
Keesokan paginya...
Gadis sudah menunggu kedatangan Galang di gerbang kampus karena dirinya tahu kalau Galang belum datang.
Akhirnya yang di tunggu datang juga setelah lima belas menit menunggunya.
Langsung saja Gadis berlari menghampiri Galang yang sudah memarkirkan mobilnya.
"Galang..."
"Gadis..."
"Kenapa menghampiri ku, biasanya kau akan menunggu di kelas?."
"Karena ini sangat penting."
"Ada apa?."
Gadis melirik jam tangan yang dipakainya, kini hanya menyisakan waktu sepuluh menit lagi. Jadi dia memutuskan akan berbicara sebelum pulang kuliah.
"Nanti saja saat pulang kuliah, waktunya sudah sangat mepet. Aku juga tidak bisa bicara setengah-setengah."
"Baik lah, ayo sekarang kita masuk."
.
.
.
Kini sudah waktunya pulang, Galang dan Gadis tidak langsung pulang. Karena kondisi kantin saat ini sangat ramai, jadi Gadis menerima tawaran Galang untuk berbicara di dalam mobilnya.
"Sekarang bicara lah." Ucap Galang saat mereka berada di dalam mobil.
Tanpa ada pendahuluan, Gadis langsung menceritakan semuanya pada Galang dan dia juga menyampaikan tujuannya pada Galang.
Tanpa menceritakan keseluruhan, hanya beberapa saja. Seperti Tuan Theodor yang mengajaknya untuk bertemu teman-temannya justru dia malah bertemu dengan kak Jasmin di tempat itu. Yang belum sempat bertukar nomor ponsel atau alamat tinggalnya.
"Jadi kau meminta ku, untuk menemani kau kembali ke tempat itu untuk mencari Jasmin." Tanya Galang setelah menarik kesimpulan dari cerita Gadis.
Gadis menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya."
"Ok, tapi kapan?."
"Nanti malam, bagaimana?."
"Ok, kau akan aku jemput di lobby apartemen."
Kali ini dengan cepat Gadis mau menerima tawaran Galang, sebab dia memang sangat membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
"Baik lah."
Sedangkan di dalam sebuah ruang kerja berukuran sangat luas. Pria tampan dengan segudang pesona sedang duduk di balik kursi kebesarannya. Menghadap laptop dengan pulpen mahal di tangan kirinya. Melihat dengan teliti deretan angka yang tampil pada layar laptopnya.
"Kau sedang sibuk?."
Tuan Dominic duduk di depan Tuan Theodor dengan berkas yang diletakkan di atas meja. Dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Ada apa?."
Tuan Theodor menutup layar laptop lalu menerima berkas yang diberikan oleh Tuan Dominic. Tuan Theodor membuat setiap lembar dari dokumen itu.
"Apa perusahan kita yang di Batam mengalami masalah?."
Tuan Dominic mengangguk, membenarkan apa yang dilihat oleh Tuan Theodor dari dokumen itu.
"Seperti yang kau lihat. Salah satu di antara kita harus ada yang ke sana?."
"Kau tahu ini ulah siapa?."
"Mungkin juga kau sudah bisa menebaknya."
"Alesandro Miguel?."
"Kau benar, dan siapa yang akan berangkat ke Batam?."
"Aku saja. Kau tetap di perusahaan. Biar tetap bisa di rumah menjaga Mama dan Ramona. Karena Daddy kan mau berangkat ke Italia."
"Hem."
Tuan Theodor menatap pintu yang baru di tutup oleh Tuan Dominic. Dia harus segera mempersiapkan keberangkatannya ke Batam.
Tuan Theodor tersadar dari lamunannya ketika ponselnya bergetar. Notifikasi adanya pesan yang masuk. Dia merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponselnya.
Dia membuka pesan singkat dari nomer yang tidak kenalnya. Dimana isi pesan itu perkenalan diri secara formal namun cukup genit dan berani.
"Claudya?. Bagaimana dia mengetahui nomor ponsel ku?. Pasti salah satu dari mereka yang sudah memberitahunya." Batin Tuan Theodor. Pria itu tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada sembarang wanita atau pun orang. Apalagi pada wanita malam seperti Claudya, wanita yang memuaskannya saat dirinya ke tempat hiburan bersama Gadis.
Tuan Theodor mengabaikan pesan itu, tapi pada detik berikutnya ponsel miliknya berbunyi lagi, menandakan adanya panggilan masuk dan itu ternyata dari Claudya.
