
Gadis benar-benar menikmati kehamilannya yang sudah memasuki usia delapan bulan. Kehamilan yang pada awalnya sangat tidak diharapkan, kini menjadi pelipur lara dirinya di kala rasa rindu akan sosok tuannya begitu membuncah di dalam dada.
"Bagaimana keadaan tuan sekarang?." Batinnya.
Rosario benar-benar banyak membantu, terkadang wanita muda itu begitu sangat memanjakannya dengan apa yang bisa dilakukannya untuk dirinya dan bayi yang ada di dalam perutnya.
Gadis benar-benar sangat bersyukur.
Cuaca yang begitu panas di negara Spanyol tidak menyurutkan dirinya untuk belajar menutupi tubuhnya dengan pakaian muslim. Meksi harus bermandikan keringat di setiap aktivitasnya. Tapi dia begitu sangat menikmati prosesnya menjadi wanita yang lebih baik lagi. Terlebih dirinya akan menjadi seorang ibu dan orang tua tunggal dari anaknya.
"Biar aku saja yang memasak, Nyonya Gadis. Tuan Alesandro tidak mengizinkan juga Nyonya Gadis bekerja terlalu lelah." Rosario mengambil alih pekerjaan Gadis yang sedang di dapur dan memegang sebilah pisau.
"Pekerjaan ku sebenar lagi selesai." Gadis enggan menyerahkan pekerjaannya. Karena saat sedang bekerja terlebih sedang memasak dia bisa menghilangkan kerinduannya dan rasa bersalahnya pada tuan Theodor serta bayinya.
"Tolong biarkan aku melanjutkan pekerjaan ini." Gadis segera memalingkan wajahnya saat air mata itu menetes melewati kedua pipinya. Entah kenapa hati ini pikirannya tentang tuan Theodor tidak pernah mau pergi.
Dari mulai tadi malam dirinya bermimpi, tentang tuannya sampai tadi pagi terbangun, pun mimpi itu terasa nyata dan anehnya sampai sekarang sudah siang bolong dirinya masih terbayang wajah tuannya.
"Apa Nyonya Gadis menangis?." Rosario menatap punggung Gadis yang bergetar, menahan sekuat tenaga laju air matanya.
"Apa saya melakukan kesalahan, Nyonya Gadis?. Tolong maafkan saya."
Gadis segera berbalik badan, menatap wajah Rosario yang merasa bersalah terhadap dirinya.
"Bukan, Rosario. Maaf aku hanya sedang sensitive saja. Entah kenapa, hari ini air mata ku cepat sekali keluarnya?." Gadis menyembunyikan semuanya di dalam hati.
"Apa Nyonya Gadis merindukan tuan Theodor?."
"Ah tidak, bukan Rosario, aku tidak sedang merindukan siapa pun." Dengan cepat Gadis segara membantahnya. Tapi air matanya malah tumpah semua di hadapan Rosario. Tidak bisa menyembunyikan rasa rindu itu lebih lama lagi, sehingga dia pun mengakuinya pada Rosario.
"Maaf, Rosario. Aku sudah berbohong pada mu. Satu hari ini, memang aku sangat merindukannya. Entah kenapa aku begitu merindukannya?. Sangat berbeda dengan hari-hari kemarin, dimana aku bisa mengontrol hati dan emosi ku. Tapi hari ini semuanya tumpah begitu saja." Gadis mengakuinya dengan air mata yang terus saja keluar dari mata Gadis.
"Mungkin itu bawaan bayi, Nyonya Gadis?."
Gadis segera menggeleng. "Mungkin, tapi aku tidak tahu juga. Apa mungkin aku yang sebenarnya sangat merindukannya."
"Sebentar...." Gadis mengangguk sambil mengelap air matanya yang terus saja terjun bebas mengenai gamisnya.
Rosario melihat ponselnya yang berbunyi. Dan itu dari Alesandro yang melakukan panggilan.
"Iya tuan Alesandro.
"Jauh kan Gadis dari televisi untuk dua hari ini!."
"Kenapa?."
__ADS_1
"Lalukan seperti yang aku perintahkan, sudah bukan waktunya untuk bertanya apa pun. Saya sedang di bandara, mungkin besok siang sampai di sana."
"Baik tuan."
Rosario berlari kearah dapur, namun semuanya sudah terlambat.
Rosario diam mematung, mendapati Gadis sedang duduk sambil memegangi dada dan sesekali perutnya.
