
"Kak Jasmin!." Panggil Gadis cukup kencang setelah dia memastikan bahwa itu benar adalah kakaknya.
"Gadis!." Jasmin tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya malam ini. Bagaimana bisa adiknya berada di tempat ini juga dengan pakaian seksi meski pun serba tertutup. Namun cukup menarik pandangan kaum pria.
Jasmin segera menarik lengan Gadis dan membawanya dalam ruangan kosong.
"Kamu kenapa ada di sini?."
"Justru aku yang ingin bertanya pada kak Jasmin. Bukannya kak Jasmin harusnya ada di Singapura, tapi kenapa ada di tempat ini?."
Jasmin melirik pada pintu yang terbuka, dimana temannya yang masuk.
"Langganan kau sudah datang, dia sudah menunggu di kamarnya."
Tatapan Gadis dan Jasmin saling beradu untuk beberapa waktu.
"Cepat lah pergi dari sini!, tempat ini sangat tidak aman untuk gadis baik seperti mu!." Jasmin segera keluar bersama temannya, meninggalkan Gadis dengan banyak pertanyaan yang belum di jawab oleh Jasmin.
Gadis melangkah keluar dengan pikiran yang sangat kacau, apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup kakaknya?. Sudah berapa lama kakaknya berada di tempat seperti ini?. Apa yang sedang dicarinya di sini?.
Tadi apa kata temannya tadi, pelanggan?, di kamarnya?.
"Kak Jasmin apa yang kamu lakukan?." Batinnya sambil terus berjalan tanpa mempedulikan sekitar, hingga dia tidak menyadari jika ada orang yang mengikutinya.
Karena tidak mengetahui seluk beluk tempat ini, Gadis terdiam di keramaian. Dia mengedarkan pandangannya mencari orang yang dikenalnya. Namun bukannya Gadis menemukanya, dia malah di dorong kuat hingga turun ke lantai dansa dengan tiga orang pria yang berada di depan dan belakang tubuhnya.
"Tidak!. Aku tidak mau!." Teriak Gadis hendak keluar dari lantai dansa, namun tangannya di tahan dan langkahnya di hadang, sehingga dia tidak bisa kemana-mana.
Suara musik yang begitu kencang, sangat memekik telinga Gadis, sehingga dia tidak bisa memaksimalkan suaranya untuk meminta tolong. Atau mungkin tidak akan ada orang yang mau menolongnya.
Benar saja, saat dirinya di bawa oleh ketiga orang pria tersebut. Tidak ada yang menolongnya, mereka hanya bisa tertawa menonton hal yang sangat menakutkan untuk dirinya.
"Tolong!. Tolong!. Tolong!."
__ADS_1
Berharap ada yang mendengarnya dan sudi mau menolongnya.
Langkah Gadis terseok-seok karena tangannya di tarik dari depan dengan dua orang pria berjalan dibelakangnya.
Saat Gadis hendak dimasukkan ke dalam ruangan, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul kedua orang yang berjalan di belakang Gadis. Namun kedua orang itu memberikan perlawanan.
"Tuan Theodor!. Tolong aku!." Ucap Gadis ketika dia tahu ada Tuannya yang sedang berkelahi dengan kedua orang itu.
Ya, usai bersenang-senang menyalurkan hasrat dan gairahnya pada wanita yang ada di sini. Tuan Theodor baru memutuskan untuk mencari Gadis yang hilang sejak tadi.
Bukan hal yang sulit bagi Tuan Theodor untuk mencari seseorang di tempat ini. Hingga dia melihat Gadis yang sedang di seret oleh kawanan pria nakal.
"Tolong lepaskan aku!." Mohon Gadis dengan mengiba, berharap pria itu akan mau melepaskannya. Tapi rupanya, pria itu bukannya merasa kasihan, justru dia semakin bernafsu dengan penampilan Gadis yang acak-acakan.
Pria itu semakin beringas menatap tubuh Gadis yang begitu elok lalu dia semakin mendekati Gadis dan hendak memeluknya. Namun belum sempat tangan pria itu menyentuh Gadis, tangan pria itu sudah lebih dulu dipatahkan oleh Tuan Theodor.
