
"Apa yang terjadi dengan mu?."
"Tidak ada, sebaiknya tuan menyingkir dari hadapan ku."
"Aku mau tahu dulu, kenapa kau berubah seperti ini?."
"Tidak ada apa-apa, tidak ada ada yang berubah dan tidak ada masalah. Sekarang biar kan aku pergi. Aku sudah menjawab apa yang ingin tuan ketahui dari ku." Jasmin sejak tadi berbicara tanpa mau menatap mata atau wajah lawannya. Dia sangat takut, jika apa yang dia sembunyikan akan ketahuan dan membuat suasana semakin tidak nyaman.
"Kau masih berbohong, Jasmin!." Teriak Alesandro saat Jasmin berhasil pergi dari hadapannya. Itu karena semakin banyak orang yang menonton mereka, jadi Alesandro membiarkan Jasmin untuk pergi.
Entah dari kapan perasaan itu datang mengetuk dan menyapa hati Jasmin. Sebuah perasaan yang tanpa disadarinya bertaut pada seorang pria yang memilki kasta berbeda dengan dirinya, terlebih masa lalu yang tidak akan bisa dihapusnya.
Bodoh memang, saat dirinya tahu dan menyadari dia mencintai pria baik seperti Alesandro yang memiliki segalanya. Dan lebih dari pada itu semua, ternyata pria itu menyatakan perasaannya pada Gadis beberapa waktu lalu.
Jadi semkin cepat Jasmin berpikir dalam mengambil langkah untuk segara membunuh perasaan di dalam hatinya pada Alesandro.
Sampai di rumah, Jasmin langsung melihat Gadis yang sedang sibuk dengan bahan-bahan yang akan dieksekusinya.
"Pesanan lagi?."
Gadis beralih menatap Jasmin yang sudah berdiri di ruang tengah.
"Iya, tahu enggak pesan apa?." Wajah Gadis menandakan tidak percaya kalau dia mendapatkan pesanan satu mangkuk mie rebus dengan toping yang lengkap.
"Wow...tidak ada yang salah kalau mie rebus saja harus pesan di tempat mu, karena memang sangat enak rasanya." Puji Jasmin.
"Berapa banyak pesanannya, biar aku bantu."
"Tidak kak, tidak banyak. Hanya dua porsi saja mie rebus nya."
"Ok. Kalau tidak ada yang bisa aku kerjakan, aku masuk ke kamar ya."
"Iya Kak."
Gadis melanjutkan kembali membuat mie rebus yang sudah dipesan.
Kurang dari setengah jam pesanannya sudah jadi, dan Gadis langsung mengantarkan ke alamat yang tidak jauh dari tempat tinggal Gadis. Hanya lima menit sudah sampai di lokasi pemesan.
Motor Gadis sudah terparkir di sebuah restauran merah. Dia menatap kembali alamat si pemesan. Memastikan kembali tidak ada kesalahan. Dan memang di situ tempat pemesannya.
"Permisi..." Gadis berdiri di depan kasir.
"Iya, pesanan mie rebus ya Bu."
"Iya, betul."
__ADS_1
"Boleh minta tolong untuk menghidangkannya langsung, Bu?. Dua mangkuknya sudah disiapkan."
Gadis menatap kasir beberapa saat lalu mengangguk mengiyakan dan segera meletakkan mie rebus itu di dalam mangkuk lengkap dengan toping yang di minta si pemesan.
"Mie nya sudah siap." Ucap Gadis pada kasir.
"Baik bu, terima kasih banyak."
"Pemesan mie menitipkan untuk Ibu." Kasir tersebut menyerahkan amplop putih pada Gadis dan Gadis menerimanya, lalu berpamitan.
Gadis membuka amplop tersebut saat sudah berada di samping motornya dan cukup terkejut dengan isi yang ada didalamnya.
"Kenapa banyak sekali." Gumam Gadis segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Kemudian menaiki motornya lagi segera pergi dari restauran mewah tersebut.
.
.
.
Hari yang dinanti Galang dan Ramona datang juga. Mereka menggelar acara pertunangan di sebuah hotel mewah yang ada di Jakarta. Keluarga kedua belah pihak sudah berada di ballroom hotel beserta para tamu undangan yang sudah berdatangan.
Pertunangan Galang dan Ramona memang digelar besar-besaran. Karena mereka sama-sama anak dari kalangan keluarga berada dan masih ada ikatan saudara tapi cukup jauh.
