Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 53 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Setelah sadar sepuluh menit yang lalu kini Nyonya Maria kembali pingsan saat melihat wajah Marco dan mengingat pengakuannya. Dan hal itu terjadi sampai beberapa kali.


"Sebaiknya kau pergi dari sini Marco!." Tuan Rizzo mengusir putra bungsunya.


"Maaf kan aku, Pa. Aku tahu aku salah, sebenarnya sudah lama aku ingin sembuh, tapi mereka selalu menarik ku kembali pada lingkungan mereka. Tapi, setelah aku mengenal Gadis, aku mencintainya Pa. Berharap aku bisa sembuh setelah menikahi Gadis. Tapi pernikahan ku malah tidak akan jadi terlaksana." Ujar Marco penuh sesal.


"Justru Papa senang pernikahan kalian tidak jadi terlaksana, pernikahan itu hanya akan melukai Gadis dan membuat malu keluarga kita saja. Sekarang Papa minta, cepat lah pergi dari sini sebelum Mama mu sadar." Lagi-lagi Tuan Rizzo mengusir Marco, dengan berat hati Marco segera pergi dari kamar Nyonya Maria.


Tuan Rizzo tidak pernah menyangka jika akan sebaik Marco bisa memiliki penyimpanan seperti itu. Itu sangat melukai hatinya.


Gadis dan Tuan Theodor baru saja keluar dari kamar Darren yang dulu ditempati oleh Gadis. Darren sudah terlelap tidur setengah jam yang lalu. Namun Gadis dan Tuan Theodor menyusun beberapa mainan di dalam kamar tersebut.


Keduanya saling bergandengan menuju kolam renang, mereka duduk di kursi yang ada di sana.


"Kamu tidak keberatan kan jika Darren tinggal bersama kita di sini?."


Gadis menggeleng sambil tersenyum lebar. "Justru saya senang Darren ada di sini bersama kita."


"Apa tuan sudah memikirkan untuk sekolah, Darren?."


"Iya, besok kita akan mendatangi sekolah yang ada dekat dengan kantor. Sepertinya sekolah di situ bagus."


"Iya sepertinya begitu."


Tatapan keduanya saling beradu, tangan tuan Theodor terulur, lalu Gadis meraihnya dan menuntunnya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Aku butuh asupan vitamin yang banyak malam ini setelah berkeliling selama tiga jam di dalam mall." Tangan tuan Theodor mulai melepaskan kancing kemeja Gadis satu persatu hingga terlepas semua.


"Kalau Darren bangun bagaimana dan melihat kita sedang bercinta?." Gadis mengelus wajah tampan suaminya.


Wajah tampan itu terbenam sempurna pada belahan dada Gadis yang masih memakai pembungkus. Kecupan dan gigitan mendarat pada daging kenyal yang selalu menjadi candunya.

__ADS_1


Meninggalkan jejak kepemilikan yang entah kenapa Gadis begitu menyukainya. Terkadang tanpa tahu malu Gadis yang meminta sendiri untuk dibuatkan tanda merah di beberapa tempat area sensitifnya.


Tubuh tuan Theodor kembali tegas kala Gadis meloloskan kaos yang masih dipakai tuannya. Dua ujung dada tuan Theodor juga sudah mengeras saat Gadis dengan asyik memelintirnya.


"Apa rasanya geli?."


"Hem..." Tuan Theodor memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap gerakan tangan Gadis pada kedua dadanya.


"Kita mau melanjutkannya di sini atau di dalam kamar?." Tanya Tuan Theodor dengan sorot mata yang sudah tertutup berkabut gairah. Mulutnya bekerja untuk meng-**** dan meng-hisap ujung dada Gadis yang begitu tegang menantang.


"Di kamar saja, tuan." Pinta Gadis seraya menahan wajah tuan Theodor supaya mau melepaskan ujung dadanya tapi rupanya tuannya masih menikmati permainannya. Gadis tidak bisa berontak terlalu kala tubuhnya juga sudah terbakar api gairah.


"Aku sudah tidak bisa menahannya Gadis." Ucap Theodor sambil meloloskan benda persegi dari inti tubuh istrinya.


