Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 32 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis mengingat apa yang dikatakan oleh Tuan Domonic, jika tuan Dominic akan menerima dirinya apa adanya. Berarti akan ada orang yang bisa menerima dirinya. Meski pun mungkin akan susah. Tapi Gadis juga tidak berpikir akan datang pada tuan Dominic.


"Tuan tenang saja, pasti akan ada yang mau dengan saya. Tapi mungkin tidak sekarang, karena saya juga harus fokus pada kuliah dan pekerjaan saya." Ucap Gadis dengan enteng.


"Kalau tidak ada?."


"Ya sudah kalau tidak ada yang mau dengan wanita seperti saya, saya akan menjadi wanita karir yang akan hidup terus melajang sama seperti tuan, sampai nona Violetta kembali dengan anak kalian dan kalian akan hidup bahagia bersama. Saya juga mungkin akan begitu sampai ada pria yang bisa menerima saya apa adanya."


Keduanya saling diam untuk beberapa lama, malam yang indah ternyata tidak mereka lewati dengan semestinya. Karena Gadis tetap tidak ingin melakukan penyatuan tanpa meminum pil tersebut. Ini kali pertama Gadis menolak keinginan dari tuannya dan kali pertama juga tuan Theodor mau menerima penolakan yang diberikan oleh Gadis.


Keduanya tidur saling memunggungi, tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Tuan Theodor merubah posisi tidurnya menjadi telentang, sesekali melirik kearah Gadis yang masih memunggunginya.


Sampai pagi menjelang, keduanya masih terdiam dengan posisinya masing-masing. Mereka sekuat tenaga menahan hasrat dan gairah yang terus saja bergejolak. Hingga pada akhirnya tuan Theodor menyerah dalam tubuh molek Gadis yang sudah sangat candu.


"Aku tidak bisa tidur, Gadis!." Gadis masih enggan untuk melihat dan menjawab tuannya.


Tuan Theodor memajukan tubuhnya untuk semakin dekat dengan tubuh Gadis. Lalu tangan kekar itu melingkar pada pinggang Gadis dan memeluknya erat. Mencium aroma punggung Gadis yang sudah melekat dengan Indra penciumannya.


Gadis tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang bekerja cukup kencang. Gadis berusaha menutup matanya namun tetap tidak bisa. Hingga pada detik selanjutnya Gadis membalik tubuhnya jadi menghadap tuan Theodor yang ternyata tidak bisa memejamkan matanya juga.


Tatapan keduanya saling bertemu, tangan tuan Theodor semakin mengerat pada pinggang Gadis sehingga tubuh keduanya semakin rapat menempel. Semakin terdengar jelas deru nafas keduanya yang saat ini mulai memburu.


Tuan Theodor sudah menyarang bibir Gadis dengan begitu lembut, gerakan halus pada punggung Gadis menimbulkan gerakan Gadis yang semakin menempel pada tuan Theodor.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Gadis. Kepala ku terasa sangat pusing." Ucap Tuan Theodor setelah melepas ciuman mereka.

__ADS_1


Ciuman pagi ini bisa mereka rasakan kenikmatannya ketika perasaan mulai ikut andil didalamnya. Gadis sungguh melayang dibuatnya. Sapuan lembut pada bibir itu kini beralih pada leher jenjang sampai belakang telinga Gadis.


"Aku akan bermain aman, kau tenang saja." Bujuk Tuan Theodor kala meloloskan semua pakaian Gadis dan dirinya.


"Aku tidak ingin hamil!." Gadis menggeleng sambil menutup area pribadinya dengan tangan.


"Aku janji, kau tidak akan sampai hamil." Tuan Theodor sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun sejak tadi.


Kedua kaki Gadis dibukanya cukup lebar, lemah kenikmatan milik Gadis begitu menggoda jiwanya.


"Aku ingin kau menikmati penyatuan kita kali ini." Gadis mengangguk karena akal sehatnya sudah melayang pergi dengan kenikmatan yang datang menyerang seluruh tubuhnya.


"Ah..." Ini pertama kali Gadis dapat merasakan dengan nyata gesekan lidah tuannya yang begitu lembut mengenai daerah intinya.


