
Terlalu asyik membantu Ramona untuk membuat makanan khas negaranya yang sangat disukai calon suami Ramona, membuat Gadis lupa waktu untuk pulang.
Setelah acara makan malam selesai, Gadis dan Ramona melanjutkan kembali kegiatan mereka di dapur. Sampai Gadis tidak menyadari kalau sekarang sudah lewat dari jam dua belas malam. Jika sudah seperti ini, mana bisa untuk pulang. Sebab selama ini, dirinya tidak pernah pulang ke rumah lewat dari jam sembilan malam.
"Kalau begitu kamu harus menginap." Dengan entengnya Ramona memberikan saran pada Gadis.
"Menginap?." Gadis tampak berpikir. Rasanya tidak mungkin dirinya untuk menginap. Tapi kalau harus pulang lebih tidak mungkin lagi. Tapi...Gadis merapikan hijabnya yang masih rapi.
Ramona merapikan hasil masakannya dan menaruhnya di atas meja. Ada sebagian yang masuk ke dalam lemari pendingin. Semua makanan itu akan dibawanya besok pagi untuk makan bersama Galang.
"Gadis, kamar untuk mu sudah aku siapkan." Ucap Tiara sambil menghampiri Gadis yang sedang kebingungan.
"Kenapa kamu harus bingung?. Bukannya kamu dulu memang tinggal di sini bersama kami?." Lanjut Tiara sambil tersenyum.
"Kalau aku harus menginap, lebih baik aku tidur bersama Bibi Dolores atau tidur bersama mu saja."
"Mana boleh begitu!, nanti Mama marah pada Tiara dan yang lainnya. Kamu marah melihat mereka dimarahi?." Sambar Ramona yang sudah duduk di sebelah Tiara.
"Lebih baik kamu tidur di kamar yang sudah disiapkan oleh Tiara." Sambung Ramona lagi tidak membiarkan Gadis kesempatan untuk menolak.
"Ayo sekarang kita tidur, aku sudah mengantuk." Ramona menarik tangan Gadis, mengajaknya keluar dari dapur menuju ruang keluarga.
"Kamar aku sekarang di atas. Tiara kau antar Gadis ke kamarnya, ya." Perintah pada Tiara, dirinya pun pamit pada Gadis dan Tiara.
Tiara menunjuk satu kamar yang di dekat tangga. "Ini kan kamar yang dulu aku tempati bersama tuan Theodor." Gadis menelan saliva. Berdiri tepat di depan kamar yang sudah disiapkan Tiara.
"Ini kamar untuk mu, aku ke kamar ku juga ya. Besok harus bangun pagi." Pamit Tiara undur diri. Gadis menatap Tiara yang sudah menghilang di area dapur.
Gadis kembali menatap pintu kamarnya untuk beberapa lama. Hingga dia memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan melangkah masuk dengan keraguan. Karena di tempat ini dirinya dan tuan Theodor memadu kasih.
__ADS_1
Gadis menyapu seisi kamar dengan kedua matanya, tidak ada yang berubah sedikit pun dari kamar tersebut walau hanya sebentar dirinya tinggal di sini.
Hatinya kembali berdebar kala bayangan panas mereka melintas begitu saja dalam kepalanya. Gadis masih bisa merasakan setiap jengkal sentuhan tuan Theodor.
"Ah ini salah, keliru. Tidak seharusnya aku mengingat hal itu. Dia sudah bahagia dengan keluarganya. Lupa kan dia, Gadis!." Ucapnya pada dirinya sendiri. Kembali memasang tembok yang sebenarnya tidak terlalu kokoh sampai tuan Theodor masih bisa menembus tanpa merobohkannya.
Gadis merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur yang begitu empuk. Tanpa mengganti pakaiannya padahal ada beberapa pakaian panjang yang menggantung di sana.
Tidak terasa mata lelahnya Gadis terpejam dengan tubuh yang meringkuk, menggunakan kedua tangannya sebagai alas untuk kepalanya.
Entah sudah berselancar ke alam mimpi atau belum, tapi saat ini Gadis bisa mendengar walau agak samar-samar. Seseorang yang masuk ke dalam kamar yang saat ini ditempatinya.