Layar besar dihadapan Gadis sudah menyala, Gadis sedang menyaksikan berita tuan Theodor yang melangsungkan pernikahan dengan Violetta.
"Apa ini arti dari rasa rindu ku pada mu, tuan?. Walau sangat menyakitkan, tapi aku berusaha untuk merelakan. Akhirnya tuan menikah juga dengan Nona Violetta."
"Darren!." Ucap Gadis saat salah satu kamera menyorot wajah tampannya.
"Semoga kalian bahagia. Aku ikut bahagia untuk kalian semua."
Gadis memegangi perutnya yang terasa sakit, dia berusaha mengatur nafasnya beruang kali. Namun rasa sakit di dalam perutnya sudah tidak bisa ditahannya.
"Nyonya Gadis!." Rosario menghampiri Gadis dan memegangi tangan Gadis yang terasa sangat dingin.
"Perut ku sakit sekali!." Gadis merintih kesakitan.
"Kita ke dokter sekarang!."
"Iya...tolong bawa aku ke dokter, Rosario. Tolong selamatkan bayi ku."
"Bertahanlah, Nyonya Gadis." Rosario dengan dibantu dua orang pria yang berjaga di rumah itu untuk membawa Gadis memasuki mobil.
"Perutku sakit sekali!." Ucapnya lirih.
"Iya, Nyonya Gadis. Nyonya Gadis harus bertahan. Sebentar lagi kita sampai, Nyonya Gadis." Gadis mengangguk dengan wajah yang sudah dipenuhi keringat.
.
.
.
"Oek...oek...oek...oek..."
Setelah hampir empat jam berjuang antara hidup dan mati. Suara tangis bayi itu pecah memenuhi ruangan persalinan. Bayi yang seharusnya keluar bulan depan, ternyata lahir lebih cepat dari perkiraan semuanya.
"Selamat Nyonya Gadis, anak anda perempuan. Dia sangat cantik dan lucu." Ucap dokter yang membantu Gadis melakukan persalinan normal.
"Terima kasih banyak, dokter."
__ADS_1
"Nyonya Gadis seorang petarung tangguh, bayi mu kelak akan merasa bangga memiliki ibu seperti Nyonya Gadis." Puji dokter.
"Semua ibu pasti akan melakukan yang sama untuk mempertahankan bayinya."
"Sekali lagi, selamat Nyonya Gadis."
Dokter hendak pergi dari ruangan tersebut setelah memastikan kondisi Gadis baik-baik.
"Dokter!."
"Iya, Nyonya Gadis. Ada apa?. Anda memerlukan sesuatu?." Tanya Dokter setelah berbalik badan dan kembali menghampiri Gadis.
"Boleh saya minta tolong, dokter?."
"Katakan lah, Nyonya Gadis!."
"Ada kah di sini seorang muslim?."
Dokter menautkan kedua alisnya, merasa heran dengan pertanyaan Gadis.
"Apa di rumah sakit besar ini ada seseorang yang muslim?."
"Ada, Nyonya Gadis. Apa yang dibisa dilakuaknnya untuk mu?."
"Tolong katanya padanya, untuk mengadzani putri ku. Pasti dia akan paham, dokter."
"Oh begitu, baik Nyonya Gadis. Semoga saja dia masih belum pulang.
"Terima kasih banyak, dokter."
"Iya Nyonya Gadis. Sama-sama."
Tidak berselang lama, datang dua orang dokter ke dalam ruangannya. Gadis sedang merasakan rasa kantuk yang luar biasa dengan memejamkan kedua matanya.
Lalu dokter muslim pun melakukan sesuai dengan apa yang diminta Gadis setelah bayi perempuan Gadis ada di ruangan bersaman mereka.
"Terima kasih banyak, dokter." Ucap Gadis ketika bayinya sudah tertidur disampingnya.
"Sama-sama Nyonya Gadis. Semoga putri mu menjadi putri yang shalihah dan berbakti pada mu dan membanggakan mu."
Tanpa terasa air matanya menetes lagi setelah tadi cukup lama berhenti karena melahirkan.
"Aamiin. Terima kasih banyak dokter." Balas Gadis sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Sama-sama." Kedua dokter itu berpamitan undur diri dari ruangan Gadis. Membiarkannya untuk beristirahat setelah melahirkan.
__ADS_1
Gadis menatap putri cantik yang terlelap disampingnya. Mengelus lembut pipi yang kemarahan.
"Kamu begitu cantik, semoga kelak kamu akan menjadi wanita baik, shalihah, tidak seperti Mama." Air matanya kembali menetes.