Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 26 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Tujuan dari Ramona dan Yacob ke kantor selain karena ada urusan pekerjaan melainkan Yacob yang ingin menyampaikan perasaan pada Gadis.


"Nona Ramona dan Tuan Yacob mau makan di sini juga?."


Ramona dan Yacob menggeleng bersamaan. Puput menatap Yacob tanpa berkedip karena ketampanan yang dimiliki Yacob tidak jauh berbeda dari Tuan Theodor.


"Kalau kamu sudah selesai makan, kita bisa keruangan saja dan bicara di sana?." Gadis mengangguk lalu berpamitan pada Puput.


Ketiganya berjalan beriringan menuju ruang kerja Tuan Theodor. Dan kini mereka sudah duduk di sofa yang menghadap danau dan lapangan Golf.


"Sepertinya kamu sedang banyak pekerjaan?." Tuan Yacob melihat tumpukan berkas di atas meja Gadis yang mudah ditebak.


"Iya seperti yang Tuan Yacob lihat." Jawab Gadis.


"Gadis..."


"Iya, Nona Ramona."


"Apa kamu sudah memiliki kekasih atau yang sedang dekat saat ini?."


Gadis menggeleng sambil fokus menatap Ramona.


"Galang?."


"Galang hanya teman yang baik bagi saya, Nona Ramona."


"Bagus kalau begitu." Tatapan bahagia Ramona berpindah pada Yacob dan memberinya kode untuk berbicara. "Sekarang giliran kau yang berbicara, Yacob." Ceplos Ramona.


Meski dengan perasaan gugup dan takut, namun Yacob memberanikan diri untuk menyampaikan isi hatinya pada Gadis di depan Ramona.


Tatapan kedua gadis itu kini beralih pada Yacob yang sedang menarik nafas.


"Gadis..."


"Iya, Tuan Yacob."


"Tadi kan kamu bilang, kamu tidak memiliki kekasih atau pun yang dekat dengan mu." Gadis mengangguk ketika Tuan Yacob mengakhiri kalimatnya.


"Maka dari itu, aku ingin menjadikan mu kekasih ku atau bahkan kalau kamu bersedia, aku ingin melamar mu."


Deg


Ramona tersenyum tipis di saat Yacob mengakui perasaannya langsung di depan Gadis. Ada rasa sakit di bagian hatinya yang tidak bisa dilihat.


"Kenapa aku begini?." Batin Ramona menatap pria yang baru saja meminta pelayan di rumahnya untuk menjadi kekasihnya.


Gadis pun diam seribu bahasa dengan apa yang sudah diutarakan oleh Tuan Yacob. Bukannya Tuan Yacob tunangan Nona Ramona?, tapi baru saja dia meminta dirinya menjadi kekasih di depan Nona Ramona.

__ADS_1


"Gadis..." Tuan Yacob menggoyang pelan lengan Gadis hingga Gadis menatap Tuan Yacob dan Ramona.


"Maaf kan saya, Tuan Yacob. Tapi saya tidak bisa menerima niat baik Tuan Yacob. Karena saya ingin fokus pada pekerjaan." Gadis menolak Tuan Yacob. Sebab bukan hanya karena fokus pada pekerjaan saja, melainkan dirinya tidak akan pernah pantas untuk pria mana pun.


Ada perasaan lega yang dirasakan hati Ramona ketika Gadis menolak Yacob.


"Apa aku terlalu cepat mengatakan ini?."


"Tidak, Tuan Yacob. Tapi saya tetap tidak bisa menerima Tuan Yacob."


Yacob menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya guna menghalau rasa yang cukup sakit di dalam hatinya.


"Baik, Gadis. Aku sangat menghormati keputusan mu. Terima kasih karena sudah mau jujur." Gadis hanya mengangguk dan kembali menyampaikan permohonan maaf.


Ramona dan Yacob pergi dari ruangan Tuan Theodor. Meninggalkan Gadis seorang diri dengan penyesalan yang tidak ada akan pernah berujung.


"Aku sudah sangat kotor, aku sudah tidak berharap ada pria lain bisa menerima ku, untuk sekedar mengagumi saja aku sudah tidak memiliki keberanian." Gumam Gadis sambil menghapus air matanya.