Sosok yang tidak bisa dilihatnya dengan jelas. Namun bisa dirasakannya kehadirannya dan aroma wangi dari tubuhnya.
Sosok itu duduk di tepi tempat tidur, menatap dalam kearah dirinya dengan penuh kehangatan dan sebuah rasa yang masih tergambar jelas dari sorot matanya. Sebuah rasa yang masih tersimpan rapi dalam sana.
"Aku sangat mencintai mu, merindukan mu."
"Hanya sebuah mimpi. Tapi kenapa begitu terasa nyata?. Apa karena aku masih selalu memikirkannya?." Gadis menutup wajahnya, menghapus lelehan air mata yang membanjiri pipinya.
Perpisahan dan rasa sakit yang sudah bertahun-tahun terlewati, nyatanya tidak lantas membuat Gadis dengan cepat melupakan pria yang pertama menyentuh tubuhnya.
Perasaan itu masih ada dan tersimpan dengan baik di sudut hatinya. Cinta tidak harus memiliki bukan?, hidup bersama kenangannya pun tidak masalah bagi Gadis, itu sudah lebih dari pada cukup.
Setelah melaksanan shalat subuh, Gadis langsung keluar kamar dan melihat ke area dapur. Sudah ada Bibi Dolores dan Bibi Veronica di sana.
"Kamu sudah bangun?." Bibi Dolores melihat kedatangan Gadis.
"Iya, aku sudah terbiasa bangun pagi." Jawab Gadis.
__ADS_1
"Sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi tidak enak juga, masa langsung pulang tanpa berpamitan pada Nyonya Mireya dan tuan Patricio."
"Tunggu saja sebentar lagi mereka juga keluar dari kamar."
"Minumannya mau dibawa kemana, Bibi Veronica?." Gadis menatap nampan yang di pegang Bibi Veronica.
"Ke ruang kerja."
"Biar aku bantu, aku tidak ada kerjaan." Gadis berdiri dan mengulurkan tangan untuk menerima nampannya.
"Baik lah, kau saja yang mengantarkannya." Dengan hati-hati Bibi Veronica menyerahkan nampan pada Gadis.
Gadis mengangguk lalu menuju ruang kerja dimana tempat tuan Theodor bekerja kalau dari rumah.
Tanpa permisi atau mengetuk pintu, Gadis masuk setelah memutar gagang pintu.
Kemudian diam di tempatnya, ketika pandangan matanya bersitatap cukup lama dengan orang yang ada di dalam mimpinya. Orang yang saat ini berada nyata dihadapannya dengan wajah yang lebih seger tanpa adanya brewok.
"Tuan Theodor!." Dengan Reflek Gadis memanggil nama pria itu. Gadis masih belum bisa mempercayai sepenuhnya jika saat ini mereka hanya berdua di dalam ruangan itu.
"Terima kisah, kamu mau mengantarkan makanan dan minuman ini untuk ku." Tuan Theodor bangkit lalu berjalan mendekati Gadis yang masih belum bergerak dari tempatnya.
Gadis masih menatap tuan Theodor dengan jarak yang cukup dekat, memastikan aroma wangi yang keluar dari tubuh tuan Theodor sama dengan apa yang ada dalam mimpinya. Tapi rasanya tidak mungkin jika tuan Theodor mendatanginya ke dalam kamar.
"Sama-sama tuan." Balas Gadis berjalan melewati tubuh tegap tuan Theodor.
Tuan Theodor mengikutinya dengan langkah yang cukup dekat dengan tubuh Gadis dengan mata yang terpejam.
Menghirup dalam-dalam aroma wangi parfum Gadis yang belum berubah sama sekali. Wangi parfum bercampur dengan wangi tubuh Gadis menjadi candu yang luar biasa bagi dirinya.
__ADS_1
Gadis berbalik badan hendak keluar dari ruangan itu setelah meletakan nampannya. Namun langkahnya terhadang oleh tubuh kekar tuan Theodor yang berdiri cukup dekat dengan dirinya.
Gadis memundurkan kakinya beberapa langkah supaya memberikan jarak dirinya dan tuan Theodor. Tapi tuan Theodor ikut melangkah untuk mendekati dirinya.