
Sesampainya di rumah, Nyonya Mireya dan Tuan Patricio segera masuk ke dalam ruang kerja. Mereka kembali berbicara serius mengenai apa yang terjadi di dalam apartemen putra mereka.
"Mama tidak mau, wanita menjijikan itu harus segera keluar dari perusahaan, rumah dan apartemen. Kalau perlu pergi jauh dari hadapan kita semua!."
"Kalau dari kantor dan rumah ini mungkin bisa Ma. Tapi dari apartemen atau pun Theodor pasti akan susah. Theodor sendiri yang menginginkan Gadis, Ma."
"Beri saja wanita itu uang yang sangat banyak, pasti dia mau juga untuk pergi. Karena itu yang sangat diinginkannya!."
"Jangan gegabah Ma. Ingat, Theodor saat ini sudah menjadi suami dari Gadis dan pasti Theodor akan membelanya mati-matian. Kalau begini kenapa tidak kita saja yang menerima pernikahan mereka?. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka, Ma."
"Lalu Darren?, Violetta?. Apa yang mereka dapatkan dari Theodor?."
"Theodor akan bertanggung jawab pada Darren, tapi tidak pada Violetta."
"Tapi Mama maunya Violetta yang menjadi istri Theodor bukan wanita itu."
"Kalau sekarang pun harus memisahkan mereka itu bukan jalan yang terbaik, Ma. Justru malah akan membuat orang lain sakit hati oleh Theodor dan kita."
"Pokoknya aku tidak ingin wanita itu menjadi menantu ku!." Pungkas Nyonya Mireya kelaur dari ruang kerja. Tuan Patricio hanya menghembuskan nafas.
Sementara itu di apartemen, tuan Theodor masih berjaga sambil memeluk Gadis dengan begitu erat dalam posisi rebahan. Setelah kejadian itu, Gadis berencana ingin pergi meninggalkan tuan Theodor, untuk menenangkan diri. Tapi tentu saja tuan Theodor menolak, tidak bisa menerima jika Gadis akan meninggalkan dirinya.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku walau hanya satu detik!. Kamu harus tetap di sisi ku!." Ujar tuan Theodor sambil mengelus punggung Gadis dengan begitu lembut.
"Saya butuh menenangkan diri, kemana saya bisa pergi?. Kuliah saya saja belum selesai. Saya tidak ingin menjadi orang yang lari dari apa pun. Hanya saja, sekarang saya butuh waktu untuk menyendiri." Ucap Gadis mendongak menatap wajah tampan suaminya. Wajah cantik itu begitu sendu.
"Aku akan menemani mu, kita akan pergi berdua. Kamu mau kemana?."
Gadis mencoba melepaskan diri dari pelukan Tuan Theodor namun pria itu belum mau untuk melepaskannya.
"Kalau pergi berdua bersama tuan, bukan menenangkan diri tapi itu lebih seperti honeymoon." Gadis tersenyum kesal dengan ide suaminya.
Tuan Theodor tersenyum lebar sambil menarik hidung mancung Gadis sampai memerah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa jauh dari mu, Gadis. Jadi aku harus ikut kemana pun kamu pergi." Ujar tuan Theodor begitu memelas.
"Kamu mau pergi kemana untuk menenangkan diri?." Lanjut Tuan Theodor mengajukan pertanyaan.
"Pergi kemana saja yang penting jauh dari sini dan jauh dari keramaian." Ucap Gadis mengelus rahang tegas tuan Theodor. Lalu mengecupnya sebentar.
"Baik, kita akan pergi ke tempat yang kamu mau. Tapi sebelum itu aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dan melakukan sesuatu untuk mu, supaya saat nanti kita di sana, semuanya sudah siap." Tuan Theodor bangkit namun tetap membawa Gadis di dalam pelukannya.
"Memang kita mau pergi kemana?." Tanya Gadis menahan dada bidang telanjang tuan Theodor.
"Nanti juga kamu akan tahu." Tuan Theodor membawa tubuh Gadis ke dapur dengan posisi digendong.
Tuan Theodor mendudukkannya di atas meja makan dengan kedua paha Gadis yang terbuka lebar.
"Tolong buat kan aku mie instan yang seperti kemarin tapi tanpa irisan cabai, aku tidak sekuat kamu yang begitu suka makanan pedas."
Keduanya menyempatkan untuk berciuman dengan penuh gairah.