"Awww..." Teriak pria itu kesakitan. Dia menjauhkan diri dari Gadis dan segera keluar dari ruangan tersebut. Sebelum seluruh tubuhnya patah semua.
Bagiamana kalau hal yang sangat berharga dalam hidupnya harus terenggut dengan paksa?.
Tuan Theodor melepas jas lalu menutup bagian atas tubuh Gadis tanpa menyentuhnya.
"Ayo kita pulang!." Ucapnya datar, seakan tanpa rasa bersalah.
"Atau kau mau pria itu dan teman-temannya yang lain datang ke sini lagi dan menyentuh tubuh kau sesuka hati mereka!." Ucapnya lagi dengan nada tinggi.
Karena merasa takut hal itu terjadi, Gadis segera bangkit dan berdiri di belakang Tuan Theodor. Dan mereka pun keluar dari ruangan tersebut menuju tempat parkir.
Mobil Tuan Theodor sudah meninggalkan tempat hiburan itu.
Sudah bisa dipastikan jika tidak akan ada obrolan apa pun di antara keduanya, bahkan saat keduanya sudah sampai di dalam unit apartemen.
Langsung saja Gadis masuk ke dalam kamar dengan jas Tuan Theodor yang masih menempel ditubuhnya.
__ADS_1
Gadis menangis kencang di dalam kamar kedap suara itu. Ada begitu banyak hal yang membuatnya menangis kencang seperti ini.
Pukul enam pagi, Gadis baru terbangun dari tidurnya. Itu pun karena suara dering ponselnya. Tapi Gadis mengabaikan panggilan itu dimana nama Galang yang tertera di sana.
Tuan Theodor yang sudah bangun sejak tadi, tidak ingin menganggu Gadis untuk pagi ini. Dia memberinya waktu untuk menenangkan dirinya dari kejadian tadi malam.
Tuan Theodor menyiapkan sendiri sarapannya, hanya salad sayur dengan satu botol air mineral. Sesekali tatapan Tuan Theodor tertuju pada pintu kamar Gadis. Menunggu keajaiban jika Gadis akan keluar dari kamarnya. Tapi sampai dia menghabiskan sarapannya, pintu kamar Gadis masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda jika penghuni kamar itu akan keluar dari persembunyiannya.
Tanpa ingin meninggalkan jejak, Tuan Theodor sendiri mencuci perlengkapan bekas makannya. Lalu meletakkan ditempatnya lagi.
.
.
.
Sampai jam tiga sore, Gadis masih betah berada di dalam kamarnya. Gadis sedang berpikir keras. Bagaimana caranya dia untuk menemui kakaknya?. Apa dia harus datang ke tempat itu lagi?. Atau ada tempat lain yang bisa didatangi untuk menemui dan berbicara dengan kakaknya?.
Rasanya tidak mungkin untuk kembali ke tempat itu seorang diri, tapi juga sangat tidak mungkin jika dirinya meminta bantuan pada Tuan Theodor. Lalu dia harus ke sana bersama siapa, untuk bisa melindungi dirinya.
"Galang...ya Galang." Ucapnya pada diri sendiri setelah berpikir beberapa lama.
"Besok di kampus aku akan berbicara padanya dan semoga saja Galang mau membantu ku." Ucapnya lagi penuh harap.
Melihat jarum jam yang bergerak semakin cepat, Gadis segera bangkit dan turun dari ranjang. Dia harus menyiapkan makan malam untuk Tuan Theodor.
Gadis langsung berkutat di dapur dengan perlengkapan masak dan bahan makanan. Hampir satu jam beberapa menu sudah selesai di masak lalu dia menghidangkannya di atas meja makan.
Gadis begitu kaget ketika dia berbalik badan hendak akan kembali masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba tubuh tegap nan atletis ada didepannya.
Dada bidang dipenuhi bulu-bulu yang tata sangat rapi dengan aroma wangi yang menguar dari tubuh Tuan Theodor.
Untuk beberapa saat posisi mereka seperti itu, tidak ada yang berniat untuk menghindar dari keduanya. Sejurus kemudian baru lah Gadis bergeser ke sisi kiri dan pergi dari tempat itu.
__ADS_1