"Terima kasih banyak, Kak Magda." Balas Ramona sambil memeluk Magdalena lalu menerima buket bunga tersebut.
"Kak Dominic mana?"
"Di luar bersama yang lain. Ada Yacob juga."
"Iya, aku mengundangnya juga kak."
"Baik lah, aku keluar sekarang."
"Iya kak."
Magdalena melangkah keluar dari tempat Ramona. Dia berpapasan dengan Violetta yang begitu cantik dan anggun dalam dress yang serba terbuka. Tubuh indahnya masih sangat terlihat meski dia sudah memilki dua orang anak yang tampan-tampan.
"Kau mau kemana?."
"Aku mau memeriksa Devan, aku meninggalkannya di kamar bersama Tiara."
"Ok."
Magdalena dan Violetta kembali melanjutkan lagi jalan mereka dengan tujuan masing-masing.
__ADS_1
Sampai di Ballroom, Magdalena mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang telah menjadi suaminya.
"Dimana Dominic?." Tanya Magdalena pada dirinya sendiri. Kembali mengedarkan pandangannya. Tapi sang suami belum terlihat keberadaannya.
Pantas saja Magdalena tidak bisa menemukan tuan Domonic, sebab tuan Dominic sedang memperhatikan gadis cantik yang kini mengenakan hijab.
"Kamu semakin terlihat cantik dan anggun meski sudah serba tertutup seperti sekarang." Tuan Dominic masih mengangumi wanita yang pernah dicintainya. Namun sekarang perlahan tuan Dominic sudah mulai mencintai keberadaan Magdalena, yang saat ini sedang mengandung buah cinta mereka. Yang baru memasuki bulan kedua.
Tuan Dominic segara meninggalkan tempat itu sebelum Magdalena menyadari keberadaanya di tempat itu. Yang akan menyakiti hati istrinya.
"Sayang!." Panggil Magdalena begitu manja pada suaminya. Merangkul dengan begitu hangat tanpa malu di lihat banyak orang.
"Ada apa, sayang?." Dengan lembut Tuan Dominic menanggapi apa yang diinginkan oleh Magdalena.
"Aku mau makan sayang, lapar!." Magdalena menarik tangan tuan Dominic kearah meja yang dipenuhi dengan berbagai makanan.
"Kamu mau makan apa?." Tuan Dominic sudah membawa piring kosong untuk menampung makanan yang akan dipilih oleh Magdalena.
Magdalena memilih beberapa makanan dan menaruhnya di piring. Lalu mengajak tuan Dominic untuk mencari tempat duduk yang kosong.
Di tempat yang sama, Gadis baru memilih makanan yang terhidang di meja. Bersaman dengan seseorang yang sedang mencari menu yang disukainya.
"Gadis...Theodor..."
Gadis membalik tubuhnya dan melihat siapa yang sudah memanggilnya, Alesandro. Lalu pandanganya beralih pada sosok pria yang ada dihadapannya, Tuan Theodor. Dengan makanan yang ada ditangannya. Tidak jauh berbeda dengan Tuan Theodor yang menatap wanita cantik dalam balutan pakaian serta panjang beserta hijab.
Tatapan keduanya saling mengunci untuk beberapa saat, penampilan Tuan Theodor yang serba aneh, menurutnya.
Memanjangkan rambut dan brewoknya sampai panjang dan diikat ala kadarnya. Entah apa yang ingin diperlihatkan tuan Theodor pada orang-orang yang hadir di Ballroom atau pada orang-orang di luar sana.
"Darren mencari mu." Violetta yang tadi memanggil Tuan Theodor lalu menatap Gadis.
"Iya, aku akan ke sana." Keduanya memutus pandangan mereka. Tuan Theodor berjalan di belakang Violetta dan Gadis menghampiri Alesandro.
"Ada apa?."
"Aku pulang duluan, ada yang harus aku lakukan. Kamu akan ditemani oleh Erna dan Rosario."
"Iya." Jawab Gadis sambil mengangguk. Dan Alesandro segera pergi dari sana.
"Kak Jasmin mana?." Tanyanya pada Erna.
"Enggak tahu, mungkin mencari makanan yang lain." Jawab Erna mengangkat bahu tinggi-tinggi sambil mencari keberadaan Jasmin.
Alesandro segera ke kamar mandi, dia minta Jasmin untuk segera keluar dari sana dan meninggalkan hotel.
__ADS_1