
Darren dan Devan sekarang berada di dalam pengasuhan dan pengawasan Gadis serta tuan Theodor. Karena pertimbangan yang sangat matang dari kedua belah pihak.
Untuk tidak memisahkan kedua kakak beradik itu. Mereka para orang dewasa tidak ingin hanya salah satu saja yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mereka, melainkan keduanya sekaligus.
Maka kesempatan itu yang mereka ambil dan tempuh untuk kebaikan semuanya tanpa ada terkecuali.
Violetta juga mempertimbangkan kesehatan mentah kedua anaknya, dia tidak ingin mereka tidak saling menyayangi padahal keluar dari rahim yang sama.
Gadis yang paling merasa tidak enak hati sendiri, merasa sudah memisahkan kedua orang itu dari ibu kandungnya. Kalau pun ikut ibu mereka, maka mereka akan terpisah dari ayah kandungnya.
Tapi itu semua hanya disimpannya di dalam hati. Sebab bicara pada tuan Theodor pun tidak akan merubah apa pun keadaan yang sekarang ini. Namun dia berjanji, akan merawat Devan dan Darren dengan penuh kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri.
Nyonya Mireya dan tuan Patricio ikut bercengkrama bersama kedua cucunya, sebelum di bawa pergi oleh tuan Theodor dan Gadis. Meski sebenarnya mereka ingin Gadis dan tuan Theodor serta cucu-cucunya tinggal di rumah besar itu. Tapi Nyonya Mireya tidak ingin memaksakan kehendaknya.
Cukup hanya dengan dua hari dalam satu Minggu tuan Theodor, Gadis serta Darren dan Devan akan menginap di rumah itu atau hanya sekedar mengunjungi mereka di sana.
"Aku titipkan hidup ku pada mu, Gadis. Aku tahu, kamu Mama yang hebat dan baik untuk mereka kedua anak ku." Ucap Violetta tanpa menangis, karena ini merupakan pilihannya juga.
"Iya, aku akan menjaga mereka sepenuh hati ku. Agar mereka tidak kekurangan kasih sayang atau apa pun." Balas Gadis berbesar hati untuk menerima kebaikan Violetta yang sangat luar biasa.
Setelah kehilangan Hanin beberapa bulan lalu, kini dia mendapatkan kedua orang anak yang akan memanggilnya Mama lagi. Meski dia tahu, Hanin tetap lah Hanin. Putri pertamanya.
"Aku berangkat besok sore, kalian tidak perlu mengantar ku ke Bandara. Cukup doa kan aku saja, supaya selamat sampai Italia."
"Baik lah kalau itu mau kamu, hati-hati."
Violetta bersalaman bersama Gadis lalu mereka saling berpelukan. Berusaha menerima dan berdamai dengan hidup mereka yang sekarang.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Hingga tuan Theodor dan Gadis berpamitan pulang setelah makan malam bersama mereka di sana.
Bibi Dolores dan Tiara yang membantu memasukkan beberapa tas milik Darren dan Devan ke dalam mobil bagian belakang. Karena bagasi untuk dua koper berukuran besar.
__ADS_1
Tidak ada derai air mata perpisahan mereka kali ini, semuanya penuh dengan senyum yang terbaik yang bisa mereka berikan untuk orang-orang terkasih.
.
.
.
Mereka berempat sudah sampai di unit apartemen yang sangat besar dan mewah itu. Lengkap bersama barang bawaan mereka, sebab tuan Theodor meminta bantuan pada pegawai apartemen untuk membawa semuanya.
Darren anak yang mandiri, dia menarik koper dibawanya masuk ke dalam kamar yang dulu ditempatinya.
Menyusun dan merapikan kembali ke dalam lemari yang sudah disediakan oleh Mama Gadis yang sangat tahu seleranya.
Semua pakaian, perlengkapan sekolah dan beberapa mainan yang selalu dibawanya sudah rapi masuk ke dalam lemari. Kemudian berpindah pada beberapa buku yang harus segera diletakkan di atas rak buku yang dekat dengan meja belajar.
