
Selama berjalannya meeting, perhatian Tuan Theodor tertuju pada dua wanita yang ada di sisi kiri dan kanannya. Sisi kiri dimana Violetta berada dan sisi kanan ada Gadis dan disebelahnya ada Tuan Dominic yang selalu mencari perhatian Gadis.
Hingga sampai meeting selesai, Tuan Theodor masih fokus pada keduanya. Terlebih pada Gadis yang diajak makan siang oleh Tuan Dominic dan Gadis menyetujuinya.
"Wanita itu Violetta, mungkin kau sudah pernah mendengar sebelumya saat pertengkaran ku beberapa waktu bersama Theodor." Gadis mengangguk mengiyakan. Dia masih mengingatnya.
"Cinta dan wanita pertama Theodor, makanya Theodor masih mencintainya sampai sekarang. Carmen yang sudah berusaha sekuat apa pun untuk meluluhkan Theodor, tidak mampu menyentuh hati dan tubuh Theodor karena semuanya masih tentang Violetta." Gadis menelan saliva nya kasar, hanya wanita murahan seperti dirinya yang bisa berada di atas tempat tidur bersama Tuan Theodor, bukan wanita baik-baik dari kalangan orang terpandang. Sungguh sangat miris memang.
"Makanya kau belum pernah melihat Theodor dekat bersama wanita lain kan?. kecuali wanita malam yang memenuhi kebutuhan hasratnya." Lagi-lagi Gadis menelan saliva, wanita murahan seperti dirinya. Kenapa rasanya semakin sakit ketika kata wanita murahan tersemat untuknya.
Sementara itu, tatapan Tuan Theodor tidak sedikit pun lepas dari Gadis yang terlihat asyik berbicara dangan Tuan Domonic. Padahal Gadis hanya menjadi pendengar yang baik bagi Tuan Dominic.
"Sepertinya kau hidup dengan sangat baik tanpa aku." Ucap Violetta mengikuti arah tatapan Tuan Theodor.
"Iya, kau benar. Aku harus melanjutkan hidup meski harus berjalan seorang diri." Balas Tuan Theodor tanpa melepaskan pandangan dari Gadis.
"Aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahu apa pun." Baru lah pandangan Tuan Theodor memfokuskan pandangannya pada sosok wanita yang sedang duduk dekat dengan dirinya.
"Kenapa kau pergi dari ku?." Tanyanya mulai terbakar api amarah.
"Kau bilang tidak ingin menikah, sementara waktu itu aku..." Violetta tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika ponselnya berdering dan memperlihatkan nama Darren pada layar ponselnya.
Violetta menjawab panggilan teleponnya untuk beberapa saat, lalu dia segera berpamitan pada Tuan Theodor karena harus menjemput Darren.
"Aku harus pulang, mungkin lain waktu kita bisa bicara lagi." Violetta pergi membawa tas kerja dan sebentar mengecup pipi Tuan Theodor walau agak ragu namun tidak ada penolakan sedikit pun dari Tuan Theodor, hingga senyum tipis terlihat jelas dari wajah cantik Violetta. Dan pemandangan itu terlihat jelas oleh Gadis dan Tuan Domonic.
"Aku rasa sebentar lagi mereka akan segera kembali."
"Semoga saja mereka bisa melanjutkan cerita cinta mereka yang belum selesai." Ucap Gadis menimpali.
"Iya, Gadis. Semoga saja." Balas Tuan Dominic.
Sekarang waktunya mereka kembali ke kantor. Karena masih banyak pekerjaan yang sudah menunggu mereka semua.
Langsung saja Gadis mulai mengerjakan satu persatu pekerjaan yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.
Sampai dengan waktu menunjukan pukul sembilan malam Gadis masih asyik dengan pekerjaannya, supaya besok dia bisa pergi ke tempat kakaknya untuk yang pertama kali. Setelah beberapa waktu lalu, Gadis belum bisa menerima ajakan Jasmin untuk makan bersama di rumah mereka. Dengan alasan ujian dan pekerjaan.
__ADS_1
Tuan Theodor yang semenjak pulang dari meeting tidak terlihat batang hidungnya di kantor, kini muncul di hadapan Gadis dengan penampilan yang acak-acakan.
"Kau belum pulang?." Tanyanya sambil menuju meja kerjanya.
"Iya, Tuan Theodor. Saya ingin menyelesaikan pekerjaan ini karena besok saya mau pergi..."
"Bersama Domonic?."
Gadis terdiam saat Tuan Theodor memotong ucapan sekaligus menebaknya.
Gadis menggeleng tapi Tuan Theodor tidak melihatnya.
"Kau senang sekali menjalin hubungan dengan pria yang sebentar lagi akan menikah. Apa kau akan menggoda Dominic dengan tubuh yang sama dengan yang aku nikmati?."
