Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 19 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Pulang kantor Gadis segera pergi ke rumah sakit. Di sana sudah ada Erna yang menunggunya.


"Ayo masuk, Gadis!."


Jasmin menatap Gadis yang berpenampilan cantik dengan setelan kerja yang belum sempat digantinya. Karena Erna hanya memiliki waktu setengah jam sebelum mereka datang untuk mengawasi Jasmin.


"Karena kamu sudah ada di sini, aku ingin meminta maaf pada mu, Gadis. Aku benar-benar sangat menyesal karena sudah menyakiti mu dan ibu."


Gadis mendekati Jasmin yang berlinang air mata.Gadis menghapus air mata Gadis yang belum mau berhenti.


"Aku dan ibu sudah memaafkan Kak Jasmin. Sekarang Kak Jasmin harus cepat sembuh dan pergi dari tempat itu. Karena itu sangat tidak cocok dengan kak Jasmin."


"Kamu jangan pernah memikirkan dan mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik. Kamu bekerja saja dengan baik, aku sudah sangat senang."


Erna yang berjaga di pintu harus memberi kode pada Gadis untuk segera keluar dari sana karena Paman dan Bibi nya sedang menuju ke ruangan Jasmin.


"Nanti aku akan datang lagi, kak Jasmin harus kuat. Aku akan membawa pergi kak Jasmin." Ucap Gadis sebelum pergi dan menyempatkan untuk memeluk dan mencium kening kakaknya.


"Terima kasih banyak, kak Erna. Tolong jaga kak Jasmin."


"Iya, Gadis. Cepat lah pergi!."


Gadis cukup deg-degan ketika mereka semakin mendekat kearah ruangan Jasmin. Namun untung saja Gadis bisa berjalan dengan cepat untuk menghindar Paman dan Bibinya.


Sudah jam delapan malam, Gadis belum sampai di apartemen. Dia masih duduk di bangku sebuah taman kota yang tidak terlalu ramai dikunjungi.


Kemana kakinya harus melangkah untuk mendapatkan uang itu?, apa iya harus menemui Nyonya Mireya sekarang atau besok menemui HRD?. Bagaimana kalau dari keduanya dia tidak mendapatkan apa-apa?, harus kemana lagi dia pergi untuk mendapatkan uang dengan jumlah yang besar tersebut?.


Langkah kaki Gadis berhenti di rumah Nyonya Mireya. Dia sudah tidak bisa berpikir lama karena bisa saja membahayakan nyawa kakaknya.


"Gadis?, ada apa?." Kau sendiri datang ke sini?."


"Iya, Nyonya Mireya. Maaf sebelumnya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada Nyonya Mireya."


"Bicara lah, ada apa?."

__ADS_1


Gadis menatap Nyonya Imelda yang ada di sana. Dia tidak enak kalau sampai berbicara ada orang lain.


"Baik lah, Gadis. Kita bicara di ruang kerja suami ku." Gadis mengangguk sambil mengikuti Nyonya Mireya yang sudah berjalan didepannya.


Gadis duduk di depan Nyonya Mireya setelah di persilakan duduk.


"Sekarang bicara lah, ada apa?."


Walau pun ragu, tapi Gadis harus tetap mengatakannya. Dan dia memberanikan diri untuk menyampaikan maksud dan tujuannya berbicara dengan Nyonya Mireya. Tanpa ada yang ditutupi berharap bisa mengetuk hati Nyonya Mireya lebih dalam lagi.


"Dengan uang sebanyak itu, mau berapa lama kau ikut bekerja dengan keluarga kami atau bekerja di perusahaan?." Gadis semakin menundukkan kepalanya, ketika sudah mengira jika dia tidak akan mendapatkan pinjaman dari Nyonya Mireya.


"Maaf Gadis, bukannya aku tidak mau meminjamkan uang sebanyak itu, hanya saja aku tidak bisa menemukan cara supaya kau bisa mengembalikan uang sebanyak itu dengan cepat."


"Iya, Nyonya Mireya. Terima kasih banyak. Saya pamit."


Gadis berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum itu dia menyerahkan dua gepok uang pecahan seratus ribu.


"Hanya ini yang bisa aku bantu."