Gadis mengangkat bokongnya untuk beberapa saat sampai tuan Theodor juga menurunkan celana kerja sekaligus boxer nya juga.


Kemudian perlahan Gadis menurunkan bokongnya sambil mengarahkan batang milik tuan Theodor yang sudah mengacung sempurna pada inti tubuhnya yang sudah basah.


"Ah..." Keduanya mendesa@h bersamaan ketika inti tubuh mereka telah menyatu dengan sempurna.


Mereka berbagi peluh dan kenikmatan yang setiap saat bisa mereka rasakan berkali-kali lipat.


Gadis yang terlebih dulu mencapai puncaknya, begitu puas bahkan sangat puas mendapatkan pelepasannya.


Tidak lama di susul oleh tuan Theodor yang mengejang hebat, menyemburkan benih premium yang super banyak dan super kental ke dalam rahim Gadis. Berharap benihnya itu akan menjadi anak mereka berdua kelak.


"Terima kisah istri ku..." Tuan Theodor mengecup kening Gadis untuk menyalurkan rasa cinta dan sayangnya yang begitu besar pada wanita menjadi istrinya sekarang. Seorang pemuas yang kini menjadi pemilik hati dan seluruh hidupnya.


Keesokan paginya...


Sekitar jam sembilan pagi, Gadis dan tuan Theodor beserta Darren sudah mendatangi sebuah sekolah internasional. Dan tanpa berlama-lama, tuan Theodor segera mendaftarkan Darren bersekolah di sana. Yang akan dimulai Minggu depan.

__ADS_1


Darren menyambut gembira hal itu, karena dirinya akan memilki banyak teman lagi selain Papa, Mama Gadis dan Nenek Kakeknya.


"Apa kamu senang akan sekolah di sini?." Tanya Tuan Theodor ketika mobil sudah melaju meninggalkan area sekolah, menengok sebentar ke belakang dimana sang putra berada.


"Iya Papa, aku senang sekali." Jawab Darren begitu antusias.


"Kita akan selalu pulang dan berangkat bersama-sama." Ujar Theodor melihat kearah Gadis yang tersenyum padanya.


"Tapi kan Pa, aku pulang sekolah siang enggak sore. Jadi duluan aku pulangnya." Ucap Darren mengoreksi sebab tadi dia ikut menyimak apa yang disampaikan oleh Guru di sana.


Tuan Theodor tersenyum sambil kembali menengok kearah Darren.


"Iya, nanti kamu akan pulang ke kantor Papa. Kalau bukan Papa yang menjemput mu, ada Mama Gadis atau Uncle Romi yang akan menjemput mu. Kamu paham jagoan?."


"Ok, Papa. Aku paham. Boleh aku bawa mainan ke kantor Papa?."


"Boleh jagoan."


Mobil pun sudah berhenti di depan Lobby kantor, Gadis mantap lurus ke depan dengan rasa takut yang terlihat jelas diwajahnya.


Tuan Theodor mengikuti arah pandang dari Garis dan ternyata sudah ada Mamanya berdiri di lobby dengan beberapa klien dari Papanya.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Ada aku bersama mu." Tuan Theodor memegang kedua sisi wajah Gadis lalu mengecup bibirnya untuk beberapa waktu.


"Papa, itu ada nenek!. Aku mau sama nenek." Darren segera membuka pintu yang sudah tidak terkunci.


"Nenek..." Panggil Darren sambil berlari kearah Nyonya Mireya. Nyonya Mireya sontak saja berbalik badan dan melihat cucu kesayangannya berlari kearah dirinya.


"Bersama siapa kamu di sini Darren?." Tanya Nyonya Mireya menatap kearah mobil tuan Theodor yang masih terparkir di Lobby.


"Bersama Papa dan Mama Gadis." Jawab Darren jujur lalu mengecup kedua pipi Nyonya Mireya karena posisinya yang menunduk.

__ADS_1


Nyonya Mireya menarik nafas panjang kala mendengar Darren menyebut Gadis dengan sebutan Mama.


"Mama mu hanya Violetta, ingat itu Darren!." Nyonya Mireya mencoba mencuci otak Darren dengan mengatakan hal itu. Memang ada maksud yang tidak baik yang disampaikan oleh Nyonya Mireya.


__ADS_2