Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 34 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis dan Tuan Theodor kembali merajut kebersamaan yang begitu sangat intim. Sudah berulang kali Gadis melenguh dan meneriakkan nama tuannya dengan begitu syahdu.


Hingga malam ini mereka lewatkan dengan penyatuan demi penyatuan yang mampu memenuhi hasrat dan gairahnya masing-masing.


Sampai kenikmatan itu mampu membangun pondasi sebuah rasa yang dirasa akan sangat cukup kuat untuk mereka bisa menghadapi segala kesulitan dan perbedaan yang akan selalu ada di depan mereka.


Tuan Theodor dan Gadis mengakhiri sesi percintaan mereka di jam lima pagi. Mereka begadang tanpa tidur dan tanpa menjeda percintaan mereka.


Gadis meraih jubah dan segera menutupnya lalu turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?." Tuan Theodor menarik tangan Gadis namun tidak kencang sehingga Gadis masih mampu berdiri dengan tegak.


"Saya lapar, mau mengambil roti. Tuan Mau?." Tawar Gadis sambil menunjuk dimana arah letak roti.


"Mau." Jawab tuannya melepas tangan Gadis. Gadis segera mengambil satu bungkus roti lalu membawanya ke atas tempat tidur. Gadis memberikan potongan roti yang pertama untuk tuan Theodor. Kemudian untuk dirinya.


"Jam berapa tuan akan berangkat bekerja?." Gadis mulai mengunyah. Begitu juga tuan Theodor hanya dengan dua kali suapan, potongan roti itu habis masuk ke dalam mulutnya.


"Kenapa, kau mau bertemu dengan Alesandro?." Tuan Theodor menunjukkan ketidaksukaannya.


Gadis menggeleng lemah. "Saya hanya bertanya saja, tuan. Takutnya tuan akan terlambat atau merasa Leah karena tuan tidak ada tidur sama sekali." Gadis menunjukkan kepeduliannya, sambil terus mengayuh sisa potongan rotinya.


Tangan tuan Theodor melingkar memegangi perut Gadis yang begitu rata. Perlahan menarik tali jubah itu hingga dia bisa meraba bagian kulit perut Gadis yang begitu halus.


"Jangan biar kan aku terbakar api cemburu, Gadis!." Wajah tuan Theodor terbenam dalam perut Gadis, sesekali mengecup perut itu.


"Apa tuan cemburu?."


Gadis merasakan gerakan mengangguk dari tuannya.


"Aku begitu cemburu saat kau bisa tertawa lepas dengan Alesandro, Galang dan Dominic. Belum lagi Yacob yang menaruh hati pada kau." Tuan Theodor mengangkat wajah dan menatap Gadis. Memasang wajah tidak sukanya.

__ADS_1


"Terus saya harus bagaimana?." Tangan Gadis sudah berada di atas kepala tuannya karena permintaan dari tuan Theodor untuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Menjauh lah dari mereka semua, jangan biar kan mereka mendekat kerena kau hanya milik ku, hanya milik ku Gadis!."


Gadis tersenyum miris sambil menggerakkan jari lentiknya di atas rambut kepala tuan Theodor.


"Tuan sungguh egois sekali." Tatapan keduanya saling beradu untuk beberapa lama.


"Bagaimana saya mau mendapatkan pria yang bisa menerima saya apa adanya kalau saya harus menjauhi mereka semua?. Untuk tuan Dominic dan Tuan Yacob, saya tidak pernah berharap bisa bersama salah satu dari merekam. Tapi untuk Galang dan Tuan Alesandro, boleh lah saya mempertimbangkannya."


Mendengar penuturan Gadis, seketika tangan tuan Theodor meremas kuat salah satu gunung kembarnya. "Jangan coba-coba kau memberikan semua ini pada pria mana pun."


Gadis tersenyum sinis. "Bukannya tuan akan melepaskan saya?. Jadi tuan tenang saja, saya akan mempertimbangkan mereka setelah saya tidak terikat lagi dengan tuan."


"Aku bilang jangan pernah, Gadis!." Tubuh tuan Theodor sudah menindih tubuh Gadis. "Selamanya kau akan menjadi milik ku, hanya milik ku." Sudah puluhan kali tuan Theodor melontarkan kata-kata yang sama mengenai kepemilikan akan tubuh Gadis.


