
Sore ini tuan Theodor meminta Violetta untuk bertemu di restauran yang tidak jauh dari kantor. Karena sudah hampir satu bulan dari tuan Patricio mengetahui pernikahannya bersama Gadis. Tuan Theodor Tidak ingin terlalu lama lagi mengundur untuk bicara pada Violetta.
"Memang kau sedang tidak sibuk mengajak ku bertemu di sini?." Tanya Violetta saat mereka sudah menemukan tempat duduk yang nyaman untuk mereka mengobrol. Mereka pun sudah memilih minuman dan makanan yang akan menemani obrolan mereka.
"Aku memang senagaja mengosongkan jadwal ku hanya untuk bertemu kau di sini." Violetta tersenyum lebar, dirinya merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Tuan Theodor. Dirinya merasa sangat diistimewakan dan diprioritaskan oleh calon suaminya.
"Apa aku sepenting itu?." Tanya Violetta penuh percaya diri. Tapi Tuan Theodor hanya tersenyum tipis saja untuk menanggapi pertanyaan Violetta.
Tuan Theodor menatap lekat wanita yang pernah mengisi hatinya cukup lama sampai kehadiran Gadis perlahan menggeser wanita cantik itu.
"Apa kau belum puas menikmati wajah ku sampai kau manatap ku seperi itu?." Wajah Violetta bersemu merah karena tatapan intens tuan Theodor.
Violetta di buat salah tingkah dangan diamnya tuan Theodor, sampai senyum-senyum sendiri karena malu bertatapan lagi dengan pria yang pernah menyentuhnya lagi beberapa waktu lalu.
"Maaf kan aku, Violetta. Aku tidak bisa menikahi kau atau memberikan tangung jawab apa pun. Tapi hanya pada Darren saja aku akan bertanggung jawab."
Deg
Hati Violeta berdenyut nyeri kala mendengar hal yang tidak dia kira sebelumnya. Dia kira hanya akan ada kebahagian saja untuknya setelah datang kembali membawa Darren.
"Violetta!. Kau mendengar ku?."
Violetta mengangguk lalu menunduk, menyeka air matanya yang turun tanpa permisi.
"Aku minta maaf?."
"Apa karena sudah ada wanita lain?." Tanya Violetta mendongak menatap tuan Theodor.
"Iya, karena sudah ada wanita lain."
"Lalu kenapa kau mau menyentuh ku lagi?."
"Itu karena kau yang meminta dan memaksanya."
"Kau sungguh tidak punya hati, masih mau menyentuh ku tapi tidak mencintai ku lagi."
"Itu lah aku."
"Kau tidak perlu bertanggung jawab apa pun pada putra ku, karena Darren hanya putra ku. Simpan saja tangung jawab itu untuk anak kalian nantinya."
Violetta sudah tidak sanggup untuk berlama-lama bersama tuan Theodor setelah setelah tuan Theodor membatalkan sepihak rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
Tuan Theodor tidak mencegah atau pun mengikuti Violetta, dia membiarkan Violetta untuk pergi sendiri. Dia tidak ingin memberikan harapan apa pun lagi pada wanita itu.
Tuan Theodor kembali ke kantor untuk mengajak Gadis pulang bersama, namun pemandangan lain dilihat olehnya. Marco sudah membukakan pintu mobil untuk Gadis. Entah mau pergi kemana mereka berdua.
Tuan Theodor segera menghubungi Romi untuk mengikuti Marco dan juga Gadis karena dirinya harus menyelesaikan pekerjaan yang tadi ditinggalkannya.
"Kau tidak melihat Marco dan Gadis keluar?." Tanya Tuan Domonic sinis saat masuk ke dalam ruang kerja Tuan Theodor.
"Tahu, aku melihatnya." Jawab Tuan Theodor santai namun menutupi perasaan yang terbakar cemburu.
"Aku kira kau akan menghalangi Marco untuk mendekati Gadis?." Tanya Tuan Dominic lagi.
Tuan Theodor balik menatap tajam tuan Domonic. "Untuk apa kau urusi Gadis, Marco dan Aku. Kau nikmati saja bulan madu kalian."
