
Gadis ingin menikmati sisa satu harinya berada di tempat itu. Sudah hampir lima jam dia habiskan bermain di pantai. Sementara tuan Theodor menghabiskan waktunya di bibir pantai sambil bekerja melalui ponsel pintarnya. Meskipun begitu keduanya tetap terlibat interaksi.
Gadis menatap hamparan laut biru, memikirkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya bersama tuan Theodor setelah pulang dari tempat ini. Mengingat sampai hari ini dia belum juga mendapatkan tamu bulanannya. Entah apa yang salah, semuanya terasa berjalan baik-baik saja.
"Hei Gadis!, apa yang sedang kamu pikirkan dengan menatap lautan itu?."
Gadis hanya menggeleng tanpa berpaling sedikit pun dari pandangannya saat ini.
"Saya berharap bisa menghilang diantara lautan itu." Seru Gadis cukup kencang seolah dia juga berbicara pada air laut itu.
Tuan Theodor menghampirinya, berdiri tepat di samping Gadis. "Kamu masih berpikir untuk meninggalkan ku?. Aku bisa pastikan kamu tidak akan pernah bisa pergi meninggalkan ku."
"Kenapa tuan begitu yakin kalau saya tidak akan pernah bisa meninggalkan tuan?."
"Entah lah, tapi aku sangat yakin sekali."
"Apa yang tuan ketahui tentang kehidupan kita untuk satu Minggu ke depan, satu bulan ke depan atau mungkin satu tahun ke depan?."
"Sudah ku katakan entah lah aku juga tidak tahu, hanya saja feeling ku yang mengatakannya. Karena selamanya kamu akan tetap berada di samping ku selamanya, suka atau pun tidak suka."
Gadis hanya terdiam tidak ingin lagi membantah apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia hanya akan berusaha mengikuti jalan takdirnya sendiri.
Tuan Theodor menyadari tidak akan pernah mudah hidup dengan pemikiran Gadis yang selalu ingin pergi jauh dan penuh ketakutan.
Ramona yang pagi ini sarapan bersama kedua orang tuanya tiba-tiba mendapatkan pertanyaan yang cukup mengejutkan. Dimana tuan Patricio mengatakan bahwa Nyonya Laura tidak kedatangan Ramona untuk menginap di rumahnya.
"Lalu kau tidur di mana?, menginap di rumah siapa?." Seketika Ramona begitu gugup, karena dia tidak mempersiapkan jawaban apapun untuk menjawab pertanyaan dari papanya.
"Aku...aku..."
"Sudah lah pa, hal sekecil itu tidak perlu untuk diributkan. Mungkin saja Laura tidak menyadari kedatangan Ramona." Ramona mengangguk menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Mamanya.
"Cepatlah pergi ke kampus!, nanti kau bisa terlambat!."
"Iya, Ma...Pa..." Ramona tidak membuang waktu sedetik pun, dia segera pergi dari ruang makan itu. Dia sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan Papanya yang penuh selidik.
Akhirnya Ramona bisa bernafas lega ketika sudah berada di luar rumah. Dirinya sedang menunggu mobil Galang yang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
__ADS_1
Hanya sepuluh menit saja Ramona menunggu kedatangan Galang. Sekarang Ramona dan Galang sudah ada dalam mobil menuju ke kampus Ramona terlebih dulu, setelahnya baru pergi ke kampusnya.
"Apa yang kau lamun kan?." Tanya Galang melihat Ramona hanya diam saja sedari tadi.
"Aku sudah tidak bisa sering menginap di apartemen kau lagi. Papa sudah mulai curiga, untung saja tadi ada Mama yang membantu ku. Tapi aku juga takut kalau Mama bertanya yang macam-macam pada ku." Jawab Ramona cukup panjang lebar.
Menyampaikan keresahan dan kekhawatirannya pada Galang. Pria yang saat ini sangat dekat dengan dirinya, bahkan saking dekatnya mereka sudah terbiasa untuk menghabiskan malam panjang berdua dengan bermandikan keringat.
"Apa perlu aku memberitahu hubungan kita pada kedua orang tua kau, Ramona?. Agar mereka merasa tenang dan tidak khawatir lagi." Galang menawarkan diri untuk memberitahu Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.