Gadis membuang muka ke sisi kanan ketika tuan Theodor hendak mencium bibirnya.


"Aku berhak merubah isi kesepakatan kita, Gadis. Demi untuk mengikat kau selamanya di sisi ku."


Gadis tidak ingin berdebat lagi, karena pasti tidak akan ada ujungnya. Dan dirinya juga yang akan kalah atau lebih tepatnya mengalah.


Violetta dan Darren sudah menempati rumah Nyonya Mireya, tentunya atas kesepakatan semuanya. Untuk mempermudah Darren untuk bertemu dengan Papanya. Selain memang Violetta akan menjadi menantu di rumah itu. Sedikit banyaknya bisa membantu pernikahan Tuan Domonic. Bonusnya Violetta bisa semakin dekat Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.


"Apa kau sudah tahu makanan kesukaan Theodor?." Tanya Nyonya Mireya saat mereka berada di dapur.


"Mungkin aku harus banyak belajar lagi, Ma." Jawab Violetta.


"Gadis yang paling tahu makanan Theodor dan anggota rumah ini. Nanti aku akan meminta Gadis untuk datang ke sini dan membatu mengajari kau memasak." Sahut Nyonya Mireya.


"Gadis yang pembantu Theodor itu, Ma?." Ada sedikit perasaan tidak suka dalam hati Violetta ketika Gadis tahu kesukaan makanan Theodor dan anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

__ADS_1


"Iya, kau benar. Masakan Gadis juga merupakan masakan yang paling enak yang pernah kami makan." Tidak ada hentinya Nyonya Mireya memuji kelebihan yang dimiliki Gadis. Tanpa sadar Nyonya Mireya menyulut rasa iri dalam hati Violetta. Karena bagiamana pun dia yang akan menjadi menantunya bukan Gadis pembantu itu.


"Iya, Ma. Aku akan banyak belajar pada Gadis."


"Iya, Gadis juga anaknya baik, tidak pelit ilmu." Lagi-lagi ucapan Nyonya Mireya membuat Violetta menganggap Gadis adalah saingan untuknya.


Kini Violetta tidak lagi mau berkomentar apa pun tentang Gadis. Dari pada nanti dirinya semakin kesal pada Gadis dan Nyonya Mireya semakin memuji-muji kepintaran Gadis yang akan membuatnya tambah sakit hati.


Tangan kanan tuan Dominic sedang diobati oleh Magdalena yang memang sengaja datang ke kantor untuk membawakan Tuan Dominic sarapan.


"Kenapa bisa tangan mu terluka seperti ini?." Tanya Magdalena penuh perhatian.


"Aku hanya sedang melamun saat menabrak cermin yang ada di kamar."


"Apa yang kamu pikirkan?."


"Pernikahan kita, aku sedang memikirkan pernikahan kita. Sampai aku tidak fokus di sekeliling ku." Jawabnya sambil menatap wajah cantik Magdalena namun tidak mampu menggetarkan hatinya.


Perlahan tuan Domonic menempelkan bibirnya pada bibir Magdalena yang bergincu merah merona. Magdalena menyambut ciuman itu, keduanya saling membelit lidah satu sama lain. Hingga Tuan Dominic mengakhiri ciuman itu.


Sangat berbeda dengan ketika dirinya mencium Gadis dengan tiba-tiba, rasanya sungguh mendebarkan meski hanya sebuah ciuman singkat.


"Kamu melamun lagi?."


"Apa yang akan kau lakukan jika aku membatalkan pernikahan kita?."


Wajah cantik itu menatap tajam tuan Domonic. Magdalena mencari kebenaran dari apa yang ditanyakan oleh calon suaminya.


"Jangan terlalu serius sayang, aku hanya bercanda." Tuan Dominic mengalihkan topik pembicaraannya. Tapi Magdalena belum mengakhiri apa yang sudah dipertanyakan oleh Tuan Dominic.


"Kamu mau tahu apa yang akan aku lakukan, kalau kita tidak jadi sampai menikah?. Aku akan mengakhiri hidup ku, karena aku tidak bisa hidup tanpa mu, Domonic." Ucapnya dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


__ADS_2