Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 37 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tuan Theodor menatap Gadis tanpa berkedip ketika semua orang sedang menunggu jawaban Gadis atas lamaran Nyonya Maria dan Tuan Rizzo selaku kedua orang tua dari Marco.


Bukan hanya tuan Theodor saja yang menatap Gadis dengan begitu lekat, tuan Dominic pun sama. Dia sedang menanti keputusan apa yang akan diambil wanita yang sangat dicintainya. Dia sangat berharap, jika Gadis akan menolaknya dengan tegas.


Violetta sangat berharap jika Gadis akan menerima Marco, supaya dirinya tidak memiliki saingan di rumah ini.


Ucapan Nyonya Mireya beberapa menit lalu begitu melekat dalam pikiran Gadis dan tidak bisa diabaikan begitu saja.


Mungkin ini kesempatan baik yang menghampiri Gadis saat kedua orang tua Marco menginginkan Gadis menjadi menantu mereka tanpa memandang status dan latar belakang Gadis. Dan Marco pun menyambut niat baik kedua orang tuanya, karena Marco memang sudah menaruh hati pada Gadis.


Nyonya Mireya dan Tuan Patricio mewakili dari keluarga Gadis menyerahkan sepenuhnya keputusan ini pada Gadis. Hanya sepatah dua patah kata mereka sampaikan pada Gadis sebagai gambaran tentang keluarga Nyonya Maria dan Tuan Rizzo yang akan menjadi besan Nyonya Mireya dan Tuan Patricio. Meski Tuan Rizzo dan Nyonya Maria dari kalangan berada namun tidak lantas menjadikan mereka sombong atau suka membedakan orang berdasarkan kastanya.


Namun Nyonya Mireya begitu berharap kalau Gadis bisa menerima Marco karena untuk memutus perasaan tuan Dominic pada Gadis. Mungkin dengan cara ini, perasaaan Tuan Dominic bisa sepenuhnya untuk Magdalena.


"Bagaimana, Gadis?. Apa kau bersedia menerimanya?. Atau kalau memang kau merasa ini terlalu cepat, kau dan Marco bisa saling mengenal lebih dekat lagi. Mungkin itu akan lebih baik lagi untuk kalian berdua. Karena mungkin kalian ada dalam urutan ketiga setelah pernikahan Magdalena dan Domonic, Theodor dan Violetta dan terakhir kalian sebelum Ramona tentunya." Tutur Nyonya Maria penuh permohonan dan harapan.


"Yang dikatakan Maria benar, setidaknya kau dan Marco dekat saja dulu. Nanti kalau kalian sudah merasa cocok dan sama-sama siap, maka dengan senang hati kami akan meresmikan hubungan kalian berdua. Bagiamana, Gadis?." Tuan Rizzo setuju dengan usulan dari istrinya.


"Iya, aku rasa itu pilihan yang sangat tepat untuk kalian bisa lebih dekat. Karena Marco akan bergabung di perusahaan untuk membantu Dominic jadi kalian bisa memilki waktu berdua." Nyonya Mireya begitu mendukung sekali ide dari keluarga calon besan.


"Iya, aku sangat setuju dengan kalian semua. Supaya Gadis tidak kaget lagi dangan kita. Jadi biar kan kami dekat secara perlahan saja." Marco ikut buka suara dan mendukung apa yang diinginkan oleh mereka semua.


"Baik, saya akan mengikuti saran dari Nyonya Maria yang mendapatkan banyak dukungan. Saya dan Marco akan saling mencoba untuk saling mengenal satu sama lain lebih baik dan lebih dekat lagi tentunya." Jawab Gadis pada akhirnya sangat mengecewakan tuan Theodor pastinya. Tapi Gadis tidak memiliki alasan lain untuk menolak ini.


Tuan Theodor langsung menggendong tubuh Darren yang sudah tidur tiga puluh yang lalu. Hatinya begitu sakit, kecewa, marah, merasa dikhianati oleh wanitanya. Violetta mengikuti tuan Theodor sampai ke kamar.


Tuan Domonic mengepalkan kedua tangan di balik saku sweater yang dipakainya. Hatinya begitu terluka dengan keputusan Gadis. Tapi dia bisa apa, karena semua keluarga begitu mendukung Gadis dan Marco.


Nyonya Maria langsung memeluk Gadis dan berterima kasih karena sudah mau mengikuti usulannya. Gadis hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Tuan Patricio dan Tuan Rizzo berpelukan begitu juga Nyonya Maria dan Nyonya Mireya begitu senang dangan keputusan Gadis.

__ADS_1


Usai keputusan Gadis yang tentunya sangat membahagiakan mereka semua, mereka membolehkan Gadis untuk ikut pulang bersama Tuan Theodor. Karena besok harus bekerja dan membantu Tuan Theodor mempersiapkan keperluan meeting besok pagi.


Setelah berpamitan pada semuanya, Gadis dan tuan Theodor segera memasuki mobil dan Tuan Theodor langsung tancap gas meninggalkan rumah kedua orang tuanya.


Tidak ada percakapan sama sekali diantara keduanya. Gadis tahu jika saat ini tuannya pasti sangat marah dan mungkin sebentar lagi dia akan mendapatkan kemarahan itu. Tuan Theodor ingin segera memberi pelajaran pada wanitanya karena sudah berani menerima pria lain.


