
Dengan tubuh yang gemetaran, Gadis berjalan membuka pintu setelah tuan Theodor berulang kali menelpon ponselnya.
"Kamu sakit?." Tanya tuan Theodor saat pintu apartemen sudah terbuka dan melihat Gadis dengan kondisi yang sangat kusut.
Gadis menggeleng dengan lemah. "Darren yang sedang demam."
"Dari kapan?." Tanyanya cukup panik.
"Dari pas sampai sini. Tapi sudah saya kasih minum obat penurun demam."
Tuan Theodor mengecek sendiri suhu tubuh Darren yang masih tertidur lelap lalu menatap intens pada Gadis. "Darren sudah tidak demam, mungkin sekarang malah kamu yang demam." Tuan Theodor mengecek suhu tubuh Gadis dan dia cukup terkejut kala mendapati tubuh Gadis sangat panas.
"Kamu sudah makan?." Gadis menggeleng sambil meninggalkan kamar Darren. Berjalan tergesa-gesa ingin segera menempelkan tubuhnya pada kasur yang empuk.
"Saya tidak lapar, saya hanya ingin tidur saja." Gadis segera menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Tuan Theodor tidak memaksa apa pun pada Gadis. Dia segera mandi dan berpakaian santai. Lalu pergi ke dapur melihat ada makanan apa yang bisa mereka makan. Kemudian tuan Theodor menghangatkan di dalam microwave.
Hanya sepuluh menit saja, makanan tersebut sudah kembali hangat dan langsung saja membawanya ke kamar, untuk dimakannya bersama Gadis.
Tuan Theodor hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat Gadis yang sudah tertidur pulas. Dia pun tidak tega untuk membangunkannya. Dia pun tidak jadi memakan makanan yang sudah hangat tersebut. Tuan Theodor kembali ke dapur dan meletakkan makanan di sana dan mengambil roti untuk dimakannya.
.
.
.
Setelah tiga jam lamanya Gadis tertidur dengan suhu tubuh yang panas, tuan Theodor berinisiatif memanggil dokter ke apartemen dan memintanya segera mengecek kondisi kesehatan Gadis.
Tuan Theodor meminta dokter untuk melakukan tes kehamilan. Dia tidak ingin membahayakan calon anak mereka jika memang sudah ada di dalam rahim istrinya dan tentunya keadaan istrinya juga.
Gadis hanya diam, ini puncak dari segala kemarahan, kekecewaan, kekhawatiran dan ketakutan dirinya.
Dokter sudah pergi setengah jam yang lalu dengan hasil pemeriksaan yang sungguh sangat mengecewakan dirinya.
Belum juga dirinya melakukan rencananya dalam satu Minggu ke depan. Hasil pemeriksaan itu sudah ada di tangan suaminya.
Coba saja dirinya tidak demam tinggi, mungkin juga tuan Theodor tidak akan membawa dokter ke apartemen dan mengecek semua kondisi tubuhnya.
__ADS_1
"Saya tidak menginginkan ini." Ucap Gadis begitu lirih sambil menggelengkan kepalanya beruang kali. "Saya sungguh tidak menginginkannya." Ulangnya lagi dengan serius.
Kalau saja bukan wanita yang sangat dicintainya yang mengatakan hal itu, sudah bisa dipastikan dia akan mencekik leher wanita itu sampai menarik kembali ucapannya.
"Kamu perlu banyak istirahat dan makan makanan yang sehat. Bukan untuk calon bayi kita, setidaknya untuk mu sendiri." Dengan penuh kesabaran tuan Theodor mencoba memahami Gadis.
"Saya tidak butuh istirahat!, saya tidak butuh apa pun!." Ucap Gadis menatap tajam tuan Theodor.
"Apa tuan yang sudah merencanakan saya hamil?."
"Gadis, aku suami mu dan aku berhak atas diri mu!."
"Tapi tidak sekarang tuan!. Saya sudah katakan tidak sekarang!.
"Jadi itu artinya benar, tuan yang sudah merencanakannya?."
"Iya, semua itu karena aku!. Aku begitu mencintai mu dan tidak ingin kehilangan diri mu, Gadis!. Kenapa kamu tidak mengerti dengan hal sesederhana itu?."
Gadis menatap pintu kamar yang terbuka dan itu adalah Darren. Gadis segera menghapus air mata yang hampir saja menetes.
"Ada apa Darren?." Tanya Gadis mengelus rambut kepala Darren.
