Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 80 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Waktu sudah menjelang pagi, tapi mata Gadis masih saja betah terbuka. Tidak sedetikpun ada terpejam. Menikmati semilirnya angin, membasuh luka akibat kehilangan orang yang merupakan belahan jiwanya. Tidak ada air mata, hanya rasa sesal yang begitu mendominasi hatinya.


Erna dan Jasmin pergi dari penginapan ketika tuan Theodor baru turun dari mobil. Menuju panti yang dipimpin langsung oleh Ibu Airin. Mereka bisa memastikan kalau Gadis akan baik-baik saja bersama Tuan Theodor.


Tuan Theodor mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka, sengaja tidak ditutup oleh Erna dan Jasmin sebab Gadis masih mengurung dirinya di dalam kamar.


Pintu kamar Gadis terbuka lebar, sang pemilik kamar baru keluar dan langsung menuju teras menemui orang yang sudah dijanjikannya.


"Silakan tuan kata kan apa yang ingin tuan sampai pada saya?." Ucap Gadis datar, dan itu terlihat dari wajah yang tanpa cadar dan gestur tubuhnya.


Tuan menatap lekat wanita yang begitu sudah disakitinya begitu mendalam.


"Aku hanya ingin memohon maaf dan ampunan pada mu dan Hanin. Aku sudah banyak membuat mu dan Hanin menderita."


"Saya dan Hanin sudah memaafkan tuan, saya dan Hanin juga selalu mendoakan yang terbaik untuk hidup dan kebahagian tuan."


Hening, mulut tuan Theodor seperti terkunci untuk mengakui kesalahan apa saja yang telah diperbuatnya pada Gadis dan Hanin. Mulai dari dia yang menyabotase usaha makanan Gadis, hingga meragukan Hanin dan dengan membabi buta membalas sakit hatinya pada Gadis yang ternyata sudah salah sasaran.


Lima belas menit sudah berlalu, hening malah melanda keduanya sampai Gadis buka suara lagi.


"Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, saya akan masuk dan menutup pintunya. Silakan tuan pergi dari sini!." Usir Gadis dengan suara lirih.


"Aku..."


"Saya sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang tuan, saya sudah bahagia dengan hidup seperti ini bersama Hanin, putri saya." Gadis beranjak dari tempatnya dan hendak melangkah masuk ke dalam penginapan. Tapi sebuah tangan kekar menahannya dengan memeganginya pelan.


"Biar aku membantu mu!."

__ADS_1


"Jangan melakukan apa-apa, karena saya juga tidak menginginkannya. Berikan lah untuk keluarga tuan di sana."


Gadis menatap tangan kekar itu dan perlahan mulai terlepas.


"Gadis!. Gadis!." Teriak Nyonya Mireya dengan suara tangisan yang meraung.


Gadis menatap pada mereka yang datang ke penginapan. Ada Tuan Patricio, Violetta dan bayinya serta Darren.


"Tolong ampuni aku!. Aku sudah begitu jahat pada mu dan cucu ku, Hanin!. Tolong ampuni aku!."


Gadis menatap nanar pada wanita yang pernah begitu baik padanya. Seperti ibu nya sendiri. Tapi itu dulu sebelum ada tuan Theodor. Hingga Nyonya baik hati itu rela menyakiti anak yang sedang dikandungnya, padahal anak itu cucunya juga seperti Darren.


"Saya dan Hanin sudah memaafkan mu, Nyonya Mireya. Hanin bukan cucu Nyonya Mireya jadi tidak perlu merasa bersalah seperti itu."


Gadis tidak ingin membuka siapa Hanin pada mereka. Karena Hanin adalah miliknya dan sampai kapan pun akan tetap menjadi miliknya seorang. Meski sekarang mungkin mereka mulai menyadari atau bahkan sudah mengetahuinya. Tapi Gadis tidak mempedulikannya.


"Sudah sering aku mencoba menghilangkan nyawa yang ada di dalam rahim Gadis. Tapi selalu gagal dan mungkin karena itu lah Gadis pergi dari kita demi membawa cucu ku sampai ke dunia. Tapi kita juga yang telah menghilangkan nyawanya dengan menyelamatkan Violetta dan bayinya." Nyonya Mireya mengakuinya dengan penuh penyesalan.


