Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 21 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis sudah berdiri di hadapan Tuan Theodor dengan gaun tidur yang sudah disiapkan.


Gadis membuang malu dan harga dirinya pada setumpuk uang yang akan menyelamatkan kakaknya. Meski pun Jasmin sudah banyak menorehkan luka padanya. Namun ikatan darah lebih kental dari pada air. Jadi dia mau melakukan ini demi Jasmin dan Ibunya.


Tuan Theodor bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Gadis.


"Apa yang kau minta?, berapa nominalnya?. Aku tidak ingin menjamah sebelum aku lunasi!." Ucapnya sambil memegang dagu Gadis.


"Mari kita buat kesepakatan sebelum kita bermain sampai puas."


Gadis menarik nafas untuk menutupi kegugupan dan rasa takutnya. Setelahnya lalu dia buka suara.


"Bayar semua hutang kakak ku, berikan kehidupan yang layak padanya, berikan dia pekerjaan supaya dia bisa melanjutkan hidupnya. Bebaskan kakak ku dari Paman dan Bibi ku."


Tuan Theodor tersenyum tipis. "Jadi semua ini untuk kakak tercinta, Jasmin. Hanya untuk Jasmin, tidak ada satu hal pun untuk kau sendiri?."


"Iya, semua ini untuk kakak ku."


"Baik kalau begitu, aku akan mengurus semuanya."


Di hadapan Gadis, dia segera menghubungi Romi dan memintanya untuk memenuhi apa yang disebutkan oleh Gadis. Mulai dari membayar hutang sekaligus membayar kebebasan Jasmin dari Paman dan Bibinya. Membelikan Jasmin satu rumah berukuran kecil, namun cukup nyaman lengkap dengan perabotan rumah tangga, serta pekerjaan yang cukup baik untuk menopang hidup Jasmin setelah bebas. Serta memutus hubungan Jasmin dari Paman dan Bibinya dengan sebuah perjanjian yang berkekuatan hukum.


"Aku rasa itu sudah lebih dari pada cukup untuk mengikat kau seumur hidup di atas ranjang ku."


Malam ini, Gadis menukar dirinya untuk kebebasan sang kakak. Sama-sama bermandikan dosa dan nista. Kebebasan yang akan di dapat Jasmin harus merenggut kebebasan hidup Gadis dengan menjadi seorang pemuas dari Tuan Theodor Oliver.


Tanpa ingin membuang waktu sedikit pun, Tuan Theodor menjadikan malam ini malam untuk dirinya dan Gadis.


.


.


.


Tuan Theodor terjaga semalaman karena rasa yang begitu membuncah memenuhi setiap sudut relung hatinya.


Dia menjadikan Gadis miliknya seutuhnya, tidak ada satu inci pun yang terlewat dari sentuhan Tuan Theodor.


Meski pun hanya satu kali penyatuan, namun rasanya masih terasa sampai pagi ini.


Darah yang menempel pada sprei putih menjadi saksi kegadisan Gadis sudah hilang dan didapatkan oleh Tuan Theodor yang sudah membayarnya sangat teramat mahal.


"Kau tidak perlu ke kantor hari ini. Buat kan aku sarapan saja." Ucap Tuan Theodor kala melihat Gadis sudah bangun dan duduk dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Iya, Tuan Theodor." Gadis meraih jubah yang diberikan oleh Tuan Theodor. Lalu dipakai untuk menutupi tubuh polosnya.


Gadis menoleh kearah sprei yang terdapat banyak becak darahnya. "Biarkan saja, nanti aku yang akan mengganti sprei nya."


Gadis mengangguk lalu sangat berusaha berjalan dengan normal menuju dapur.


Sekilas Gadis menatap pintu kamarnya yang tertutup. "Gadis Adelia sudah mati, sekarang yang ada hanya Gadis pemuas Tuan Theodor." Batinnya sambil menghapus air mata.


Hampir satu jam di dapur, Gadis sudah menyajikan makanan untuk Tuannya. Dia kembali berjalan ke kamar dan memberitahu Tuan Theodor kalau sarapannya sudah siap.


"Nanti siang Romi akan ke sini membawa semua dokumen, kau simpan baik-baik semua dokumen itu."


Gadis mengangguk lalu hendak pergi dari kamar Tuan Theodor.


"Kau belum mandi kan?." Gadis menggeleng. "Ayo kita mandi bersama!." Ajak Tuan Theodor sambil menarik tali jubah sehingga lepas dari tubuh Gadis.


Selesai mandi bersama dan melakukan kembali satu kali penyatuan, Tuan Theodor yang sudah rapi dengan setelan kantor dan Gadis yang hanya mengenakan pakaian santai sudah di meja makan. Mulai menyantap sarapannya yang sudah dibuat oleh Gadis.


"Aku hanya meeting siang ini, setelahnya aku pulang." Ucap Tuan Theodor usai menghabiskan sarapannya.


"Iya, Tuan Theodor." Gadis bangkit dan menatap kepergian Tuan Theodor.


