Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 22 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Kekuatan uang bekerja dengan sangat cepat, sehingga Erna dan Jasmin sudah mulai bisa menempati rumah yang dibelikan oleh Tuan Theodor.


Mereka cukup tercengang ketika memasuki rumah tersebut, dimana sudah lengkap dengan perabotan rumah tangga.


"Jas, ternyata masih ada orang baik yang menolong kita. Bukan hanya mengeluarkan kita dari rumah itu, tapi memberikan kita tempat tinggal dan pekerjaan yang layak juga."


"Apa ini pemberian dari Gadis?."


"Tapi kata orang itu bukan, Gadis juga tidak ada bilang apa-apa pada ku." Erna mengambil ponsel dan melihat pesan yang sudah dikirimkan oleh Gadis untuk memastikannya.


"Tuh tidak ada." Lanjut Erna sambil memperlihatkan beberapa isi pesan dari Gadis.


Jasmin merasa kebebasannya ini tidak lepas dari campur tangan Gadis. Karena tidak mungkin ada orang yang tiba-tiba baik memberikan semua itu.


"Apa kamu tidak senang, Jas?."


"Senang, aku sangat senang. Kapan-kapan kita akan mengajak Gadis untuk makan di sini."


"Iya, kamu benar Jas. Kita akan mengundang Gadis ke rumah ini. Pasti juga akan senang."


Sore harinya, Gadis sudah berada di rumah Nyonya Mireya setelah melayani Tuan Theodor satu kali.


Tidak ada yang berubah dengan sikap Nyonya Mireya setelah Gadis meminjam uang padanya. Semuanya terlihat sangat normal seperti biasa.


Gadis sudah berkutat di dapur dengan masakan khas negara Nyonya Mireya. Sedangkan Tuan Theodor sedang bergabung dengan Nyonya Mireya, Tuan Domonic dan Ramona.


"Mama perhatikan kau seperti sedang bahagia. Berbagi lah dengan kami, apa yang membuat kau bahagia?." Tanya Nyonya Mireya pada putra sulungnya.


Tuan Theodor menggeleng. "Tidak ada, sama saja Ma. Tidak ada yang membuat ku bahagia." Jawab Tuan Theodor berusaha menepis rasa bahagia yang dirasakannya semenjak mendapatkan kegadisan Gadis.


"Bukan hanya Mama, Kak Theo. Aku juga bisa melihat wajah tampan kak Theo yang berseri-seri. Ada apa?. Pasti kak Theo sudah menemukan kak Violetta ya?. Karena hanya kak Violetta yang bisa membuat kak Theo bahagia." Ucap Ramona berusaha menebak, tapi sayang tebakan Ramona salah dan berhasil membuat Tuan Theodor terdiam ketika nama Violetta disebut.


"Apa iya apa yang aku rasakan ini karena Violetta?." Batin Tuan Theodor sambil menatap Gadis yang melintas bersama Bibi Dolores.


"Apa iya kau sudah bertemu dengan Violetta?." Nyonya Mireya memukul pelan lengan Tuan Theodor hingga membuyarkan lamunannya.


"Apa, Ma?."

__ADS_1


"Kau sudah bertemu Violetta?."


Tuan Theodor menggeleng dengan wajah santai, saat ini dirinya tidak tahu apa masih ingin bertemu dengan Violetta atau tidak.


Kehadiran Gadis sudah cukup membuatnya melupakan keinginannya untuk bertemu atau pun menemukan Violetta.


Saat sudah pukul tujuh malam, Yacob beserta keluarganya sudah datang dan sedang berbincang-bincang di ruang tengah. Termasuk ada Carmen yang juga ikut. Carmen masih menatap penuh harap pada Tuan Theodor, tapi yang ditatapnya malah bersikap cuek dan dingin.


"Kau harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Theodor." Tuan Domonic melihat Carmen yang terus saja menatap Tuan Theodor.


"Aku sudah pernah mencobanya, tapi sangat susah. Mungkin dia belum melupakan Violetta." Bisik Carmen karena para orang tua mereka sedang berbicara.


"Kau harus berusaha lagi." Taun Dominic memberikan dukungannya.


"Aku hanya mau menunggu keajaiban saja." Ucap Carmen sambil tertawa dan menatap Tuan Theodor yang terlihat menahan tangan Gadis.


"Siapa wanita itu?." Tanya Carmen pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah melihat Gadis sebelumnya.


