Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 76 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Violetta telah melahirkan anak laki-laki selang setengah jam setelah dibawa ke rumah sakit.


Nyonya Mireya, tuan Patricio dan Darren sudah menunggu Violetta di dalam ruangan. Sebab Violetta sendiri masih harus diobservasi setelah melahirkan secara sesar karena bayi yang tidak mau keluar.


"Papa sudah menghubungi Theodor?."


"Sudah, tapi masih belum diangkat. Papa sudah mengirimkan pesan padanya."


"Kenapa Darren?." Nyonya Violetta melihat Darren yang sedang murung.


"Apa Mama dan adik ku akan selamat?."


"Kita sama-sama berdoa ya, sayang. Semoga Mama dan adik mu sehat dan selamat." Darren mengangguk sambil mengusap air matanya.


"Lalu yang menolong Violetta dan bayinya, apa Mama sudah meliatnya?."


Nyonya Violetta menggeleng lemah. "Dokter masih melakukan pemeriksaan, mungkin hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Tapi aku sudah bilang pada Dokter untuk melakukan yang terbaik pada orang itu."


"Iya, bagus kalau Mama sudah bilang seperti itu pada dokter. Karena orang itu sudah menyelamatkan cucu dan menantu kita. Itu lebih dari apa pun."


"Iya, Pa. Aku sudah melakukannya."


"Coba Papa telepon lagi Thoedor!."


"Belum bisa, Ma."


Darren bangkit lalu berpamitan pada nenek dan kakeknya untuk melihat Mamanya walau hanya melalui dinding kaca yang terbuka sedikit.


Darren berjalan menuju ruangan observasi sang Mama setelah melahirkan. Namun belum sampai di sana, Darren melihat Papanya yang berdiri sambil bersandar pada tiang. Entah apa yang sedang dilihatnya.


Darren mengikuti arah tatapan dari Papanya, terlihat seorang wanita yang sedang duduk sambil tertunduk dengan pakaian yang serba tertutup. Bahkan wanita itu seperti memakai penutup wajah beserta hijab.

__ADS_1


"Siapa wanita itu?, kenapa Papanya begitu betah menatap lekat wanita itu?."


.


.


.


Gadis sedang berusaha bersikap tegar untuk putri semata wayangnya. Duduk di depan ruangan sang putri yang belum bisa dijenguknya secara langsung. Hanya mampu dipandanginya melalui jendela kaca.


Setelah perdebatan panjang terjadi bersama tuan Theodor sebelum dirinya berada di rumah sakit.


"Sekali saja kamu jangan bersikap egois untuk putri mu, kalau pun dia bukan anak ku, biar kan aku membawa mu untuk menemuinya." Akhirnya Gadis menerima kebaikan dari mantan suaminya, mengantarkan Gadis sampai rumah sakit walau tidak ada yang bicara sepatah kata pun saat dalam perjalanan.


Sudah puluhan kali Jasmin dan Erna meminta maaf karena mereka tidak bisa menjaga Hanin dengan baik sehingga kejadian naas ini menimpa Hanin. Tapi Gadis malah bergeming dengan sikap dinginnya. Dia belum tahu apa yang terjadi pada putri kecilnya. Berat atau tidak luka yang dialaminya. Semuanya masih dalam proses tahap menunggu.


"Gadis..."


Gadis melihat ada dokter yang masuk ke dalam ruangan tersebut, Gadis bangkit dan melihat apa yang dikerjakan oleh dokter itu. Namun hanya mengeceknya perlengkapan medis yang menempel pada tubuh Hanin saja, tidak melakukan apa pun pada tubuh Hanin yang lemah.


"Bagaimana putri ku, dokter?." Tanya Gadis berdiri tepat di depan dokter yang baru keluar.


"Bantu dengan doa sebanyak-banyaknya, supaya putri ibu bisa melewati masa kritisnya." Gadis mengangguk lemah dan membiarkan dokter untuk pergi dari hadapannya.


"Sebegitu parahnya luka mu, Nak?. Sini, kamu bertukar tempat dengan Mama, biar Mama yang berbaring di tempat itu. Kamu masih harus main dan sekolah." Ucap Gadis dengan begitu lirih sambil berurai air mata.