"Jangan lanjutkan lagi, saya harus membuat mie instan yang tuan mau." Gadis menurunkan jubah yang sudah tersingkap sampai atas.
Tapi sesuai janjinya, tuan Theodor hanya sebentar untuk menyalurkan hasratnya. Selesai keduanya mendapatkan pelepasannya, tuan Theodor tetap berada di dapur menemani Gadis yang langsung memasak mie instan permintaannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mie instan yang diminta pun sudah matang dan terhidang di meja.
"Ayo tuan di makan mie instannya, saya mau ganti pakaian." Ujar Gadis setelah menyiapkan air minum.
"Jangan dulu ganti pakaian, temani saja aku di sini. Kalau mau, kamu bisa lepas pakaiannya." Ucap tuan Theodor mesum dengan senyum jahil diwajahnya.
"Baik tuan, saya akan menemani tuan makan sampai selesai." Gadis duduk di sebelah tuan Theodor.
Tuan Theodor mulai menyuap kuah mie instan ke dalam mulutnya.
Violetta yang sudah tidak tinggal di rumah Nyonya Mireya, setelah tuan Theodor memberitahunya, jika mereka tidak bisa menikah. Wanita yang memiliki anak dari tuan Theodor itu berencana untuk kembali ke Spanyol. Tidak ada gunanya dirinya dan Darren masih di sini.
__ADS_1
"Kau mau pergi begitu saja tanpa Theodor?."
"Aku datang ke sini bukan untuk membawa Theodor pergi. Meski sebenarnya pernikahan itu sangat aku harapkan setelah Mamanya memberikan ku harapan. Tapi aku lupa jika semua keputusan itu ada di tangan Theodor. Sampai Theodor sendiri mengatakan jika dia tidak bisa menikahi ku karena wanita lain dan sekarang mereka malah sudah menikah." Violetta sudah menarik kopernya keluar.
"Papa bisa bicara pada Theodor, kau tenang saja dulu."
"Tidak perlu Pa, aku sudah tahu kalau Theodor sudah tidak memiliki perasan apa pun pada ku. Semua ini murni karena Darren."
"Apa yang karena aku, Ma.?." Tanya anak kecil itu sambil memegangi banyak mainan dengan tatapan yang tertuju pada koper besar.
"Kita akan kembali tinggal bersama Papa?." Tanyanya polos.
"Tidak sayang, kita tidak akan tinggal bersama Papa lagi. Tapi kita akan kembali ke Spanyol. Kamu akan sekolah di sana dan teman-teman mu juga sudah banyak di sana kan?. Di ini kamu belum memilik teman hanya Papa saja." Jawab Violetta menjelaskan. Berharap Darren akan menerima dan mengerti.
"Kita akan kembali ke Spanyol nya bersama Papa?." Tanya Darren lagi, Darren yang berharap besar jika dirinya akan tinggal bersama Papa nya.
Violetta menggeleng lemah sambil mengelus rambut kepala Darren dangan penuh kasih sayang, Violetta ingin memberikan penjelasan lagi bahwa tanpa Papa nya pun Darren dan dirinya pasti akan bahagia, seperti sebelum mereka kembali ke sini. Tapi sayang Darren hanya mengerti jika dirinya akan tinggal bersama Papa nya.
"Apa aku boleh tidak ikut kembali bersama Mama ke Spanyol?. Aku ingin tinggal bersama Papa." Mohon Darren dengan sendu sambil memeluk mainannya.
Pandangan Violetta dan Papanya beradu, lalu Papanya memberi menganggukkan kepala. Tapi Violetta protes dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Jangan egois. Kalau kau sudah memutuskan untuk pergi dan aku menerimanya. Maka kau juga harus menerima keputusan Darren yang ingin tinggal bersama Theodor."
Violetta hanya terdiam seraya menatap Darren yang menunduk.
"Baik lah sayang, besok setelah mengantar Mama mu ke bandara. Kakek akan mengantar mu untuk tinggal bersama Papa Theo. Apa kau senang?."
"Benar itu, Kakek?. Kakek mau mengantarkan aku ke rumah Papa?."
"Iya, sayang."
Darren memeluk Kakeknya bersamaan dengan mainan yang berjatuhan dari pelukannya.
__ADS_1
Violetta hanya tersenyum miris. Melihat Darren lebih senang tinggal bersama Theodor dari pada harus ikut kembali bersamanya ke Spanyol.