi dengan tanda yang sama persis.


"Itu lah akibatnya kalau kau membiarkan pria lain menyentuh milik ku!." Tuan Theodor melempar pakaian Gadis tepat pada wajahnya.


Gadis menyeka air matanya lalu mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Tidak lama dia sudah keluar dengan penampilan yang rapi.


Gadis mengambil tas lalu mematikan lampu ruangan tersebut sebelum keluar dari sana karena sudah tidak ada tuan Theodor.


"Tuan Theodor meminta saya untuk mengantar Mbak Gadis sampai apartemen." Suara Romi menghentikan langkah Gadis yang berjalan sambil melamun. Gadis mengangguk mengikuti langkah Romi dari belakang.


Sedangkan itu Tuan Dominic sudah mendapatkan bantuan dari Nyonya Mireya, mengobati luka pada sudut bibir dan wajah tampannya.


"Kenapa kalian harus berkelahi seperti ini?. Apa yang kalian ributkan?." Cecar Nyonya Mireya sambil meletakkan obat-obatan pada tempatnya.


"Ma..." Panggil Tuan Domonic meraih kedua tangan Nyonya Mireya, menggengamnya dengan sangat erat, lalu memintanya duduk di sebelah dirinya.


"Ada apa?." Tanya Nyonya Mireya begitu cemas. Karena kali pertama dirinya melihat Tuan Dominic seperti sekarang ini.


"Apa yang akan terjadi pada keluarga kita kalau aku membatalkan pernikahan ku bersama Magdalena?." Tanya Tuan Dominic begitu serius.


Nyonya Mireya melepaskan tangannya dari genggaman Tuan Domonic. Nyonya Mireya tidak percaya dengana apa yang ditanyakan oleh putra keduanya.


"Katakan yang jelas, Dominic?. Ada apa?. Apa yang membuat kau berubah pikiran pada saat pernikahan sudah siap semuanya?." Cecar Nyonya Mireya lagi. Sebab sudah tidak ada waktu untuk mundur apa lagi sampai membatalkan pernikahan mereka.


"Aku telah mencintai wanita lain sebelum aku menerima pernikahan ini, Ma. Tapi di saat yang bersamaan aku juga harus kecewa karena wanita itu sudah menjadi milik orang lain. Tapi aku juga tidak sanggup kalau harus melanjutkan rencana pernikahan ku, Ma. Aku pasti akan menyakiti Magdalena dan kalian semua."


"Jangan omong kosong, Dominic!. Pasti Papa tidak akan suka dengan lelucon kau ini. Mama mungkin bisa mengerti tapi tidak dengan Papa!." Nyonya Mireya mulai takut jika ini akan membawa dampak yang buruk bagi keadaan suaminya.


"Ma, aku tidak sedang bercanda. Aku sangat mencintai wanita itu." Ucap Tuan Domonic putus asa. Dia tidak akan bisa mengikat diri pada pernikahan selama hatinya masih terpaut pada Gadis.

__ADS_1


"Apa wanita itu, Gadis?." Tebak Nyonya Mireya menatap wajah sang putra. Berharap bukan Gadis yang dicintai putra keduanya itu. Kalau pun iya dirinya tidak mungkin memberikan izin apalagi merestuinya.


Tuan Dominic mengangguk lemah sambil menatap Nyonya Mireya. Tapi tidak ada reaksi yang berlebihan yang ditunjukan oleh Mamanya.


"Jadi benar dugaan Mama selama ini, kalau kau memang menaruh hati pada Gadis. Makanya Mama meminta Gadis untuk bekerja pada Theodor. Namun rupanya kau masih belum melupakannya. Dan sekarang karena Gadis, kau mau membatalkan pernikahan." Ucap Nyonya Mireya bangkit.


Gadis memang baik, cantik, pintar, pekerja keras, tapi Nyonya Mireya tidak pernah menginginkan Gadis untuk menjadi menantunya.


"Lupakan Gadis!. Kau akan tetap menikah dengan Magdalena. Itu keputusan Mama." Putus Nyonya Mireya sepihak, dia tidak ingin mendengarkan apa pun alasan Domonic. Tuan Dominic hanya diam seribu bahasa.


"Istirahat lah!. Mama harus menemui Papa." Pamit Nyonya Mireya menepuk pundak Tuan Domonic.


Nyonya Mireya segara bergegas meminta supir untuk menyiapkan mobil. Dengan sangat tergesa Nyonya Mireya pergi meninggalkan rumah bersama supir pribadinya.


Sampai di tempat yang di tuju, Nyonya Mireya langsung masuk karena dirinya memiliki akses masuk kalau tidak di rubah oleh Tuan Theodor.