Gadis memegang kedua sisi wajah tampan Darren. "Darren bisa merasakan kedua tangan Mama Gadis?." Darren mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi Mama Gadis belum bisa tidur memeluk Darren lagi. Sama Papa dulu boleh?." Darren mengangguk lalu berpindah kearah tuan Theodor.
"Ayo jagoan, Papa akan menemani mu tidur." Darren mengangguk lalu mereka keluar dari kamar. Meninggalkan Gadis dengan segala kesedihannya.
Gadis membuka gorden yang menutup dinding kaca. Dia melihat pekatnya malam yang bertaburan lampu-lampu menerangi. Bukan masalah tidak akan mewarisi apa pun dari keluarga Oliver, setidaknya diterima dan diakui saja itu sudah lebih dari pada cukup.
Gadis melihat bayangan tuan Theodor yang berjalan mendekat kearahnya lalu kedua tangan kekar itu membelit perutnya dengan begitu kuatnya namun tidak sampai menimbulkan sakit atau sesak. Meletakan dagunya di pundak dengan bibir yang menyentuh leher Gadis sejenak.
"Tolong mengerti dengan cinta ku dan keinginan ku. Tidak perlu mendengarkan kata orang lain. Kamu cukup hanya dengarkan aku, terima cinta dan perhatian ku saja."
Gadis memegangi tangan tuan Theodor yang melingkari perutnya. Mengelus-elus nya berulang kali tanpa ingin mengomentari apa yang telah dikatakan oleh suaminya.
"Darren sudah tidur?."
"Hem...sepertinya dia sama seperti ku. Lebih nyaman ketika tidur memeluk diri mu. Darren bilang kalau kamu baik, tulus dalam memberinya pelukan. Makanya dia memintanya lagi."
__ADS_1
"Tapi saya nya malah demam, jadi nanti kalau saya sudah sembuh saya akan memeluknya setiap hari."
"Lalu aku?." Tanya Tuan Theodor protes, lalu membalik tubuh Gadis menjadi berhadapan.
"Tuan sudah mendapatkan lebih dari hanya sekedar sebuah pelukan." Ucap Gadis sambil tersenyum tipis.
"Tapi kan itu berbeda." Balas Tuan Theodor tidak terima.
"Baik lah saya akan memeluk tuan dan Darren bersamaan." Gadis tertawa lepas, berusaha mengeluarkan beban yang menghimpitnya. Tapi tidak lama kemudian Gadis terdiam lalu memeluk erat tubuh suaminya. Menghirup aroma dari wangi tubuh suaminya yang sanggup menenagkan pikirannya.
.
.
.
Senin pagi, tuan Theodor dan Gadis memiliki kegiatan yang cukup padat, termasuk Darren. Dimana hari ini hari dirinya masuk sekolah.
Selesai menghabiskan sarapan yang dibuat oleh Gadis, mereka bertiga meninggalkan apartemen. Mereka terlihat sangat bahagia. Darren tidak merasakan jauh dari Violetta karena Gadis memberikan kasih sayang yang sudah lebih dari pada cukup Darren rasakan. Sehingga dia tidak merasa jauh dari Violetta.
Sampai di sekolah, Darren langsung mencium tangan tuan Theodor dan Mama Gadis. Lalu dia masuk ke dalam sekolah sambil melambaikan tangan kearah mereka.
"Nanti kita berdua yang akan menjemput Darren." Gadis mengangguk sambil kembali memakai sabuk pengaman.
Mobil tuan Theodor segera meninggalkan sekolah Darren. "Tidak ada yang mau kamu beli sebelum ke kantor?."
"Tidak, aku sudah kenyang."
"Baik lah." Tuan segera membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak lama kemudian mobil sudah terparkir di depan lobby perusahaan. Tapi Gadis meminta untuk ke toilet dulu.
"Aku akan menunggu mu di sini." Gadis segera menggeleng. "Tuan duluan saja, saya takutnya lama."
Setelah memastikan Gadis bisa ke atas sendiri, tuan Theodor masuk ke dalam lift yang terbuka. Sementara Gadis masuk ke dalam toilet.
"Ah lega banget." Gadis mencuci kedua tangannya dan merapikan sedikit make up nya.
Usai dari toilet, Gadis hendak melanjutkan kembali langkahnya. Namun dari arah belakang ada yang menarik lengannya.
__ADS_1
"Cepat kau gugur kan atau aku yang akan melakukannya!."