
"Kau tahu jam berapa sekarang?." Gadis langsung menatap jarum jam yang ada pada jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
"Ternyata sudah jam satu malam." Batin Gadis.
"Jangan karena kau sudah memilik akses untuk masuk ke sini jadi kau berlaku sesuka hati seperti ini!." Ucap Tuan Theodor bernada sinis.
"Maaf, kejadian ini tidak akan terulang lagi." Gadis tahu dia salah, tapi dia tidak memiliki maksud untuk bertindak semaunya. Hanya saja dia ingin mencari keberadaan kakaknya. Ingin rasanya dia mengatakannya dengan kertas kalau dia sedang mencari kakaknya, tapi sepertnya Tuan Theodor tidak akan mempedulikan itu. Hingga dia hanya bisa memendamnya.
"Kemarin malam kau menolak untuk ku ajak ke tempat hiburan itu. Tapi malam ini kau datang bersama pria lain. Apa kalian bersenang-senang?." Tuan Theodor mengikis jarak di antara keduanya. Dengan reflek Gadis memundurkan langkahnya namun sudah terhenti karena tangan kekar Tuan Theodor sudah membelit pada pinggangnya.
"Lepas!." Bentak Gadis sambil mendorong tubuh kekar itu. Namun tentu saja tidak berhasil. Tangan itu semakin mengerat pada pinggangnya.
"Kalian bersenang-senang?, bagian mana saja yang sudah dia sentuh?." Tuan Theodor melayangkan tatapan yang begitu tajam sampai mampu menembus hati Gadis.
Dada bidang Tuan Theodor menghimpit bagian dada Gadis dengan sengaja. Hingga Gadis berusaha berontak, mendorong dada bidang itu tapi tetap belum berhasil.
Kini tangan kekar Tuan Theodor meremas bokong Gadis yang sangat kenyal dan begitu menggoda.
Air mata gadis menetes kala mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan yang didapatkan dari majikannya.
"Cih, kau sangat munafik sekali. Sekarang saja kau menangis, mungkin tadi di tempat hiburan itu kau mendesah kenikmatan." Tuan Theodor mendorong kuat tubuh Gadis ke samping, hingga membentur daun pintu.
Tanpa perasaan Tuan Theodor pergi begitu saja, kembali menuju kamarnya.
Rasa sakit pada tubuhnya tidak seberapa dengan sakit hati karena ucapan dan tuduhan Tuannya yang tidak beralasan. Kenapa bisa Tuannya berperilaku buruk padanya?. Tidak seperti yang lainnya. Yang begitu baik padanya.
Ah, untuk pertama kalinya dirinya berpikir untuk keluar dari pekerjaan ini.
Gadis berusaha bangkit lalu membawa sakit pada tubuh dan hatinya.
Di dalam kamar Tuan Theodor, pria tampan itu menatap dirinya di depan cermin. Kemarahan apa yang dimilikinya pada Gadis?. Kenapa bisa dirinya begitu marah dan kasar pada Gadis?.
"Ah...sial." Dia mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Setelah melewati malam yang cukup buruk bagi Gadis. Gadis muda itu merasakan sakit pada tubuhnya, lelah yang teramat sangat. Mungkin disebabkan karena kurang tidur, pola makan yang berantakan atau sebenarnya karen tekanan yang dialaminya beberapa kali dari Tuannya.
Gadis memaksakan bangun untuk menyiapkan sarapan karena sudah jelas enam pagi. Ketika dia membuka pintu, Gadis mendapati note yang menempel di sana.
"Buat lah makanan untuk kau sendiri, karena satu bulan ini aku pergi karena urusan pekerjaan." Itu lah bunyi note yang ditulis oleh Tuan Theodor.
"Untung saja aku tidak harus memasak, karena tubuh ku benar-benar sakit semua." Gadis menutup pintu lagi dan menyelimuti tubuhnya, setelah menyempatkan diri mengirim pesan pada dosen untuk tidak masuk kampus karena kurang enak badan.
Tidak terasa sudah pukul sepuluh malam, keadaan dirinya bukan membaik malah justru semakin parah. Bahkan dia merasa sulit untuk sekedar bangun atau turun dari tempat tidur. Kepalanya begitu terasa berat sekali, dia hanya minum air mineral yang tersedia di dalam kamar saja.
Gadis memaksakan dirinya untuk bangun pagi ini, dia menghubungi Bibi Dolores untuk meminta bantuan.
