
Jasmin, Erna dan Hanin sudah berencana untuk jalan sekaligus jajan di pasar yang tidak jauh dari penginapan. Ketiganya baru saja selesai sarapan.
Tapi berulang kali Gadis tidak mengizinkan Hanin untuk ikut bersama mereka. Karena entah kenapa dia tidak bisa membiarkan Hanin pergi pagi ini. Sampai Gadis meminta Jasmin dan Erna memberikan alasan untuk tidak mengajak Hanin. Tapi baik Erna atau pun Jasmin tidak terlalu menggubris permintaan Gadis.
Namun rupanya Hanin sudah memiliki list untuk jajan pagi ini bersama kedua tantenya. Gadis menimbang lagi keputusannya. Tapi, tetap saja hatinya tidak mengizinkan Hanin pergi tanpa dirinya. Padahal ini bukan kali pertama Hanin pergi tanpa dirinya terlebih Hanin pergi bersama Jasmin dan Erna.
"Hanin tunggu di sini saja ya sama Mama. Biar Tante Jasmin dan Tante Erna saja yang pergi ke pasar!." Gadis masih mencoba meyakinkan Hanin untuk tidak pergi.
"Mama...aku mau ikut Tante Erna dan Tante Jasmin. Aku bosan di dalam kamar terus. Aku mau jalan-jalan naik motor itu." Rengek Hanin sudah siap dengan pakaian kebanggaannya.
Gadis tidak tega kalau Hanin sudah merengek seperti ini dan akhirnya dia mengizinkan Hanin pergi meski dengan sangat berat hati. "Tapi Hanin hati-hati ya, tidak boleh jauh-jauh dari Tante Jasmin dan Tante Erna."
"Iya Mama, Hanin janji." Gadis hanya mengangguk lalu mengecup pucuk kepala Hanin sampai berulang kali.
"Kak Jasmin dan Kak Erna hati-hati bawa Hanin. Jangan sampai meleng." Ucap Gadis memperingatkan keduanya.
"Iya Mama Gadis." Goda ketiganya dengan kompak dan diakhiri dengan galak tawa, Gadis hanya tersenyum melihat tawa ketiganya yang terlihat begitu lepas.
Jasmin segera tancap gas sebelum Gadis berubah pikiran, nanti malah Hanin tidak jadi ikut bersama mereka.
Sementara Gadis sendiri lebih memilih untuk tidak ikut bersama mereka karena mereka bertiga menaiki motor yang ada di yayasan. Gadis lebih memilih berdiam diri di dalam kamar sambil menyicil merapikan barang-barang yang akan di bawa pulang.
Selesai dengan urusan pekerjaan, tuan Theodor segera pergi dengan alamat yang ada ditangannya. Tanpa dia tahu jika Violetta mengikutinya sejak awal. Meski sakit, Violetta harus melihat apa yang akan terjadi pada suami dan mantan istrinya.
Hampir setengah jam Violetta mengikuti suaminya dengan berjalan kaki, karena tuan Theodor pun berjalan kaki. Tapi belum tahu mau berhenti dimana, padahal kedua kaki Violetta sudah terasa sangat lecet dan tentunya sangat sekali.
"Apa yang kau lakukan?." Saat Violetta berjalan sempoyongan dan tanpa sadar menabrak tubuh tuan Theodor yang berhenti mendadak.
__ADS_1
"Kau mau menemui Gadis 'kan?. Aku ingin ikut, aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan padanya?. Apa kau akan kembali padanya meski aku sedang hamil besar?."
Tuan Theodor hanya diam, tidak ingin menanggapi apa yang dituduhkan oleh istrinya.
"Kenapa?, kenapa aku bisa tahu kalau kau mau menemui wanita itu, wanita yang sudah menghilangkan nyawa bayi yang dikandungnya dan pergi bersama pria lain.
"Kenapa kau tidak bisa melihat ketulusan cinta ku, pengorbanan ku, kesetiaan ku?. Kenapa kau harus masih mengingat wanita jahat itu?. Lihat lah aku, aku sedang mengandung anak kau, anak yang akan menjadi pewaris dan penerus kerajaan bisnis Oliver." Violetta mengeluarkan semua unek-unek yang tersimpan di dalam hatinya. Violetta sudah tidak malu lagi untuk menangis kencang di pinggir jalan seperti ini.
