Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 43 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Pesta pernikahan tuan Dominic dan Magdalena sudah selesai dua jam yang lalu, saat jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dengan beraneka ragam serba serbi yang terjadi di dalamnya.


Semua para tamu undangan, sanak saudara sudah pulang. Kedua orang tua dari kedua mempelai pengantin pun sudah pulang, termasuk Violetta dan Darren. Mereka pulang ke rumah Nyonya Violetta.


Meninggalkan dua pasang pengantin dan satu pasang muda-mudi yang saat ini sudah berada di dalam kamar masing-masing dengan kegiatan yang hampir sama di saat ini.


Jika di kamar yang ditempati oleh tuan Domonic dan Magdalena, mereka sedang saling mencumbu memberikan kenikmatan satu sama lain dengan tampilan yang sudah sama-sama full naked. Hampir sama dengan tuan Dominic dan Magdalena, satu pasangan suami istri ini pun, tuan Theodor dan Gadis sedang saling mencumbu namun tidak sampai full naked karena Gadis yang sedang mendapatkan tamu bulanan. Akan tetapi tidak mengurangi keintiman yang terjadi.


Sementara itu satu pasang muda-mudi yang tiba-tiba saja memilih untuk mengambil satu kamar hotel, yang saat ini sudah mereka tempati setengah jam yang lalu setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan banyak hal. Namun pada akhirnya mereka setuju untuk tetap berada di hotel itu.


"Kau yakin, Om dan Tante tidak akan mencari?." Tanya Galang yang saat ini sedang berpelukan dengan Ramona.


Berpelukan di depan sebuah dinding kaca yang memperlihatkan keindahan kota Jakarta pada saat malam hari, dengan gedung pencakar langit yang memperlihatkan lampu-lampu yang begitu cantik dan menarik untuk dipandang.


"Hem, aku sudah bilang pada Mama kalau aku menginap di rumah Natalia." Jawab Ramona yang begitu semakin nyaman dalam pelukan Galang.


Galang mengangguk mempercayainya sambil mengelus rambut kepala Ramona. Entah kenyamanan seperti apa yang menerjang perasaan mereka saat ini sampai baik Ramona mau pun Galang ingin menghabiskan malam bersama untuk pertama kalinya.


Keduanya mulai saling mengungkapkan rasa tertarik mereka, pada mereka yang tidak sama sekali membalas perasaan mereka, karena mereka masih menyimpan perasaan tersebut dengan rapi. Meski sudah ada isyarat-isyarat tertentu yang mereka perlihatkan.


"Apa kau tetap akan menyukai Gadis atau akan mencoba berpaling pada wanita lain?." Tanya Ramona sambil mendongak menatap wajah tampan Galang.


"Mungkin saja karena sepertinya Gadis sudah memiliki pria idaman lain." Jawabnya jujur dan berusaha realistis.


"Kau sendiri bagaimana pada Yacob?." Tangan Galang mengelus lembut pipi Ramona yang begitu halus.


"Aku kan melupakan Yacob dan berpaling pada pria yang memberikan aku pelukan nyaman seperti ini." Kedua bibir Ramona terangkat sempurna, memperlihatkan senyum manis yang dimilikinya.


Entah bagaimana dan siapa yang telah memulai, kini bibir mereka sudah menempel satu sama lain. Interaksi pertama bagi keduanya saling bersentuhan fisik bersama lawan jenis.


Sementara itu di kamar pengantin yang beberapa jam lalu telah sah menjadi pasangan suami istri. Magdalena sedikit cukup kecewa karena tuan Domonic karena terus saja menolak dengan halus saat akan melakukan penyatuan.


"Ada apa, sayang?." Tanya Magdalena frustasi, posisi keduanya sudah siap untuk melakukan penyatuan. Namun lagi-lagi Tuan Dominic menghentikannya.


"Kalau kita tunda bagaimana?. Aku benar-benar sangat sangat tidak prima. Takut nanti malah mengecewakan."


Magdalena tidak bisa menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh Tuan Dominic. Dia bangkit dan membalik posisi tubuh mereka sehingga Magdalena yang berada di atas tubuh tuan Domonic.


"Apa pun yang akan terjadi malam ini, aku akan menerimanya. Aku akan lebih kecewa kalau kau terus saja menghindar dari malam pertama kita." Magdalena sudah tidak sabar untuk melakukan penyatuan yang sudah lama dinantikannya.

__ADS_1


Tuan Dominic sudah pasrah ketika Magdalena sudah kembali bermain dengan pusat inti dari tubuhnya yang merespon dengan sangat cepat.


Di rasa sudah cukup memberikan rangsangan, Magdalena dengan penuh percaya diri memposisikan dirinya di atas senjata tuan Dominic yang sudah tegang menantang.


