Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 6 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Jamuan makan malam sudah di mulai tiga puluh menit yang lalu. Semua tidak ada yang tidak memuji hidangan yang mereka makan. Semuanya begitu takjub dan terkesima dengan kemampuan Gadis dalam mengolah makanan khas negara mereka.


Akan tetapi orang yang mereka puji-puji masakannya sedang berada di dapur, dia lebih memilih di sana untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


Selesai jamuan makan malam, mereka tidak segera beranjak dari meja makan. Karena terlalu sayang untuk cepat meninggalkan makanan seenak dan selezat itu. Para orang tua lebih memilih mengobrol di sana. Sementara yang lainnya ada yang di taman, berbincang santai, atau hanya sekedar berfoto.


Berbeda dengan Galang, dia yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Gadis, langsung saja mencarinya ke dapur. Masuk melalui jalan samping.


"Seperti biasanya selalu enak makanan yang kau buat." Ucap Galang mengagetkan Gadis yang sedang mencuci piring.


Gadis menoleh pada asal suara lalu tersenyum karena itu adalah teman baiknya di kampus.


"Makanan yang untuk kau bawa pulang sudah aku siapkan. Langsung saja kau masukkan ke dalam kulkas."


"Baik, chef Gadis."


Keduanya pun tertawa lebar berbarengan dengan Gadis menyelesaikan cucian piring. Kemudian dia mengambil makanan yang akan di bawa pulang oleh Galang. Lalu di masukkan ke dalam kantung plastik.


Galang pergi dari sana dengan membawa tentengan kantung plastik karena terdengar panggilan dari Mama dan Papa nya.


Gadis hendak masuk ke dalam kamar Bibi Dolores, namun tiba-tiba saja suara Tuan Dominic menghentikan langkahnya.


"Gadis..."


"Iya, Tuan Dominic."


"Kenapa tidak memakai gaun yang aku berikan?."


"Maaf, Tuan Dominic. Saya lebih memilih untuk memakai gaun pemberian dari Nyonya Mireya."


"Oh jadi gaun itu dari, Mama?."


"Iya, Tuan Dominic."


"Baik lah kalau gaun itu dari Mama. Aku lega mendengarnya. Untuk gaun yang dari ku, kau bisa memakainya kapan saja."


"Iya, Tuan Dominic."


Percakapan mereka pun berakhir bersamaan dengan Tuan Theodor yang menghampiri keduanya.


"Ternyata kau di sini!. Papa ingin bicara pada kita."


"Baik lah, Gadis. Terim kasih."


Gadis hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Apa yang sudah di lakukan gadis itu sampai kau harus berterima kasih segala?."


"Bukan urusan kau!."

__ADS_1


Tuan Theodor dan Tuan Dominic ikut bergabung dengan Tuan Patricio dan Tuan Mauricio di tempat kerja.


"Apa yang ingin Papa bicarakan dengan kami?."


"Papa dan Mauricio akan ke Italia, kalian yang akan menjalankan perusahan yang ada di sini."


"Berapa lama?, terus Mama ikut tidak?. Kalau tidak ikut biar aku kembali ke rumah."


"Kemungkinan Mama tidak ikut, kau tetap saja di sana. Karena ada Imelda yang akan menemaninya di sini."


"Baik lah."


Malam semakin larut, sebagian sanak saudara sudah ada yang pulang, sebagian lagi masih ada yang masih betah di sana. Dan yang masih betah di sana adalah mereka yang seusia dengan Carmen. Mereka akan menghabiskan malam Minggu ini dengan bercerita sampai pagi.


Sementara itu, Nyonya Mireya menemui Gadis di kamar Bibi Dolores. Gadis sedang bersiap-siapa akan pulang ke apartemen. Meski pun belum tahu mau pulang dengan naik ojek atau kembali pulang bersama Tuan Theodor.


"Apa ada wanita yang ada ke apartemen?." Tanya Nyonya Mireya to the points saat mereka sudah berdua.


"Tidak ada, Nyonya Dolores." Jawab Gadis bohong. Karena dia tidak ingin membuat masalah dengan pria sombong itu.


"Ok. Tapi tetap kau harus waspada pada wanita-wanita itu. Kau harus segera mengusir mereka atau melaporkannya pada ku."


"Baik, Nyonya Mireya."


"Baik lah, ayo kita keluar. Kau pulang bersama Theodor. Sebentar lagi dia selesai bicara dengan Papa nya."


Gadis berjalan di belakang Nyonya Mireya. Sampai di ruang tamu berbarengan dengan Tuan Theodor yang baru saja keluar dari ruang kerja Tuan Patricio.


