Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 39 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Semua pasang mata kini tertuju pada Tuan Theodor ketika tuan Theodor mengakui kalau dirinya yang sudah membelikan Gadis cincin berlian itu.


Bahkan tuan Theodor sendiri meminta Gadis tetap memakai cincin itu atas nama menghargai pemberian atasannya baik di kantor atau pun di apartemen dan meminta pada yang lain untuk tidak mempermasalahkannya.


"Aku membelikannya sebagai hadiah. Karena menurut ku Gadis sudah sangat loyal terhadap keluarga kita. Mungkin cincin berlian itu tidak akan ada harganya dengan semua yang telah Gadis lakukan untuk ku dan keluarga kita."


Tuan Dominic yang baru bergabung dan ikut juga mendengar apa menjadi alasan tuan Theodor memberikan cincin itu hanya tersenyum sinis. Rasanya dia ingin memberitahukan semuanya kalau Theodor dan Gadis memiiki hubungan. Meski pun tuan Dominic sendiri tidak tahu persis seperti apa hubungan keduanya.


Nyonya Mireya, Violetta dan Marco cukup bisa bernafas lega kala mendengar alasan tuan Theodor. Karena bagi Marco sendiri dia cukup cemburu dangan kedekatan Gadis dan Tuan Theodor. Tapi tidak dangan tuan Patricio, dia harus mencari tahu sesuatu tentang gelagat putra pertamanya.


"Kau benar sekali Theodor. Nanti kalau pun kau sudah menikah dengan Violetta biar kan lah Gadis ikut bekerja dengan kalian. Gadis juga pandai momong anak kecil. Siapa tahu nanti kau dan Violetta memiliki bayi lagi."


"Betul juga apa yang dikatakan oleh Mama. Mungkin bisa kami pertimbangkan, tentunya jika Gadis masih mau bekerja dengan kami." Sambung Violetta begitu setuju dengan apa yang dikatakan oleh calon Mama mertuanya.


"Bagiamana menurut kau, Theodor?." Violetta bertanya dengan begitu antusias.


"Nanti saja kita bicarakan, sekarang kalian mau makan siang 'kan?. Mau makan dimana?." Tuan Theodor mengalihkan pembicaraan karena enggak menjawab apa pun yang dapat menyakiti hati Gadis. Wajah cantik Violetta berubah marah karena merasa diabaikan oleh Theodor di depan banyak orang dan itu sangat melukai harga dirinya.


Restauran siap saji yang di pilih oleh Darren dan mereka pun mengikutinya.


Suasana ramai pun seketika memenuhi restauran tersebut, Darren menjadi bintang yang terang dan satu-satunya perhatian mereka. Namun tidak dengan perhatian Tuan Theodor, karena perhatiannya selalu tertuju pada Gadis yang menempati meja bersama Marco. Itu pun atas saran dari Nyonya Mireya dan Tuan Patricio yang di dukung oleh Violetta dan Marco.


"Aku senang akhirnya bisa berdua dan mengobrol seperti ini." Ucap Marco membuka obrolan.


Gadis hanya mengangguk karena mulutnya yang sudah penuh dengan makanan.


"Aku akan meminta izin pada Theodor untuk membawa kau menonton. Kau pasti mau kan?."


"Hem...kau bicara saja pada tuan Theodor. Kalau tuan Theodor mengizinkan aku akan pergi, kalau tidak ya saya tidak bisa pergi."

__ADS_1


"Ok..."


"Papa...Papa..." Panggil Darren merengek sambil mengelus pipi tuan Theodor untuk mengalihkan perhatian Tuan Theodor dari ponsel. Tapi sayang Tuan Theodor masih fokus pada jari-jari yang sedang menari di layar ponselnya.


Wajah imut nan tampan Darren berubah sendu kala Papanya tidak mempedulikan panggilannya dan itu tidak luput dari perhatian mereka semua.


"Theodor!. Theodor!." Panggil Nyonya Mireya dengan nada tinggi sehingga perhatian tuan Theodor beralih pada sang Mama yang memanggilnya, bersamaan dengan selesainya dia mengetik sesuatu pada posnelnya yang langsung dikirimkan pada Gadis.


"Ah...iya Ma. Ada apa?." Tuan Theodor memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya.


"Lupa kan pekerjaan atau apa pun saat kau sedang bersama Darren!." Tuan Theodor menatap sang putra yang tertunduk disebelahnya.


"Ada apa, sayang?." Tuan Theodor mengusap rambut kepala Darren berulang kali.


Darren menggeleng masih dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa?, bicara lah pada Papa." Ucap Tuan Theodor mengangkat wajah Darren. Tuan Theodor menatap takjub wajah buah hatinya. Meski jauh di lubuk hatinya dia tetap ingin melakukan tes DNA untuk lebih meyakinkan lagi kalau Darren menang benar anak kandungnya.


"Papa mengabaikan aku, padahal aku sudah menepuk-nepuk pipi papa." Ucap Darren lembut.


