
Sampai juga mereka di unit apartemen milik tuan Theodor. Gadis segera mandi dan mengganti pakaiannya lalu pergi ke dapur. Menyusun berapa makanan dan sekaligus menyiapkan air lemon untuk mereka berdua. Begitu juga dengan tuan Theodor, hanya saja dia langsung bekerja di depan laptopnya karena ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan pengecekan ulang oleh dirinya.
Di dalam isi kepala Gadis sudah banyak dengan rencana untuk kegiatannya satu Minggu ke depan. Gadis tidak bisa membiarkan hal itu terjadi jika memang sedang terjadi saat ini. Namun anggap saja dia tidak tahu dan tidak ingin mengeceknya lebih dulu.
Gadis sudah memulainya dengan mengangkat kursi, merubah posisi meja makan lalu mengembalikannya ke posisi semula. Lalu dia berpindah pada air galon mineral yang masih penuh.
Memindahkan posisi galon tersebut dengan cara diangkatnya. Ada enam galon dan itu berhasil dipindahkan semuanya. Kemudian gadis mengedarkan pandangannya, mencari benda apa lagi yang cukup berat yang bisa diangkatnya. Tapi sepertinya sudah tidak ada. Lalu Gadis kembali mengangkat galon penuh tersebut dan meletakkannya pada posisi semula.
Keringat sudah membanjiri tubuh Gadis dengan nafas yang begitu memburu. Rasa lelahnya tidak kalah lebih besar dari rasa takutnya.
Air matanya menetes ketika dirinya berdiri di depan cermin kamar yang saat ini ditempati oleh Darren.
"Jangan biarkan dia ada sebelum aku menginginkannya." Batin Gadis. Hanya dirinya yang paling mengerti dengan semua rasa yang berkecamuk di dalam dadanya selama ini.
Gadis segera menghapus air matanya, tidak ada gunanya menangisi kondisi yang belum tentu terjadi. Gadis sangat berusaha sekali untuk menepis semua hal yang menganggu pikirannya.
"Air lemon nya tuan." Gadis meletakkan satu gelas air lemon tersebut di depan suaminya. Dan satunya lagi masih berada ditangannya.
"Terima kisah istri ku."
"Sama-sama tuan." Tuan Theodor mengambil gelas itu lalu mulai meminumnya. Setelahnya dia menaruh gelas itu di atas meja.
"Besok Darren sudah ke sini. Kamu tidak perlu ke kantor. Temani Darren saja di sini. Tidak apa-apa kan jika kamu harus menemani Darren?." Dengan cepat Gaids menggeleng sambil tersenyum lalu meminum air lemon miliknya.
Selesai dengan pekerjaan dan air lemon juga sudah habis di teguk nya. Dia meminta Gadis segera naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuh lelah keduanya setelah perjalanan percintaan mereka yang tidak pernah sebentar.
Keesokan paginya....
Setelah memastikan tuan Theodor meninggalkan apartemen. Gadis segera keluar juga untuk mendapatkan sesuatu yang sudah dicari informasinya dari internet. Dengan bantuan ojek online langganannya, Gadis bisa menuju pasar dan langsung saja pulang lagi setelah menemukan apa yang dicarinya.
__ADS_1
Gadis membayar ojek online langganannya lalu segera bergegas menuju unit apartemen.
Gadis tertegun menatap buah nanas muda yang diyakininya bisa membantu apa yang menjadi masalahnya sekarang.
Gadis segera menyembunyikan buah tersebut ketika pintu apartemen terbuka dan ternyata itu adalah Darren serta Nyonya Mireya.
"Mama Gadis..." Sapa Darren begitu ceria.
"Darren..." Balas Gadis sambil berjalan kearah mereka.
"Nyonya Mireya..." Sapa Gadis berusaha bersikap biasa. Tapi Nyonya Mireya mengacuhkan sapaan Gadis. Nyonya Mireya malah meletakkan barang-barang Darren di atas sofa.
Tidak ingin melihat wajah Gadis terlalu lama, maka dari itu Nyonya Mireya segera berpamitan Darren, hanya pada Darren. "Nenek pulang dulu ya sayang. Kamu baik-baik saja di sini. Kalau ada yang jahat dan tidak baik pada mu segera kamu telepon nenek ya."
