
Tuan Theodor cukup merasa cemas mendengar kabar kalau Gadis ke rumah Mamanya seorang diri tanpa ada dirinya. Tapi syukurnya tidak terjadi apa-apa yang membahayakan keduanya. Kalau untuk masalah Darren yang menginap di rumah sana karena ada Violetta, tuan Theodor tidak mempermasalahkannya. Karena ini kali pertama Darren bertemu dengan Violetta semenjak Darren memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya.
Sudah jam 23.45 Wib, Gadis belum tidur saat menerima telepon dari suaminya yang mengatakan sudah dalam perjalanan pulang. Di sela-sela itu, dirinya kembali mengingat saat berada di rumah Nyonya Mireya. Nyonya Mireya terlihat begitu sangat baik padanya. Bersikap biasa saja seolah-oleh tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Semoga saja ini pertanda baik sayang." Gadis mengelus perutnya di balik gaun tidur yang dipakainya.
Karena merasa lapar, Gadis bangkit dan menuju ke dapur. Langsung memotong buah-buahan yang ada di dalam kulkas. Lalu membawanya ke ruang tengah, menonton tv sambil menunggu suaminya pulang.
Gadis kembali ke dapur bersamaan dengan tuan Theodor yang baru sampai dan menutup pintu apartemen.
"Sayang...sedang apa kamu di dapur?." Tanya tuan Theodor sambil berjalan mendekat kearah Gadis yang sedang menuang air putih.
Tuan Theodor memeluknya dari belakang dengan tangan yang mengelus berulang kali perut istrinya.
"Apa dia rewel?." Tanyanya sambil mengecup leher Gadis.
"Tidak, dia tahu kalau Papanya sedang kerja ke luar kota." Jawab Gadis membalas kecupan tuan Theodor yang didaratkan pada pipi.
"Karena Darren tidak ada, maka kita bisa bercinta di sini sampai pagi." Tangan Tuan Theodor sudah melepas tali gaun tidur Gadis. Hingga gaun itu terlepas dengan mudah dari tubuh istrinya.
"Kalau sampai pagi nanti kita kelelahan, besok tuan harus ke kantor lagi 'kan?." Ucap Gadis memperingatkan suaminya.
"Tidak pernah ada kata lelah untuk bisa menikmati setiap jengkal tubuh indah milikmu sayang." Sahut tuan Theodor meremas kedua buah dada Gadis yang semakin membesar, dengan penuh semangat tuan Theodor meremasnya. Silih berganti dengan meremas bokong Gadis yang semakin kenyal dan sintal.
"Aku begitu menyukai semuanya." Tuan Theodor membalik tubuh istrinya, keindahan itu bukan hanya bisa dilihat saja namun sangat bisa untuk dirasakan oleh dirinya.
Tuan Theodor menggendong tubuh istrinya lalu membawanya ke ruang tengah. Merebahkanya di atas sofa. Gadis begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya begitu memabukkan.
"Ah..." Keduanya mendesah dengan suara yang begitu nyaring.
"Jangan terlalu keras mengguncangnya!." Rengek Gadis pada suaminya yang selalu bersemangat kalau sudah menyatu.
"Iya, sayang. Maaf, aku suka lepas kendali jika sudah bersama mu." Sahut tuan Theodor mengecup bibir Gadis yang cemberut.
Bukan hanya tuan Theodor yang bergerak, akan tetapi Gadis juga ikut bergerak malah dia yang lebih liar.
"Kamu begitu bersemangat sayang!." Tuan Theodor begitu senang selalu melihat sisi lain Gadis yang membuatnya selalu bergairah.
"Ini maunya bayi kita, tuan." Kata Gadis membela diri saat dikatakan bersemangat seperti itu.
__ADS_1
Tuan Theodor terkekeh sambil menggigit bibir wajah Gadis lalu meloloskan lidahnya pada rongga mulut Gadis yang terbuka.
.
.
.
"Ada apa ya Nyonya Mireya meminta ku datang ke sana?." Tanya Gadis pada dirinya sendiri saat duduk di depan cermin. Setelah tiga puluh menit lalu, Nyonya Mireya meminta putranya untuk membawa Gadis ke rumah besar itu.
"Kamu sudah siap sayang?."
"Hem..." Gadis bangkit lalu mengikuti langkah tuan Theodor.
"Semoga saja ini awal yang lebih baik untuk kita, sayang. Aku percaya Mama sudah mulai membuka hatinya untuk pernikahan kita." Tuan Theodor begitu senang melihat ajakan Mamanya siang ini. Gadis hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.
Tuan Theodor menyempatkan diri untuk datang ke kantor, ada beberapa dokumen yang harus ditandatanganinya.
