Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 33 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Jasmin dan Erna masih bertahan bekerja di pabrik pembuatan keramik terbesar. Padahal, ternyata mereka tidak mudah juga untuk tetap bertahan bekerja di tempat itu. Karena akan selalu ada persaingan diantara para karyawan untuk bisa menjadi yang terbaik. Sehingga mereka akan mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Mungkin hal itu sebenarnya sangat wajah sekali. Namun terkadang sering kali menjadi ancaman bagi karyawan yang lemah.


Jasmin selalu berusaha untuk tetap bersama Erna, begitu juga sebaliknya. Mereka selalu menguatkan untuk satu sama lain dalam kondisi apa pun.


"Erna...Jasmin...kenapa kalian sudah istirahat?. Bukannya pekerjaan kalian belum selesai ya?." Tanya karyawan lain di depan kepala produksi.


"Sudah, Puspa. Kami sudah menyelesaikan pekerjaannya setengah jam sebelum waktu istirahat." Jawab Jasmin selalu jujur, karena dia tidak ingin lagi terjerumus pada pekerjaan yang sebelumnya.


"Jasmin benar, kami selalu mengerjakan apa pun pekerjaan yang diberikan pada kami sebelum waktu jam istirahat. Kau bisa mengeceknya!." Erna tidak tinggal diam melihat sahabatnya dicari kesalahan oleh karyawan lain.


"Tapi itu masih berantakan, coba saja kalian liat sendiri." Ucap Puspa lagi.


Kepala produksi yang baru bergabung di perusahaan itu, merupakan seorang pria yang ternyata menjadi rebutan bagi para karyawan yang hampir seluruhnya adalah wanita.


Dia tidak memihak siapa pun, dia hanya diam mendengar dan melihat apa yang mereka bicarakan.


Erna dan Jasmin segera bergegas ke ruang produksi untuk melihat apa yang dikatakan oleh Puspa. Dan ternyata memang masih ada sisa potongan keramik yang belum dirapikan.


"Pasti ada yang iseng pada kita, Jas."


"Iya. Kau benar, Erna."


Keduanya segera mengumpulkan sisa potongan keramik dan menyimpannya di tempat yang seharusnya.


Jasmin dan Erna melihat ke atas, di sana terdapat CCTV yang tidak jauh dari mereka, dan kalau memang mereka berdua dipermasalahkan karena teledor dalam melakukan pekerjaan, para petinggi yang berkepentingan bisa mengeceknya melalui CCTV. Tidak mungkin CCTV nya mati untuk sekelas perusahaan besar seperti ini.


"Setidaknya kita tidak terlihat terlalu buruk, Erna."


"Hem...kau benar. Ayo kita makan lagi, sebentar lagi waktu istirahat selesai."

__ADS_1


"Ayo, aku sudah sangat lapar sekali." Jasmin berjalan di belakang Erna. Setiap hari ada saja pekerjaan mereka berdua yang bermasalah.


Sampai di kantin, Erna dan Jasmin sudah tidak menemukan nampan berisi makanan milik mereka.


"Mungkin bukan rezeki kita makan siang kali ini." Erna menepuk pelan punggung Jasmin.


"Kau benar. Pulang dari di sini baru kita makan enak." Sahur Erna sambil tersenyum.


Keduanya hanya menyempatkan meneguk air minum untuk mengisi perut mereka yang masih keroncongan.


Berbeda dengan Jasmin dan Erna, saat ini Gadis sedang menikmati makan siangnya sambil memandangi pantai. Dengan lahap Gadis menghabiskan makanannya.


"Nona, tubuh mu kecil tapi makan mu sangat banyak." Ucap pria itu terkekeh geli. Sejak tadi ada saja yang di makan atau di minum oleh Gadis.


"Iya, tuan. Maaf saya lapar sekali. Tadi saya melewatkan sarapan saya." Jawab Gadis jujur, rasa nikmat bercinta tadi pagi menghilangkan rasa lapar dalam perutnya. Namun sekarang Gadis merasa sangat kelaparan.


"Tidak apa, Nona. Makan lah yang banyak." Pria itu begitu senang dengan perilaku Gadis yang apa adanya seperti ini.


Melihat gadis yang selalu berada di bawah kungkungannya bisa tersenyum lepas dengan pria yang baru dikenalnya.


