Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 35 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Ingin menghabiskan satu hari waktu di Bali, Gadis dan Tuan Theodor membuat list untuk mereka berdua. Apa saja yang akan dilakukan mereka berdua dari pagi sampai sebelum mereka kembali terbang ke Jakarta.


"Kau sudah siap?." Tuan Theodor menarik tangan Gadis dan membawanya ke depan cermin seluruh tubuh.


"Apa ada yang salah?." Tanya Gadis sambil menatap dirinya di cermin.


Tuan Theodor memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya pada pundak Gadis yang terbuka. Kedua tangannya membelit perut Gadis dengan begitu posesif.


"Kau begitu sangat cantik." Puji Tuan Theodor sambil mengecup leher Gadis, wajah wanita itu bersemu merah. Dia sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh tuannya.


"Tapi kau akan tambah semakin cantik tanpa ini semua." Goda tuan Theodor hendak melepas pakaian Gadis, tapi Gadis menolak dengan menggoyang tubuhnya. "Katanya kita mau pergi, apa tidak jadi lagi?." Wajah Gadis berubah sendu. Karena ini pun sudah jam sebelas siang tapi mereka belum berangkat. Justru sekarang tuannya mau minta nambah setelah beberapa kali mereka melakukan penyatuan.


"Baik, Gadis ku yang cantik." Dengan terpaksa tuan Theodor melepas pelukannya.


Gadis selalu dibuat tersipu dengan beberapa kalimat yang diucapkan oleh tuan Theodor. Perlakuan manis dia dapatkan selama di Bali ini. Apalagi ada yang belum dirinya tanyakan kenapa mengakuinya sebagai istrinya? Bagiamana nanti kalau tuan Alesandro tahu yang sebenarnya?.


Tuan Theodor mulai mengajak Gadis berkeliling Bali yang begitu indah. Beberapa jam tidak akan cukup untuk mengeksplor keindahan Bali. Akan tetapi Tuan Theodor tahu beberapa tempat yang memang cocok untuk pasangan seperti mereka berdua. Tempat yang begitu cantik untuk hubungan yang begitu sedang hangat-hangatnya.


Terkadang Gadis harus bisa siap dengan sikap posesif atau gerakan-gerakan yang tidak banyak orang lakukan di tempat umum, seperti meremas bokong, menciumnya dengan begitu mesra sampai meremas gunung kembar tanpa merasa malu atau pun risih.


Di Bali tuan Theodor seolah mengekspresikan kalau Gadis adalah benar-benar istrinya. Ada begitu banyak kebahagian yang selalu dirasakannya saat di dekat wanita itu.


"Kau adalah Gadis ku!, Gadis milik ku!." Ucap Theodor sambil mencium Gadis dengan mesra. Perjalanan mereka berakhir di bibir pantai sekitar jam sebelas malam.

__ADS_1


Gadis selalu terhanyut dengan ciuman yang selalu berhasil menghipnotisnya. Ciuman itu bagaikan candu yang sudah tidak lepas dari diri Gadis.


"Ini adalah perjalanan terindah ku selama ini." Kini bukan hanya bibir saja yang bermain, namun kedua tangannya juga sibuk meremas bokong dan gunung kembar Gadis silih berganti.


Keduanya saling berpelukan, bermain air yang mengenai kedua kaki mereka. Mereka bisa tertawa begitu sangat lepas, melupakan segala perbedaan, status yang mereka memiliki. Mereka sangat menikmati malam ini adalah milik mereka sebelum kembali pada realita kehidupan.


Selesai dengan semua kesenangan dan kenikmatan yang mereka lakukan di bibir pantai. Kini mereka sudah keluar dari hotel dengan satu koper berukuran besar. Untuk menampung beberapa pakaian dan barang-barang yang mereka beli selama di Bali.


Tuan Theodor selalu menggenggam tangan Gadis selama mereka dalam perjalanan ke bandara. Tidak ada hentinya Tuan Theodor selalu melempar senyum yang hampir tidak pernah Gadis lihat selama di apartemen apalagi di kantor.


.


.


.


