
Gadis merapikan meja makan, langsung mencuci peralatan makan dirinya dan Tuan Theodor. Dia masih melihat Tuan Theodor masih betah di meja makan sambil bermain ponsel.
Dengan langkah kaki yang dibuat sangat pelan, Gadis berjalan menuju kamarnya. Tapi saat tangan Gadis akan memutar gagang pintu, Gadis dikejutkan dengan suara Tuan Theodor jelas terdengar di samping telinganya.
"Ini masih sore, kenapa sudah harus masuk kamar?. Bukannya aku sudah memperbolehkan kau untuk melakukan apa pun di depan ku atau di dalam apartemen ini?."
"Aku harus belajar, ada tugas kampus yang harus segara aku kerja kan." Gadis mengeratkan pegangannya, dia menahan nafas sebab aroma wangi dari tubuh Tuan Theodor cukup mengganggu hidungnya.
"Besok kau tidak ada kuliah, jadi masih bisa dikerjakan besok bukan tugasnya ?. Bagaimana kalau sekarang kita mengobati luka lebam itu?. Aku ingin melihatnya juga."
"Ah, tidak!. Jangan Tuan!." Tolak Gadis sambil balik badan. Tatapan keduanya saling mengunci untuk beberapa detik, hingga Gadis yang terlebih dulu memutusnya, membuang wajah ke sebelah kiri.
"Luka lebamnya sudah sembuh jadi tidak perlu diobati lagi." Kilah Gadis menempelkan punggungnya bersandar pada daun pintu.
"Tapi kata Mama..."
"Sudah, Tuan Theodor!. Lukanya sudah sembuh. Jadi sebaiknya aku belajar dan membaca job desk yang diberikan oleh Tuan Patricio. Permisi..." Gadis membuka pintu tanpa berbalik badan lagi. Karena tangannya sudah memutar gagang pintu hingga tubuhnya masuk.
Dengan cepat Gadis segera menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.
"Aman..." Gumamnya sambil memegang dada. Dia melihat obat salep itu, kata Bibi Dolores masih harus diolesi salep luka lebamnya. Tapi karena tidak ada yang bisa membantunya, mungkin besok saja lagi dia mengobatinya.
Tuan Theodor meninggalkan kamar Gadis, dia berjalan menuju kamarnya. Dia meraih ponselnya lagi setelah beberapa waktu diletakkan di atas nakas. Dia segera menghubungi seseorang untuk memintanya membawakan banyak pakaian kerja wanita sesuai dengan keinginannya.
Di saat dirinya sibuk dengan sisa pekerjaannya, ponselnya berdering dan itu dari Tuan Dominic yang memintanya untuk bertemu di cafe bawah. Tuan Theodor pun berpakaian rapi lalu keluar dan menutup pintu apartemen.
Tuan Dominic berdiri dan menatap tajam pada Tuan Theodor yang berdiri mencari keberadaannya. Sampai Tuan Theodor melihat adiknya itu.
"Kau mau minum?"
"Wine."
"Ada apa?"
"Apa kau sengaja mengambil Gadis dari ku?."
Tuan Theodor menggeleng dengan santai.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?."
__ADS_1
"Karena hanya itu yang bisa ku lihat. Kau selalu mengambil sesuatu yang sudah ada dalam tangan ku."
"Cih!. Kau percaya diri sekali. Aku tidak pernah mengambil apa pun dari tangan kau, justru mereka yang datang sendiri pada ku."
"Sombong sekali kau."
Perdebatan itu terhenti kala minuman yang mereka pesan sudah datang dan kini terhidang di atas meja.
"Aku minta Gadis bekerja untuk ku!."
"Tidak, karena Gadis akan tetep bekerja pada ku baik di kantor atau pun di apartemen."
"Kau tidak bisa seperti itu, Theodor!." Ucap Tuan Dominic sedikit meninggikan volume suaranya. Hingga mereka menjadi pusat perhatian untuk beberapa saat.
"Bisa, dan sudah jelas dia akan bekerja pada ku. Kenapa kau harus ngotot untuk tetap mempekerjakannya?. Apa karena kau menyukai Gadis, begitu?."
Di depan Tuan Theodor, Tuan Dominic tidak bisa menyembunyikan apa-apa. Terlebih jiwa petarung dan egonya muncul di saat yang bersamaan.
"Kalau iya, kenapa?."
Tuan Theodor menggeleng sambil tersenyum tipis. "Sudah bisa ku tebak. Tidak mungkin kau akan mengotot seperti ini jika bukan karena perasaan kau yang berbicara."
