Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 51 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Nyonya Maria dan Tuan Rizzo yang baru saja datang ke rumah Nyonya Mireya, tidak melihat apa pun persiapan untuk menyambut mereka nanti malam.


"Apa jangan-jangan ini yang ingin dibicarakan oleh Mireya dan Patricio?." Tanya Nyonya Maria dalam hati. Memperhatikan setiap sudut rumah Nyonya Mireya yang tidak dihias sedikit pun.


Kedua besannya itu langsung di ajak masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Supaya lebih leluasa dengan obrolan mereka yang pastinya akan sangat menguras emosi.


Mereka sudah duduk santai dan saling berhadapan dengan empat gelas minuman lemon dan beberapa potong kue di atas meja.


"Sebenarnya aku tidak ingin menebak, tapi rasanya tidak mungkin aku tidak ingin tahu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Ada apa?. Bisa kalian cepat beritahu kami?." Tanya Nyonya Maria dengan perasaan yang campur aduk.


Nyonya Mireya dan Tuan Patricio saling pandang, namun Nyonya Mireya meminta pada suaminya untuk memberikan kesempatan pada dirinya berbicara.


"Maria, Rizzo, ada yang harus kamu sampaikan. Dan aku yakin ini pasti kabar ini akan sangat melukai kalian." Ucap Nyonya Mireya menjeda ucapnya, menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Memikirkan apa reaksi yang terjadi jika besannya itu tahu kebenaran ini, sungguh sangat takut jika di luar ekspektasinya.


Nyonya Maria terlihat sangat tidak sabar ingin mendengar kelanjutan dari cerita Nyonya Mireya yang terjeda.


"Gadis dan Theodor sudah menikah sebelum Dominic dan Magdalena melangsungkan pernikahan. Itu pun kami tidak ada yang tahu, dimana mereka melangsungkan pernikahan pun kami berdua tidak tahu."


Bukan hanya sekedar kaget ekspresi dari wajah Nyonya Maria saat ini. Rasa tidak percaya pada wanita sebaik Gadis bisa melakukan hal ini. Terkecuali pasti Theodor yang sudah merencanakan semuanya. Berbeda dengan tuan Rizzo yang bersikap biasa saja. Karena dirinya dan keluarga Theodor sudah terikat karena pernikahan Magdalena dan Tuan Dominic, jadi bisa apa lagi mereka kalau hubungan Gadis dan Tuan Theodor sudah sejauh ini.


Nyonya Maria dan Tuan Rizzo hanya saling pandang lalu mereka kembali fokus pada Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.


Tuan Rizzo menegakkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Jadi rencana untuk Gadis dan Marco harus kita hentikan lah ya?. Tidak mungkin kita memaksakan kehendak pada Gadis, yang jelas-jelas sudah menjadi istri Theodor."


"Kau tidak marah pada?" Tanya Nyonya Mireya menatap kedua besannya secara bergantian.


"Pada siapa kami harus marah?. Hubungan Marco dan Gadis sendiri terjadi karena kemauan kita bukan karena Gadis nya sendiri." Dari awal tuan Rizzo sudah melihat kalau Gadis hanya tidak ingin mengecewakan mereka semua, jadi Gadis mau menerima hubungannya dengan Marco.


"Kau benar, itu yang aku rasakan." Sahut Tuan Patricio, setuju dengan apa yang dikatakan oleh tuan Rizzo. Walau pun dirinya sangat ingin memiliki menantu seperri Gadis, tapi tidak mau juga jika harus sampai memaksa Gadis.


"Apa kalian sudah menerima pernikahan itu?. Lalu Violetta dan Darren bagiamana?."

__ADS_1


"Itu dia masalahnya, aku memang menyukai Gadis tapi bukan untuk aku jadikan menantu ku. Aku punya pilihan dan kriteria sendiri untuk pasangan anak-anak ku. Jadi aku belum menerima wanita itu dan mungkin tidak akan pernah." Jawab Nyonya Mireya jujur, tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Nyonya Maria dan Tuan Rizzo.