Ternyata suara erotis Gadis mampu meningkatkan berkali-kali lipat semangat pada diri tuan Theodor, untuk terus mencumbu dan memberi kenikmatan pada wanitanya.


"Ah..." Tidak ada hentinya lidah tuan Theodor bermain di bawah sana dengan begitu nakalnya. Hingga puluhan kali Gadis dibuat mendesah karena ulahnya.


"Ah...ah...ah..."


Gadis dibuat tak berdaya di bawah kungkungan Tuan Theodor. Semangat sekali tuan Theodor memompa tubuh Gadis bagian bawah. Hingga Gadis sudah beberapa kali mendapatkan pelepasannya selama mereka bercinta.


Karena saking begitu menikmati jalannya percintaan mereka, tuan Theodor sampai hampir lupa kalau cairan itu harus dibuangnya di luar karena Gadis tidak ingin mengambil resiko apa pun dari hubungan atas kenikmatan ini.


"Untung saja belum terlambat." Ucapnya sambil tersenyum kala membuang cairan itu di atas paha Gadis. Percintaan yang


Tuan Theodor segera beranjak setelah cairan itu keluar semua. Dia membersihkan sendiri cairan itu dengan tissue basah yang dimilki Gadis.

__ADS_1


"Ayo kita mandi bersama, aku ada meeting siang ini. Kau akan ikut bersama ku untuk menikmati pantai. Jadi kita masih memiliki waktu untuk bermain di kamar mandi." Tuan Theodor menggendong tubuh Gadis yang polos dan membawanya ke kamar mandi.


Gadis dan Tuan Theodor segera bergegas ke bawah, karena percintaan mereka yang tidak kanal lelah hingga mereka berlama-kama di kamar mandi.


"Nikmati lah pantai di sini, aku meeting cukup lama, mungkin bisa sampai tiga jam. Nanti aku hubungi kalau sudah selesai. Sekalian kau cari apotik, siapa tahu ada di sini." Gadis hanya mengangguk. Dia segera pergi dari sana karena tidak ingin terlihat oleh para klien tuan Theodor.


Meninggalkan Tuan Theodor yang akan meeting, Gadis segera mencari apotik dan untungnya letaknya tidak jauh dari tempat meeting Tuannya.


Gadis segera membayar dan memasukkan barang yang dicarinya. Lalu dia berjalan keluar dengan perasaan tenang. Karena pil itu sudah ada ditangannya.


"Hai...Nona cantik. Kita bertemu lagi di sini." Sapa pria yang kemarin siang ditabrak olehnya.


Gadis tersenyum ramah pada pria itu. "Anda di sini juga, Tuan?."


"Tadinya aku ada pekerjaan di sana." Tunjuk pria itu pada sebuah bangunan tinggi menjulang. "Tapi karena aku melihat mu di sini Nona, jadi aku ingin menyapa mu."


Gadis hanya mampu tersenyum tanpa tahu harus membalas apa ucapan dari pria tersebut.


"Oh ya, Nona. Sedang apa kamu di sini?. Em maksud ku, di Bali?."


"Saya...saya...sedang bekerja. Iya saya sedang bekerja tuan." Jawab Gadis sedikit gugup.


"Iya, Nona. Kamu tidak perlu merasa gugup begitu. Aku percaya dengan apa yang kamu katakan." Pria itu cukup baik, bisa menilai baik orang yang baru dikenalnya.


"Dari tadi kita berdiri di sini. Bagaimana kalau aku mengundang mu untuk minum kopi atau mungkin teh atau mungkin sekalian makan siang?." Orang itu mencecar Gadis dengan sebuah ajakan.


Karena tidak ada kegiatan lain dan dia juga tidak tahu harus kemana, tidak ada salahnya kalau Gadis menerima tawaran pria tersebut. Terlebih di bibir pantai mereka akan melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


Gadis dan pria yang baru dikenalnya cukup asyik bercerita sampai mereka lupa untuk memperkenalkan diri masing-masing. Termasuk Gadis tidak menyadari posnelnya yang bergetar di dalam tas.


Sepasang mata tajam yang sepuluh menit lalu selalu memperhatikan keduanya dari jarak yang cukup jauh. Namun masih bisa dilihatnya dengan jelas.


__ADS_2