
Sorot mata keduanya saling bertemu untuk beberapa detik dan tangan tuan Theodor masih menggenggam erat tangan Gadis. Hingga Gadis menyadari semuanya salah dan tidak sepantasnya dia menerima perlakuan seperti itu dari yang bukan siapa-siapa nya lagi.
Gadis menggeser tubuhnya, menjauh dari tuan Theodor yang berjongkok didepannya. Tuan Theodor ikut bangkit namun tetap menjaga jarak, dia tidak ingin membuat Gadis tidak nyaman.
"Tuan tidak memiliki kepentingan apa pun di sini, jadi tolong tinggalkan tempat ini!." Ucap Gadis sambil merapatkan tubuhnya pada tembok yang ada dibelakangnya karena dia begitu lemah. Selalu mengatakan hal yang sangat berbanding terbalik dengan isi hatinya.
"Biarkan aku menemani mu di sini!. Aku ingin tetap tinggal di sini!." Aku janji tidak akan mendekati mu, hanya di sini saja." Tuan Theodor langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi yang cukup jauh dari Gadis. Gadis mengalah, dia mendudukkan
dirinya di kuris yang paling ujung.
Darren hanya melihat dari kejauhan saja, apa yang telah dilakukan oleh Papanya. Dia semakin penasaran siapa wanita yang bersama Papanya. Dia akan mencari tahunya sendiri, lalu dia kembali ke ruangan Mamanya.
"Darren, dari mana?." Nyonya Mireya melihat Darren yang baru masuk.
"Darren tidak bisa tidur, jadi iseng saja cari angin Nek." Darren tersenyum lalu duduk di sebelah neneknya.
"Apa ada yang kamu pikirkan?." Nyonya Mireya mengusap rambut cucunya dengan sayang.
"Tidak ada Nek. Sekarang kita tidur yuk Nek!. Aku sudah mulai mengantuk." Darren langsung menutup kedua matanya yang belum mengantuk sama sekali. Namun dia tidak ingin neneknya semakin banyak bertanya.
Pagi-pagi sekali Tuan Theodor sudah meninggalkan Gadis. Berbarengan dengan Gadis yang pergi ke mushola untuk melaksanakan kewajibannya.
Mengadukan semua segala kesedihan, ketakutan dan rasa bersalahnya terhadap orang yang pernah disakitinya.
Anggap saja ini sebagai teguran untuk dirinya, setelah ini Gadis harus bisa hidup lebih baik dan lebih mendekatkan diri lagi pada sang pencipta. Menyerahkan segala urusan yang tidak bisa diselesaikannya.
__ADS_1
"Semalam kau tidur dimana?." Tanya Violetta yang melihat Theodor baru masuk ke dalam ruangan. Keduanya menatap Darren yang lebih memilih untuk keluar, tidak ingin mendengar obrolan keduanya yang akan berakhir dengan pertengkaran.
"Aku ada di luar." Tuan Theodor menatap bayi yang baru lahir dengan mata yang masih terpejam.
"Aku tanya Mama dan Papa, kau tidak ada di luar atau dimana pun?. Kau menemui Gadis?."
Tuan Theodor menatap lekat wajah bayi yang dilahirkan oleh Violetta. Darah daginganya lagi yang lahir dari rahim Violetta. Bukan dari rahim wanita yang diinginkannya menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Aku benar 'kan?. Kau habis menemuinya?. Kau tidur lagi bersamanya 'kan. Dasar kalian pasangan tidak punya hati!."
"Cukup!." Tuan Theodor hendak pergi dari ruangan Violetta setelah mengecup bayi mungil itu. Namun langkahnya terhenti karena kehadiran Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.
"Kau mau kemana lagi?." Tanya tuan Patricio menahan lengan tuan Theodor.
"Kita akan menemui keluarga yang sudah menyelamatkan Violetta dan bayi kalian. Kita akan memberikan santunan untuk mereka dan pengobatan terbaik sampai pasien sembuh." Lanjut Tuan Patricio.
"Iya Ma."
Hanya Erna yang saat ini berjaga di depan ruangan Hanin. Gadis sedang berada di mushola, menyempatkan diri untuk selalu sujud di setiap waktu yang dimilikinya. Menyerahkan semuanya pada sang pemilik hidup.