Akhirnya Tuan Theodor bisa menghampiri Gadis dan pria itu setelah meeting benar-benar berakhir. Meeting yang sangat menyita waktu dan tenaga karena di saat yang bersamaan di harus membagi fokus pada pekerjaan dan wanita yang sudah mengisi hati dan pikirannya sedang bersama pria lain.


"Hai...Theodor!. Tumben sekali kau mau menghampiri ku. Ada apa?." Wajah tampan pria itu tersenyum pada tuan Theodor yang datang dengan wajah yang tidak bersahabat.


Gadis menoleh kearah belakang dimana tuannya sudah berdiri dengan wajah yang begitu men


"Tuan!." Gadis segera bangkit dan berdiri.


"Hai nona cantik, kau juga mengenal pria dingin ini?." Pria itu ikut berdiri di sebelah Gadis.

__ADS_1


"Jangan pernah sekali-kali untuk berpikir bisa mendekati istri ku, Alesandro!." Ucap Tuan Theodor menjawab rasa penasaran tuan Alesandro.


Iya, pria yang sedari tadi berbicara dengan Gadis adalah tuan Alesandro Miguel. Salah satu pesaing terkuat bisnis tuan Theodor.


Gadis menatap tidak percaya pada tuannya, bagiamana bisa tuannya mengatakan pada kliennya jika dirinya adalah istrinya?. Oh mimpi apa dirinya semalam?.


"Istri?. Kau sudah menikah dan aku tidak mengetahuinya?. Violetta?. Bukannya Violetta adalah cinta matinya seorang Theodor Oliver?. Namun bagaimana kini kau bisa bisa menikah dengan nona cantik ini?." Tuan Alesandro sangat terkejut pastinya sampai dia mencecar tuan Theodor dengan banyak pertanyaan. Namun sepertinya Tuan Theodor tidak ingin menjawab apa pun.


"Nona cantik, kamu sungguh istri dari pria dingin ini?." Gadis hendak menggeleng untuk menyangkalnya namun tubuhnya sudah dipeluk dengan bibir yang saling menempel.


Tuan Theodor mencium mesra bibir Gadis yang menggoda di depan tuan Alesandro. Dan Gadis meresponnya dengan tidak kalah mesra.


Tuan Alesandro melihat ketulusan dari keduanya dan tuan Alesandro bisa memastikan jika antara Tuan Theodor dan Gadis saling mencintai.


"Ok, aku percaya." Ucap Tuan Alesandro ketika Tuan Theodor dan Gadis selesai berciuman dan tuan Theodor dengan posesif merangkul pinggang Gadis.


Tuan Alesandro hanya mempu menggelengkan kepalanya berulang kali melihat sikap acuh Tuan Theodor. Pergi begitu saja dari hadapannya tanpa pamit sepatah kata pun.


Sampai di kamar hotel sudah malam hari, sekitar pukul delapan malam. Karena tuan Theodor mengajak Gadis untuk membeli beberapa pakaian dan beberapa kebutuhan untuk mereka.


"Aku tidak ingin tidak mendapatkan jatah dari kau sebelum akhir bulan ini. Pasti aku akan berpuasa selama 7 sampai 10 hari dan itu sangat menyiksa ku, Gadis." Tuan Theodor meremas kedua bokong Gadis, pria itu menyerahkan pakaian super minim pada Gadis. Gadis hanya tersenyum manis sambil melenggang pergi ke kamar mandi dengan pakaian minim di tangannya.


Sedangkan Tuan Dominic yang sedang menghitung hari pernikahannya dengan Magdalena hanya tersenyum miris menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Hanya mampu menyesali kebodohannya dengan menyimpan perasaannya selama ini untuk Gadis. Tuan Dominic tidak bisa berbuat banyak selama dia masih berada di dalam perusahaan Tuan Patricio. Tapi dia juga tidak bisa pergi kemana pun.


Luapan emosi yang sudah menggunung, kenyataan wanita yang sangat dicintainya justru sudah lebih dulu dimiliki oleh kakaknya sendiri.


Prang...


Pecahan kaca itu seketika berhamburan, berserakan di atas lantai ketika tuan Dominic melayangkan pukulan pada pantulan dirinya di dalam cermin.

__ADS_1


"Sekali kau menjadi pecundang, selamanya kau akan tetap menjadi pencundang" tuan Dominic menatap nanar pada darah yang menetes dari tangan kanannya.


__ADS_2