"Mama!."


Tuan Theodor dan tuan Patricio menatap tidak percaya pada wanita yang telah mengakui kejahatannya.


"Maaf kan aku, tolong maaf kan aku!." Ucap Nyonya Mireya lagi.


Gadis menghapus air matanya dan duduk di kursi yang ada di teras. Dia meminta langsung pada Nyonya Mireya untuk berdiri tapi Nyonya Mireya menolaknya, sampai tuan Patricio dan Tuan Theodor memaksanya untuk duduk di sebelah Gadis.


"Saya sudah memaafkan Nyonya, sekarang Nyonya bisa pulang dengan tenaga dan begitu juga dengan saya, saya bisa melanjutkan hidup lagi."

__ADS_1


"Kamu tidak ingin membalas atas apa yang telah aku lakukan apa mu dan calon anak mu dan Theodor?." Tanya Nyonya Mireya berulang kali menghapus air matanya. Kepalanya tertunduk begitu dalam, penyesalan yang akan ditanggung seumur hidupnya.


Gadis menggeleng lemah tanpa ekspresi. "Untuk apa saya membalas Nyonya, biar kan Tuhan saja yang melakukannya. Saya sudah ingin hidup tenang tanpa dendam yang nantinya dapat melukai hati saya lagi."


Tangis Nyonya Mireya semakin menjadi mendengar apa yang dikatakan oleh Gadis, tubuh renta Nyonya Mireya tidak akan sanggup menanggung sesalnya. Lebih baik dia mendapatkan sesuatu yang sakit dari Gadis sekarang dari pada hidup dalam penyesalan.


Darren yang sedari tadi melihat Gadis, hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Wanita yang sangat dirindukannya tapi tidak dapat dipeluknya. Dengan melihatnya saja dia sudah merasa begitu senang.


Gadis meminta mereka untuk segara pergi dari penginapan karena dirinya sudah merasa cukup untuk berbicara dengan mereka semua dan memberikan maaf yang sesuai dengan harapan mereka. Dengan sangat terpaksa mereka harus pergi juga dan tidak menganggu Gadis lagi. Hanya tuan Theodor yang masih berada di sana tapi cukup jauh dari posisi penginapan.


Gadis sudah menentukan jalan untuk hidupnya ke depan tanpa Hanin. Penyemangat hidup dan pelipur lara dalam mengatasi semua masalah yang datang.


Gadis sudah memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan menyelesaikan kuliahnya. Dia harus menata kembali hidupnya untuk masa depan yang lebih baik lagi.


Erna dan Jasmin sudah kembali ke penginapan. Mereka langsung melihat pemandangan dimana Gadis sudah berkemas dan menyiapkan semua perlengkapannya untuk kembali ke Jakarta.


"Apa kamu yakin akan kembali ke Jakarta?." Tanya Jasmin setelah mendengar apa yang akan dilakukan oleh Gadis.


"Iya Kak, aku sudah yakin. Makanya aku tidak mau membuang waktu lagi. Kapan-kapan kita bisa mengunjungi Hanin lagi ke sini."


"Ok, kalau kamu sudah yakin. Aku akan ikut bersama mu kembali ke Jakarta." Ucap Jasmin yang diikuti oleh Erna juga. Erna akan ikut kemana pun Gadis dan Jasmin pergi.


Pagi ini, mereka bertiga akan meninggalkan Batam setelah berpamitan pada Ibu Airin. Ketiga Gadis itu sudah memasuki bandara dan berita untuk check-in.


Setelah melewati beberapa jam perjalanan udara, ketiganya sudah sampai di bandara. Mereka tidak tahu kalau sudah ada yang menjemput mereka di sana.


Senyum Gadis terlihat mengembang kala dia melihat ada Rosario dan Alesandro di sana. Orang terdekat Gadis setelah Erna dan Jasmin.

__ADS_1


__ADS_2