Perlahan namun pasti, baik Magdalena atau pun tuan Domonic mulai merasakan sakit pada inti tubuh mereka. Namun baik keduanya tidak ada yang ingin berhenti dari kegiatan yang ternyata mampu membangkitkan sisi liar tuan Domonic. Sehingga tuan Dominic membantu Magdalena untuk memasukkan batangnya ke dalam gua surgawi milik Magdalena.


"Ah..." Desah keduanya bersamaan saat mereka sama-sama merasakan kedua inti mereka telah menyatu dengan sangat sempurna.


Magdalena menggigit bawahnya ketika intinya merasakan perih yang luar biasa pada inti tubuhnya.


"Apa aku keluarkan saja?." Magdalena menggeleng sambil menyeka air matanya.


"Apa sakit sekali?." Magdalena mengangguk dengan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher tuan Dominic.


Membiarkan sejak kedua inti tubuh mereka tanpa melakukan pergerakan apa pun supaya mengurangi rasa sakit yang dirasakan Magdalena.


Sedangkan di kamar Tuan Theodor dan Gadis. Entah sudah berapa kali tuan Theodor mendapatkan pelepasannya dengan bantuan Gadis tentunya.


"Apa tuan tidak merasa lelah?." Tanya Gadis dengan wajah yang penuh keringat dan rambut yang sangat berantakan dibarengi cucuran keringat.


Tuan Theodor tertawa geli sekaligus gemas melihat ekspresi wajah Gadis yang begitu lucu karena memajukan bibir tebal karena ulahnya.


Gadis hanya menatap malam pada tuannya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.


Setelah selesai dengan ritualnya, Gadis segera keluar sudah dalam keadaan segar dan lebih wangi lagi.


Keduanya naik keatas tempat tidur dan tidur saling berpelukan. Rasa lelah telah keduanya rasakan sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk tetep terlelap.


.


.


.


Sebenarnya hari ini hari Minggu dan kantor pun pastinya libur. Tapi karena ada pembicaraan penting antara tuan Theodor dan tuan Patricio, makanya mereka pun datang ke kantor tepat pada waktu yang telah dijanjikan.


Kini kedua pria itu sudah berada di ruang kerja tuan Patricio tanpa Gadis.


"Apa yang ingin Papa dengar atau tahu dari ku?."

__ADS_1


"Apa saja yang kau sembunyikan selama ini?."


Tuan Theodor menarik nafas sebelum melanjutkan obrolannya.


"Ok, aku dan Gadis sudah menikah secara sah dan pernikahan kami memiliki kekuatan hukum."


"Kau?."


"Aku mencintai Gadis dan aku tidak bisa melihat Gadis bersama pria lain."


"Lalu Violetta dan Darren?." Tuan Patricio memijat pelipisnya.


"Darren akan tetap menjadi tangung jawab ku dan Violetta aku tidak harus bertanggung jawab apa pun."


"Kau ini. Kemarin kau sudah menyanggupi untuk menikah dangan Violetta. Sekarang kau malah sudah menikahi Gadis." Tuan Patricio merasa pusing dengan kelakuan tuan Theodor.


"Apa Papa merestui kami?." Tuan Patricio menatap wajah putranya dengan begitu lekat.


"Gadis anak yang baik, pintar, cantik. Makanya kami ingin yang terbaik untuk Gadis. Tapi bukan untuk menjadi menantu di rumah kami."


"Aku tidak peduli jika Papa dan Mama tidak merestui aku dan Gadis. Aku sudah sangat bahagia bisa bersama Gadis. Dan aku nanti yang akan bicara pada Violetta dan Papanya."


"Kalau hanya bicara mudah Theodor. Tapi kau tidak tahu pasti Mama akan sangat marah bila mengetahui ini dan kau harus membatalkan pernikahan dengan Violetta. Karena Mama begitu sudah berharap banyak pada kau dan Violetta serta Darren."


"Aku akan menerima segala resikonya nanti jika Mama akan marah asalkan tidak melampiaskannya pada Gadis."


"Papa tidak bisa menjamin hal itu, karena semua ini kesalahan yang kau buat sendiri. Kau jaga saja Gadis dangan baik, jangan sampai Mama mencari Gadis dan menumpahkan semua kesalahan kau pada Gadis."


"Iya Pa, terima kasih."


Obrolan penting itu pun berakhir saat sudah pukul tiga sore. Keduanya keluar dari gedung perkantoran itu, namun menempuh arah pulang yang berbeda.


Tuan Theodor kembali lagi ke hotel karena dia meninggalkan Gadis untuk beristirahat di sana.


Tuan Theodor membuka pintu dan menemukan Gadis sudah berdiri menyambutnya dengan pertanyaan.


"Bagaimana?."


"Papa sudah tahu tentang pernikahan kita dan kemungkinan Papa merestui dengan caranya sendiri. Tapi Mama yang akan sedikit lebih sulit untuk menerima pernikahan kita."

__ADS_1


"Nyonya Mireya pasti akan sangat membenci saya karena saya sudah banyak mengecewakannya." Ucap Gadis begitu sendu.


__ADS_2