Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 30 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tuan Dominjc memutar video yang ada dalam ponsel pintarnya di hadapan Gadis.


"Saya sudah tahu, tapi terima kasih Tuan Dominjc sudah berbaik hati memberitahu saya." Ucap Gadis selesai melihat video itu.


"Kau tidak marah setelah Theodor melakukannya?." Tuan Dominjc tidak percaya pada gadis baik didepannya.


Gadis menggeleng lemah tanpa berani menatap pria itu. Tidak perlu dia mengatakan pun pasti Tuan Domonic mengetahuinya. Rasa kagum yang dimiliki pun semakin sirna bersamaan dengan tidak pantas dirinya Meksi hanya sekedar mengagumi tuan Domonic saja.


"Sebaiknya Tuan Dominic segera pergi dari sini. Saya masih banyak pekerjaan." Usir Gadis secara halus. Tidak ingin berlama-lama dengan pria yang sebentar lagi akan menikah.


"Datang lah pada ku jika Theodor sudah mengecewakan kau, Gadis!. Aku akan menerima kau dengan tangan terbuka."


Gadis tersenyum tipis sambil menggeleng. "Tidak, terima kasih Tuan Dominic."


Tuan Dominic menatap intens pada wanita sudah menolaknya. "Baik lah aku pulang. Aku harap kau bisa datang pada ku dan aku bisa pastikan kalau kau bisa bahagia bersama ku. Aku bisa menerima kau apa adanya." Ucap Tuan Dominic. Setelahnya baru dia pergi dari sana dengan segudang kemarahan pada kakaknya.


Gadis menutup pintu dan menguncinya. Dia menatap kearah pintu kamar Tuan Theodor. Menatapnya cukup lama sampai dia tahu apa yang dirasakannya saat ini nyata adanya.


Pria yang pertama menyentuh tubuhnya kini sudah berhasil menyentuh hati terdalamnya. Dia selalu jatuh hati pada pria yang salah, tidak tepat untuknya atau dirinya yang tidak akan pernah tepat untuk siapa pun.


Sementara itu, di dalam sebuah kamar yang saat ini ditempati oleh Tuan Theodor, Darren dan Violetta. Mereka diminta untuk menginap di rumah itu oleh Nyonya Mireya. Mereka bertiga tidur layaknya seperti sebuah keluarga bahagia. Senyum selalu terlihat jelas dari wajah cantik Violetta. Walau sudah memiliki anak berusia tujuh namun, namun masih terlihat seperti anak ABG karena perawakannya yang cukup imut dan umurnya masih 30 tahun.


Darren sudah tertidur lelap diantara Tuan Theodor dan Violetta.


"Apa karena aku sampai sekarang kau masih betah sendiri dan tidak terpikir untuk menikah lagi." Tanya Violetta memiringkan tubuh, menatap Tuan Theodor yang masih mengelus kepala Darren dengan penuh kasih sayang.


Tuan Theodor hanya diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Violetta. Tuan Theodor memiringkan tubuhnya, melihat kedua orang yang berada disebelahnya. Menyelami apa yang dirasakannya saat ini pada wanita yang sudah memberinya seorang putra yang begitu tampan dan pintar.

__ADS_1


Tatapan keduanya saling mengunci, Violetta beringsut bangun mendekati Tuan Theodor dengan melewati tubuh Darren. Violetta hendak menempelkan bibirnya pada bibir Tuan Theodor. Tapi dengan sigap Tuan Theodor bangun dan menghindarinya.


"Maaf aku harus pulang. Sepertinya Darren sudah tidur nyenyak. Tolong sampaikan pada Darren, tiga hari ini aku ada pekerjaan ke luar kota. Jadi aku tidak menemuinya. Nanti setelah pekerjaan ku selesai, aku akan menemuinya lagi." Ucap Tuan Theodor sambil memakai kembali jasnya.


"Hanya menemui Darren?. Aku tidak termasuk?." Tanya Violetta turun dari ranjang dan mendekati Tuan Theodor.


Meletakkan kedua tangan pada dada bidang Tuan Theodor lalu mengecup bibir itu beberapa detik. Tuan Theodor menatap wajah wanita yang sedang mengecupnya, melihat kedalam matanya yang terbuka. Getaran hati yang dulu dia rasakan begitu besar untuk wanita yang telah melahirkan putranya itu kini sudah tidak dia rasakan lagi. Menguap dengan berjalannya waktu yang telah diisi oleh wanita yang bernama Gadis.