"Kau mau pulang jam berapa?, Gadis sudah bersiap-siap."


Tuan Theodor menatap Gadis yang masih lengkap dengan gaunnya yang indah, hingga sebuah ide pun muncul.


"Kami akan pulang sekarang, Ma." Pamit Tuan Theodor sambil mengecup kedua pipi Nyonya Mireya.


"Kau hati-hati, Gadis akan duduk di depan!."


"Iya, Ma."


Gadis pun berpamitan pada Nyonya Mireya lalu setelahnya dia mengikuti Tuan Theodor dengan sedikit berlari.


"Gadis mau kemana, Ma?." Tanya Tuan Dominic yang melihat punggung Gadis menghilang dari balik pintu.


"Pulang ke apartemen Theodor."


"Mereka tidak menginap?."


"Tidak. Oh ya, Dominic. Besok Magdalena dan keluarganya akan datang ke sini sebelum Papa berangkat ke Italia."


"Iya, Ma. Aku ke kamar ya." Tuan Dominic pamit pada Nyonya Mireya sambil memeluknya.

__ADS_1


"Iya, sayang."


Tuan Dominic meninggalkan Nyonya Mireya di ruang keluarga.


Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai oleh Tuan Theodor. Pria itu membawa kencang mobil mewahnya tapi bukan untuk pulang ke apartemennya. Melainkan mendatangi sebuah klub malam terelit di kota Jakarta.


"Kita mau kemana, Tuan?." Gadis memperhatikan jalanan yang dilewatinya.


"Ini bukan jalan menuju apartemen, Tuan?." Lanjut Gadis menatap Tuan Theodor yang masih fokus dangan kemudi.


"Kita akan menemui teman-teman ku sebentar. Lagian besok kau kan tidak kuliah juga."


"Tapi..."


"Kenapa?."


"Lebih baik aku tidak ikut saja, Tuan. Tuan bisa menurun kan saya di sini!."


"Tidak, kau tetap akan pergi bersama ku."


Entah lah, Gadis tidak ingin ikut kemana pun Tuannya pergi dangan pakaian yang seperti ini. Jika tadi dia mau memakai Guan itu karena pekerjannya tapi ini sudah bukan waktunya dia untuk bekerja lagi.


Mobil Tuan Theodor sudah terparkir, berjejer dengan mobil mewah yang lainnya.


"Tuan, saya tunggu di sini saja." Tuan Theodor menatap wajah Gadis dalam cahaya yang temaram sambil melepas sabuk pengaman.


"Di luar sini banyak berkeliaran pria hidung belang. Jadi sebaiknya kau ikut masuk dengan ku."


"Tapi, Tuan..."


"Aku tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa pada kau di sini!."


"Iya biak lah, Tuan."


Gadis menyerah dan melepas sabuk pengaman lalu membuka pintu. Dia sedikit berlari mengejar Tuan Theodor yang sudah di dekat pintu.


"Kita tidak lama kan berada di dalam sana, Tuan?." Tuan Theodor mengacuhkan pertanyaan dari Gadis. Namun Gadis tepat berjalan di belakang Tuannya.


Gadis di buat bergidik ngeri, ketika dia melewati lorong panjang untuk sampai di tempat tujuan Tuan Theodor. Dimana di sepanjang lorong itu di isi oleh mereka yang sedang memadu kasih dengan minuman ditangannya. Ada yang sedang memeluk, berciuman, saling meraba dan terlihat beberapa orang sedang berusaha untuk saling memuaskan.


Langkah kaki Gadis terhenti kala dia mendapati sosok wanita yang begitu mirip dengan seseorang yang sedang kuliah dan bekerja di luar negeri. Namun Gadis segera menggelengkan kepalanya, karena tidak mungkin orang baik seperti kakaknya ada di tempat seperti ini.


Gadis melanjutkan lagi langkahnya, namun dia sudah kehilangan jejak Tuan Theodor. Sehingga dia kembali berhenti dan mencoba mencari Tuannya, bertepatan dengan seseorang yang memanggil nama kakaknya.


"Jasmin!."


Gadis mengikuti arah dari orang yang memanggil nama kakaknya. Dia berharap salah melihat orang yang sangat disayangi oleh ibunya berada di tempat ini. Tapi sepertinya dia tidak salah lihat.


"Benar kah itu, Kak Jasmin?. Tapi untuk apa kak Jasmin di sini?. Bukannya dia sedang kuliah dan kerja di luar negeri?." Batin Gadis.

__ADS_1


__ADS_2