
Tuan Theodor tidak membawa Gadis pulang ke rumah, melainkan membawanya ke apartemen yang dulu ditempati oleh mereka berdua.
Tentu saja Gadis sangat menolaknya, namun tuan Theodor tidak menggubrisnya, dia tetap membawa paksa Gadis ke tempatnya.
Setelah sampai di sana, Gadis tidak langsung masuk. Dia masih berdiri di depan pintu. Rasanya engga untuk menginjakan kaki di tempat yang penuh dengan kenangan dirinya dan tuan Theodor.
Jujur saja, Gadis sangat takut jika apa yang dulu terjadi akan terulang lagi sekarang. Semantara semuanya sudah berbeda. Walaupun perasaanya masih ada untuk mantan suaminya itu.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam pada mu, aku tahu batasannya." Ucap Tuan Theodor melebarkan pintu apartemen.
Gadis masih bergeming, tidak mau percaya begitu saja pada pria berkuasa itu. Tadi saja dia sudah mengatakan kalau Gadis istri dari tuan Theodor. Meski tahu, tuan Theodor melakukan itu untuk melindunginya dari Reymond.
"Kita berdua akan menginap di sini kalau kamu masih berdiri di situ!." Ancam tuan Theodor namun dengan nada yang cenderung lembut. Ancaman tersebut nyatanya mampu menggetarkan kaki Gadis untuk melangkah masuk dan tuan Theodor segara menutup pintu apartemen.
"Tolong jangan di kunci!." Pinta Gadis sambil membalik tubuhnya menghadap tuan Theodor.
"Aku yakin kamu belum lupa, kalau pintunya akan otomatis terkunci jika tertutup." Dengan reflek Gadis mengangguk cepat.
"Baik lah, kita bisa duduk di sana!?" Tuan Theodor menunjuk tempat duduk yang ada di dekat kolam. Kemudian tuan Theodor sudah berjalan terlebih dulu dan langsung duduk di salah satu kuris yang ada di sana.
Dengan perasaan yang masih was-was, Gadis menyeret kedua kakinya untuk cepat sampai di pinggir kolam renang.
__ADS_1
Kini pandangan keduanya menatap air kolam yang begitu tenang, tidak ada pergerakan sama sekali.
"Kita sudah banyak melewati segala kesusahan dan kesedihan. Kita sama-sama pernah terluka. Tapi mungkin di sini, aku yang lebih banyak menyakiti mu." Tuan Theodor yang lebih dulu membuka obrolan. Sebab memang dirinya yang mau mengajak Gadis berbicara dari hati ke hati.
"Aku begitu hancur saat tahu kamu pergi bersama Alesandro untuk meninggalkan aku dan membuat pergi anak kita. Aku benar-benar hancur." Tuan Theodor menyandarkan tubuhnya pada kursi dengan tangan yang melipat di dada.
Gadis masih belum menanggapi apa pun yang diakui oleh mantan suaminya. Dia masih betah diam untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh tuannya.
"Aku membuang semua barang-barang mu yang ada di sini dan rumah Mama. Dan aku menerima permintaan Mama untuk menikah dengan Violetta, sampai kami memiliki anak laki-laki lagi." Tuan Theodor menangkap Gadis mengangguk lemah namun pandanganya tetap pada air kolam.
"Violetta yang lebih dulu meminta perpisahan pada ku, sebab dari awal kami menikah, dia sudah tahu kalau di dalam setiap nafas ku tentang wanita yang sudah aku ceraikan. Padahal aku telah memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan demi anak-anak. Tapi Violetta tetap meminta berpisah dari ku." Kali ini tuan Theodor melirik Gadis yang menyeka air matanya yang sudah turun sampai di pipi.
"Terlebih Darren yang begitu mendukung keputusan kami untuk berpisah. Karena Darren juga begitu paham dengan perasaan ku selama ini."
Lagi-lagi diirnya menjadi penghalang kebahagiaan tuan Theodor dan Vioetta serta anak-anaknya.
Gadis sibuk menghapus air matanya yang terus saja berjatuhan.
"Kenapa tuan tidak berjuang lebih keras lagi untuk menyakinkan Nyonya Violetta dan Darren?. Seharusnya tuan lebih berusaha lagi untuk bertahan di sisi mereka yang masih ada.
"Sekarang tuan harus kembali ke Italia dan memperjuangkan Nyonya Violetta dan Darren. Saya yakin mereka sangat berharap tuan bisa kembali pada mereka, ada bersama mereka untuk melewati suka dan duka. Tuan harus mendampingi tumbuh kembang dari kedua putra tuan." Mengucapkan semua kata itu dengan derai air mata yang terus melewati kedua pipinya. Tidak kuasa untuk berkata-kata meminta mantan suaminya untuk kembali pada Violetta dan kedua anak mereka.
__ADS_1
Namun Gadis mengatakan itu semua dengan penuh ketulusan dan kesungguhan.
Tuan Theodor mengusap kasar wajahnya, dia bangkit dan memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
Berulang kali menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Dia masih membiarkan Gadis untuk menangis sepuasnya, mungkin itu akan lebih baik.
"Aku tidak akan kembali pada Violetta atau mencari wanita lain, kalau pada akhirnya kamu tidak mau kembali pada ku. Namun sebelum itu terjadi aku akan tetap berusaha memperjuangkan mu untuk kembali menjadi istri ku."
Gadis menggeleng lemah lalu menurunkan tangannya, menggunakan ujung hijab untuk membantu menghapus air matanya.
"Jangan membuat saya tambah merasa bersalah pada kedua anak kecil itu. Pulang lah, tuan. Temui mereka dan peluk mereka. Hanin juga pasti menginginkan hal itu, tuan bersama anak-anak tuan." Ucap Gadis tanpa bisa menghentikan air matanya. Terlebih dia menyebut nama Hanin yang tidak pernah disebutnya.
"Lebih baik mereka kecewa pada ku dari pada aku harus melepas mu lagi. Anak-anak ku akan menjadi anak-anak mu juga, karena aku tahu kamu begitu baik untuk menerima kami. Makanya Darren begitu mengerti kenapa aku masih mencintai mu sampai detik ini."
Gadis kembali terdiam, dia sangat senang mantan suaminya masih mencintainya dengan begitu besar, tapi di sisi lain ada beberapa hati yang harus terluka karenanya. Gadis bukan wanita egois yang mementingkan dirinya sendiri. Kalau dulu dirinya bisa membuat tuan Theodor pergi jauh dari hidupnya. Mungkin sekarang juga dia masih bisa melakukan hal itu.
Gadis juga merasa malu pada Darren yang begitu tegar mengikhlaskan Papanya untuk kembali padanya.
"Saya harus pulang sekarang, sudah banyak yang kita bicarakan dan semuanya sudah saya lupakan untuk semua kejadian yang sangat menyakitkan hati saya.
"Tuan tidak perlu mengantar saya, saya bisa naik ojek." Gadis bergegas segara pergi dari sana, sedikit mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di pintu. Tapi rupanya langkah tuan Theodor sudah mendahuluinya. Kini pria tampan itu sudah berdiri di depan Gadis.
__ADS_1
"Dari pada kamu dimilki oleh pria lain, lebih baik aku memaksa dan mengikat mu untuk menjadi pemuas ku!. Kamu dengar, Gadis!. Pemuas!." Ucap tuan Theodor tidak main-main. Apalagi pria seperti Reymond akan menyentuh Gadis, rasanya lebih baik dia mengurung Gadis di apartemen itu.