
Gadis menatap layar ponselnya begitu intens, dimana di situ tertera tanggal dan nama hari. Tangan Gadis bergetar hingga ponsel itu terjatuh mengenai salah satu kakinya.
Gadis menyadari, setiap akhir bulan dirinya akan mendapatkan tamu bulanan, tapi sekarang sudah melewati tanggal itu tapi belum juga mendapatkan tamu bulanannya.
"Paling juga telat satu atau dua hari bulan ini." Gumamnya sangat lirih, tapi tuan Theodor mendengarnya, yang sedari tadi masih berada disampingnya hanya menatapnya dengan berbagai perasaan. Tapi yang jelas mau hamil atau pun tidak, dia tetap sangat mencintai istrinya.
Meski sudah enam bulan terakhir ini, Gadis selalu pasti akhir bulan untuk kedatangan tamunya.
"Tenang Gadis!. Tenang!. Tidak mungkin kamu hamil karena kamu tidak pernah lupa untuk meminum pil tersebut." Ucap Gadis pada dirinya sendiri, menenagkan hati dan pikiran dari apa yang saat ini dipikirkannya. Meskipun bukan sesuatu yang salah kalau dirinya hamil, tapi setidaknya tidak sekarang di saat hubungan pernikahannya belum mendapatkan restu dari Nyonya Mireya. Perpisahan itu selalu sangat ditakutinya jika setelah memilki anak.
Gadis segera beranjak dari sana, berjalan dengan tergesa lalu masuk ke dalam kamar. Mengambil pil tersebut lalu memperhatikannya dengan seksama. "Tidak mungkin pil ini salah, bentuk, warna dan semuanya sama."
Tuan Theodor yang melihat dari balik pintu merasa bersalah dengan apa yang telah dilakuaknnya terhadap Gadis. Supaya bisa memiliki anak bersama Gadis, dia telah menukar pil itu. Tapi sekarang semua sudah terlanjur dan dia harus bisa meyakinkan Gadis untuk menerima calon bayi mereka.
"Sudah lupakan itu, aku hanya bertanya saja. Karena aku juga merasa heran kenapa sudah tanggal segini tapi kamu masih bisa melayani ku?. Tapi justru itu bagus bukan, jadi kita lebih bisa menikmati bercinta di tempat ini." Seru tuan Theodor, berusaha untuk mengalihkan perhatian Gadis. Gadis hanya melirik tanpa ingin menanggapinya.
"Seperti yang kamu bilang tadi, mungkin akan telat datangnya bulan ini, bukannya itu sesuatu yang wajar dalam siklus tamu bulanan mu?." Lanjut Tuan Theodor menyampaikan apa yang tadi sempat dibacanya dari internet, sebelum menyusul Gadis ke dalam kamar.
Kali ini Gadis menatap tuan Theodor lalu memegangi tangan tuannya.
"Semoga saja benar seperti itu dan itu memang sangat wajar sekali." Ucap Gadis merasa sedikit tenang kala tuan Theodor mengatakan itu.
__ADS_1
"Baik lah, ayo kita ke depan lagi. Terlalu sayang untuk melewatkan momen indah seperti ini." Tanpa aba-aba, langsung saja Tuan Theodor menggendong tubuh Gadis hingga dengan reflek Gadis melingkarkan kedua tangannya pada leher tuan Theodor.
Tuan Theodor mengecup bibir Gadis sebelum menurunkannya. "Indah bukan pemandangannya?."
"Iya tuan benar sekali. Sayang kalau kita sampai harus melewatkannya." Tuan Theodor bisa tersenyum lepas ketika senyum di wajah cantik Gadis telah kembali lagi.
Keduanya sama-sama saling berpelukan sambil memandangi hamparan lautan yang membentang luas. Seolah ikut menelan semua kegelisahan dan pikiran buruk mereka. Terlebih Gadis, yang tidak bisa memungkiri begitu saja tentang keterlambatan tamu bulanannya. Jauh di lubuk hati terdalamnya, Gadis merasa begitu takut dengan kehamilan itu.