"Iya nenek." Jawab Darren.
Gadis mengikuti Nyonya Mireya yang sudah berjalan menuju pintu, dia ingin mengunci pintu itu secara manual dari dalam meskipun sudah terkunci secara otomatis setelah pintu tertutup.
"Hanya Darren yang akan menjadi cucu keluarga ku!, jangan pernah berharap jika kau kelak memilik anak!, aku akan mengakuinya cucu!. Ingat itu!, hanya Darren cucu penerus dari semua bisnis-bisnis keluarga Oliver!." Ucap Nyonya Mireya lalu pergi dari sana. Gadis menatap punggung Nyonya Mireya yang menghilang karena pintu apartemen sudah tertutup.
"Nyonya tidak tahu saja aku sedang berusaha keras untuk melenyapkannya sebelum dia ada." Batin Gadis lalu segera menuju ke dapur lagi setelah melihat Darren sedang asyik bermain.
Gadis segera mengeksekusi buah tersebut lalu segera meminumnya. Berharap setelah ini dia kan segera mendapatkan tamu bulanannya yang sudah terlewat.
"Mama Gadis!." Panggil Darren dari arah kamar. Langsung saja Gadis merapikan dapur sebelum menjawab panggilan dari Darren.
"Iya Darren." Gadis menghampiri Darren di dalam kamarnya.
"Ada apa?." Tanya Gadis dengan lembut. Lalu Gadis mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur sebelah Darren.
__ADS_1
"Aku demam...." Ucapnya menggigil dan wajah yang memerah.
Gadis segera mengecek suhu tubuh Darren dan memang demam.
"Mama Gadis akan ambil air hangat dulu ya, kamu sudah makan belum?."
"Sudah Mama Gadis."
"Baik, tunggu sebentar ya!." Langsung saja Gadis keluar dan menuju tempat obat-obatan. Lalu dia mengambil obat penurun panas dan membaginya menjadi dua bagian. Karena Darren hanya boleh meminum setengahnya, berdasarkan informasi yang didapatnya.
Darren segera minum obat tersebut lalu merebahkan tubuhnya sambil meminta Gadis untuk tidur juga disebelahnya.
"Apa aku boleh memeluk Mama Gadis?."
"Boleh Darren." Gadis yang terlebih dulu memeluk Darren dan merasakan hawa panas dari tubuh Darren.
"Tidur lah Darren." Gadis mengusap punggung Darren dengan begitu lembut. Dengan cepat Darren menutup kedua matanya. Merasakan kehangatan dan ketenangan saat berada dalam pelukan Gadis saat ini.
Apa akan sama rasanya seperti ini, jika nanti dia memiliki anak?. Hangat dan penuh ketenangan. Kedua mata Gadis memang terpejam tapi tidak dengan pikirannya yang terus saja bekerja keras. Memikirkan banyak hal yang hanya bisa dipikirkan oleh dirinya.
Sementara itu di kantor, Tuan Theodor sedang di temani Romi. Mendengarkan penjelasan dokter mengenai kehamilan, cukup panjang lebar dokter menjelaskan. Hingga sambungan telepon itu berakhir.
"Jadi aku harus membawa Gadis untuk memeriksakannya ke dokter?."
"Seperti yang sudah dokter jelaskan pada tuan."
"Tapi sepetinya akan susah, sampai sekarang saja Gadis tidak pernah mengatakan apa-apa. Mengeceknya pun dengan alat tes kehamilan yang lain, aku rasa belum dilakukan Gadis."
Tuan Theodor merasa dilema, bagaimana membuat masalah rumit ini menjadi mudah.
__ADS_1
"Kenapa tuan tidak terus terang saja pada Nyonya Gadis kalau pil itu sebenarnya bukan pil penunda kehamilan?."
"Aku sudah ingin melakukannya, tapi rasanya tidak tega juga melihat kekecewaan Gadis. Sebenarnya aku bisa menerima alasan Gadis untuk menunda memiliki anak. Tapi aku juga ingin mengikat dia selamanya di sisiku dengan hadirnya seorang anak, sebab Gadis selalu bicara tentang berpisah, perpisahan dan itu cukup membuat ku marah. Apa tidak cukup cinta, waktu dan kasih sayang dari ku saja untuk dirinya?."