"Violetta akan kembali ke Spanyol dengan membawa Darren, itu informasi yang disampaikan oleh Papanya Violetta." Lanjut Nyonya Mireya yang mendapatkan telepon dari Papanya Violetta sebelum kedua besannya sampai di kediaman mereka.


"Aku dan suami ku mau-mau saja menjadikan Gadis menantu ku. Tapi Theodor sudah menikahinya, ya kami harus terima. Karena mungkin itu yang terbaik untuk Theodor."


Nyonya Mireya masih menggelengkan kepalanya. Sementara tuan Patricio hanya diam tidak ingin menyulut emosi sang istri yang sudah mulai reda.


Dan secepatnya kami akan menemui Marco karena Marco sedang berpesta dengan teman-temannya. Merayakan dirinya akan segera menikah dengan Gadis setelah peresmian hubungan mereka."


"Aku minta maaf untuk itu." Sesal Nyonya Mireya.


"Tidak apa-apa Mireya. Kau tenang saja diri. Jangan mengambil keputusan yang gegabah untuk Gadis dan Theodor." Nyonya Mireya mengangguk sambil bangkit karena Nyonya Maria dan Tuan Rizzo akan segera menemui Marco sebelum semuanya terlambat.


"Sampai berjumpa lagi di lain waktu, Mireya, Patricio."


"Iya, Maria. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak Rizzo, Maria sudah mengerti keadaan kami."


"Sama-sama Patricio, santai saja. Kita sudah menjadi keluarga."


Tuan Patricio pun berpamitan berangkat ke kantor meski hari sudah siang. Ada beberapa pekerjaan yang harus diambilnya.


.


.


.


Sampai di ruang kerja, ternyata pekerjaannya sudah di handle oleh Tuan Theodor yang datang lebih awal tiga puluh menit dari Papanya.


Saat dirinya mau ke ruangan tuan Theodor, tuan Patricio dikagetkan dengan kedatangan Papanya Violetta bersama Darren.


"Semoga saja kedatangan kami tidak menganggu waktu kau, Patricio."

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Halo Darren..."


"Halo Kakek..."


"Kau mau ke ruangan Theodor?."


"Iya, ayo kita ke sana. Ada yang ingin aku bicarakan juga padanya."


"Baik lah, ayo kita keruangan Papa mu Darren." Ajak Tuan Patricio.


Ketiganya berjalan bersamaan menuju ruang kerja tuan Theodor.


Sesampainya di sana, tuan Patricio langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu. Ternyata tuan Theodor sedang bekerja serius di balik meja kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan deretan angka.


"Papa..." Darren berlari kearah Papanya yang langsung berdiri menyambut kedatanganya.


"Darren ingin tinggal bersama kau, Theodor. Dia tidak mau ikut Violetta ke Spanyol. Jadi aku membawanya kemari. Apa kau keberatan?."


"Tentu saja aku tidak keberatan, Darren adalah putra ku. Aku minta maaf karena tidak bisa memberikan tangung jawab apa pun pada Violetta." Tuan Theodor mengulurkan tangan sebagai pernohanan maaf. Lalu Papanya Violetta menerimanya dengan lapang dada akan keputusan tuan Theodor.


"Terima kasih, sekarang Darren aku serahkan pada kalian. Dan aku harus segera kembali ke kantor."


"Baik lah, kau tenang saja. Darren akan baik-baik saja besama kami." Balas Tuan Patricio mengantarkan kepergian Papanya Violetta.


Tidak berselang lama, tuan Patricio kembali ke ruang kerja tuan Theodor.


"Ada apa, Pa?." tuan Patricio mengajak tuan Theodor sedikit menjauh dari posisi Darren.


"Kau tidak bertanya pada Gadis?. Kalau Gadis tidak setuju bagiamana?. Mau di taruh di mana Darren kalau Gadis tidak mau mengurus Darren, semenara Darren hanya mau tinggal bersama kau saja."


"Oh itu, Papa jangan khawatirkan masalah itu. Gadis bisa menerima Darren, dan aku yakin Gadis juga akan menyayanginya."


"Apa kau yakin?."

__ADS_1


"Hem...Aku yakin Pa."


__ADS_2