"Gadis..." Panggil Nyonya Mireya pada saat sudah sampai di unit apartemen Tuan Theodor. Saat ini Gadis sedang berada di dapur, mencuci perlengkapan makan malam dirinya dan Tuan Theodor. Gadis menengok ke belakang dan ternyata itu Nyonya Mireya.


"Nyonya Mireya..." Gadis meninggalkan cucian piringnya dan berjalan mendekati Nyonya Mireya yang sudah duduk di kursi.


"Aku tidak ingin basa-basi, Gadis. Apa pernah kau menggoda Domonic?."


Gadis menggeleng dengan cepat, dia paham kedatangan Nyonya Mireya kali ini pasti karena pernyataan perasaan Tuan Dominic padanya.


"Bagus kalau kau tidak menggoda Domonic. Karena kau tahu dia akan segera menikah dengan Magdalena."


"Iya, Nyonya Mireya." Ucap Gadis di buat setenang mungkin, meski hatinya sedang bergejolak.


"Gadis, aku perlu menegaskan sesuatu di sini. Aku tidak ingin kau salah paham pada ku dan suami ku.


"Kalau selama ini kami baik, perhatian dan sayang pada kau, bukan berarti kami bisa menerima kau menjadi menantu kami. Itu dua hal yang sangat berbeda. Aku tidak pernah menginginkan kau, baik untuk menjadi istri Domonic apalagi Theodor. Dan aku rasa kau akan sangat paham kenapa aku harus mengatakan hal ini.


"Kau pasti tahu bukan, kalau Violetta sudah kembali dan bahkan membawa anak dari Theodor. Jadi setelah ini, aku juga akan menikahkan Theodor dengan Violetta, cinta dan wanita pertama bagi Theodor. Jadi aku harap kau mengerti dan akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami.

__ADS_1


"Mungkin nanti kalau Violetta dan anak mereka sudah di sini. Kau akan kembali bekerja di rumah ku dan tetap menjadi sekertaris Theodor. Itu tidak masalah bagi ku."


"Baik. Saya mengerti, Nyonya Mireya." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Gadis untuk penuturan Nyonya Mireya yang sangat panjang lebar.


"Baik lah aku harus pulang. Jangan kau katakan apa pun pada Theodor kalau aku ke sini."


"Iya, Nyonya Mireya."


Gadis mengantar Nyonya Mireya sampai depan pintu, lalu dia kembali melanjutkan mencuci piring sampai selesai.


Dia berusaha untuk mengabaikan rasa sakit di ulu hatinya, karena ada beberapa ucapan Nyonya Mireya yang akan selalu diingatnya. Dia pun akan selalu sadar diri untuk tidak bermimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan apa pun dalam hidupnya. Terlebih dia telah melepas sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


"Siapa yang datang?." Tanya Tuan Theodor menatap intens pada wajah cantik Gadis yang baru saja mematikan lampu dapur.


"Tidak ada, Tuan Theodor." Jawab Gadis tanpa menatap wajah lawan bicaranya.


"Apa yang kau sembunyikan?." Tuan Theodor menarik pinggang Gadis dan menempelkan pada tubuhnya.


"Tidak ada." Jawab Gadis singkat sambil menunduk.


Gadis menatap wajah Tuan Theodor yang sedang menatapnya dengan sangat dalam.


"Apa saya akan bisa lepas dari Tuan Theodor, kalau saya bisa mengganti semua uang yang telah Tuan Theodor keluarkan untuk saya?." Tanya Gadis dengan banyak keresahan yang mulai dirasakannya.


Tuan Theodor mengelus lembut pipi Gadis, mengecup perlahan setiap inci wajah Gadis dengan begitu lembut dan penuh penghayatan.


"Aku tidak yakin kau akan bisa mengganti semua uang ku, mana ada orang yang mau membayar tinggi untuk barang bekas?."


Gadis merapatkan bibirnya, menahan rasa yang semakin sakit. Tapi dia mencoba tersenyum walau terasa sungguh sangat perih.


"Mungkin Tuan Theodor benar, tapi saya akan mencoba mencari penawaran tertinggi atau mungkin yang bisa membeli saya dari Tuan Theodor."


Tuan Theodor tersenyum tipis, lalu mengecup bibir Gadis sekilas.

__ADS_1


"Selamanya kau akan tetap berada di atas tempat tidur ku, di bawah kendali ku, di situ lah tempat yang seharusnya kau dapatkan. Jangan pernah berani pergi atau mencoba mencari penawaran apa pun atas seluruh tubuh ini. Karena di sini sudah tercetak jelas semua kepemilikan dari Theodor Oliver Dias Fidal." Tuan Theodor melepas semua pakaian Gadis tanpa sisa.


__ADS_2