Meski ada perasaan sakit, namun itu lah resiko yang harus ditanggungnya bila mencintai pria yang sudah memiliki anak dan wanita lain yang sangat dicintai pria itu.


"Seorang pemuas tetaplah akan menjadi pemuas." Batin Gadis manatap pria tampan disampingnya.


"Kau hati-hati!" Ucap Tuan Theodor sebelum Gadis masuk ke dalam mobil. Gadis hanya mengangguk. Tuan Theodor menyempatkan mencium Gadis dan itu di depan Romi yang baru selesai menutup bagasi. Tapi kali ini Gadis hanya diam saja tanpa meresponnya.


"Hari ini tidak perlu masuk kantor, kau istirahat saja di apartemen." Gadis hanya mengangguk lagi tanpa mau berbicara sedikit pun. Hatinya mulai egois karena selalu ingin berdekatan dengan tuan Theodor.

__ADS_1


Gadis masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan Tuan Theodor. Namun tuan Theodor sangat tidak menyukai jika mereka harus berpisah seperti ini. Hingga tuan Theodor ikut masuk ke dalam mobil meski ada Romi yang sudah duduk di depan kemudi. Dia memegangi kedua sisi wajah Gadis dan menatapnya begitu intens.


"Apa yang aku rasakan di Bali bukan karena kita sering melakukan hal intim. Tapi itu merupakan gambaran seluruh isi hati ku. Ada banyak hal yang harus segera aku urus, tapi aku tidak bisa melihat kau pergi dengan wajah seperti ini. Tersenyum lah manis untuk ku!."


Gadis tersenyum sesuai permintaan tuan Theodor. Beberapa kali Gadis mendapatkan serangan bertubi-tubi pada bibir dan lehernya. Namun kali ini dia sangat meresponnya. Tapi sayang itu pun harus segera berakhir.


"Nanti aku akan menelepon kalau kau sudah sampai." Gadis hanya mengangguk. Lalu keduanya saling mengecup dan memeluk, sampai akhirnya tuan Theodor keluar dari dalam mobil dan berdiri di samping badan mobil. Meminta Romi segera melajukan mobilnya.


Tuan Theodor sendiri sudah di jemput oleh supir Nyonya Mireya dan kepulangannya pun sudah sangat di nanti oleh Darren dan juga Violetta.


Di dalam mobil, tuan Theodor mengingat kembali setiap momen indah kebersamaan dirinya dan Gadis. Senyum itu kembali merekah dari bibir yang begitu seksi. Perasaan indah bersama Gadis terasa berkali-kali lipat lebih besar ketimbang dirinya saat bersama Violetta dulu. Mungkin karena Violetta sudah menorehkan luka yang cukup mendalam dengan kepergiannya. Meski pun membawa anak mereka dan itu pun untuk kebaikan Violetta dan anak mereka.


"Papa..." Sambutan hangat Darren ketika tuan Theodor memasuki rumah, mampu menerbitkan senyum manis yang dimiliki oleh Tuan Theodor. Darren memeluk kaki sang Papa.


"Jagoannya Papa..." Tuan Theodor mengangkat Darren lalu menggendongnya.


"Kami sudah sangat merindukan mu, Papa." Darren memberikan kecupan pada pipi Tuan Theodor. Tuan Theodor membalas kecupan itu di kedua pipi Darren dengan begitu sayang.


"Mama juga sangat merindukan Papa. Setiap malam Mama selalu menciumi foto Papa yang ada di dalam ponsel." Dengan jujur Darren mengatakan hal itu. Karena setiap malam itu yang selalu di lihat oleh Darren.


Tatapan Violetta beradu dengan Tuan Theodor, wajah cantik Violetta bersemu merah ketiak Darren membongkar kebiasaan dirinya sebelum tidur.


"Papa juga harus memberi ciuman sayang untuk Mama!." Pinta Darren pada Tuan Theodor. Tidak ingin mengecewakan sang anak, tuan Theodor mencium pipi Violetta di saksikan oleh Tuan Patricio dan Nyonya Mireya serta Domonic yang datang secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2