"Selesai." Gumam Darren sambil menatap puas hasil pekerjannya sendiri yang nanti akan dia tunjukkan pada Mama Gadis.
"Pasti mereka ada di kamar Mama."
Darren segera bergegas ke sana. Dan benar saja, Devan sudah berada di dalam box bayi. Sedang Mama dan Papanya sedang menyusun semua pakaian Devan.
"Darren sudah selesai Ma, nanti Mama Gadis harus melihatnya ya?." Ucap Darren duduk di sebelah Gadis.
"Ok sayang. Mama Gadis juga sudah selesai, tapi di bantu sama Papa." Balas Gadis sambil tersenyum lebar.
"Di kamar ku juga ada box seperti, apa Devan juga bisa tidur bersama ku?." Tanya Darren karena di sebelah tempat tidurnya ada box bayi yang sama persis yang sedang digunakan oleh Devan.
"Iya, jagoan. Nanti, sesekali Devan akan tidur bersama mu. Kamu tidak keberatan kan?." Tanya tuan Theodor ikut duduk mepet pada Gadis, sampai Darren tertawa karena Papanya mendapat cubitan keras dari sang Mama. Tapi bagi tuan Theodor itu tidak sakit, karena memang dirinya cukup kuat untuk menerima serangan apa pun dari istrinya.
Seperti tidak ada tempat lain lagi, sampai duduk harus mepet. Padahal sebenarnya dia merasa iri pada anaknya itu, yang selalu bisa menempel pada Gadis dimana pun.
__ADS_1
Karena sudah sangat malam, Darren berpamitan Mama dan Papanya, setelah mengucapkan selamat malam dan tentunya memberikan kecupan pada pipi kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya.
Gadis segera mengganti pakaian dengan lingerie yang diambilnya oleh suaminya. Lalu Gadis mengecup kening Devan beberapa kali dengan begitu gemasnya.
Gadis hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu, saat melihat tubuh suaminya yang sudah polos.
"Sekarang waktunya untuk kita, sayang." Tuan Theodor mengulurkan tangan kearah Gadis lalu Gadis menerimanya.
Berjalan perlahan menghampiri tuan Theodor dan duduk di atas pangkuan suaminya.
"Aku begitu bahagia." Ucap tuan Theodor langsung memeluk erat tubuh Gadis yang ada di pangkuannya.
Benar-benar memeluknya dengan sangat erat.
"Setelah apa yang kita lewati selama ini, pada akhirnya aku bisa memiliki mu dengan seutuhnya. Aku benar-benar merasa bahagia." Ucapnya lagi sambil melerai pelukannya, memegangi kedua sisi wajah Gadis dengan kedua tangannya. Melanjutkan dengan beberapa kecupan yang mendarat pada setiap permukaan wajah Gadis.
Gadis tidak mampu berkata-kata, dia hanya mengalungkan kedua tangannya pada leher tuan Theodor.
Cup
Gadis mengecup bibir pria yang selalu berkata manis padanya. Lalu melepasnya lagi.
"Saya ebih sekedar dari merasa bahagia, saya merasa wanita yang paling beruntung juga bisa dicintai oleh pria yang mencintai saya dengan cara yang begitu sempurna."
Gadis kembali mengecup bibir suaminya yang tersenyum lebar. Hingga bisa meloloskan lidahnya ke dalam mulut suaminya.
Tuan Theodor tersenyum di kala permainan lidah mereka. Istrinya yang pemalu kini sudah mahir menggodanya.
Ciuman dan permainan lidah mereka sudah berlanjut pada tahap selanjutnya. Dimana suara ******* dan lenguhan silih berganti terdengar menggema di kamar tuan Theodor.
Pasangan suami istri itu melebur menjadi satu, bukan hanya saja menyatukan tubuh mereka saja, tapi hati dan pemikirannya juga saling menyatu unyuk bisa mewujudkan keluarga kecil yang mereka idamkan.
__ADS_1