"Iya, aku akan menemui kalian berdua. Tapi sekarang aku harus pergi." Tuan Theodor melepaskan diri dan segera berjalan keluar dari kamar.


Pikirannya kini tertuju pada Gadis yang mungkin saja sedang menunggunya.


Mengemudikan kendaraannya begitu kencang di jalan raya yang tidak ada hambatan karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Berlari menuju tempat yang dituju dengan keringat yang mulai membasahi tubuh atletisnya.


Senyum itu terukir manis kala melihat Gadis yang meringkuk tidur di atas sofa.


"Aku jadi jadi tidak tega untuk membangunkannya." Gumam Tuan Theodor, mengelus lembut wajahnya, bibir yang begitu tetap menggoda meski sekarang sedang mengeluarkan sedikit air liur karena posisi bibirnya sedikit terbuka.


"Kau memang sangat cantik." Tanpa rasa jijik Tuan Theodor mengecup bibir Gadis hingga beberapa detik, sampai-sampai si pemilik bibir itu bangun karena kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang begitu menuntut.


"Tuan sudah pulang?." Gadis membuka mata dan beringsut duduk. Duduk bersandar pada sofa karena nyawanya belum semuanya menyatu.


"Kau sangat lelah sekali." Gadis mengangguk dengan mata yang kembali terpejam. Kedua tangan Tuan Theodor mengelus paha Gadis yang terlihat begitu putih.


"Penerbangan kita sebentar lagi, ayo kita jalan sekarang ke bandara. Romi sudah menunggu kita di bawah." Bisik nya lembut di telinga kanan Gadis.

__ADS_1


"Kita mau kemana?. Besok aku harus kuliah." Gadis memaksa membuka matanya.


"Aku sudah minta izin pada pihak kampus. Ayo sekarang ganti pakaian, tidak perlu membawa apa pun. Semuanya sudah disiapkan di sana." Tuan Theodor membantu Gadis berdiri dan memeluknya sebentar.


Tidak berselang lama Gadis sudah cantik dengan blouse panjang dan rambut yang dibiarkannya terurai.


Keduanya berjalan bersamaan keluar dari apartemen. Tuan Theodor mengunci apartemen setelah merubah akses masuk. Supaya Nyonya Mireya tidak bisa seenaknya saja masuk apartemennya.


Tuan Theodor duduk di belakang bersama Gadis, membiarkan Romi untuk membawa mobilnya menuju bandara.


Tangan nakal Tuannya tidak bisa dikondisikan, tangan kekar itu menyelinap dari belahan blouse yang cukup lebar.


Gadis melayangkan tatapan tajam sambil menepis beberapa kali tangan nakal itu, tapi bukannya berhenti si pemilik tangan malah dengan jahilnya menyingkap blouse bagian bagian.


"Tuan..." Dengan reflek Gadis menyebut nama Tuan Theodor. Tatapan keduanya saling mengunci dengan tangan nakal itu semakin berani bermain di bawah sana.


"Romi tidak akan mendengar apa pun dari suara kita. Jadi kau nikmati saja. Tapi ngomong-ngomong...." Tuan Theodor menarik tangannya dari bawah dan atas tubuh Gadis. Dia membenarkan posisi duduknya dan menghadap Gadis.


"Apa kau tidak menikmati setiap kali kita bercinta?." Tanya Tuan Theodor memang wajah serius. Pasalnya setiap kali mereka melakukan penyatuan, hanya dirinya saja yang selalu mendesah, berteriak menyebutkan nama Gadis. Dia selalu melihat wajah Gadis yang selalu meringis dengan kedua mata yang tertutup rapat sampai akhir percintaan mereka.


Gadis melirik kearah supir, dia takut jika Romi akan mendengar percakapan mereka.


"Romi tidak akan mendengar apa yang kita bicarakan. Jadi katakan lah sejujurnya." Pintanya tidak sabaran.


"Bagaimana saya bisa menikmatinya, jika tuan selalu melakukannya dengan penuh amarah, kasar. Tapi saya mengerti dengan posisi saya yang hanya seorang pemuas. Mana mungkin bisa merasakan apa yang seperti orang lain rasakan. Yang penting tuan selalu puas dengan tubuh saya, itu sudah cukup bagi saya."


"Apa permainan ku begitu kasar?." Gadis mengangguk lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf kalau sudah tidak membuat kau nyaman selam percintaan kita." Tuan Theodor menarik Gadis dan memeluknya erat.


Hangat, itu yang dirasakan saat Gadis saat ini sepanjang perjalanan mereka ke bandara.


__ADS_2