"Maaf sayang, Papa ada pekerjaan. Nanti tidak akan Papa ulangi lagi." Janji Tuan Theodor itu mampu mengembalikan senyum manis pada wajah tampan Darren.


Violetta dan Nyonya Mireya tersenyum lebar melihat interaksi tuan Theodor dan juga Darren. Sementara tuan Patricio mengawasi gerak gerik Tuan Theodor yang selalu mencuri pandang kearah Gadis saat memiliki kesempatan.


Gadis mengambil ponselnya saat Marco ke toilet. Gadis tersenyum tipis dengan pesan singkat yang dikirimkan oleh tuan Theodor.


"Jangan membuat ku cemburu dangan menebar banyak senyum untuk Marco!."


Gadis melirik kearah tuan Theodor dimana tuan Theodor pun sedang menatap kearahnya, interaksi keduanya tertangkap oleh tuan Dominic dan Tuan Patricio.

__ADS_1


"Hubungan seperti apa yang sebenarnya dimiliki oleh Theodor dan Gadis?." Batin Tuan Patricio.


"Aku berharap Papa menyadari hubungan Theodor dan Gadis." Batin Tuan Dominic sambil menatap tuan Patricio yang masih memperhatikan Gadis dan Tuan Theodor.


.


.


.


Selepas jam kantor, Gadis terpaksa menerima tawaran Marco untuk mengantarnya pulang ke apartemen. Karena tuan Theodor memberinya izin.


Tuan Theodor pun terpaksa harus memberikan izin pada Marco, sebab tuan Theodor juga tidak ingin terlalu banyak melarang, yang nantinya malah akan membuat Marco curiga. Dan dirinya pun terpaksa harus ikut pulang ke rumah kedua orang tuanya atas permintaan Darren dan Nyonya Mireya pastinya.


Violetta dan Tuan Theodor sudah memasuki kamar yang biasa mereka tempati bersama sejak beberapa hari yang lalu. Darren sudah mulai terlelap dalam tidurnya. Dan tuan Theodor berencana untuk pulang ke apartemen sebelum menuju hotel tempat pernikahan Domonic. Tapi sepertinya malam ini cukup sulit bagi tuan Theodor untuk bisa keluar dari kamar tersebut.


Tubuh molek Violetta yang baru keluar dari kamar mandi terlihat jelas dari balik lingerie yang dipakainya. Violetta berjalan berlanggak-lenggok menuju tuan Theodor yang masih rebahan di atas tempat tidur.


"Apa kau tidak ingin menyentuh ku?." Violetta sudah duduk di tepian tempat tidur, tangannya mengelus pada tuan Theodor. Tuan Theodor menelan saliva ketika mendapatkan sentuhan seperti ini dari orang yang dulu sangat dicintainya.


"Aku kira, kau akan langsung menyentuh ku saat pertemuan pertama kita. Namun aku tunggu sampai sekarang kau tidak ada sedikit pun usaha untuk mendekat apalagi sampai menyentuh ku. Apa tubuh ku sudah tidak menarik lagi?." Violetta tanpa segan meloloskan tali spaghetti lingerie nya di depan Theodor, hingga kedua gunung yang bulat dan padat itu terlihat sangat sempurna. Pandangan tuan Theodor pun tertuju pada keindahan itu. Dia tidak menampiknya kala hasrat itu datang menggoda sisi liarnya sebagai pria normal.


"Hanya kau yang pernah menyentuh tubuh ku dan hanya kau yang pernah merasakannya. Semuanya telah aku jaga dengan baik, apa yang menjadi candu dan kesukaan kau selama ini terhadap tubuh ku. Sekarang sentuh lah aku!, aku begitu sangat merindukan sentuhan dan penyatuan kita." Violetta menuntun tangan kekar itu untuk meremas salah satu buah dadanya.


Tangan tuan Theodor sudah berada di tempat yang semestinya tanpa bisa menolaknya. Perlahan mulai mengerakkan tangan dengan begitu lembut. Violetta memejamkan kedua matanya, merasakan kenikmatan yang sudah lama sangat dirindukannya, dia selalu menahan dirinya hanya untuk Tuan Theodor seorang.


Bibir tuan Theodor sudah menyapu lembut leher jenjang Violetta, diselingi dengan gigitan-gigitan lembut tanpa meninggalkan jejak apa pun.


"Ah Theodor, lakukan apa pun yang kau suka, aku sudah sangat lama menantikannya." Bibir Violetta sudah menari indah di atas bibir tuan Theodor yang kemarin hanya mampu dikecupnya. Tapi malam ini mereka saling berciuman dengan begitu dalam.

__ADS_1


Tuan Theodor memindahkan tubuh polos Violetta ke atas sofa karena tidak ingin menggangu Darren yang terlelap.


"Ah Theodor, sentuh lah di situ!." Wajah tuan Theodor sudah berada di bawah sana. Memandangi jalan lahirnya Darren kala itu yang kini kembali rapat karena tidak ada yang menyentuhnya lagi.


__ADS_2