
Tuan Dominic segera menghampiri Gadis yang sedang sendiri di dapur, karena yang lain ikut membantu Nyonya Mireya di halaman depan masih makan malam.
"Gadis..." Panggil Tuan Dominic berjalan mendekati Gadis.
"Iya, Tuan Dominic. Apa memerlukan sesuatu?."
Tuan Dominic menggeleng lalu semakin mendekat pada Gadis.
"Kenapa tidak jadi memakai uangnya?. Apa kau sudah dapat dari orang lain?."
Gadis menggeleng sambil memundurkan langkahnya, karena jarak mereka begitu dekat.
"Tidak, Tuan Domonic. Hanya saja saya sudah tidak memerlukan uang itu lagi. Karena masalahnya sudah diselesaikan dengan kekeluargaan." Gadis berusaha menutupi rasa gugup yang menyerangnya.
"Kau tidak berbohong 'kan?."
Gadis segera menggeleng. "Tidak, Tuan Dominic."
"Baik lah, tapi kalau kau butuh sesuatu lagi kau bisa menghubungi ku."
"Iya, Tuan Dominic. Terima kasih."
Gadis menatap kearah belakang tubuh Tuan Domonic, ternyata di sana sudah ada Tuan Theodor yang menatapnya dengan sangat tajam. Sampai-sampai Gadis kesusahan untuk menelan saliva.
"Sedang apa kau di sini?." Suara Tuan Theodor dingin mampu membuat Tuan Dominic berbalik badan.
"Kau tidak melihat aku sedang apa bersama Gadis?."
"Rupanya kau suka bermain-main juga dengan wanita lain di belakang Magdalena?."
"Iya, karena aku bisa menikmati hidup. Tidak seperti kau yang hanya tertarik pada Violetta."
"Kau?." Telunjuk Tuan Theodor sudah berada tepat di wajah tampan Tuan Domonic.
"Apa?. Benar bukan yang aku katakan?. Hanya karena seorang Violetta kau membuang masa muda dan masa depan. Kau lebih suka hidup melajang karena kau menunggu Violetta."
Tuan Theodor menatap Gadis yang berdiri diantara mereka. Entah kenapa dia tidak suka melihat Gadis yang biasa saja saat Tuan Dominic menyebut nama wanita lain didepannya. Lantas apa yang diharapkan oleh Tuan Theodor?.
"Kalian di sini, bersama Gadis?. Ada apa?." Tanya Nyonya Mireya mengagetkan semuanya.
"Tidak ada, Ma. Kami hanya berbicara biasa saja. Tidak ada yang penting. Aku mau mengajak Gadis pulang." Jawab Tuan Theodor mengecup pipi Nyonya Mireya.
"Ayo, Gadis kita pulang!." Ajak Tuan Theodor pada Gadis.
"Nyonya Mireya, saya pamit."
"Hem...terima kasih Gadis sudah membuat makan malam yang enak untuk kami semua."
__ADS_1
"Iya, Nyonya Mireya. Sama-sama."
Gadis dan Nyonya Mireya berjalan beriringan sampai di halaman depan.
Yacob menoleh pada Gadis yang berdiri di samping Tuan Theodor.
"Kalian mau kemana?." Tanya Yacob menatap Gadis penuh kekaguman.
"Kami harus pulang duluan Yacob." Jawab Tuan Theodor tidak suka melihat Yacob yang terus saja menatap Gadis.
"Selamat malam semua."
"Selamat malam."
Tuan Theodor dan Gadis masuk ke dalam mobil dan Tuan Theodor mulai membawa kendaraannya meninggalkan rumah sang Mama.
Susana menjadi hening kala keduanya asyik dengan pikirannya masing-masing.
Tuan Theodor melirik Gadis yang sedang mengetik sesuatu pada layar ponselnya lalu dia memasukkan lagi posnelnya.
"Aku harap kau tidak menjadi orang ketiga antara Domonic dan Magdalena." Ucap Tuan Theodor yang mengira jika Gadis ada main Tuan Domonic.
"Saya tidak pernah memiliki niat untuk merusak hubungan Tuan Dominic dan Nona Magdalena. Saya tahu posisi saya, Tuan Theodor." Balas Gadis sambil menatap jalanan yang dipenuhi dengan pengguna jalan yang lain.
"Bagus kalau kau sadar diri. Dan kau harus ingat kalau kau adalah milik ku di atas tempat tidur." Ucapnya lagi dengan datar.
