Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 36 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tuan Domonic menatap sinis kakaknya yang seolah memiliki kehidupan dan keluarga paling sempurna, sementara kakaknya itu sudah merusak hidup seorang gadis yang sangat dicintainya.


"Selamat Violetta, karena kau akhirnya Theodor mau membangun rumah tangga impiannya." Ucap Tuan Domonic mengulurkan tangan kearah Violetta dan Violetta menjabat tangan tuan Domonic.


Violetta tersipu, menatap tuan Theodor yang bersikap biasa saja.


"Terima kasih, Dominic. Aku sungguh sangat beruntung bisa dicintai sebesar itu oleh Theodor."


"Iya, kau sudah tahu bukan?. Theodor tidak ada artinya tanpa Violetta dan Darren." Ucapnya dingin kearah Tuan Theodor.


Tuan Theodor hanya menatap tidak suka dangan apa yang dikatakan oleh tuan Dominic. Karena itu semua hanya masa lalu dan sekarang sudah tidak ada lagi.


"Papa tidak membelikan mainan untuk ku?. Kata kakek nenek nanti Papa bawa banyak mainan untuk ku." Theodor menatap Nyonya Mireya dan Tuan Patricio yang tersenyum sambil mengangguk.


"Ok, kita akan membelinya hari ini. Kau tinggal ambil saja mana yang kau suka, ok!." Ucap Tuan Theodor tidak ingin mengecewakan anaknya.


Darren bersorak senang, dia mengecup kedua pipi Tuan Theodor sebagai tanda sayang dan terima kisah. "Terima kasih, Papa."


"Iya, Nak." Tuan Theodor mengusap rambut kepala Darren namun saat ini pikirannya tertuju pada Gadis. Dia belum sempat menelepon wanita itu. Jangan kan untuk menelepon Gadis, untuk sekedar merebahkan tubuhnya saja belum bisa karena sudah di sambut oleh anak dan calon istrinya.


Tidak mengenal lelah dan sangat berusaha mengesampingkan perasaannya terhadap Gadis, sekitar pukul sepuluh pagi, Tuan Theodor, Darren dan Violetta pergi ke Mall untuk membeli semua mainan yang disukai oleh Darren. Tuan Theodor yang membawa mobil, lagi-lagi mereka menunjukkan potret sebuah keluarga yang utuh dan sangat bahagia.


Sampai di Mall, Darren segera menuju tempat mainan, Darren begitu senang bisa mengambil semua mainan yang selama ini sangat diinginkannya. Bukannya Violetta tidak mampu membelikan itu semua, hanya saja Darren yang menginginkan jika dia memiliki itu semua saat sudah bertemu dengan Papanya. Dan waktu adalah sekarang, dia menjadi anak kecil yang dicintai oleh banyak orang.


Tuan Theodor mengambil kesempatan untuk menghubungi Gadis ketika Violetta sedang membantu Darren memilih dan mencoba beberapa mainan. Sudah lama mencoba menelepon Gadis, namun Gadis belum juga menjawab teleponnya.


Gadis tidak menggubris sedikit pun panggilan dari tuan Theodor, karena hatinya sedang terbakar api cemburu ketika Tuan Domonic yang saat ini ada bersamanya menceritakan kebahagiaan tuan Theodor, Violetta dan Darren.


"Aku ingin kau mundur dari sekarang sebelum terlambat. Aku akan mencarikan tempat tinggal yang baru supaya bisa kau tinggali." Ucap Tuan Domonic memberikan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi oleh Gadis. Dia juga tidak sekonyong-konyong meminta Gadis untuk pergi dari Tuan Theodor kecuali dia sudah siap untuk memfasilitasi Gadis dengan lebih baik lagi.


"Kalau pun saya harus keluar dari apartemen ini, saya akan ikut tinggal bersama kakak saya. Itu lebih baik untuk semuanya." Karena Gadis tahu arah dan tujuan Tuan Dominic memintanya keluar dari apartemen Tuan Theodor. Itu seperti keluar kandang macan tapi justru masuk kandang singa.


"Terserah kau saja, kalau tidak mau menerima tawaran dari ku. Yang jelas Theodor hanya ingin bersenang-senang saja karena pada kenyataanya dia dan Violetta masih saling mencintai dan akan segera menikah." Gadis hanya mengangguk, tidak tahu lagi harus berkata apa. Perasaan cemburu sudah menguasai akal sehatnya.

__ADS_1


Tuan Domonic segera berpamitan ketika ponsel Gadis kembali bergetar namun kali ini dari Nyonya Mireya dan Gadis menjawab panggilan telepon tersebut.