Dering ponsel Gadis terdengar sangat nyaring, dia bangkit dan melihat siapa yang meneleponnya. "Tuan Theodor." Batin Gadis, dia mengabaikan panggilan tersebut, tidak ingin mengangkat telepon di saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Sekarang saatnya pulang kantor, Gadis sudah bersiap akan pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Gadis sudah berada di lobby kantor, seperti biasa dia sedang menunggu ojek online langganannya. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, pundak Gadis ada yang menepuknya pelan. Sehingga Gadis menengok sekaligus balik badan saat tahu siapa yang berdiri dibelakangnya.


"Nona Violetta?."


Gadis mengangguk setelah memberitahu ojek online langganannya untuk menunggunya. Dan Gadis memberikan harga yang cukup mahal sehingga Abang ojek mau menunggunya.


"Kau sudah lama ikut dengan Theodor?."


"Hanya beberapa bulan saja."


"Tapi selama itu, kau tidak pernah melihat Theodor dekat siapa pun atau wanita yang datang ke apartemen?."


"Tidak ada." Jawab Gadis sejujurnya.


"Kalau wanita murahan yang datang ke apartemen?." Gadis menggeleng lemah.


"Apa kau yakin?."


"Iya, Nona Violetta." Jawab Gadis.


"Ok, Gadis. Aku boleh meminta tolong."


"Apa, Nona Violetta?."


"Tolong berikan makanan ini, ini makanan kesukaan Theodor." Violetta memberikan tempat makan pada Gadis.

__ADS_1


"Iya, Nona Violetta."


Mereka berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing.


Sedangkan Ramona dan Yacob berada di sebuah taman yang cukup ramai sore itu. Ramona mengikuti kemana pun Yacob pergi, dia tidak ingin meninggalkan Yacob yang sedang patah hati.


"Apa kau percaya kalau Gadis tidak memiliki kekasih?." Tanya Ramona menatap intens wajah Tuan Yacob yang terlihat murung.


"Aku tidak tahu kalau itu, tapi aku percaya kalau Gadis memang ingin fokus pada pekerjaan."


"Jadi kau menyerah untuk mendapatkan Gadis atau kau akan berjuang terus?."


"Untuk sekarang aku tidak ingin memaksakan kehendak ku pada Gadis. Nanti aku akan menunggu momen yang pas untuk mengatakannya lagi."


Ramona mengangguk mengiyakan. Mereka masih betah di sana untuk menikmati suasana malam yang semakin ramai.


Sementara itu, Tuan Patricio sudah santai di dalam kamar bersama Nyonya Mireya. Mereka duduk di sofa sambil membicarakan Tuan Theodor.


"Apa Papa percaya apa yang dikatakan oleh Violetta?."


"Iya, Ma. Papa sudah bertemu dengan mereka. Papa akan mengundang mereka untuk makam malam dan membicarakan keseriusan hubungan mereka selanjutnya."


"Papa sudah memberitahu, Theodor?."


"Belum, mungkin besok Papa akan bicara pada Theodor."


"Iya, Pa." Nyonya Mireya melepas jubah tidur lalu naik ke atas tempat tidur. Karena seluruh tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian membersihkan tanaman kesayangannya. Sementara Tuan Patricio membuka ponsel dan melihat beberapa email yang masuk.


Gadis sudah sampai di apartemen, dia meletakkan satu kotak makanan dari Nona Violetta di atas meja makan.


"Kenapa kau baru pulang?." Tanya Tuan Theodor sambil duduk dan menatap kotak makanan.


"Dari mana makanan itu?." Lanjut Tuan Theodor menatap wajah Gadis.


"Nona Violetta memberikannya untuk anda. Itu makanan kesukaan Tuan Theodor." Jawab Gadis sembari menyodorkan makanannya.


"Ini untuk pertama dan terkahir kalinya kau menerima apa pun dari wanita itu!."


"Tapi itu untuk anda, Tuan. Bukan untuk saya." Jawab Gadis.


"Aku tidak ingin dibantah, Gadis!."


"Iya, Tuan Theodor."


Gadis mengambil kotak makanan tersebut dan menaruhnya di dalam wastafel.


Keduanya makan malam dalam keheningan, sama-sama terdiam dalam lamunannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2