Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 94 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Malam ini Gadis terkurung di apartemen tuan Theodor. Semakin keras Gadis menolak keinginannya, semakin nekad tuan Theodor menjalankan aksinya untuk tetap mengurung Gadis di apartemen Gadis, karena sejak awal apartemen ini sudah atas nama Gadis. Dengan otomatis apartemen ini milik Gadis seorang.


Pakaian, hijab dan mukena untuk Gadis sudah siapkan oleh Romi sebelum tuan Theodor mengajak Gadis ke apartemen.


Gadis menempati kamar yang di dulu ditempati oleh Darren. Gadis masih mengurung diri di dalam kamar tersebut, padahal sekarang sudah pukul sebelas malam. Sudah lewat jam makam malam. Dia memikirkan langkah apa yang harus diambilnya sekarang.


Tuan Theodor masih belum beranjak dari meja makan, sejak jam tujuh saat menerima pesanan makanan yang dipesannya melalui online. Makanan yang sudah tersaji pun dimasukkan ke dalam kulkas saat Gadis tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


Sampai pagi menjelang pun tuan Theodor masih duduk di ruang makan, menunggu Gadis keluar. Tapi belum ada tanda-tanda apa pun.


Sekitar pukul enam pagi, baru lah Gadis membuka pintu kamar. Dia melihat tuan Theodor yang menatap tajam kearahnya, dengan setelan pakaian yang tadi malam. Begitu juga dengan Gadis, yang masih mengenakan pakaian kemarin pagi.


"Saya harus berangkat kuliah dan besok harus membuat pesanan jadi tolong antara kan saya pulang." Ucap Gadis lemah lembut dan penuh permohonan. Berharap tuan Theodor mau mengabulkan permintaannya.


"Kamu bisa kuliah dan membuat pesanan dari sini, jadi kamu tidak perlu pergi ke kampus dan pulang ke rumah. Aku juga sudah menghubungi Jasmin dan Alesandro untuk membawakan semua buku mu kemari." Dengan gampangnya tuan Theodor sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk Gadis. Tanpa bertanya dulu apa pun padanya. Tuan Theodor sudah memutuskan semuanya.


"Dosen mu akan mengirimkan pesan pada email yang ada di laptop itu, kamu bisa memakainya." Lanjut tuan Theodor menunjuk pada yang ada di meja ruang tengah, yang pastinya sudah disiapkan oleh tuan Theodor.


"Tuan, kenapa tuan harus ikut campur pada hidup saya?. Tolong biarkan saya hidup dengan cara saya sendiri." Gadis langsung melayangkan protes pada tuan Theodor yang hendak beranjak dari sana karena di depan sudah ada Jasmin dan Alesandro.


"Boleh-boleh saja kamu menentukan hidup seperti apa yang kamu inginkan tapi setelah kita menikah. Semakin cepat kita menikah semakin cepat pula kita hidup sesuai dengan apa yang kamu inginkan." Sahut tuan Theodor sambil menepuk pundak Gadis dan langsung membuka pintu untuk Jasmin dan Alesandro.


"Kalian masuk saja, Gadis ada di ruang makan. Dia masih belum mau menerima ku lagi." Ucap tuan Theodor pada kedua orang itu.


"Ya itu menjadi urusan kau, Theodor. Kau harus lebih bisa meyakinkan lagi." Ledek Alesandro yang merangkul pundak Jasmin di depan tuan Theodor dan langsung menuju area dapur.

__ADS_1


Wajah Gadis langsung sumringah ketika melihat Alesandro dan Jasmin dengan posisi yang begitu akrab. Gadis berharap kedua orang itu akan selalu bahagia. Dan tentunya sangat diharapkan bisa membawa dirinya keluar dari apartemen ini.


"Kak Jasmin..." Gadis langsung memeluknya dengan begitu erat, begitu juga Jasmin membalas pelukan itu dengan tidak kalah eratnya.


"Aku membawakan semua buku dan catatan pesanan untuk besok." Jasmin menunjuk tas yang berisi buku dan sebenarnya ada beberapa pakaian Gadis yang dimasukkan ke dalam tas tersebut.