"Terima kasih, Nyonya Mireya."


Gadis pergi dari rumah itu dengan tangan kosong. Dia tidak boleh menyerah untuk hal apa pun.


Sampai di apartemen, Gadis mendapati Tuan Theodor duduk di sofa dengan laptop di atas pangkuannya.


"Kenapa baru pulang?."


"Maaf, Tuan Theodor. Saya tidak membuat makan malam untuk anda. Apa anda mau makan sekarang?."


"Aku bertanya dari mana jam segini kau baru pulang?."


"Aku ada perlu di luar, jadi saya baru pulang."


Sikap dingin Gadis malam ini setelah malam sangat intim mereka, menjadikan Tuan Theodor sangat tertantang untuk terus mendekat dan mendapatkan Gadis.

__ADS_1


"Besok-besok aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi."


"Baik, Tuan Theodor. Terima kasih."


Gadis melangkah dan menuju kamar, dia langsung tidur dengan pikiran dan perasaan yang tidak tenang.


Sebelum jam kantor, Gadis sudah menghadap bagian HRD untuk meminjam sejumlah uang. Namun bukannya mendapat pinjaman, Gadis malah mendapatkan perlakuan yang kurang baik.


"Kau kira, ini perusahaan bapak moyang kau!. Sampai kau begitu lancang tidak berpikir sebelum datang ke sini dan berbicara pada ku untuk meminjam uang sebanyak itu!. Anak-anak yang punya perusahaan ini saja tidak pernah memakai uang perusahaan, siapa kau?, pangkat apa?, sehingga begitu berani mau meminjam uang perusahaan. Ini nih, contoh-contoh manusia yang mau hidupnya instan, tubuh kau juga tidak akan menyentuh angka sebanyak itu jika di jual di luar sana?."


Dengan mata yang memerah, Gadis keluar dari ruangan HRD. Dia segera menuju toilet sebelum mulai bekerja.


Pasti ada jalan lain yang tersedia untuk membebaskan kakaknya, Gadis hanya perlu percaya dan bersabar.


Pekerjaan sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Dia harus bisa menahan segala rasa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.


Gadis memulainya dengan pekerjaan yang lebih mudah. Dia menyusun beberapa file yang berdasarkan tanggal kerja sama. Selang satu jam, Gadis melukai membuka laptop yang ada di atas meja lalu mulai membuat laporan yang diminta oleh Tuan Theodor. Gadis sudah mengeceknya berkali-kali sebelum kedua pekerjaan itu diletakkan di atas meja kerja Tuan Theodor. Dan sekarang Gadis sedang berusaha mengecek beberapa pekerjaan yang dikirimkan oleh bagian divisi untuk di cek langsung oleh Tuan Theodor.


"Ini sudah waktunya makan siang, kau makan lah lebih dulu. Nanti lanjut lagi pekerjaannya."


Tanpa melihat wajah Tuan Theodor, Gadis mengangguk lalu keluar dari ruang kerja Tuan Theodor.


Makan siang kali ini, Gadis membawa makanan yang sudah disiapkan dari apartemen. Meski tidak mengurangi banyak pengeluaran tapi setidaknya dia bisa mengumpulkan uang untuk menambah-nambah kebutuhan dirinya dan kakaknya.


Gadis tetap menghabiskan makanan itu walau pun sedikit berbeda rasanya, karena sekarang dia tidak bernafsu untuk memakan apa pun. Hingga jam makan siang pun usai, Gadis kembali ke dalam ruangannya.


"Kau bersiaplah, kita akan meeting di luar lagi. Tapi biar kan wajah kau seperti itu, tidak perlu untuk di make up."


"Apa yang harus saya bawa?."


"Tidak ada, semua sudah disiapkan oleh Romi." Gadis mengangguk.


"Ayo, kita jalan!." Gadis berjalan di belakang Tuan Theodor. Meski banyak pasang mata tidak menyukainya namun Gadis tetap menegakan kepalanya. Termasuk saat berpapasan dengan kepala HRD yang sudah memakinya.


"Cih!, Gadis tidak tahu malu." Batin kepala HRD melihat pemandangan itu.

__ADS_1


__ADS_2