Sampai di dalam apartemen pun, tuan Theodor masih terdiam. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya, Gadis juga masuk ke dalam kamar yang selama ini dia tempati. Gadis mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, kejadian malam ini di rumah Nyonya Mireya sungguh tidak terduga. Yang tadinya dirinya diminta datang untuk membantu Violetta belajar memasak, kenapa harus berakhir dengan lamaran Marco untuk dirinya?.


Tidak berselang lama pria yang sedari diam itu, masuk tanpa tanpa permisi ke dalam kamar Gadis yang tidak di kunci.


Tatapan keduanya saling mengunci, tapi tuan Theodor memperlihatkan kemarahannya dan kekecewaannya.


"Apa yang ada dalam isi kepala mu sampai kamu berani menerima lamaran keluarga Marco?."


Gadis menelan ludahnya sambil menatap berani mantap tuannya. "Apa lagi yang saya bisa lakukan selain menerimanya, tuan. Saya sudah tidak memiliki keluarga, selain Kak Jasmin. Saya berasal dari keluarga tidak mampu, saya juga tidak sedang memiliki hubungan spesial apa pun dengan siapa pun, Nyonya Mireya dan Tuan Patricio sangat mendukung saya dan terpenting Nyonya Maria dan Tuan Rizzo mau menerima wanita kelas bawah seperti saya. Marco pun mencintai saya dan siapa tahu dia pria modern yang tidak mempermasalahkan kegadisan saya, jadi kenapa saya harus menolaknya bukan?. Kapan lagi ada pria kaya raya, baik hati, tampan mau menerima gadis seperti saya."


Darah tuan Theodor semakin mendidih mendengar beberapa alasan Gadis yang sangat benar. Kedua tangannya sudah mengepal dengan sorot mata yang begitu tajam sampai menghunus ke dalam hati Gadis. Tapi tidak ada kekerasan fisik atau pun kata-kata kasar yang keluar dari mulut tuan Theodor. Dia hanya menatap lekat-lekat Gadis yang ingin dimilikinya seumur hidupnya. Dia akan mendapatkan Gadis dengan caranya sendiri.


Gadis hanya melongo mendapatkan reaksi yang super luar biasa dari tuannya. Gadis kira, dia kan mendapatkan perlakuan kasar saat bercinta namun rupanya tidak ada yang dilakukan oleh tuannya.


Keesokan paginya,


Tuan Theodor dan Gadis yang baru keluar dari dalam apartemen, sama-sama terkejut dengan kehadiran Marco yang sudah ada di sana.


"Selamat pagi, Gadis...Theodor..." Sapa Marco dengan senyum yang begitu ramah.


"Selamat pagi Tuan Marco." Gadis menyapa balik Marco. Sedangkan Tuan Theodor melihat keduanya. Tapi Marco tidak terganggu sedikit pun.


"Jangan panggil aku tuan, Gadis. Panggil saja aku Marco biar lebih akrab."

__ADS_1


"Untuk apa kau kemari?." Tuan Theodor memotong sebelum Gadis yang akan buka suara.


"Aku ingin menjemput Gadis, Theodor. Tante Mireya yang memberikan alamat apartemen ini." Jawab Marco serius.


"Tidak bisa, Marco. Gadis dan aku meeting dengan klien di luar. Jadi mungkin siang kami akan sampai di kantor." Jawab Tuan Theodor menatap Gadis.


"Baik lah, aku akan menunggu Gadis di kantor saja. Semoga berjalan lancar meeting nya." Ucap Marco segara berpamitan pada Gadis dan Tuan Theodor. Marco langsung pergi dari sana mendahului mereka yang pastinya akan ke area parkir VVIP apartemen lebih dulu.


"Tapi kan tuan ada meeting di kantor pagi ini, bukan di luar!." Ucap Gadis sambil mengikuti langkah tuannya .


"Di kantor ada banyak orang, Papa, Dominic dan yang lainnya. Jadi kita akan menghadiri meeting di luar." Sahut Tuan Theodor santai.


Setelah melewati beberapa jam perjalanan, mobil tuan Theodor sudah terparkir di sebuah rumah bertingkat gaya minimalis.


"Apa kita akan meeting di rumah ini?." Tanya Gadis dangan ragu, ingin mengatakan bangunan ini sebuah gedung tapi lebih mirip sebuah rumah. Tapi masa iya meeting diadakan di sebuah rumah.


"Hem...ini merupakan meeting besar." Tuan Theodor meremas bokong Gadis yang hendak turun dari mobil. Gadis melayangkan tatapan protes pada tuanya.


Tuan Theodor membawa Gadis masuk ke dalam rumah tersebut yang disambut oleh Romi.


"Ada Romi juga." Batin Gadis.


"Bagaimana semuanya sudah siap kan?."


"Sudah tuan, mereka semua sedang dalam perjalanan."


Gadis melihat ada dua mobil yang berhenti di sebelah mobil tuannya.


"Bibi Rumiati...Paman Wandi..mereka untuk apa ke sini?." Gadis memundurkan langkah dan hendak pergi dari sana, namun tubuh tegap pria tampan itu menahannya.

__ADS_1


"Mau kemana Gadis ku?."


"Untuk apa mereka semua di sini?." Tanya Gadis pada beberapa orang yang sedang berjalan menuju masuk ke dalam rumah itu bersama Paman dan Bibinya.


__ADS_2