Gadis hanya mengangguk kearah tuan Dominic yang berlalu dari hadapannya sebelum berbicara pada Nyonya Mireya.


"Iya, Nyonya Mireya."


"Kau tidak ke kantor?."


"Tidak, Nyonya Mireya."


"Nanti sore kau ke rumah ya!. Violetta mau belajar memasak makanan kesukaan Theodor."


Gadis terdiam mendapatkan perintah itu, perasaanya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Kini dia telah menaruh hati pada putra pertama di rumah itu.


"Gadis, Kau mendengar ku?."


"Iya, Nyonya Mireya. Saya mendengarkan. Saya akan datang nanti sore, Nyonya."


"Iya, Nyonya Mireya."


Gadis menatap ponsel ketika sambungan telepon sudah terputus dari Nyonya Mireya.


Gadis berusaha memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah sangat lelah. Berharap ketika bangun nanti sudah lebih segar dan berani untuk menghadapi kenyataan yang akan menyakitinya.


.


.


.


Gadis sudah berada di dalam mobil milik Tuan Domonic. Tuan Dominic selalu mencari kesempatan untuk selalu bisa menatap Gadis yang sejak tadi tidak ada mengeluarkan suara.


"Kau akan menyaksikan sendiri kebahagian yang mereka miliki, apa kau sudah siap Gadis untuk melihat itu semua?."

__ADS_1


Gadis hanya mampu mengangguk tanpa ingin menolah kearah Tuan Dominic. Tatapannya masih lurus ke depan.


"Kalau kau tidak siap, kau bisa segara meminta bantuan ku." Lagi-lagi Gadis hanya mengangguk.


Sampai di rumah Nyonya Mireya, Gadis melewati sebuah keluarga yang sedang bercengkrama penuh kehangatan dan kebahagian. Hingga dia tidak mampu untuk melihatnya dan langsung saja menuju area dapur. Menyapa Bibi Dolores, Bibi Victoria dan Tiara yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


"Kau semakin cantik saja Gadis." Puji Tiara yang terakhir memeluk Gadis.


"Kau juga semakin cantik, Tiara?" Balas Gadis sambil melepas pelukan.


Tanpa segan Gadis langsung membantu mereka memasak. Bahkan bisa dibilang, Gadis mengambil alih pekerjaan memasak mereka karena masakan Gadis jauh lebih enak menurut mereka. Dengan senang hati Gadis melakukannya, sedikit mengurangi rasa sakit di dalam hatinya.


Tuan Theodor yang tahu jika Gadis ada berada di rumah ini, tidak bisa berbuat banyak karena Darren dan Violetta selalu menempel padanya.


Sepulangnya dari Mall pun dia belum ada istirahat sama sekali. Waktu dan tenaganya sudah banyak dihabiskan bersama Darren dan Violetta.


Antusias Darren begitu tinggi terhadap dirinya dan beberapa mainan yang dicobanya. Ada beberapa mainan yang memerlukan bantuan darinya sebagai seorang dewasa dan juga sebagai papa.


"Apa Gadis sudah memiliki kekasih?." Tanya Violetta berbisik sambil menatap kearah dapur.


"Aku tidak tahu." Jawab Tuan Theodor tidak bersemangat.


"Apa kau tau, Mama dan Papa akan menjodohkan Gadis dengan Marco?." Violetta membocorkan rencana Nyonya Mireya dan Tuan Patricio untuk Gadis yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.


Tuan Theodor menatap Violetta, berusaha tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Violetta. Namun sayang sepertinya itu benar, karena arah pandangan Tuan Theodor kini beralih pada keluarga Magdalena yang datang. Termasuk ada Marco.


Senyum sumringah dari Nyonya Mireya dan kedua orang tua Magdalena mengandung sebuah isyarat yang tersirat dan tersurat dengan jelas. Hal itu yang ditangkap oleh Tuan Theodor.


Tuan Theodor ikut menyambut kedua orang tua Magdalena, Magdalena dan Marco.


"Akhirnya kau menemukan belahan jiwa yang selama kau cari, Theodor. Kami sungguh sangat senang mendengarnya." Ucap Tuan Rizzo bersalaman dengan Tuan Theodor yang tidak berkomentar apa pun. Karena itu sudah tidak menjadi penting lagi. Jika dibandingkan dangan kabar yang didengarnya dari Violetta.


"Apa benar kalian merencanakan untuk menjodohkan Gadis dengan Marco?." Tanya Tuan Theodor to the points sambil menatap intens Tuan Rizzo, Nyonya Maria, Tuan Patricio dan Nyonya Mireya.

__ADS_1


__ADS_2