Gadis berusaha mengabaikan tuduhan yang dialamatkan padanya, dia kembali fokus pada pekerjaan yang ada didepannya.
"Berhenti bekerja dan datang pada ku!."
Gadis tidak mendengarkan perintah dari tuannya hingga Tuan Theodor menggebrak meja dan kembali memanggil Gadis.
Deg
Untuk pertama kalinya dia begitu sakit hati dengan kata-kata yang keluar dari mulut yang selalu menjamah seluruh tubuhnya.
Gadis menatap pria yang telah memanggilnya. Dia bangkit berdiri dan datang mendekati Tuan Theodor.
Tanpa diperintah Gadis duduk di atas pangkuan Tuannya. Kedua paha mulus itu terekspos dengan sempurna bersaman dengan roknya yang naik sampai pangkal paha.
Tatapan keduanya saling mengunci, baik Tuan Theodor atau pun Gadis memancarkan arti tatapan yang berbeda.
Tangan kekar itu mulai perlahan menyentuh paha mulus Gadis hingga ke atas menyentuh salah satu gunung kembarnya.
"Apa kau akan memberikan semua ini pada pria lain selain aku?." Perih, itu yang dirasakan Gadis.
"Kalau Tuan Theodor melepas dan melempar saya pada pria lain, mungkin saja itu terjadi."
Dengan penuh kilatan amarah Tuan Theodor menarik rambut Gadis hingga Gadis mendongak. Memperlihatkan leher jenjang nan mulus yang tidak ada tanda kepemilikannya. Sebab dia selalu berpikir, akan sulit untuk menyembunyikan tanda merah jika dibuat pada leher Gadis. Namun malam ini, di kantor miliknya, Tuan Theodor menghisap kuat leher itu sampai beberapa kali pada tempat yang berbeda.
__ADS_1
Gadis memejamkan mata ketika cairan bening itu lolos dari matanya. Dia menyembunyikan air mata itu dibalik pelukannya pada Tuan Theodor yang tiba-tiba.
Pakaian mereka sudah lepas dan berserakan di bawah kursi. Ini untuk pertama kalinya Tuan Theodor melakukan penyatuan bersama wanita selama dirinya bekerja di kantor ini atau pun di kantor yang ada di Spanyol. Ini merupakan hal tergila yang pernah dilakukannya.
Seisi ruangan itu menjadi saksi betapa gagah dan perkasanya seorang pria yang bernama Theodor Oliver. Dia menggagahi seorang wanita cantik di dalam ruang kerjanya.
Penyatuan mereka berlangsung cukup lama, karena seperti biasa Tuan Theodor yang tidak pernah merasa puas dengan hanya satu kali melakukan penyatuan.
"Aku tidak akan pernah melempar kau pada pria mana pun di luar sana. Sebab hanya kau yang akan menjadi pemuas ku selamanya."
"Meski pun Nona Violetta sudah kembali pada Tuan?."
"Jangan pernah menyebut namanya, aku tidak suka. Bersama siapa pun nantinya aku. Kau tetap akan menjadi pemuas ku!." Tuan Theodor bangkit dan melepaskan penyatuan mereka saat sudah jam tiga dini hari.
Tidak ingin meratapi nasib atas jalan yang sudah diambilnya, Gadis segera mengenakan kembali pakaiannya dan bersiap akan pulang sesuai instruksi dari Tuan Theodor. Mereka akan pulang bersama.
Belum puas melakukannya di dalam ruang kerja, Tuan Theodor melakukanya kembali setelah mereka sampai di apartemen. Kali ini kolam renang yang menjadi tempat bercinta mereka di waktu menjelang pagi. Sampai pukul lima pagi baru kegiatan panas mereka selesai.
"Kau mau pergi kemana?." Tanya Tuan Theodor baik-baik saat mereka sudah berpakaian santai.
"Saya akan mengunjungi kak Jasmin, mungkin sore saya baru pulang." Jawab Gadis jujur.
"Kalau bisa jangan terlalu lama kau perginya, karena hari ini aku tidak kemana-mana."
"Iya, Tuan Theodor."
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang semenjak kepergian Gadis, Tuan Theodor masih bersabar untuk menunggunya dengan tubuh yang sudah terasa demam.
Senyum Tuan Theodor tercetak saat pintu apartemen ada yang mengetuknya.
Meski sempat merasa heran kenapa Gadis harus mengetuk pintu, mungkin dia lupa membawa kunci dan sudah tahu jika ada tuannya di dalam.
Pintu pun terbuka dengan lebar dan senyum itu seketika hilang kala wanita yang sedang ditunggunya malah berubah menjadi wanita yang sudah meninggalkannya.
"Violetta!."
"Dari mana wanita itu tahu jika aku tinggal di sini?." Batin Tuan Theodor.
__ADS_1