"Brengsek!." Tuan Theodor mengepalkan tangannya ketika dia begitu kesal, harinya harus terusik dengan wanita malam yang tidak ingin pernah dipakainya lagi.
Gadis sudah sampai di apartemen dua jam yang lalu. Dia segera menyelesaikan semua tugas dan pekerjaannya di dalam apartemen. Sebelum dirinya akan pergi bersama Galang mencari sang kakak.
Waktu yang telah dijanjikan pun tiba, Galang selalu tertarik dengan apa yang selalu di pakai oleh Gadis. Meski pun pakaian-pakaian atau aksesoris apa pun itu selalu menutupi kelebihannya. Namun tetap tidak mengurangi kecantikan yang dimiliki oleh Gadis.
"Kenapa bengong, Galang?." Tanya Gadis ketika sudah berdiri di depan Galang dengan jarak yang cukup dekat.
"Ah tidak, Gadis. Ayo naik ke mobil."
__ADS_1
"Theodor?."
Diandra menggeleng cepat sambil masuk, duduk di samping Galang lalu memasang sabuk pengaman.
"Tuan Theodor belum pulang. Lagian dia pun tidak akan pernah mencari ku."
"Bagus lah. Tapi kalau pun Theodor tahu, aku yakin dia tidak akan marah karena kau pergi bersama ku."
Keduanya saling pandang lalu saling melempar senyum.
Sampai di tempat tujuan, Gadis merasakan kembali ketakutannya yang luar biasa. Dia takut kejadian malam itu akan terulang lagi. Tapi kalau dirinya tidak masuk, bagiamana bisa dia menemukan kakaknya.
"Ayo kita masuk, kau jangan khawatir ada aku di sini." Gadis menatap pria yang berada disampingnya. Pria itu memang yang selama ini selalu menjadi penolongnya, terbaiknya setelah Nadia.
Gadis menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Semoga dia bisa menemui kakaknya tanpa adanya kendala.
Galang dan Gadis sudah masuk ke dalam sana, Gadis baru tahu ternyata Galang salah satu member di tempat hiburan elit itu.
"Pasti kau bertanya kenapa aku bisa memiliki akses ini?." Gadis mengangguk.
"Karena tempat hiburan ini milik kakak laki-laki ku, temannya Theodor juga. Jadi otomatis aku memilikinya juga. Aku hanya pernah beberapa kali ke sini bersama keluarga." Jawab Galang sambil tetap berjalan sambil mengamati setiap wanita yang ditemuinya. Namun sejauh ini belum ada yang mirip dengan foto yang ada di tangan Gadis.
Sudah hampir satu jam mereka berada di sana, akan tetapi pencarian mereka belum membuahkan hasil. Bukan tidak mau Galang meminta bantuan orang dalam, namun Gadis tidak ingin membuat kakaknya tidak nyaman dengan pencariannya ini. Jadi mereka mencoba mencarinya sendiri.
Sementara itu, wanita yang sedang mereka cari sedang melayani seseorang yang selama ini menjadi langganan tetap nya di tempat hiburan ini.
"Aku belum puas, Jasmin!." Pria itu menarik tubuh Jasmin yang terbalut selimut.
"Ini sudah yang ketiga kalinya aku melayani mu." Jasmin menarik kembali selimut yang hampir terlepas dari tubuhnya. Dia sedikit berlari kearah kamar mandi.
"Baik lah kalau begitu, kita bisa melanjutkannya di kamar mandi."
"Ahhh..." Teriak Jasmin ketika tubuhnya melayang di gendong oleh prianya, dengan satu dorongan saja pintu kamar mandi terbuka lalu keduanya melanjutkan kembali penyatuannya.
Malam ini Gadis dan Galang pulang dengan tangan kosong tanpa mendapatkan informasi apa pun tentang kakaknya Gadis.
Galang sedikit agak memaksa untuk mengantarkan Gadis sampai unit apartemen.
"Besok kita akan mencarinya lagi, kau jangan cemas."
Gadis memaksakan dirinya untuk tersenyum karena dia sangat menghargai usaha Galang dalam membantunya.
"Iya, terima kasih banyak untuk hari ini. Dan semoga saja nanti pada saat kita mencarinya lagi, kakak ku bisa ditemukan."
"Iya. Pasti itu." Balas Galang saat keduanya berhenti tepat di depan pintu apartemen Tuan Theodor.
"Baik lah aku masuk, terima kasih banyak, Galang."
"Sama-sama, Gadis."
__ADS_1
Gadis diam mematung setelah sesaat dia menutup pintu.
"Kau tahu jam berapa sekarang?." Gadis langsung menatap jarum jam yang ada pada jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.