
Waktu terus berjalan dengan begitu cepat, hingga tidak terasa sudah tiga bulan Gadis kembali ke kampus. Meneruskan lagi pendidikannya yang sempat terhenti karena begitu banyaknya kejadian yang mengharuskan Gadis untuk berhenti.
Kehidupan Gadis cukup berjalan lancar selama tiga bulan ini, tidak ada kendala yang berarti. Terlepas sekarang ada Rosario dan Alesandro bersamanya.
Untuk mengisi waktu kosongnya, Gadis kembali mencoba berjualan online beraneka ragam jenis makanan yang bisa dibuatnya. Dan sesekali menerima pesanan dalam jumlah banyak. Kegiatan itu tidak menganggu waktu kuliah Gadis sama sekali. Sebab Gadis sudah memperhitungkan waktunya dengan sangat baik.
Seperti malam ini, selepas pulang kuliah dan besok harinya libur. Gadis sedang mengerjakan 200 pesanan berupa cemilan churros, yang nantinya akan dikirimkan ke sebuah perusahaan yang selama dua bulan ini sudah menjadi langganan tetap Gadis.
"Kenapa wajah taun sepeeri itu?." Tanya Gadis saat Alesandro masuk dan duduk didepannya dengan wajah kusut.
"Aku sebenarnya tidak ingin melihat mu harus bekerja keras seperti ini, tapi karena kamu begitu menyukainya, jadi aku bisa apa?." Keluh Alesandro sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
Gadis hanya tersenyum, sekilas menatap pria yang selama ini begitu baik padanya. Tanpa pamrih tanpa syarat apa-apa. Mungkin jika Gadis tidak memiliki kenangan buruk sebelumnya, dia akan mempertimbangkan ungkapan perasaan Alesandro beberapa waktu lalu. Tapi sayang dirinya lebih memilih untuk menolak dan tetap seperti sekarang ini.
"Yang lain pada kemana?." Alesandro mengedarkan pandanganya ke seisi rumah tapi sepi tidak ada siapa pun lagi selain mereka berdua.
"Kak Erna belum pulang, Kak Jasmin dan Rosario sedang mengantarkan pesanan."
Alesandro menganggukkan kepalanya.
"Jadi tawaran ku tidak akan pernah kamu ambil untuk mengelola restauran ku?."
Gadis menggeleng lagi dengan memberikan jawaban yang tetap sama. Dia tidak ingin bergantung pada siapa pun. Dia hanya ingin berdiri dikakinya sendiri, meski pun mungkin sampai tua.
"Kamu tidak ingin menikah lagi?."
"Hem...sekarang aku lebih menikmati waktu sendiri."
"Ok."
Hening untuk beberapa waktu, pandangan Alesandro begitu fokus pada apa yang sedang dikerjakan Gadis.
"Oh ya, tadi aku bertemu dengan teman kuliah mu, Galang. Dia ke perusahan meeting bersama ku."
"Oh ya, tadi juga dia baru menghubungi ku memesan makanan untuk acara di rumahnya. Lumayan banyak." Ucap Gadis begitu senang. Apalagi berbicara pesanan yang diterimanya pada setiap akhir pekan.
Tiga puluh menit sudah Alesandro menemani Gadis di sana, Gadis juga sudah menyelesaikan adonan yang akan dieksekusinya besok sekitar pukul empat pagi.
__ADS_1
Erna, Gadis dan Rosario pulang bersama. Mereka masuk ke dalam rumah di saat Gadis dan Alesandro duduk di ruang tengah. Erna dan Rosario ikut bergabung dengan Gadis dan Alesandro hanya Jasmin yang lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.
Alesandro ikut merasakan perubahan yang terjadi pada diri Jasmin. Yang tadinya mereka bisa mengobrol sampai berjam-jam, kini untuk hanya sekedar menyapa saja sudah tidak lagi.
Dan perubahan itu Alesandro rasakan sesaat setelah dirinya menyatakan niat baiknya pada Gadis. Tapi Gadis menolaknya dengan halus.
"Apa kalian tahu ada masalah apa dengan Jasmin?." Tanya Alesandro pada ketiga wanita yang ada bersamanya. Dan semuanya kompak menggelengkan kepala.