Hari semakin gelap, Gadis belum beranjak dari tempatnya. Menunggu Hanin, berharap ada keajaiban untuk putri tercintanya. Hanya sesekali meninggalkannya di waktu-waktu tertentu untuk mengadukan semua derita dan meminta dengan begitu khusu pada sang pemilik hidup.


Ibu Airin menghampiri Gadis yang baru selesai dari mushola yang ada di rumah sakit. Baru saja Gadis menempelkan bokongnya di atas kursi. Kemudian Gadis berdiri lagi menyambut kedatangan Ibu Airin.


"Gadis!."

__ADS_1


"Ibu Airin." Ibu Airin langsung memberikan pelukan yang sedari tadi belum didapatnya.


Pelukan yang mampu menghangatkan hatinya, sedikit meringankan bebannya, mengurangi rasa sakitnya, dan membuatnya cukup lega karena masih ada orang yang mau memberinya sebuah pelukan yang sangat dia butuhkan.


"Aku turun prihatin dengan apa yang menimpa Hanin. Semoga Hanin cepat sadar dan bisa berkumpul lagi bersama kita. Dan kamu harus kuat untuk Hanin. Kalian harus saling menguatkan." Mendengar hal tersebut, derai air mata Gadis sudah tidak bisa dibendungnya.


Gadis duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Terdengar tangis yang begitu menyayat hati, Gadis menumpahkan kembali rasa yang berkecamuk di dalam dada.


Ibu Airin kembali memeluk Gadis lalu mengecup pucuk kepalanya berulang kali. "Kamu dan Hanin, sama-sama wanita baik, lembut, hebat dan kuat." Kamu dan Hanin pasti bisa melewati masa-masa sulit ini."


Gadis sedikit tenang setelah berbicara cukup lama dengan ibu Airin. Tapi sekarang Ibu Airin harus pamit karena panti tidak bisa ditinggalkan lama. Sebab tidak ada yang menjaganya. Terlebih Jasmin dan Erna sudah berada di dekat Gadis.


"Aku membawa pakaian ganti untuk mu." Jasmin menyodorkan papar bag kecil pada Gadis. Lalu Gadis mengangguk sambil menerima dan diletakkan disampingnya.


"Kamu juga belum makan, aku membawakan makan untuk mu." Gadis menatap Erna dengan begitu teduh, mata yang begitu sembab dan sedikit merah.


"Aku sudah makan tadi saat mau shalat Maghrib. Makanannya buat kak Erna atau kak Jasmin saja." Gadis menolaknya dengan alasan yang tidak benar, karrna sedari tadi sampai di rumah sakit, dirinya belum ada makan atau pun minum.


"Aku hanya ingin memejamkan mata saja, tolong bangunkan aku kalau Hanin sudah sadar." Tanpa menunggu jawaban dari Erna dan Jasmin, Gadis langsung menutup kedua matanya. Menyadarkan kepalanya pada tembok yang ada dibelakang kursi.


Hawa malam semakin dingin, namun tidak menggoyahkan Gadis sedikit pun yang masih memejamkan matanya di depan ruangan Hanin.


Semula Erna dan Jasmin yang menemani Gadis di sana. Tapi setengah jam yang lalu sudah berganti menjadi sosok pria yang pernah mengisi hati dan hari-hari Gadis dengan begitu indahnya.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membangunkan Hanin dan membawanya pergi dari sini?. Aku begitu takut kak, kalau Hanin tidak akan bangun lagi." Kedua mata yang terpejam itu menggeliatkan air mata.


"Putri ku yang sangat malang, aku tidak pernah benar-benar memberinya kebahagiaan." Gadis menarik nafas panjang dan tetap membiarkan air matanya berjatuhan.


"Apa ini sebagai hukum, karena aku tidak menginginkannya, jadi sekarang Tuhan akan mengambilnya dari ku?. Apa lagi yang harus aku lakukan untuk mengembalikan semuanya?. Seandainya saja kita tidak ke sini dan bertemu dengan mereka mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi."


Pria yang sedari mendengar isi hati Gadis yang begitu memilukan, memberanikan diri untuk menggenggam tangan Gadis yang begitu kuat meremas gamisnya.

__ADS_1


__ADS_2