Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 84 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Erna menceritakan semuanya pada Alesandro tanpa terkecuali. Kini baru Alesandro mengerti kenapa Jasmin bilang kalau mereka brengsek.


Alesandro harus melindungi Jasmin dari pria pesakitan seperti Reymond yang ternyata sudah memiliki istri seorang model yang sedang naik daun.


"Sekarang Jasmin dimana?." Tanya Erna.


"Di rumah, tapi tenang saja aku sudah menempatkan beberapa penjaga untuk menjaga rumah itu dan juga kalian, terutama Jasmin." Jawab Alesandro begitu yakin harus melindungi Jasmin.


"Syukur lah kalau Jasmin sudah pulang."


Rosario hanya menjadi pendengar yang baik saja pada cerita Erna dan Alesandro. Sebab dirinya tidak begitu fokus pada apa yang ada di sekeliling, hanya karena kehadiran Romi yang terlihat sangat tampan, berbeda dari penampilan biasanya.


Alesandro mengikuti arah tatapan Rosario dengan wajah yang sumringah.


"Romi." Gumam Alesandro kembali menatap Rosario.


"Kau hati-hati pada pesona Romi, pria itu sudah memiliki calon istri dan kau jangan terlalu dekat dengannya." Ucap Alesandro to the points pada Rosario.


Rosario terpaku menatap wajah Alesandro lalu kembali pada wajah Romi yang begitu sangat tampan bagi Rosario, cintanya sudah layu padahal belum juga berkembang.


Sementara itu di dalam kamar yang ditempati oleh Nyonya Mireya. Semenjak kehadiran Gadis di sana, beberapa menit lalu. Belum ada Nyonya Mireya mengatakan apa-apa, hanya menangis di depan Gadis dengan wajah yang selalu tertunduk.


Darren yang berada di belakang tubuh sang nenek, yang dibuat terduduk dengan penyangga bantal guling. Mengelus punggung Nyonya Mireya dengan penuh kelembutan. Walau dia seorang anak pria yang masih kecil, namun dia cukup paham dengan keadaan hati sang nenek yang memang benar-benar diliputi oleh rasa bersalah.


"Mama Gadis dan adik Hanin sudah memaafkan nenek, jadi nenek jangan bersedih lagi." Ucap Darren menenangkan sang nenek yang belum kunjung mau berhenti dari menangis.


"Nenek malu dengan perbuatan nenek pada Mama Gadis dan adik Hanin." Aku Nyonya Mireya.


Gadis tahu dan seharusnya tidak terlalu menghukum Nyonya Mireya dengan aksi bungkamnya.

__ADS_1


"Sudah saya mengatakannya waktu itu, kalau saya dan Hanin sudah memaafkan Nyonya Mireya. Lupakan semuanya dan hidup lah dengan tenang, bukan seperti sekarang ini Nyonya." Gadis menjadi tidak tega melihat sakitnya Nyonya Mireya karena dirinya.


"Tolong ampuni aku, Gadis!. Atau kamu lakukan sesuatu untuk menghukum ku sebagai gantinya." Mohon Nyonya Mireya sungguh-sungguh.


Gadis mendekat lalu berdiri di samping Nyonya Mireya.


"Izin kan saya untuk melakukan sesuatu pada Nyonya, sesuai dengan permintaan Nyonya, supaya Nyonya merasa tenang dan tidak merasa bersalah terus pada saya dan Hanin." Ucap Gadis seraya menatap lekat Nyonya Mireya.


Tuan Theodor yang berada di sana hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Gadis pada Mamanya. Begitu juga dengan Darren dan tuan Patricio yang sudah masuk lima belas menit lalu. Violetta cukup kaget saat ada Gadis di kamar wanita yang dipanggilnya Mama itu. Di susul oleh Tuan Dominic dan Magdalena serta pasangan yang baru melangsungkan pertunangan, Ramona dan Galang. Cukup tercengang dengan pemandangan yang ada saat ini.


"Lakukan lah, Gadis!. Itu akan lebih baik bagi ku." Nyonya Mireya sudah bersiap untuk menerimanya.


Gadis semakin mendekatkan dirinya pada Nyonya Mireya dengan tangan yang terangkat seolah untuk memukul atau melukai wanita patuh baya itu. Semuanya serentak menutup mata, tidak tega melihat wanita itu disakiti oleh Gadis meski atas permintaan Nyonya Mireya.