Mereka segera meninggalkan kantor setelah tuan Theodor menyelesaikan pekerjaannya.
Hanya kurang dari tiga puluh menit, mobil mewah tuan Theodor sudah terparkir di rumah besar Nyonya Mireya.
"Kamu dan bayi mu baik-baik saja 'kan Gadis?." Tanya Nyonya Mireya saat bertemu Gadis.
"Iya Nyonya Mireya, kami baik-baik saja." Jawab Gadis sambil sedikit mengerutkan keningnya.
"Memang kenapa aku dan bayi ku harus tidak baik-baik?." Batin Gadis melihat wajah Nyonya Mireya.
Sikap Nyonya Mireya begitu hangat dan sangat perhatian pada Gadis dan juga calon bayinya. Itu tidak luput dari dari mata tajam tuan Theodor. Tuan Theodor sudah meyakini jika Mamanya sudah bisa menerima Gadis dan calon anak mereka. Sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.
Semua keluarga begitu bahagia dengan momen yang sedang berlangsung ini.
Sampai makan makan Gadis dan tuan Theodor masih betah berada di rumah besar itu. Karena tentunya jamuan tuan rumah yang begitu sangat memanjakan.
"Besok pagi kita harus ke Batam lagi." Ucap tuan Patricio pada tuan Dominic.
"Bukannya kemarin Theodor sudah pergi ke sana, Pa?." Jawab Tuan Dominic.
"Iya, tapi tetap harus ada yang meninjau pekerjaan di sana. Tidak cukup beberapa kali, bahkan sampai harus selesai ada yang harus berjaga di saja meski tidak setiap hari." Kata tuan Patricio menjelaskan.
__ADS_1
Tuan Dominic hanya mengangguk-angguk kepalanya.
"Ini hanya usul Mama saja ya Pa. Bagaimana kalau Dominic dan Theodor saja yang pergi ke sana?. Papa tetap di sini mengurus perusahaan. Dan untuk Gadis, bisa tinggal di sini selama Theodor di Batam. Supaya tidak harus mengantar jemput Darren. Karena ada Violetta dan Mama juga."
"Boleh juga saran Mama." Tuan Patricio menimpalinya.
Gadis memegangi kencang tangan tuan Theodor, seakan memberikan kode kalau dia tidak ingin tunggal di rumah besar bersama mereka. Lebih baik dirinya tinggal di apartemen. Tapi sepertinya tuan Theodor tidak mengerti dan justru tuan Theodor begitu senang dengan tawaran dari Mamanya. Sampai tanpa bertanya pada Gadis, dia sudah mengiyakan permintaan Mamanya.
"Terima kasih Ma, aku senang akhirnya Mama mau menerima kami." Ucap tuan Theodor sambil mengecup pipi Nyonya Mireya.
"Iya Theodor, Mama tidak bisa jika harus terus berjauhan dengan mu dan cucu ku." Balas Nyonya Mireya mengusap lengan putranya.
"Bagiamana dengan mu, Gadis?. Tidak keberatan kan untuk kembali tinggal di rumah ini tapi sekarang sebagai Nyonya Theodor?." Gadis hanya diam mendengar perkataan Nyonya Mireya yang terdengar seperti sebuah sindiran.
"Gadis pasti akan sangat menyukainya. Iya kan sayang?." Gadis berusaha tersenyum dan mengangguk pelan.
Malam ini pun mereka berdua menginap di rumah Nyonya Mireya.
Keesokan paginya.
Tuan Theodor dan Tuan Dominic sudah terbang ke Batam. Meninggalkan Gadis bersama keluarga besar suaminya.
"Aku tidak menyangka jika tuan Theodor menjadi suami kau, Gadis." Kata Bibi Dolores sambil memotong sayuran.
"Sama Bibi Dolores. Aku juga tidak menyangka." Jawab Gadis.
"Bibi dan yang lainnya ikut senang." Tuturnya lagi.
"Iya, terima kasih Bibi Dolores." Gadis cukup senang masih ada orang yang ikut bahagia atas Kebahagiaanya.
Sore itu Gadis meminta izin pada Nyonya Mireya untuk pergi ke Mall bersama Bibi Dolores untuk membeli perlengkapan dirinya. Setelah sebelumnya sudah mendapatkan izin dari tuan Theodor.
Sebelum berangkat, Gadis menyempatkan diri untuk meminum minuman yang sudah disiapkan oleh Bibi Dolores yang diberikan langsung oleh tangan Nyonya Mireya.
"Minum lah dulu, Gadis." Ucap Nyonya Mireya penuh perhatian.
Gadis menerima dan lalu menghabiskan minuman tersebut.
"Minuman itu sangat baik untuk bayi yang sedang kamu kandung." Lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar sambil memegangi gelas kosong tersebut.
__ADS_1