Carmen bangkit lalu mengikuti arah Tuan Theodor dan Gadis. Ternyata mereka menghilang di taman belakang. Carmen berdecak kesal, karena kehilangan jejak mereka.


Bibi Dolores melihat Carmen berisi di pintu yang menghadap ke taman belakang yang temaram.


Carmen menoleh pada Bibi Dolores yang berdiri dibelakangnya. "Bibi lihat tidak, Theodor berjalan ke sini bersama seorang wanita muda?."


Bibi Dolores ikut mengedarkan pandangannya kearah taman tapi tidak melihat siapa pun di sana.


"Bibi tidak melihat ada siapa pun di luar, Nona Carmen. Apa mungkin bukan ke sini perginya Tuan Theodor?."


"Tidak, Bibi Dolores. Aku yakin Theodor pergi ke sana." Tunjuk Carmen pada taman belakang yang ditumbuhi beberapa pohon berukuran sedang dan sangat rindang-rindang.


"Apa Nona Carmen mau mau ke sana mencari, Tuan Theodor?." Tanya Bibi Dolores memperhatikan sekeliling taman lagi.


"Tidak, Bibi Dolores. Mungkin aku salah lihat." Akhirnya Carmen pergi dari sana dan menutup kembali pintu.


Dua orang yang ternyata berada di balik pohon dengan saling memeluk untuk bersembunyi dari Carmen dan Bibi Dolores. Tuan Theodor bersama Gadis.


"Untung saja kita bisa bersembunyi di sini." Ucapnya sambil meremas kedua bokong Gadis bersamaan.

__ADS_1


"Jangan di sini!, saya takut kalau ada yang melihat." Gadis menolak untuk bercumbu di sana. Yang pastinya akan sangat tidak nyaman.


"Ok, tidak sampai menyatu. Hanya begini saja." Tuan Theodor melepas beberapa kancing blouse Gadis lalu menaikkan pembungkus dua gunung kembarnya. Dengan silih berganti Tuan Theodor bermain di sana, bahkan tidak segan untuk meninggalkan jejak berwarna merah. Setelah di rasa puas dan harus puas karena rengekan Gadis yang meminta berhenti, akhirnya keduanya pergi dari sana secara bergantian setelah melihat situasi aman.


Gadis sudah kembali ke dapur, menata makanan yang akan dihidangkan di atas meja makan. Tiara dan Bibi Veronika ikut membantu.


"Rupanya kau di sini." Bibi Dolores meminta Gadis untuk memotong buah pir dan alpukat.


"Nyonya Mireya meminta dibuatkan Churros."


"Sudah aku buat Bibi Dolores. Churros nya ada di samping oven."


"Iya, Bibi yang bawa saja ke dalam."


"Iya,Bibi Dolores." Gadis melanjutkan memotong buah pir dan alpukat.


Yacob dan Ramona berada di taman dekat kolam renang. Keduanya banyak terlibat obrolan. Namun baik Yacob atau pun Ramona sama-sama tidak ada yang tertarik satu sama lain. Mereka hanya cocok sebagai teman bicara, sharing dan teman curhat. Namun ada yang mencengangkan bagi Ramona ketika Yacob malah menaruh hati pada Gadis.


"Kau tidak marah 'kan aku suka pada Gadis?." Ramona menutup mulutnya karena tidak percaya sambil menggelengkan kepala.


"Kau serius?." Yacob mengangguk.


"Tapi sepertinya kau harus bersaing dengan Galang, karena jika aku lihat pria itu juga suka pada Gadis." Ucap Ramona memberitahu Yakob.


"Galang yang saudara kau itu?."


"Hem, apa lagi Galang dan Gadis itu satu kampus."


"Siapa tahu mereka hanya berteman tidak memiliki hubungan apa pun."


"Kau coba saja biara pada Gadis."


"Iya, rencananya aku akan mengatakan isi hati ku setelah berbicara pada kau dan kedua orang tua kita."


"Baik aku akan mendukung siapa pun yang dipilih oleh Gadis. Kau janji tidak akan marah kalau ternyata Gadis dan Galang memiliki hubungan."


"Tidak, aku tidak akan marah."

__ADS_1


Tuan Theodor mengepalkan kedua tangan, yang sedari mendengar percakapan Ramona dan Yacob. Dadanya terasa bergemuruh kala Yacob menyukai Gadis dan akan mengatakan isi hatinya.


"Siapa pun tidak akan ada yang memiliki Gadis, selain aku." Batinnya.


__ADS_2