Sampai di apartemen, Gadis dikejutkan dengan keberadaan Galang yang menunggunya di depan pintu apartemen.
Dengan sikap acuh Tuan Theodor masuk sambil membanting pintu. Tanpa mempedulikan Galang dana Gadis. Dia begitu marah melihat beberapa pria yang mengelilingi Gadis.
"Kau tidak apa-apa?. Aku sangat khawatir kau tidak lagi membalas pesan ku. Lalu masalah kau bagaimana?, apa sudah benar-benar selesai atau bagaimana?. Uangnya sudah aku siapkan." Cecar Galang dengan banyak pertanyaan. Hingga Gadis harus menarik nafas dalam.
"Semuanya sudah selesai, Galang. Terima kasih sudah peduli pada ku." Gadis menatap wajah Galang yang terlihat sangat lelah.
"Lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat lah. Kau terlihat sangat lelah sekali." Usir Gadis secara halus. Sebab pastinya Tuan Theodor pasti akan marah padanya. Dan dia sedang menghindari hal tersebut.
"Baik lah Gadis, aku sangat senang sekali bisa memastikan kau baik-baik."
"Hem...Galang, terima kasih. Kau hati-hati bawa mobilnya."
"Hem...Gadis. Aku pulang." Pamit Galang dan segara menghilang dari hadapan Gadis.
Gadis perlahan membuka pintu dan sudah terlihat Tuan Theodor berdiri di dekat sofa dengan tangan melipat di dada.
Tanpa memberikan kesempatan pada Gadis untuk berbicara apa-apa. Sebab dirinya sudah menyerang tubuh Gadis dengan begitu kasar. Gadis hanya diam mematung mendapatkan perlakuan kasar dari tuannya. Dia hanya menyimpan semua rasa sakitnya seorang diri. Bahkan kali ini dia tidak ingin menceritakan aibnya pada Bibi Dolores.
Tubuh Gadis menjadi sasaran empuk atas hasrat dan gairah tuannya yang dibarengi dengan amarah yang begitu memuncak.
__ADS_1
Hingga menjelang pagi dirinya masih harus melayani keganasan dari tuannya.
.
.
.
Setiap harinya bagi Gadis selalu di isi dengan suara tangisan yang disembunyikan di dalam derasnya air shower yang mengguyur tubuhnya.
Sudah hampir dua bulan dirinya menjadi budak dari Tuan Theodor yang tidak pernah merasa puas terhadap dirinya. Selalu dan selalu berakhir dengan penyatuan di setiap ruang yang ada di apartemen. Tidak ada tempat yang terlewatkan untuk mereka bercinta.
Tapi tadi malam, Tuan Theodor memberikan kesempatan dirinya untuk tidur walau hanya sebentar.
"Kau berangkat bersama ku, kita akan langsung ke tempat meeting." Ucap Tuan Theodor saat mereka sudah di meja makan.
Gadis hanya mengangguk sambil mengambilkan sarapan untuk Tuan Theodor.
Aroma wangi tubuh Gadis sudah menjadi candu bagi indra penciumannya. Tubuh mulus Gadis sudah menjadi penawar rasa lelah dan segala amarahnya. Tubuh itu sudah menyatu dengan kamar yang ditempatinya serta hati dan pikirannya.
"Kau tidak perlu dandan berlebihan seperti ini."
"Berlebihan?."
"Iya, kalau perlu kau jangan memakai make up apa pun."
"Iya, Tuan Theodor." Sahut Gadis melanjutkan sarapannya.
Gadis menghapus semua make up yang sudah dipakainya. Wajah Gadis benar-benar polos tanpa make up sedikit pun.
"Kau memang cantik tanpa make up sekali pun." Batin Tuan Theodor memuji kecantikan alami yang dimiliki Gadis.
"Apa seperti ini?."
"Hem..."
Keduanya keluar dari apartemen menuju parkiran.
Selama dalam perjalanan, Gadis membaca apa saja yang menjadi points untuk meeting mereka kali ini, sampai Gadis memahaminya.
Sampai di tempat tujuan, Tuan Theodor dan Gadis keluar dari mobil bersamaan. Mereka berjalan menuju tempat meeting yang letaknya tidak jauh dari tempat Tuan Theodor memarkirkan mobilnya.
Pandangan Tuan Theodor terpaku pada sosok wanita yang sudah mulai dilupakannya.
"Theodor..."
"Violetta?."
__ADS_1