"Ok, minta Gadis ke sini sekarang juga!." Tantang Tuan Dominic.
Tanpa menjawab, Tuan Theodor segara menghubungi Gadis. Tuan Theodor meminta Gadis untuk turun menemuinya di cafe yang berada di sebelah kanan gedung apartemen.
Hanya lima belas menit mereka menunggu Gadis, dan gadis itu kini sudah duduk tegang diantara dua pria anak dari majikannya.
"Bicara lah pada nya!." Tuan Theodor mempersilakan Tuan Dominic untuk berbicara terlebih dulu pada Gadis.
Gadis hanya diam, tidak ingin mendahului. Karena nantinya dirinya akan tahu apa yang ingin mereka bicarakan padanya.
"Katakan pada ku dengan jujur. Kau ingin ikut bekerja dengan ku atau Theodor?. Kami akan menerima apa pun yang kau putuskan. Tapi aku mohon jangan merasa takut pada siapa pun. Kau bebas menentukan pilihan di sini. Baik Papa atau Mama tidak akan keberatan apa lagi sampai mempermasalahkannya." Ucap Tuan Dominic cukup panjang lebar. Dia memberikan pilihan yang mudah namun Gadis tidak mudah untuk memutuskannya.
Kejadian tadi saat di kantor, dia melihat Tuan Dominic yang berciuman dengan tunangannya. Rasa-rasanya tidak akan sanggup jika dia harus selalu melihat pemandangan itu setiap hari. Lama-lama api itu akan perlahan membakarnya. Jadi dengan segenap keyakinannya dia akan memberikan jawaban dan pilihannya.
Gadis menyempatkan sepintas melirik Tuan Theodor yang asyik dengan gelas wine yang ada ditangannya. Tatapan tajam yang mampu menembus jantungnya.
"Saya akan bekerja untuk Tuan Theodor. Tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak mana pun. Itu murni kemauan saya dengan sadar."
__ADS_1
Tuan Dominic menatap tidak percaya pada gadis yang duduk didepannya.
"Apa benar kamu sedang tidak ada dalam tekanan?."
"Aku rasa kau sudah mendengarnya dengan baik dan sangat jelas. Jadi biar kan kami pergi."
"Tunggu!." Tuan Dominic menahan tangan Gadis hingga gadis itu menatapnya dengan intens. Tuan Theodor begitu tidak senang melihat pemandangan yang tersaji.
"Kau mau menjilat apa yang sudah kau katakan tadi?."
Tuan Dominic melepaskan tangan Gadis dan membiarkan mereka pergi dari sana. Meninggalkan dirinya seorang diri hanya berteman dengan minuman yang belum sempat diminumnya.
Gadis dan Tuan Theodor sedang di dalam lift, hanya berdua dengan jarak yang bersebrangan.
"Kau juga menyukai, Dominic?."
"Apa?."
"Aku rasa kau tidak tuli. Kalau kalian saling menyukai, kenapa kalian tidak berpacaran saja."
"Saya tidak mengerti dengan apa yang Tuan katakan." Gadis membuang wajah. Kini tatapannya pada deretan angka yang tertera didepannya.
Karena Gadis begitu fokus pada apa yang didepannya, sampai dia tidak menyadari jika Tuan Theodor sudah berada dibelakangnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Seperti ini!." Tuan Theodor mengecup lembut rambut kepala Gadis yang ada di menjuntai menutupi bahunya.
Seketika tubuh Gadis meremang mendapati perlakuan lembut itu. Kenapa bisa dirinya begitu ceroboh membiarkan Tuannya menyentuh apa yang dimiliknya tanpa izin dan permisi.
Gadis segera berlari setelah pintu lift terbuka dan langsung membuka pintu apartemen. Namun langkah kaki Theodor mampu menyusul Gadis dan mencekal pergelangan tangan Gadis.
"Kenapa kau tidak berpacaran dengan Dominic, jika kau juga menyukainya?."
"Saya hanya mengaguminya tanpa ingin menjadi kekasih atau istrinya." Jawab Gadis sambil berusaha menghempas tangan Tuan Theodor.
"Benar kah?." Gadis mengangguk sambil memundurkan langkahnya karena Tuan Theodor yang bergerak maju.
Bugh
Tubuh keduanya terjatuh di atas sofa saat Gadis menyentuh pinggiran Sofa dan kehilangan keseimbangan.
__ADS_1