Percakapan keduanya mulai menjadi perhatian orang yang berada di sekitar mereka. Banyak yang menyaksikan bahkan tidak sedikit orang yang bersimpati pada Violetta. Tapi tuan Theodor tidak mempedulikannya. Dia segara balik badan dan hendak melanjutkan lagi perjalananya.
Baru beberapa langkah saja tuan Theodor melangkah meninggalkan Violetta, sudah terdengar benturan dan teriakan yang cukup kencang dan seketika membuatnya membalik tubuh.
"Papa..."
Tubuh kecil mungil melayang beberapa detik sampai akhirnya terjatuh menyentuh aspal dan tidak sadarkan diri. Lalu banyak yang mengerubutinya.
Violetta dipegangi banyak orang setelah di selamatkan oleh tubuh kecil itu sampai menepi kepinggir jalan. Setelah sebelumnya hendak melakukan percobaan menabrakkan dirinya pada kendaraan yang melintas.
"Hanin...Hanin..."
"Tolong selamatkan Hanin kami." Teriak Jasmin sambil mengatupkan tangannya di dada.
"Tolong bawa Hanin kami ke rumah sakit."
"Ambulance sedang dalam perjalanan, rumah sakit dekat dari sini." Jawab salah satu bapak yang sudah menghubungi ambulance.
Tidak berselang lama, pertolongan pun datang dan langsung segera membawa tubuh kecil itu ke dalam ambulance dan membawa ke rumah sakit. Jasmin dan Erna mengikuti ambulance dari belakang dengan mengendari motor.
__ADS_1
Jasmin dan Erna tidak tahu harus mengabari apa pada Gadis yang saat ini ada di penginapan. Andai saja mereka lebih bisa mendengarkan Gadis untuk tidak mengajak Hanin pergi.
Sudah hampir satu jam lamanya, Jasmin dan Erna masih menunggu dokter yang menangani Hanin. Namun salah satu dari mereka belum ada yang berani menghubungi Gadis untuk memberitahu keadaan Hanin.
Sementara itu di penginapan, Gadis merasa biasa saja, tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkannya. Walau sepintas pikirannya tertuju pada Hanin. Tapi Gadis berusaha menepis dan berpikir positif.
Terus saja Gadis memegangi ponsel dan hendak menghubungi Jasmin setelah hampir dua jam mereka belum ada tanda-tanda kembali dari pasar. Namun pintu kamar penginapan sudah ada yang mengetuknya pelan.
Tok...
Gadis segara beranjak sambil meletakkan ponsel yang menyala karena ada sebuah panggilan masuk.
Gadis sangat berharap jika mereka bertiga yang mengetuk pintu. Tapi, rupanya Gadis salah setelah membuka pintu, itu pun dirinya tidak mengenakan cadar saat pria yang telah ditinggalkannya berdiri tegap dihadapannya.
Keduanya saling terdiam, Gadis tidak bisa menghindar dan tidak berniat untuk menghindar. Dia menyadari jika dunianya memang begitu sempit.
"Ada apa tuan di sini?." Tanya Gadis memberanikan diri setelah cukup lama mereka saling diam.
Ada terbersit, perasaan lega saat Hanin tidak ada bersamanya karena keberadaan tuan Theodor di penginapan.
"Apa anak ku masih ada?." Tanya Tuan Theodor dengan sorot mata penuh kesedihan.
Lidah Gadis terasa kelu, dia tidak tahu harus mengatakan apa bila ditanya langsung seperti ini oleh ayah dari anaknya.
"Apa anak ku masih ada?." Tanyanya lagi ketika Gadis belum merespon pertanyaan yang diajukannya.
Gadis menggeleng lemah tanpa berani menatap kedua mata tuan Theodor.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?." Tanyanya penuh ketegasan. Lagi-lagi Gadis mengangguk lemah.
"Kamu sungguh jahat, ibu dan wanita yang paling jahat yang pernah aku temui. Karena keegoisan mu, kegilaan mu, anak kita sekarang sedang meregang nyawa!."