Pandangan keduanya tertuju pada sosok pria yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kalian belum pulang?."
"Belum Pa..." Jawab kedua putranya bersamaan.
"Mama meminta kita berkumpul di rumah untuk makan malam bersama."
"Entah lah, Papa juga tidak tahu?." Jawab Tuan Patricio.
"Mungkin Mama punya kejutan untuk kita." Sahut tuan Dominic sambil berlalu dari ruang kerja tuan Theodor yang di susul oleh Tuan Patricio. Namun sebelum itu tuan Patricio meminta tuan Theodor untuk segera menyelesaikan pekerjaan secepatnya.
.
.
.
Tuan Theodor menjadi orang yang paling terakhir datang ke rumah kedua orang tuanya.
Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing, mengitari meja makan yang berukuran panjang dan lebar.
Di sana sudah ada Marco dan pastinya ada Gadis namun tidak berada satu meja dengan mereka. Ada juga Violetta yang duduk tertunduk tanpa Darren.
"Apa kalian sedang menunggu ku?." Tanya Tuan Theodor sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi sebelah tuan Patricio.
"Iya, kami sedang menunggu kedatangan kau karena Mama setelah makan malam selesai, kau dan Violetta akan fitting untuk pakaian pengantin."
__ADS_1
Tuan Theodor menatap Violetta yang masih menunduk, kemudian menatap Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.
"Baik lah, nanti kita lanjutkan obrolannya. Sekarang kita makan, isi perut kalian masing-masing, kalian harus memiliki tenaga untuk obrolan yang akan kita bahas setelah makan malam." Ucap Tuan Theodor langsung mengisi piring yang ada didepannya dengan makanan kesukaannya.
Hampir satu jam mereka berada di meja makan. Sekarang mereka sudah berada di ruang keluarga tanpa Ramona.
Nyonya Mireya begitu bersemangat untuk mengurus pernikahan Violeta dan Tuan Theodor yang akan di gelar kurang dari satu bulan lagi.
Saking begitu bersemangatnya sampai-sampai Nyonya Mireya tidak memperhatikan Violetta yang tidak seperti biasanya. Bahkan Violeta sedari tadi tidak ada bicara sedikit pun.
"Ma..."
"Apa Theodor?. Kau mau pakaian yang bagiamana untuk Violetta?." Nyonya Mireya menyodorkan beberapa pilihan gambar gaun pengantin yang begitu cantik dan sangat indah.
"Ma..."
"Coba kau lihat dulu yang ini!. Sepertinya ini akan sangat cantik di pakai Violetta."
"Ma...aku tidak bisa menikah dangan Violetta!."
Deg
"Ma...aku tidak bisa menikah dengan Violetta!." Nyonya Mireya mengulangi perkataan dari putranya. Lalu dia menaruh gambar-gambar itu, mendekati sang putra dan memegang keningnya.
"Kau tidak sedang demam!, tapi kenapa bisa mengigau?." Nyonya Mireya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh tuan Theodor.
"Ma, aku baik-baik saja. Dan apa yang Mama dengar adalah sebuah kebenaran."
"Apa yang ada dalam kepala kau, Theodor?. Kau mau membuat ku mati berdiri?. Mau ditaruh dimana muka ku jika kau tidak ingin menikah dengan Violetta?. Apa kau kau tidak kasihan pada Darren?. Apa kau masih meragukan Darren?. Ayo kita lakukan tes DNA supaya kau merasa puas!." Begitu banyak rentetan pertanyaan yang dilayangkan oleh Nyonya Mireya pada putra pertamanya itu.
"Ma, maaf kan aku. Aku akan tetap bertanggung jawab terhadap Darren dan aku percaya Darren darah daging ku. Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab pada Vilettta atau pun memberikan pernikahan yang dari awal sudah direncanakan untuk kami."
"Kenapa Theodor?. Kenapa?." Teriak Nyonya Mireya sehingga Gadis dan yang lain yang berada di dapur mendengar suara Nyonya mereka yang sedang marah. Namun mereka tidak berani melihat dan hanya tetap berdiam diri di dapur saja.
"Karena aku sudah menikahi dan mencintai wanita lain!."
Prang
Prang
Prang
__ADS_1