Tidak sampai dua jam, Bibi Dolores sudah datang namun tidak sendiri melainkan bersama Nyonya Mireya dan Dokter keluarga mereka.
Bibi Dolores membantu Gadis berganti pakaian, ada beberapa pemandangan yang cukup menganggu dari tubuh Gadis. Namun Bibi Dolores berusaha mengabaikannya.
Dokter segera memeriksa keadaan Gadis secara intens lalu menyerahkan resep pada Bibi Dolores. Dokter mengatakan jika lambungnya bermasalah dan hanya karena kelelahan saja. Mungkin dua samapi tiga hari, Gadis sudah membaik.
Dokter pun pamit setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bibi Dolores segera menebus obat untuk Gadis di Apotik terdekat dengan diantar oleh supir.
Benar saja ada satu luka lebam cukup besar dan beberapa luka tidak terlalu besar namun cukup sangat terlihat jelas pada kulit Gadis yang putih.
Gadis menggeleng lemah, dia tidak memperhatikan tubuhnya sendiri. Mungkin akibat benturan, tapi tidak mungkin dia mengatakannya pada Nyonya Mireya.
"Mungkin hanya karena kelelahan saja, Nyonya Mireya. Nanti juga akan hilang dangan sendirinya."
"Itu luka lebam, Gadis!. Itu harus diobati."
Nyonya Mireya menghubungi dokter lagi dan menanyakan obat untuk luar untuk luka lebam, lalu setelahnya memberikan resep itu pada Bibi Dolores melalui pesan singkat.
Nyonya Mireya tidak menanyakan pada pun lagi pada Gadis. Nyonya Mireya meminta Gadis untuk istirahat dan Bibi Dolores yang akan menemaninya.
Nyonya Mireya pun pamit setelah Bibi Dolores sampai di apartemen.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Nyonya Mireya."
"Iya, semoga kau cepat sembuh. Jangan lupa kau habiskan obatnya."
"Iya, Nyonya Mireya."
Bibi Dolores mengantarkan Nyonya Mireya sampai di pintu, kemudian dia menemui Gadis lagi di kamar. Dia melihat Gadis yang duduk menyandar pada kepala tempat tidur.
"Kau mengantuk?."
Gadis menggeleng menatap Bibi Dolores.
"Atau mau dibuatkan sesuatu yang mau kau makan?."
Gadis kembali menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah lama dia tidak berbicara banyak hal lagi dengan Bibi Dolores. Ini lah kesempatan baginya untuk menumpahkan semua yang dipendamnya.
Bibi Dolores yang mengerti dengan tatapan Gadis, wanita itu duduk di sebelah Gadis sambil menggenggam tangannya.
"Menangis lah!, jika itu bisa mengurangi rasa sakit mu." Bibi Dolores menyandarkan kepala Gadis pada bahunya.
Untuk beberapa menit tangis itu pun terdengar begitu memilukan. Beban itu dia tanggung nya seorang diri. Dikiranya dia akan semakin kuat dengan beban yang semakin berat, tapi rupanya dia salah justru pada akhirnya dia tumbang juga.
Dia juga mulai menceritakan tentang apa yang dialaminya pada Bibi Dolores, tanpa ada yang terlewatkan satu pun. Harus ada seseorang yang tahu, apa saja yang sudah dialaminya. Jadi jika nanti dirinya kenapa-napa di apartemen ini, sudah tahu siapa yang harus disalahkan.
"Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini?" Gadis menghapus air matanya, merapikan rambut lalu mengikatnya.
"Kalau kau mau berhenti, lalu kau mau kerja apa?. Atau kau mau kembali ke rumah, Nyonya Mireya?."
"Iya, kalau boleh aku ingin kembali di rumah Nyonya Mireya."
"Baik, nanti coba Bibi bicarakan pada Nyonya Mireya."
"Sekarang kau istirahat, biar cepat sembuh." Gadis mengangguk, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegang lengan Bibi Dolores.
__ADS_1
Waktu berjalan semakin cepat, tidak terasa sudah lebih dari tiga Minggu dari kesembuhan dirinya. Gadis kembali disibukkan dengan belajar dan membersihkan apartemen. Tapi beberapa Minggu ini dia merasa sangat tenang karena tidak ada pemilik apartemen.
Ada kesibukan yang sudah satu Minggu ini digeluti oleh Gadis, yaitu berusaha mencari pekerjaan yang layak untuk dirinya. Pekerjaan apa pun, asalkan tidak ada sentuhan fisik seperti yang sudah terjadi.