
Gadis langsung masuk ke dalam kamar Bibi Dolores ketika dia tahu jika kemarahan Nyonya Mireya saat ini disebabkan oleh dirinya.
"Ada apa?. Apa yang kau takutkan?. Apa kau melakukan kesalahan sehingga harus bersembunyi di kamar ini?."
Gadis menatap intens Bibi Dolores yang ikut masuk ke dalam kamar. Gadis tidak tahu apa dirinya harus jujur atau tidak mengenai dirinya dan tuan Theodor.
Sementara itu Nyonya Mireya yang sudah hilang kendali, dia melampiaskan kemarahannya pada benda-benda yang ada disekitarnya.
"Katakan pada ku siapa wanita itu?. Wanita mana yang sudah kau nikahi?. Wanita dari kalangan mana yang sudah menjadi menantu ku?."
Tuan Theodor yang hendak mengatakan kebenarannya pada Nyonya Mireya seketika mendapatkan gelengan kepala dari tuan Patricio. Hal itu ditangkap langsung oleh tuan Domonic.
"Pasti Papa tahu sesuatu tentang Theodor." Batin Tuan Dominic.
"Sudah Ma, kau harus tenang dulu." Tuan Patricio memeluk Nyonya Mireya untuk menenangkan.
"Bagiamana aku bisa tenang, Pa?." Nyonya Mireya berontak dari pelukan tuan Patricio. Namun untung saja tuan Patricio cukup kuat memegangi Nyonya Mireya.
"Nanti bisa kita bicarakan lagi kalau kau sudah tenang." Tuan Patricio berusaha membujuk Nyonya Mireya.
"Aku tidak mau tahu, Theodor!. Kau harus tetap menikah dangan Violetta!. Aku tidak peduli dengan pernikahan kau sebelumnya!." Ucap Nyonya penuh amarah sambil berlalu pergi dari sana.
"Marco tolong kau antar Violetta pulang!." Perintah Tuan Theodore begitu tegas.
"Tapi, Gadis bagaimana?." Marco berusaha menolak karena tidak ingin berada diantara masalah mereka.
"Gadis akan pulang bersama ku." Jawab Tuan Theodor menatap tajam pada Marco.
"Baik lah aku akan mengantar Violetta." Marco tidak memiliki pilihan lain selain mengantarkan Violetta. Keduanya pun meninggalkan rumah Nyonya Mireya tanpa ada yang berbicara lagi.
Tuan Theodor segera ke dapur setelah kepergian Marco dan Violetta. Meninggalkan tuan Domonic dan Magdalena di ruang tengah.
__ADS_1
"Aku baru kali ini melihat Mama marah. Padahal Mama orangnya sangat penyayang. Tapi apa yang dipikirkan oleh Theodor." Ucap Magdalena sambil beranjak mengikuti tuan Dominic yang berjalan menuju kamar.
Gadis segera keluar dari kamar Bibi Dolores setelah tuan Theodor memanggilnya.
Mereka juga meninggalkan rumah Nyonya Mireya. Namun sebelum mereka meninggalkan rumah itu, tuan Theodor memeluk Gadis cukup lama lalu mengecup bibirnya sebentar.
"Mama dan yang lainnya masih belum tahu kalau kamu istri dan wanita yang sangat aku cintai."
"Mari kita akhiri pernikahan ini sebelum membuat kekacauan yang semakin besar!. Aku tidak ingin ada keributan di rumah ini karena aku!."
"Sssttt..." Tuan Theodor kembali memeluk Gadis.
"Semuanya akan lebih mudah untuk dilewati karena kita bersama." Ucap Tuan Theodor melepaskan pelukannya.
Kemudian mobil pun mulai melaju meninggalkan kediaman Nyonya Mireya.
Sampai di apartemen, tuan Theodor mengajak Gadis masuk ke dalam kamarnya.
Tuan Theodor membantu Gadis menyisir rambutnya yang tergerai panjang. "Aku sangat menyukai rambut panjang hitam mu ini." Berulang kali tuan Theodor mengecup pucuk kepala Gadis dan di beberapa tempat pada rambut Gadis.
Gadis menatap pria yang saat ini menciumi hampir seluruh permukaan rambutnya.
"Apa tuan tidak ingin berubah pikiran?."
Tuan Theodor menggeleng sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Gadis.
"Aku ingin memiliki banyak anak bersama mu."