Dalam suasana yang berbeda namun dengan rasa yang sama, hal serupa sedang terjadi di dalam salah satu unit apartemen mewah. Dimana sepasang anak manusia baru saja selesai melakukan penyatuan yang dilakukan mereka dengan sadar dan suka rela tanpa adanya unsur paksaan.
"Apa masih sakit?." Pertanyaan bodoh yang sangat tidak memerlukan jawaban.
"Ini cukup bengkak, Ramona!. Pantas saja kau masih meringis kesakitan!." Ujar Galang menyentuh kedua sisinya. Setelahnya baru dia mencari di internet obat apa yang bisa mengurangi rasa sakit dan menghilangkan bengkaknya.
Dengan sangat tergesa, Galang segera mengenakan pakaiannya lengkap. Ingin segera membawa obat yang bisa menolong Ramona.
"Kau tetap diam di sini!,0 aku akan ke apotik depan. Ingat jangan kemana pun!." Ucap Galang sebelum pergi meninggalkan Ramona dan Ramona hanya mengangguk patuh dibalik selimut tebal.
Galang mengecup kening Ramona sebelum kelaur dari kamar, ada terbersit rasa sesal karena telah mengambil sesuatu yang berharga dalam diri Ramona. Meskipun ini juga yang pertama bagi dirinya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika dia begitu bahagia menjadi orang pertama juga untuk Ramona.
Tidak lama, hanya kurang dari dua puluh menit. Galang sudah datang lagi dengan membawa salep ditangannya. Dirinya bergegas ke kamar, entah apa yang dipikirkannya, dia takut jika Ramona akan pergi dari sana. Tapi rupanya Ramona masih bergulung di bawah selimut.
__ADS_1
Ada perasaan lega tersendiri melihat Ramona masih di sana. Sehingga sebuah senyum manis tercetak pada wajah tampan Galang.
"Aku bisa mengolesinya sendiri!." Ramona menolak bantuan Galang yang sudah berada di bawah sana.
"Tidak, Ramona!. Biar kan aku saja. Kau tidak bisa melihatnya dengan baik, bagian mana saja yang memerah dan cukup bengkak." Galang tetap bersikeras ingin membantu Ramona dan Galang langsung saja menyentuh area sensitive Ramona dengan salep yang sudah di jarinya.
Galang berusaha menahan sekuat tenaga untuk tidak terpancing hasrat dan gairahnya ketika Ramona mulai merespon apa yang dilakukannya di bawah sana. Ramona ikut bergerak karena cukup malu dan geli jika area pribadinya dilihat dan dielus seperti yang dilakukan oleh Galang saat ini.
"Selesai..." Ucap Galang sambil menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Hasrat itu sudah sampai di ubun-ubun tapi dia berusaha untuk tetap menahannya.
Galang membawa Gadis dalam pelukannya. "Cari lah alasan pada Tante Mireya supaya kau bisa menginap di sini. Tidak mungkin juga kau pulang dengan keadaan begini." Ramona hanya mengangguk lalu meraih posnelnya di atas nakas lalu mengetik sesuatu pada layar ponselnya kemudian mengirimkannya pada Nyonya Mireya dan Tuan Patricio.
Nyonya Mireya dan Tuan Patricio yang sama-sama mendapat pesan dari Ramona segera membalas pesan tersebut.
"Sekarang Ramona lebih sering menginap di rumah teman-temannya. Tapi kita harus tetap memantaunya supaya jangan salah pergaulan." Ucap tuan Theodor mengingatkan pada Nyonya Mireya.
"Papa tenang saja, teman-teman Ramona kan keluarga kita sendiri. Jadi kalau ada yang salah dengan Ramona, pasti mereka akan melaporkannya pada kita." Sahut Nyonya Mireya begitu santai dan memang benar adanya. Namun Nyonya Mireya tidak menyadari hal besar apa yang sudah terjadi pada Ramona.
Ramona begitu nyaman dalam pelukan Galang yang telah mengambil kegadisannya.
Ramona memeluknya dengan begitu erat, menempelkan kulit mereka sehingga menyulut api gairah yang keduanya yang belum benar-benar padam.
__ADS_1