Namun sungguh diluar dugaan dengan apa yang dilakukan oleh Gadis. Wanita berhijab itu memeluk Nyonya Mireya dengan begitu erat dan mengelus punggung yang bergetar hebat itu. Menangis dengan sejadi-jadi di dalam pelukan Gadis yang sangat meringankan beban hatinya.


"Saya sudah memaafkan Nyonya, tolong sembuh dan hidup dengan lebih tenang. Hanin sudah tenang di sana dan saya sudah bahagia dengan hidup saya yang sekarang. Jadi Nyonya juga harus hidup bahagia." Ucapan Gadis membuat senyum terbit pada wajah semua orang yang melihat itu.


"Terima kasih Gadis, terima kisah. Kamu memang wanita yang luar biasa baik." Nyonya Mireya membalas pelukan Gadis di tubuhnya. Di tambah dengan keberadaan Darren yang berada di dekat mereka dan ikut memeluk keduanya.


"Aku sangat sayang pada Mama Gadis dan nenek." Ucap Darren pada keduanya.


Violetta segera menyeka air matanya, sebelum ada yang melihatnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di sana. Bagaimana pun ini sudah keputusannya dan akan terus melanjutkan keputusannya itu.


Selesai dengan drama yang tejadi di dalam kamar yang dihuni oleh Nyonya Mireya. Gadis pamit pada semuanya, sebab ponselnya terus saja berbunyi dan itu dari Alesandro.


"Saya harus pulang, Nyonya harus cepat sembuh dan nanti saat kita bertemu Nyonya sudah bisa kembali berjalan dan sehat seperti sedia kala."


Begitu erat Nyonya Mireya menggenggam tangan Gadis, seolah enggan untuk melepaskan Gadis pergi. Pelukan tadi terasa kurang karena memang begitu dalam rasa sesal di dalam dadanya.

__ADS_1


"Kamu mau datang untuk mengunjungi ku?." Tanya Nyonya Mireya belum mau melepaskan tangan Gadis, padahal ponsel Gadis terus saja berbunyi.


"Iya, saya akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Nyonya." Gadis tersenyum dengan tulus pada Nyonya Mireya. Nyonya Mireya begitu malu untuk menerima kebaikan yang diberikan oleh Gadis.


"Baik lah, kamu boleh pulang. Terima kasih." Ucap Nyonya Mireya lagi.


Gadis kembali memeluk Nyonya Mireya setelah berpamitan lalu benar-benar keluar dari kamar Nyonya Mireya.


Hatinya begitu lega ketika sudah berusaha berdamai dengan apa yang begitu menyakiti hatinya. Hatinya benar-benar merasa lega sehingga dia merasa lebih ringan.


Sampai di ballroom, Gadis langsung menemukan Alesandro yang berada di area tengah bersama Erna dan Rosario.


"Ada apa?. Sudah mau pulang?." Tanya Gadis pada ketiganya.


"Iya, kita pulang sekarang saja. Acaranya juga sudah selesai." Ajak Alesandro pada ketiga wanita itu.


"Ok, kita pulang." Gadis mengangguk lalu mereka berjalan beriringan menuju kelaur hotel. Berbarengan dengan Reymond dan istrinya keluar dari ballroom.


"Sepertinya aku mengenal mu?." Reymond sedikit menghadang Alesandro.


"Mungkin kau salah orang, tapi aku senang bisa mengenal kau." Balas Alesandro sambil meminta ketiga wanita itu untuk menunggu di dalam mobil. Karena tatapan liar Reymond yang tertuju pada Gadis, padahal Erna yang sudah ketar ketir jika Reymond akan mengenali dirinya.


"Kau, Alesandro kan?." Reymond benar-benar mengenali Alesandro. Lalu mengulurkan tangan pada Alesandro. Meski Alesandro sendiri memang tidak mengenali Reymond.


"Aku senang kau mengenal ku." Alesandro menerima uluran tangan Alesandro.


"Gampang itu, apalagi untuk mengenali seorang pengusaha sukses dari Spanyol. Ucap Reymond.


"Tapi ngomong-ngomong, kau bersama wanita berhijab tadi?. Dia sangat cantik." Puji Reymond pada sosok Gadis.

__ADS_1


__ADS_2