"Kenapa di bawa ke sini, kak?. Aku tidak akan lama tinggal di apartemen ini, bukannya kalian berdua akan membawa ku pulang?."


Jasmin dan Alesandro saling lempar pandang lalu Jasmin membawa Gadis untuk duduk di kursi yang ada di sana.


"Maaf Gadis, kami tidak membawa pulang. Tuan Theodor akan memberi mu keamanan yang sangat baik. Kamu pasti mengerti maksud ku." Jawab Jasmin begitu serius.


Gadis tertunduk lesu setelah mendapatkan penjelasan itu dari kakaknya. Itu berarti dia akan lama tinggal bersama tuan Theodor.


Semakin dalam Gadis menundukkan kepalanya. Karena ternyata Jasmin dan Alesandro tidak bisa membawanya keluar dari apartemen ini.


Setelah mengatakan hal itu, Jasmin dan Alesandro berpamitan pada Gadis dan Tuan Theodor. Karena keduanya memang harus bekerja.


Mau tidak mau Gadis menerima ini dan untuk semenara waktu diirnya akan tinggal bersama tuan Theodor.


Setelah kepergian Jasmin dan Alseandro. Gadis segera membuka laptop dan melihat email yang masuk. Dan benar saja, sudah ada beberapa tugas yang sudah dikirimkan oleh Dosennya.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Gadis segera mengerjakan semua tugasnya sampai siang hari. Gadis sudah melewatkan sarapannya dan jangan sampai melewatkan makan siang juga.


Perlahan Gadis mengedarkan pandangannya, mencari sosok pria yang sukanya hanya memaksakan kehendak pada orang lain, terutama pada dirinya.

__ADS_1


"Aku sudah memesan makanan dari luar, mungkin sebentar lagi akan sampai." Ucap tuan Theodor dari arah kolam renang. Mata Gadis kembali melihat tubuh yang pernah dirasakannya sangat membuat candu.


Tanpa rasa malu, tuan Theodor berjalan kearah dapur hanya dengan memakai boxer saja karena masih akan berenang.


"Makanya cepat kita menikah, supaya kamu tidak perlu mengucap istighfar dan menundukkan pandangan." Ucap tuan Theodor berdiri tepat di depan Gadis yang berulang kali mengucap kalimat istighfar dan menundukkan kepalanya.


"Apa kamu akan terus menunduk sampai malam kalau aku terus berdiri di depan mu dengan boxer ini?." Tanya tuan Theodor sambil pergi dari hadapan Gadis, menyunggingkan senyum yang begitu menawan yang tidak dapat di lihat oleh Gadis.


Gadis menarik nafas panjang, mengeluas dadanya sambil kembali beristighfar, lalu membuka pintu saat ada yang orang yang menekan bel untuk mengantar makanan yang sudah di pesan oleh tuan Theodor.


.


.


.


Gadis sudah tidak kaget lagi, saat dia menemukan di dalam dua buah kulkas yang berukuran besar yang ada di dapur, sudah dipenuhi dengan bahan-bahan makanan yang akan dipakainya untuk pesanan sore ini.


Gadis segera membuatnya sesuai list pesanan yang sudah dibuatnya jauh-jauh hari. Apa yang saat ini dilakukan Gadis tidak lepas dari kedua mata tajam tuan Theodor yang sudah tadi berada di sana. Bahkan sebelum Gadis bangun di jam empat pagi.


Gadis menjeda dulu kegiatannya di saat sudah waktu subuh yang terdengar dari ponsel pintarnya. Dan nanti akan dilanjutkan lagi setelah melaksanakan shalat subuh.


"Kamu sudah banyak berubah, tapi aku sangat menyukai perubahan yang baik ini. Aku juga sudah memantapkan diri untuk mengikuti jejak mu. Aku juga akan belajar untuk lebih baik lagi dan dekat dengan Tuhan." Gumam tuan Theodor melihat kearah bawah dimana tempat burungnya sedang tertidur.


Tidak terasa waktu sudah siang, Gadis sudah menyelesaikan semua pesanannya. Dan dia sudah bersiap untuk mengantarkan semua pesanannya.

__ADS_1


__ADS_2