Gadis langsung menuju kamar setelah pintu apartemen tertutup. Dia melihat posnelnya di atas kasur.


Terdapat banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Tuan Dominic dan Galang. Serta pesan yang baru dikirimkan oleh Erna.


"Semoga Kak Jasmin dan Kak Erna bisa hidup lebih lagi setelah ini." Gumam Gadis sambil membalas pesan dari Erna.


Kemudian membuka pesan dari Galang, air mata Gadis sudah menetes ketika Galang menyanggupi untuk meminjamkannya uang dan dia juga menyampaikan permohonan maafnya karena lama membalas pesannya disebabkan oleh dia harus memastikan keuangannya aman. Dan dia beralih pada pesan Tuan Dominic yang juga mengatakan kalau dia bersedia meminjamkan dirinya uang, namun karena ada urusan bersama Mama dan Magdalena jadi dia tidak terlalu fokus pada ponselnya.


"Nasi sudah menjadi bubur, aku sudah hancur dan memilih jalan ku sendiri. Semoga saja aku masih memiliki keberanian untuk menatap dunia dan orang-orang di sekitar ku." Batin Gadis.


Gadis pun pada akhirnya membalas pesan Galang dan Tuan Dominic kalau dia tidak jadi meminjam uang tersebut karena masalahnya sudah selesai dengan baik. Supaya tidak sampai berkepanjangan.


Siang harinya, Gadis sudah menyiapkan makan siang untuk Tuan Theodor. Karena dia akan segera pulang. Dan benar saja saat dirinya menyajikan makanannya, Tuan Theodor datang dengan wajah yang sumringah.


"Nanti sore kita akan ke rumah Mama, ada keluarga Yacob yang akan makan malam di sana." Ucap Tuan Theodor sambil duduk di kursi.


"Iya, Tuan Theodor."


"Duduk lah!, kita makan bersama."


Gadis ikut di duduk di sisi kanan Tuan Theodor.

__ADS_1


"Apa masih sakit?." Gadis segera menggeleng tanpa berani menatap mata Tuan Theodor.


"Bagus lah." Balas singkat.


"Oh iya, aku lupa. Romi sedang dalam perjalanan ke sini. Karena tadi dia harus mengantar ku meeting."


"Iya, Tuan Theodor."


Yang dibicarakan pun sudah datang bersamaan dengan acara makan siang mereka selesai.


Romi menyerahkan semua yang diminta oleh Tuan Theodor lalu dia kembali pamit sebab pekerjanya sudah selesai di jamin rapi tidak akan ada masalah.


"Buka dan kau baca baik-baik. Semua sudah aku penuhi apa yang kau minta."


Gadis mulai membuka dan membaca satu persatu dokumen yang semuanya sudah atas nama Jasmin. Tanpa ada yang terlewati bahkan sebagai bonusnya Erna juga ikut bebas. Kemudian Gadis menutup semua dokumennya.


"Terima kasih banyak, Tuan Theodor."


"Kenapa kau harus berterima kasih?, kau mendapatkan itu semua tidak gratis karena harus kau bayar dengan seumur hidup kau menjadi pemuas ku." Gadis memejamkan mata ketika tuannya mengingatnya status baru yang disandangnya, sebagai pemuas.


Sementara itu di rumah Nyonya Mireya, kesibukan sudah mulai terlihat.


"Tadi aku tidak melihat Gadis di kantor, Ma. Tapi kata Theodor dia tidak bekerja karena hanya tidak enak badan saja. Tapi sore ini dia datang bersama Theodor." Ucap Tuan Dominic yang baru sampai di rumah.


"Iya, tadi juga Theodor sudah mengatakan pada Mama."


"Ma..."


"Hem...ada apa?."


"Kenapa Mama tidak mencoba mendekatkan Carmen dengan Theodor?. Aku rasa dia mau mendengarkan Mama."


"Mama sudah sering bilang pada Theodor, tapi dia tidak mau. Entah lah apa yang ada dipikiran anak itu. Mungkin benar apa yang dia bilang, kalau dia mau hidup melajang."


"Tapi kalau sama wanita lain?."


"Siapa?." Nyonya Mireya menatap Tuan Domonic dengan intens.


"Memangnya sekarang Theodor sedang dekat dengan wanita mana?."


"Tidak ada Ma, ya siapa tahu Mama punya kenalan yang memiliki anak seusia ku atau Theodor."


"Mama sudah malu, kalau harus menjodohkan Theodor. Semuanya di tolak dengan berbagai macam alasan. Jadi Mama Papa sudah tidak ingin mencampuri masalah pribadi Theodor."

__ADS_1


Tuan Dominic menganggukkan kepalanya, dia sangat tahu betul kenapa sampai sekarang kakaknya itu masih betah sendiri. Tidak lain tidak bukan itu semua karena Violetta. Cinta dan Gadis pertama yang ditiduri oleh Tuan Theodor.


"Tapi kenapa Violetta pergi?." Batin Tuan Domonic.


__ADS_2