"Tadi biasa saja saat di jalan, tidak adalah ada masalah, kita mau cerita-cerita." Lanjut Erna.
"Tuan Alesandro memang merasa kalau Jasmin ada masalah?." Tanya Rosario, yang sudah menganggap Alseandro seperti kakaknya sendiri.
"Tidak juga, hanya saja..." Alesandro tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Jasmin keluar dari kamar. Tapi tidak bergabung dengan mereka, sebab dapur yang kini ditujunya.
Alseandro memperhatikn Jasmin yang sedang mengisi teko dengan air putih dan kembali membawanya ke dalam kamar. Lagi-lagi tanpa melihat kearah ruang tengah.
Keesokan paginya...
Sekitar pukul sembilan, Gadis sudah siap dengan pesanan yang akan dikirimkan ke pemesan. Biasanya kalau libur kuliah sepeeri ini, Gadis akan mengantar langsung mengantarnya sendiri tanpa Erna atau Jasmin.
Mobil yang berisi pesanan sudah melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah yang ditempatinya.
Sampai di kantor, siapa biasa Gadis akan langsung menitipkannya ke bagian resepsionis. Tapi pagi ini ternyata sudah ada Galang di sana yang menunggunya.
"Tumben sekali pemilik perusahaan mau mengambil pesanan ke bawah?." Tanya Gadis pada Galang bernada bercanda.
Galang hanya tersenyum lebar dan langsung menyerahkan box pesanan tersebut pada beberapa karyawan yang sudah ditugaskan.
"Kau ada waktu?." Tanya Galang setelah menyelesaikan pekerjaan pesanan Gadis.
"Ada, tidak lama." Jawab Gadis.
"Kita bicara di taman dekat kantor."
Gadis mengangguk lalu keduanya berjalan kaki untuk mencapai taman tersebut.
Gadis dan Galang langsung duduk di bangku yang menghadap ke jalan raya yang hanya satu dua mobil yang melintas.
__ADS_1
"Ada apa?."
"Kau masih teman ku 'kan?." Gadis mengangguk sambil menatap Galang.
"Kalau aku meminta mu untuk datang ke acara pertunangan ku dan Ramona, apa kau mau?."
"Wah selamat ya, Galang." Gadis ikut senang dengan kebahagiaan Galang dan Ramona.
"Terima kasih, tapi kau belum menjawab pertanyaan ku?."
Gadis terdiam sambil menatap wajah Galang yang serius dan penuh harap.
"Teman yang lain juga sudah ok untuk datang, hanya kau saja. Aku tahu kau dan..."
"Baik lah, aku akan mengusahakannya. Memangnya kapan pertunangannya?."
"Benar Gadis, kau mau datang?."Galang begitu senang saat temannya yang satu ini menyanggupi untuk menghadiri pertunangan dirinya dan Ramona.
"Minggu depan acaranya." Lanjut Galang menjawab pertanyaan Gadis.
"Ok, aku datang. Aku juga sekalian pamit ya. Setelah dari sini aku dan pesanan yang harus aku selesaikan." Pamit Gadis sambil bangkit dan mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling dan sepi tidak siapa pun hanya mereka berdua.
"Ok, terima kasih Gadis sudah meluangkan waktu untuk berbicara pada ku."
"Sama-sama. Galang. Aku pergi duluan ya."
"Hem..."
Gadis segera pergi dari sana setengah berlari, sebab dia mengejar waktu yang terus saja berputar.
Sampai di dalam mobil, Gadis segera menyalakan mesin dan mengendari kendaraannya.
Sementara itu di panti yang dipimpin oleh Ibu Yanti. Jasmin sudah bersiap untuk pulang karena hari ini setengah hari.
Selesai berpamitan pada Ibu Panti dan yang lainnya, Jasmin segera keluar dari sana. Langsung menghampiri sepeda motornya.
"Jasmin!."
__ADS_1
Jasmin membalik tubuhnya dan melihat ke sebarang jalan ada Alesandro yang memanggilnya.
"Kenapa harus ke sini sih?." Gerutu Jasmin pada dirinya sendiri. Gadis segera menyalakan mesin motornya, guna menghindari bertemu dengan Alesandro. Tapi Alesandro sudah berhasil menyebarang dan langsung menghadang Jasmin yang hendak pergi dati hadapannya.