"Apa kau serius dengan hubungan kita ini?." Tanya Ramona serius. Dia tidak berharap terlalu jauh memiliki hubungan yang serius bersama Galang. Mengingat cinta yang dimiliki Galang masih bertaut pada Gadis.
"Aku bukan pria brengsek Ramona, aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan bersama selama ini."
"Lalu Gadis?."
Pertanyaan Ramona belum sempat dijawab oleh Galang karena mobilnya sudah berhenti tepat di depan kampus.
"Nanti kita bicarakan lagi masalah ini setelah pulang dari kampus. Nanti pulang aku akan menjemput kau lagi ke sini." Senyum manis milik Ramona terbit juga menghiasi wajah cantik Ramona, mendengar nanti pulang kuliah dirinya akan bertemu dengan Galang.
Pikiran Galang tertuju pada Ramona yang sekarang menjadi sangat istimewa untuk dirinya. Tidak bisa dipungkiri kini hati dan pikirannya sudah dipenuhi oleh Ramona, Ramona dan Ramona.
Nama Gadis perlahan sudah hilang tergantikan dengan Ramona. Bersama Ramona dirinya benar-benar bisa merasakan jatuh cinta. Mereka sama-sama merasakan yang pertama untuk satu sama lain. Galang yakin dia bisa bahagia bersama Ramona.
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di sebuah pantai yang sangat cantik, tidak ada hentinya tuan Theodor mencumbu Gadis di bibir pantai. Penyatuan yang baru selesai beberapa menit lalu kita harus terulang lagi.
Gadis selalu mendapatkan pelepasan yang lebih banyak dari tuan Theodor. Namun Gadis tidak bosan sedikit pun untuk mengulang lagi penyatuan mereka. Tuan Theodor pun sangat tidak keberatan jika dirinya hanya mendapatkan dua sampai tiga kali pelepasan. Dia lakukan hanya untuk istri tercinta.
"Nanti malam kita sudah kembali ke apartemen dan Romi yang akan menjemput kita."
"Iya, saya sudah membereskan barang bawaan kita."
"Kamu sudah merasa lebih baik, lebih santai dari sebelumnya atau bagaimana?."
"Ya tuan, saya lebih baik. Meski..."
Gadis tidak meneruskan perkataannya, tidak ingin berpikir yang buruk sebelum dirinya melakukan sesuatu. Di tempat ini dirinya tidak leluasa untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
__ADS_1
"Meksi apa?." Tuan Theodor mengusap rambut kepala Gadis.
"Tidak tuan lupakan saja." Gadis tersenyum lalu mengecup bibir tuannya.
Di saat keduanya sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja ponsel Gadis berdering selama dirinya berada di tempat ini.
Gadis beranjak dan melihat layar ponselnya. "Marco."
Tuan Theodor segera menjawab panggilan telepon Marco dan mengaktifkan spikernya.
"Bicara lah." Pintanya pada Gadis dengan suara pelan.
"Gadis..."
"Iya Marco..."
"Aku ingin bertemu dengan mu..."
Tuan Theodor menggeleng tidak mengizinkannya.
"Maaf Marco aku tidak bisa..."
"Tapi kenapa?..."
Gadis dan tuan Theodor sama-sama diam. Membiarkan Marco menerka sendiri kenapa Gadis tidak mau menemui dirinya.
"Halo...Gadis...kamu masih di situ?."
"Iya Marco."
"Apa benar kita tidak bisa menikah?,tapi kenapa Gadis?. Aku sangat mencintai mu selama ini. Padahal aku juga sudah banyak berharap pada mu. Aku berharap bisa sembuh setelah kita menikah tapi malah tidak jadi seperti ini. Tolong lah aku Gadis..."
Tuan Theodor kembali menggeleng, tidak terima jika Gadis dijadikan alat untuk menyembuhkan penyakit kelainannya.
"Tidak Marco. Kita tidak bisa menikah. Maaf..."
Tuan Theodor meminta Gadis untuk segera mengakhiri sambungan teleponnya. Namun sebelum Gadis bicara lagi tuan Theodor sudah memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1