Tubuh Gadis menegang, diam tanpa ada pergerakan apa pun mendengar keinginan dari suaminya.
"Ada apa?. Apa aku salah ingin memiliki banyak anak dari mu?." Tanya Tuan Theodor mengangkat wajahnya. Menatap wajah cantik Gadis yang begitu kelelahan.
__ADS_1
"Tapi tidak sekarang, tuan. Saya ingin menyelesaikan kuliah terlebih dulu. Memastikan hubungan kita untuk tiga-empat tahun ke depan. Saya tidak ingin memiliki anak di saat hubungan kita belum jelas sepeti ini. Bisa saja sewaktu-waktu tuan kembali pada Nona Violeta dan tuan muda Darren. Karena ikatan batin itu akan selalu ada. Saya tidak ingin menyakiti siapa pun karena kecerobohan saya. Apa keinginan saya itu salah atau terlalu berlebihan?."
"Apa kamu masih belum mempercayai ku, sehingga kamu ingin menunda memiliki anak bersama ku?." Tanya Tuan Theodor kecewa.
"Iya, saya belum bisa mempercayai tuan." Jawab Gadis tanpa rasa takut sedikit pun. Dia tidak peduli pada kekecewaan yang diperlihatkan oleh tuan Theodor. Dia hanya ingin membentengi diri untuk tidak jatuh dan sakit terlalu dalam karena pria itu.
"Ada begitu banyak ketakutan di dalam hubungan kita ini. Yang sekarang sedang kita hadapi saja Nyonya Mireya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Nyonya Mireya tahu bahwa saya yang menjadi duri dalam daging untuk pernikahan tuan dan Nona Violetta." Lanjut Gadis berpindah duduk di sofa yang menghadap balkon.
"Kenapa kamu harus memiliki banyak ketakutan?. Sementara aku ada bersama mu dan beberapa aset sudah aku siapkan untuk masa depan mu dan anak-anak kita." Tuan Theodor mengikuti pergerakan Gadis dan duduk didepannya.
"Ini bukan hanya tentang materi saja, tuan. Ada banyak hal yang tidak bisa digantikan dengan adanya materi yang berlimpah."
"Salah satunya apa yang menurut mu tidak bisa digantikan kehadirannya oleh materi yang cukup atau pun banyak?."
"Kehadiran sosok ayah bagi anak-anak kita kelak, jika kita sampai harus berpisah. Perhatian, pelukan, kehangatan sebuah keluarga yang utuh."
"Apa kamu selalu berpikir kalau kita akan berpisah?. Atau itu sebenarnya menjadi keinginan mu saja?." Tuan Theodor tidak bisa lagi bersikap lembut pada Gadis. Tuan Theodor merasa sangat kecewa dengan topik pembicaraan Gadis yang seolah menyudutkan posisinya.
"Iya,itu yang selalu ada dalam pikiran saya. Kita akan segera berpisah karena saya tidak nyaman memilki hubungan seperti ini!."
Tuan Theodor segera beranjak dan meninggalkan Gadis di sofa. Dia tidak ingin terus terpancing dengan perkataan dan pemikiran Gadis yang menurutnya terlalu mengada-ada. Karena pada kenyataanya tuan Theodor akan tetap selalu berdiri di samping Gadis sampai kapan pun.
Gadis menatap jauh ke dalam pekatnya malam, sungguh sangat tidak nyaman memiliki kehidupan seperti sekarang ini. Dia ingin kembali pada posisi hidup Gadis yang sebelum adanya tuan Theodor dalam hidupnya. Berada di dalam rumah Nyonya Mireya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Di rumah besar itu Gadis menemukan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tidak dirasakannya. Kehangatan yang mampu membuatnya bertahan dalam kondisi apa pun.
Air mata Gadis seketika tumpah, menyembunyikan wajahnya pada kedua lutut yang ditekuk nya.
"Maaf kan aku, Bu. Aku sudah jauh dari ajaran kebaikan yang selalu ibu pesan kan pada ku. Maaf kan aku, aku sudah banyak menyakiti hati orang-orang yang begitu baik pada ku."
Raungan Gadis terdengar begitu pilu di telinga tuan Theodor yang ternyata tidak beranjak jauh dari posisi Gadis saat ini.
"Aku tidak akan pernah melepaskan wanita sebaik dan setulus kamu dalam menyayangi seluruh keluarga ku." Batin Tuan Theodor.
__ADS_1