Nyonya Mireya, Tuan Patricio, Tuan Theodor dan Violeta sudah berpakaian khusus untuk melihat orang yang sudah menyelamatkan Violetta dan bayinya. Tentunya dengan cara bergantian masuk ke dalam ruangan itu dan didampingi oleh seorang dokter.
Tidak ada yang tidak terkejut saat Nyonya Mireya, tuan Patricio dan Violetta. Mengetahui jika Hanin lah yang telah menyelamatkan nyawa Violetta dan bayi yang dikandungnya.
Wajah penuh keterkejutan di tunjukkan oleh semuanya kecuali tuan Theodor. Nyonya Mireya sampai harus memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan sesak.
__ADS_1
"Hanin, anak itu sangat cantik. Malah harus terbaring tidak sadarkan diri di sana." Ucap Nyonya Mireya saat mereka menunggu orang tua dari Hanin yang sudah diinfokan oleh Erna jika ibu dari Hanin sedang di mushola. Dan dokter kembali bertugas ditempatnya.
"Kenapa anak sekecil itu mengerti untuk menolong nyama orang lain?, kenapa anak sekecil itu harus peduli pada keselamatan orang dewasa?. Sampai dia rela terbaring di sana untuk keselamatan yang lain." Tanpa terasa air mata Nyonya Mireya tumpah begitu saja. Mengingat pertemuan pertamanya beberapa waktu lalu yang cukup membekas di dalam ingatannya.
"Hanin anak yang sangat hebat, pasti terkahir dari wanita yang sangat hebat pula. Rela mengorbankan nyawanya demi orang lain yang tidak dikenalnya. Padahal kita belum tentu mau melakukanya." Timpal Tuan Patricio.
"Ini semua karena aku, karena menyelamatkan aku dan bayi ku. Maka aku akan melakukan apa pun untuk Hanin, untuk membalas semua kebaikan Hanin pada kita." Violetta ikut menimpali juga. Bagaimana pun dia seorang ibu, pasti ibunya Hanin akan sangat bersedih dengan kondisi Hanin yang seperti sekarang ini.
Tuan Theodor hanya manjadi pendengar yang baik bagi ketiga orang terdekatnya. Ternyata Hanin sudah memiliki tempat dan cerita dari ketiganya. Bagaimana kalau benar apa yang diselidikinya, jika Hanin adalah putrinya bersama Gadis?. Pasti sebuah kehancuran yang akan dirasakan oleh mereka termasuk dirinya juga. Bahkan terlebih dirinya, dirinya akan menyesal seumur hidup dan tidak akan pernah memaafkan dirinya.
Gadis yang baru keluar dari mushola segara merapikan cadarnya, dia berjalan dengan mulut yang tidak pernah berhenti berdoa.
Melihat kerumunan orang dengan pakaian khusus memacu rasa penasaran Gadis. Ada apa dengan putrinya?. Apa putrinya sudah sadar atau sebaliknya?.
Gadis menatap Erna yang sedang menyeka air matanya berulang kali, Gadis memaksakan diri untuk berlari ingin memastikan keadaan Hanin.
"Kak Erna, ada apa dengan Hanin?. Apa Hanin sudah sadar atau apa, Kak?. Kenapa Kak Erna terus menangis?."
Mereka yang mengenali suara Gadis, begitu syok dengan situasi yang sedang berlangsung. Tidak mungkin jika mereka salah dengar dengan suara Gadis namun tidak tampilan Gadis yang serba tertutup.
"Apa itu kau, Gadis?." Nyonya Mireya menatap lekat mata yang sangat dihafalnya. Mata milik gadis yang selama ini sudah dihafalnya karena sudah lama gadis itu bekerja padanya.
Mata Gadis mengedarkan pandangannya pada keempat orang yang ada didepannya.
Kesedihannya semakin memuncak ketika dia harus mengingat kembali luka yang perlahan bisa obati nya kini sangat terlihat jelas ada di depan matanya. Tidak gampang untuk berdamai dengan rasa sakit yang sudah menggerogoti kebahagiaan, canda, tawa dan senyum putri semata wayangnya. Tapi dia tetap harus melakukanya.
__ADS_1
"Saya sudah pergi dari hidup kalian semua. Pergi sejuah mungkin yang saya bisa. Apa pun yang terjadi sekarang, tolong lupakan!. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya minta tolong kalian untuk pergi dari ruangan ini!." Ucapnya sambil mengatupkan kedua tangan di dada dengan pandangan mata yang tertunduk.